
Nana dan Momo tidak berkata apa-apa, setelah Lala mengajak mereka ke sebuah ruangan yang di tunjukkan oleh layar di depan Lala.
“Momo! Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” Tanya Lala pada Momo yang memperhatikan sekelilingnya.
“Tidak. Hanya saja pakaian kami berdua tampak mencolk saja.” Jawab Momo sambil melihat bajunya yang sangat berbeda dengan orang yang di temuinya tadi.
“Benar juga. Ikut Aku.” Ajak Lala yang mngerti perkataan Momo.
Nana juga memperhatika sekeliling dengan cermat pada kapal yang di naikinya.
“Lala! Apa aki bisa mengendarai ini?” Tanya Nana dengan wajah ceria pada Lala.
“Tidak bisa.” Jawab Lala dengan tegas.
“Kenapa?” Tanya Nana dengan wajah agak marah.
“Kamu bukan menaikinya, Kamu justru akan merusaknya lebih lagi.” Jawab Lala dengan tatapan dingin pada Nana yang seprtinuya sangat kesal sekali pada Lala.
Nana yang merasa tidak senag dengan perlakuakn Lala padanya, menghidari Lala dan berjalan di belakang Momo. Momo yang melihat kedua temannya bertengkar karena hal sepele, tidak bisa berkata apa-apa.
“Kenapa kamu kesal begitu?” Tanya Momo dengan suara kecil pada Nana di belakangnya.
“Tidak. Aku penasaran saja.” Jawab Nana dengan ketus pada Momo.
Setelah beberapa lama berjalan, Mereka bertiga sampai di sebuah pintu.
“Kalian masuklah.” Kata Lala pada Nana dan Momo yang berhenti di belakangnya.
Nana masuk dengan mengabaikan Lala dengan mengikuti Momo dari belakang.
“Hari ini, Papa berbeda sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Lala pada dirinya sendiri sambil menunggu kedua temannya selesai mengganti pakaian.
“Maaf membuat menunggu.” Kata Momo dengan suara lembut pada Lala dari balik pintu.
“Tidak papa!” Jawab Lala dengan suara seperti biasanya.
“Hei La, Apa Papa memang seperti itu?” Tanya Momo dari balik pintu yang masuh berganti pakaian.
“Tidak tau, tapi ini pertama kalinya Aku melihat Papa sepanik itu.” Respon Lala dengan santainya.
“Pertama kali ya!” Ucap Momo dengan suara agak lebih kecil, yang masih bisa d dengar oleh Lala “Nana, Ayo!” Ajak Momo pada Nana di dalam ruangan.
Setelah Momo mengajak Nana, Mereka keluar dari ruangan itu.
“Kalian cukup cocok dengan pakaian itu.” Ucap Lala pada Nana dan Momo saat melihat penampilan mereka yang berbeda dari biasanya “Apa kalian mempunyai gelang ini?” Tanya Lala pada Nana dan Mmo sambil menunjukkan gelang di tangan kirinya.
“Apa itu?” Tanya Nana dengan suara biasa saja.
“Ini gelang identitas. Mereka yang ada di planet ini memiliki gelang ini dari kecil.” Jawab lala dengan pelan.
“Maaf saja, kami tidak punya hal seperti itu.” Jawab Momo dengan santainya sambil terus melihat gelang di tangan Lala.
“Sebentar.” Ucap Lala sambil membuat sesuatu dengan partikel dunia.
Beberapa menit Lala membuatkan Nana dan Momo gelang tangan.
“Ini!” Lala menyerahkan dua gelang pada Nana dan Momo yang bewarna hitam polos.
Tanpa Mereka menjawab, Mereka berdua langsung memakai gelang yang di kasi lala pada Mereka. Setelah
mereka memakainya, tiba-tiba data cara penggunaanya masuk ke dalam otak mereka secara otomatis. Mereka bedua tidak terlalu kaget data yang ada di otak mereka yang tiba-tiba masuk seperti sudah terbiasa.
“Sudah kan?” Tanya Lala pada Nana dan Momo yang menganggu sebagai jawaban.
Dengan mengangguknya Nana dan Momo, Lala berjalan lagi menuju ruangan yang di maksud Papanya pada mereka bertiga.
“Hei, ini terlalu lama lah!” Kata Nana dengan suara lesu.
“Ada apa?” Tanya Momo pada Lala yang terus diam saja.
“Hm! Perkataan Nana ada benarnya.” Jawab Lala yang seperti mengabaikan Momo yang bertanya padanya.
Setelah itu, Lala membuat sebuah portal untuk Mereka bertiga di depannya. Setelah beberapa detik, portal buatan Lala siap. Setelah selesai, Mereka bertiga langsung masuk ke dalam portal. Hanya dalam beberapa detik saja saat mereka masuk, Mereka bertiga tiba di ruangan yang cukup besar. Saat sampai, Mereka melihat ada banyak orang di ruangan itu yang terlihat Khawatir sekali.
“Kakak!” Suara yang tidak asing memanggil Lala dengan sangta sedih.
“Hm!” Lala melihat Siska berlari ke arahnya.
Setelah Siska berlari ke Kakaknya, Siska langsung memeluk Kakaknya sambil menangis.
“Ada apa?” Tanya Lala dengan suara lembut pada Adiknya yang menangis.
Siska tidak menjawab pertnyaan Lala, hanya menangis di pelukan kakaknya.
“Sebenarnya, ada apa ini?” Tanya Lala pada dirinya sendiri dengan melihat keluarganya yang terlihat begitu panic dan sedih.
“Ada apa ini?” Tanya Nana tiba-tiba yang ada di dekat Lala dengan ekprs serius.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Nana. Mereka semua hanya tertunduk saja kecuali Mama Siska dan Mama Maria.
“Huh… Ma! Ada apa ini?” Tanya Lala dengan sopan pada Mamanya.
Mamanya Menatap Lala dengan wajah serius sekali. Mamanya yang menatap Lala yang tidak bergeming menghela napasnya.
“Ini masalah yang terjadi pada Andri.” Jawab Mamanya dengan suara kecil.
“Cuma itu?” Tanya Lala lagi dengan suara biasa saja.
Semua orang melihat ke arah Lala yang terlihat biasa saja saat mendengar perkataan Mamanya.
“Sepertinya Andri tidak dalam kondisis yang baik.” Ucap nana yang di dengar jelas oleh semua orang.
Kali ini, Semua orang melihat kepada Nana. Momo menyikut Nana untuk menyuruhnya diam memperingatkan Nana aat melihat semua oarng yang sedang sedih sekali.
“Nana! Andri itu Anto.” Kata Lala pada Nana dan di dengar oleh semua orang.
Siska yang ada dalam pelukannya melihat ke arah Lala. Bukan hanya Siska saja yang kaget dengan perkataan Lala, Semua orang melihat ke arah Lala yang tampak bias aja saat mengatakan itu.
“Apa maksudmu?” Tanya Nana yang juga kaget bersamaan dengan Momo.
“Dia yang kita cari.” Jawab lala dengan tampaka biasa saja dengan perkataannya.
Nana yang sudah mejawab jawaban diam sedikit. Namun, disisi lain. Mamanya sangat kaget sekali dan juga yang lainnya.
“Kenapa kalian semua seperti itu?” Tanya Lala pada semua orang yang ada di ruangan itu.
“Apa maksdumu itu?” Tanya Mama Marya yang terlihat sangat penasaran sekali.
“Hm… Huh!” Lala melihat semua orang yang panasaran maksudnya “Sepertinya kalian belum tau sama sekali dengan orang yang kalian selamatkan.” Kata Lala dengan jela sekali.
“Kak! Apa maksudmu?” Tanya Marya yang terlihat sangat sedih.
“Baiklah, akan ku ceruatakan sedikit.” Ucap Lala sambil menakan beberapa tombol di tangannya.
Setelah beberapa saat menekan tombol, muncul tiga kursi melayang di dekatnya. Tanpa di suruh, Nana dan Momo langsung duduk di kursi yang ada di depan mereka.
“Kamu duduk di kursimu.” Kata Lala pada Adiknya yang terus menatapanya dengan penuh penasaran sekali.
Siska mendengarkan permintaan Kaka yang menyuruhnya duduk ke kursinya. Setelah Siska duduk di kursinya, Lala duduk ke kursi di depannya.
Next Chapter