
“BIDADARI itu pendamping para IBLIS. Dahulu BIDADARI di sebut sebagai KEKASIH. “Ucap Lala sambil menyalakan Mobilnya.
Mobil itu melayang di udara dan kemudain terbang di udara dengan pelan.
“Akan ku jelaskan apa itu KEKASIH, BIDADARI dan IBLIS. KEKASIH ialah pendamping atau istri semua kontraktor IBLIS sedangkang BIDADARI ialah pendamping ZERO dari kontraktor IBLIS. Jadi bagaimana?” Tanya Lala dengan sopan dan menjelakan dengan singkat.
Nenek mengangguk paham sebagai jawaban.
“Selanjutnya penjelasannya. Dalam menjadi BIDADARI, perlu melewati tiga ujian bagi yang perempuan. Ujiannya terbagi menjadi tiga tahap. TAHAP pertama danTAHAP keduan itu Acak dan TAHAP ketigas itu menerima kontraktor mempunyai lebih dari satu istri. Biar lebih mudah, pada TAHAP ketigas kamu harus menjadi bagian HAREM Para IBLIS. Bagaiamana?” Tanya Lala balik sambil focus menyetir.
Nenek mengangguk paham sekali, namu bertanya tentang kondisi selesai tahap ujiannya.
“Hm…! Kalau itu mudah saja, Status.” Lala menampilkan Status miliknya pada Nenek “Ini bukti jika sudah selesai. Jujur saja, Kami adalah BIDADARI pertama yang di miliki oleh Suamiku.” Lala dengan tersenyum menjelaskan pada Nenek “Jadi kami tidak tau seperti apa proses ujiannya.” Lala menambahkan menjelaskan.
Nenek sangat antusias mendengar penjelasan Lala dan bertanya mengenai Siapa ZERO?.
“Leader merupakan Suami kami.” Jawab singkat Lala sambil mengalikan mobil ke mode terbang otomatis “Masih banyak yang ku jelaskan pada Nenek. Sebenarnya kebanyakan kontrak yang di buat oleh ZERO hanya untuk jadi Raja petualang dan HAREM saja. Aku sendiri sebagai BIDADARI nya tidak tau apa tujuannya sama sekali membuat ini.” Lala menjelaskan panjang lebar dengan sangat suka menceritakan tentang Suaminya.
Nenek masih kekurangan informasi dari perkataan Lala dan menjadi sangat bingung sekali.
“Nek. Bukan sekarang Nenek bisa menjadi keksasihnya. Suatu Saat Nanti setelah menyelesaikan ujiannya.” Lala mengatakan dengan sangat jelas dan juga detail “Oh satu hal lagi! Semua orang di berikan kesempatan jadi BIDADARI nya.” Dengan senyum tulus dan juga penuh percaya diri.
Nenek semakin tertarik untuk mendengar penjelasan Lala lebih lama lagi.
“Nek! Sebelum itu terima ini?” Lala menyerahkan sebuah pil kecil yang di kelurjannya dari penyimpanannya.
Nenek itu bingung dengan pil yang di kasi Lala dan Hanya menatapnya saja.
“Telan.” Ucap Lala dengan sangat jelas sambil menatap Nenek dengan sangat tajam
Nenek yang ketakutan, menuruti perkataan Lala dan menelan pil itu dengan buru-buru. Setelah menelannya, Nenek merasa sedikit panas kemudian mereda.
“Bicaralah.” Kata Lala dengan tegas pada Nenek yang sudah selesai menelan pil.
Nenek menggunakan bahasa isyarat lagi memberi tau Lala, kalau dia tidak bisa bicara.
“Hah.” Menatap Nenek yang belum mengerti “Coba katakan apapun, paham!” Dengan tatapan dingin memberi perintah.
Nenek yang sangat takut, langsung ngangguk beberapa kali. Lala menatap Nenek dengan sangat serius dan juga mengawasinya. Nenek beberapa kali manarik napas hingga kelamaan dan membuat Lala manatap tajam lagi, mengetahui itu, Nenek lansgung berhenti.
“Test!” Ucap Nenek dengan suara serak dan juga sangat kaget sekali dengan suaranya yang keluar dari mulutnya.
“Tuh, bisakan.” Lala menatap dengan dingin pada Nenek.
Nenek yang masih kaget sekali tidak berkata apa-apa dan hanya diam saja memegang lehernya dan mulai teralihkan pembicaraan mereka.
"Untung bisa mengalihkan nya." Pikir Lala yang sudah lelah bercerita pada Nenek itu.
“Ini tidak mungkin?” Ucap Nenek dengan suara agak besar dikit “Seharusnya ini tidak bisa di sembuhkan!” Ucap Nenek pada Lala dengan sangat penasaran sekali.
“Jangan menatapku seperti itu. Itu hal biasa bagi kami.” Ucap Lala dengan sangat dingin sekali pada Nenek yang baru saja di sembuhkannya.
Nenek tidak bisa berkata apa-apa setelah Lala berkata begitu dan hanya diam dan juga tidak tau harus bicara apa.
“Sekarang di mana rumahmu?” Tanya Lala sambil mengalihkan ke kemudi manual tanpa melihat ke arah Nenek.
“Alamatnya di jalan XX…!!” Kata Nenek dengan suara kecil sekali.
Nenek yang sangat bingung dengan perubahan sikap Lala yang tiba-tiba dan selalu berub setiap kali ada sesuatu.
“Ada ada sesuatu?” Tanya Lala dengan senyum menyeramkan Pada nenek yang terus meliriknya beberapa kali.
“Tidak.” Jawab dengan menunduk sambil menahan rasa takutnya pada Lala.
Setelah itu mereka tanpa bicara sama sekali mereka terbang menuju alamat yang di berikan Nenek.
***
Beberapa menit setelah terbang tanpa tujuan, mereka sampai di istina kekaisaran B.
“Ini istana kekaisaran kan?” Tanya Lala pada Nenek dengan menatap gerbang pintu masuknya yang cukup besar.
“Ya.” Jawab Nenek itu singkat dan tersenyum pada Lala “Biarkan Aku masuk!” Ucap Nenek itu pada penjaga sambil menunjukkan token yang tertulis namanya.
“Mai! Nama yang bagus.” Pikir Lala yang melihat Penjaga itu mempertivikasi tokon milik Nenek.
“Silahkan Ratu.” Dengan sopan membuka kan pintu yang begitu besar.
Lala tidak kaget sama sekali dengan apa yang di lakukan penjaga.
“Kalau begitu Nenek masuk dulu ya.” Ucap Nenek pada Lala dengan santai dan juga merasa tidak bersalah sama sekali.
“Hm! Nenek tua ini.” Lala memegang dahinya, karena Nenek tidak mengajaknya masuk “Penjaga ini.” Lala menunjukkan token namanya.
Penjaga dengan sopan menjaga perilaku nya dan juga mulai mempertivikasi token milik Lala. Beberapa detik mempertivikasi, Lala di persilahkan masuk ke dalam. Lala tersenyum dengan sopan membalas penjaga yang kerja dengan sopan dan tidak menilai dari pakain seseorang. Setelah itu Lala tanpa ragu masuk ke dalam gerbang istana.
“Hm! Ini sangat luas sekali.” Kata Lala saat masuk tiba-tiba berada di sebuah taman bunga “Dimana mereka berdua?” Lala yang mulai mencari Nana dan Momo.
Lala berkeliling mencari mereka berdua di taman seperti menganggap rumah sendiri.
“Hah! Nggak ada juga, di mana mereka?” Lala yang bingung dan berhenti di tengan hamparan Bunga yang sangat luas “Itu!” Lala melihat seseorang dengan pakaian berbeda sedang berjalan di taman itu.
Tanpa ragu Lala menuju ke sana, menemui orang itu.
“Permisi!” Lala memanggil wanita tua itu dengan sopan.
Orang itu melihat Lala seperti bingung sekali dan juga merasa ada sesuatu pada Lala.
“Apa kamu koki yang telat datang itu.” Dengan wajah seram menatap Lala.
“Hm!” Lala yang tidak mengerti maksud perkataan orang itu.
“Cepat ikut.” Wanita tua itu tiba-tiba memgang tangan Lala dan kemudian berteleportasi.
Tanpa sempat menjelaskan, Lala hanya bisa diam saja dan mengikuti wanita tua itu. Setelah bertelportasi selama beberapa detik, mereka tiba di keramaian yang begitu banyak orang sedang sibuk.
“Pakai ini!” wanita tua itu menyerahkan baju kulit yang terlihat sama persis dengan kulit manusia “Cepat ganti di sana dan pakai dengan memakai pakaian yang sama persis dengan yang mereka gunakan.” Dengan tegas menyuruh Lala sambil menunjuk tempat berganti pakaian “Cepat ya, Kamu sudah terlambat tiga puluh menit.” Dengan wajah seram sekali pada Lala.
Tanpa berkata apapun, wanita tua itu meninggalkan Lala yang tidak dapat menjelaskan siapa dirinya.
Next Chapter