
Luis jadi tidak bisa berkata apa-apa dan hanya diam saja menikmati Tuannya bicara sama Adikknya yang sambil menghiburnya. -Luis, apa kamu tahu bahan apa yang bisa menyembuhkan adikmu?- Tanya NAVI yang dari tadi juga memperhatikan.
“Aku tahu. Tapi aku tidak bisa pergi karena beberapa alasan.” Jawabnya singkat.
“Apa itu?” Tanya Anto yang ingin tahu.
“Jika aku pergi, siapa yang akan menjaga Adikku? itu yang tidak ku tahu. Di sisi lain juga, jika aku meminta bantuan, aku tidak tahu harus minta pada siapa. Andaikan OrangTua kami tidak menelantarkan kami, aku sudah lama mencari bahan obat yang dapat menyembuhkannya. Karena di Dunia ini aku tidak tahus siapa yang harus ku percaya.” Luis menjelaskan dengan singkat.
Anto terdiam sebentar dan tidak langusng merespon. “Ohh… Gitu. Luis, apa kamu ingin mencari obatnya sekarang?” Tanya Anto dengan senyum padanya. Luis yang mendengar itu langsung melihat ke Anto yang bertanya padanya.
“Benarkan?” Tanya Luis yang terlihat ingin pergi melakukan pencarian obat sendirian.
“Tentu saja. Pergi dan carilah apa yang kamu butuhkan dan biarkan aku menjaga Adikmu sampai kamu pulang. Jika seorang majikan memperlakukan bawahannya secara buruk, suatu saat nanti dia akan merasakan akibat dari perbuatannya itu sendiri. Kamu paham kan.” Anto menjawab dengan singkat dan jelas sekali.
Luis jadi senang dan tediam mendengar Tuanya yang berkata seperti itu padanya. “Ya. Pelayan ini paham.” Jawab Luis dengan air mata yang mengalir dengan bahagia.
-Jangan buru buru juga. Kamu harus mengerjakan perintahku dulu di sini sebelum kamu melakukan perjalananmu- NAVI mengingatkannya.
“Ya, saya paham Tuan Muda. Saya akan melakukan apa yang anda katakan.” Responnya dengan singkat dan juga terlihat bahagia sekali.
“Kalau gitu, aku ingin kamu menenangkan negeri ini dan jadi Raja berikutnya. Itu perintahku!” Dengan sangat serius dan tegas mengatakannya.
“Pelayan ini akan melakukannya.” Jawab Luis dengan serius.
“Yang semangat Kak.” Adikknya memberi semangat dengan suara kecil sambil tersenyum.
“Ya, pasti aku akan jadi Raja negeri ini dan merawatnya dengan sebaik mungkin selama Generasiku dan Generasi berikutnya akan selalu merawat kerajaan ini dengan baik.” Jawab Luis dengan bahagia.
“Baiklah, sepertinya aku bisa tenang sekarang. Berikan aku nanti catatan cara merawat Adikmu sebelum kamu pergi dan jangan lupa lakukan sesuatu pada negeri ini sebelum tambah kacau.” Anto tersenyum berbicara seperti itu.
“Kalau gitu, aku akan kembali dulu, nanti hubungi aku saat kamu sudah jadi Raja. Ya… Meski kamu hanya membutukan waktu singkat sih buat jadi Rajanya.” Anto tersenyum sambil membuat portal. “Usahakan selesai dalam 3 hari, biar kamu segera berangkat.” Anto dengan santainya meninggalkan pelayannya dan Adiknya. Saat sampai di Dunia asli, Anto menghela napasnya panjang sekali. Anto berjala keluar dengan pelan dari pintu, lalu melihat ke langit malam yang berbintang luas.
-Jik kamu ingin tahu, biar ku kasi tahu- Tanpa bertanya NAVI pun mengajukan diri. -Aku tidak bisa merasakan apa pun darinya, bahkan System pun tidak bisa ku rasakan dari dirinya. Yang bisa ku temukan pada awalnya cuma kebiasaannya yang mirip sekali dengan manusia yang melakukan hal biasa di negeri ini. Bahkan, dia tidak pernah sama sekali memburu Monster apa pun dan dengan Statusnya yang tidak masuk akal, itu membuatku yakin, kalau dia pasti orang Dunia lain. Tapi, aku tidak menemukan kalau dia itu ada pelayan kita- NAVI menjelaskan kenapa dia yakin dengan hasil yang di temukannya itu.
“Bagaimana kamu tahu kalau dia pelayan kita?” Tanya Anto yang sama sekali tidak tahu itu.
-Lihat ini!- NAVI memunculkan sebuah vidio yang berdarusi sangat panjang sekali. ‘Ku mohon jadikan aku pelayanmu. Aku tidak peduli menjadi Petualang Bintang. Kumohon jadikan aku budakmu, aku mohon jadikan aku budakmu, ku mohon jadikan aku bud...!’ NAVI memberhentikan vidio nya. -Dia adalah pelayan pertama yang meminta hal itu dan juga dia tidak mau sama sekali jadi Petulang AntarBintang, tapi malah ngotot meminta jadi budak- NAVI yang mematikan video itu setelah di putar pada bebrapa detik.
“Gitu ya, mau bagaimana lagi, karena dia sudah tahu kamu, aku tidak peduli kapan dia di kasi tahu. Yang jelas sekarang aku bisa tenang kalau masalah negeri ini sudah selesai.” Anto berjalan pelan di tengah malam itu yang masih panjang sendirian dengan menikmatinya. Anto melihat sana sini yang sangat sunyi sekali dan hanya bisa merasakan angin bertiup dengan sejuk. Tanpa bicara Anto terus menilmati jalan malamnya yang panjang. “Aku akan jalan saja ke mana pun aku mau sampai pagi tiba pun akan ku jalan sendiri.” Anto tersenyum dengan terus jalan samnil menikmatinya.
***
Waktu berlalu, kini matahari terbit dan Anto juga sudah sampai di sebuah tebing jurang yang sangat tinggi sekali. Di sana Anto menukmati matahir terbit dan tidak melakukan apa pun lagi. “Waktunya pulang.” Anto berbalik dengan pelan lalu melyangkan diri dengan cepat, kemudian terbang melesat pulang dengan kecepatan tinggi. Namun setelah beberapa detik dia berhenti lalu melihat ke bawahnya yang ada padi. “Nasi! ada di Dunia ini!” Anto yang tidak menduga sama sekali saat melihat itu.
-Kita tidak pernah sama sekali makan nasi yang sungguhan. Cepat ambil itu- Suruh NAVI dengan sangat senang sekali. Anto pun yang senang juga langsung terbang ke sana dengan cepat. Tapi, kecepatan sangat berlebihan dan baru sadar kalau ketinggaiannya tidak tepat waktu buat mengehentikannya. ]BLUSSSH!' Anto yang terlalu cepat langsung mendarat di sawahnya hingga terjatuh di lumpur sawah dan merusak beberapa padi yang sudah di siap panen. -AHHHH… APA KAMU LAKUKANNN?- Tanya NAVI pada Anto yang masih terjatuh.
“Kenapa kamu teriak padaku dan bukannya menyemangitku.” Respon balik Anto yang masih dalam posisi tersungkurnya dengan mulai berdiri.
-LIHAT SENDIRI APA YANG LAKUKAN PADA PADI YANG ENAK INIII!- Dengan keras berteriak pada Anto yang masih kena lumpur di wajahnya. Anto malah tidak merespon sama sekali, dia juga merasa kesal dengan dirinya yang membuat kekacuan sebesar itu pada padi yang ada di sana.
Anto melayangkan diri lalu terbang menjauh ke tepian padi yang di sana ada sebuah gubuk kecil. “Permisi, ada orang?” Tanya Anto dengan sopan pada gubuk itu. Tapi tidak ada orang sama sekali yang nyahut dari dalam. “Aneh, kenapa sepi?” Tanya Anto dengan wajah serius sekali.
-Kenapa nanya gitu, sekarang panen saja semua padi ini- Suruh NAVI dengan santai dan berhenti marah pada Anto. Tentu saja tidak ada yang nyahut kerena sepi, larena semua orang ada di Dunia reflika yang di buatnya.
“Kita bukan pencuri, jadi tidak baik mengambil punya orang.” Respon Anto yang sok suci dengan dengan masih banyak lumpulr di badannya. “Tapi, sesekali tidak buruk juga jadi petani dan bukan pencuri.” Anto tersenyum lalu berjalan masuk dengan perlahan. Saat sampai di dalam gubuk, yang di lihatnya sebuah kasur dengan adanya kursi, alat pemotong padi dan yang lainnya. Anto langusng mengganti pakaiannya dengan pakaian yang biasa di gunakan petani lalu memberihkan dirinya dengan singkat lalu mengambil alat-alat yang perlu di gunakan dalam memanen padi.
Next Chapter