
Anak kemudian perlahan membuka matanya lalu melihat ke Ayahnya. “Kamu pahamkan sekarang siapa aku dan siapa mereka berdua?” Tanya sahabatnya pada anaknya sendiri. Anaknya hanya mengangguk saja dengan terlihat lebih tenang. Setelah itu sahabatnya melihat ke No 2 dan mengangguk kecil. No 2 hanya tersenyum saja melihat masalahnya telah teratasi meski cuma sedikit.
“Baiklah, kalau gitu aku butuh darah setetes dari anakmu saja yang lebih mudah di gunakan.” dengan tenang mengatakan itu. Sahabatnya melihat ke anaknya yang terlihat ragu. Sahabatnya hanya mengangguk kecil saja. Gadis itu kemudian menggit tangannya dan keluar darah lalu No 2 segera melayangkan darah itu sedikit yang keuar dari tangan anak sahabatnya sambil menyembuhkan tangan gadis itu yang sedikit terluka. “Kita coba ini di luar.” ajak No 2 berdiri lalu jalan duluan dengan membiarkan darah yang di bawanya ikut melayang di dekatnya. Sahabatnya langsung berdiri juga dan kedua gadis itu masih bingung tapi tetap ikut berdiri juga. Setelah mereka semua jalan ke pintu lagi kemudian keluar. Saat di luar No 2 melihat sana sini hingga dia melihat sebuah puncak tertinggi dari sebuah gunung di dekat mereka.
“Apa yang kamu lihat?” Tanya sahabatnya. No 2 menunjuk ke puncak gunung itu. “Apa kamu ingin aku pergi ke sana dan menunggu pangilan?” Tanya sahabatnya yang mengerti dengan kode yang di berikan No 2. No 2 hanya mengangguk saja sebagai jawaban. Sahabatanya kemduian berbalik melihat ke anak dan adiknya. “Arma, dengarkan saja apa yang di katakannya. Jangan ragu sama sekali.” minta pada anaknya dengan suara lembut. Anaknya hanya mengangguk lalu dia menghilnag dengan cepat sekali. Setelah itu No 2 diam saja belum bicara sama sekali dan masih di perhatikan oleh gadis itu.
“Dia sudah sampai. Mari kita mulai!” ucap No 2 dengan tenang lalu No 2 mulai melakukan sesuatu pada darah itu. Darah itu kemudian perlahan berubah jadi putih seperti susu lalu perlahan melebar dan sebuah cermin jadi di depannya. “Ini berhasil, tapi aku tidak tahu ini berfungsi atau tidak. Jadi kini giliranmu!” kata No 2 sambil melayangkan cermin itu ke Arma. Arma langsung mengambil cermain itu dan menunggu apa yang akan di mintai selanjunya oleh No 2. “Sekarang kamu fokuskan dirimu membayangkan ingin bertemu dengan Ayahmu, tapi jangan bayangnkan wajahnya gunakan perasaanmu!” dengan tenang mengatakan itu. Gadis itu hanya mengangguk saja lalu mulai memfokuskan diri. Dan ternyata dia cepat sekali fokusnya yang terlihat dari cerminya yang perlahan retak. Gadis itu kaget lalu melihat ke No 2. No 2 hanya tenang saja seperti menunggu dan tak lama setelah itu sebuah portal terbuka yang memperlihatkan sahabatnya sendiri sedang berbariang di atas seekor meosnter besar.
“Kakak, Ayah” kata Ram dan Arma secara bersamaan saat melihat sahabat No 2 berbaring. Sahabatnya langsung tersadar dan juga terlihat kaget saat melihat sesuaru di depannya.
“Bisa kamu dengar aku?” Tanya No 2 pada portal kecil di depannya.
“Sangat jelas sekali.” respon sahabatnya singkat sekali. “Sepertinya berhasil ya?” Tanya sahabatnya dengan ingin tahu. No 2 hanya tersenyum lalu mengangguk yang juga terlihat senang sekali.
“Berhasil meski belum bisa menemukan orang lain, jika masih ada di Dunia yang berbeda.” timbalnya dengan santai saja. “Tunggu sebentar!” minta no 2 lalu memasukkan tangannya ke dalam ke dalam portal kecil itu. Setelah itu di tempat sahabatnya berada ada sebuah tangan besar muncul dari langit yang tidak di ketahui sama sekali asalnya. Semua mosnter jadi ribut sana bahkan msonter tempat sahabatnya berbaring jadi lari terbirir-birit melihat tangan besar yang mucnul tiba-tiba. Sahabatnya segera melayangkan diri lalu mendarat di telapak tangan No 2 yang besar sekali. Setelah itu No 2 segera menarik tangannya hinggga keluar dari portal kecil itu. Saat sudah sampai ternyata ukuran tubuh sahabahatnya tetap kecil sekali dan seperti udah untuk di remas. Setelah itu portalnya menghilang.
“Sepertinya kamu jadi raksa… sa!” kata sahabtanya berhenti saat melihat senyum aneh dari No 2. “Jangan bilng!” sahabatnya langsung di pegang kakinya lalu di baliknya bergelantungan. "Kamu kejam.” ucapnya dengan bergelantungan. Setelah itu No 2 berputar-putar beberapa kali dengan sangat cepat sekali. “BERHENTIII…!!” teriak sahabatnya keras sekali karena melihat semunya berputar dengan sangat cepat sekali. No 2 berhenti setelah
melihat sahabatnya terlihat hampir tidak sadarkan diri. Setelah itu No 2 menaruh sahabatnya di tanah dengan posisi berdiri dan saat sudah di tanah, sahabatnya terlihat terhuyung-huyung ke sana kemari lalu perlahan dia kembali seperti semula. Saat sudah kembali seperti semula dia masih saja terhuyung-huyung dan masih melihat dengan tidak jelas sekali.
“Sembuhkan aku cepat!” minta sahabatnya dengan masih belum sadarkan diri sama sekali. No 2 dengan segera mendekat dan saat di dekatnya dia langsung di pukul di wajah dengan terlihat keras sekali karena dia langsung jatuh di tempatnya. No 2 segera melihat ke sahabatnya yang tadi memukulnya. “Aku pikir akan mati tahu!” dengan sangat tajam sekali mengatakan itu pada No 2. “Sekarang saat pembalasan!” dengan senyum kejam mengatakan itu pada No 2. No 2 yang melihat itu merinding lalu segera bergelinding dan bersembunyi di balik Ram.
“Lindungi aku!” minta No 2 pada Ram yang di depannya. Ram sedikit kaget dengan tndakan No 2 hingga jadi salah tingkah lagi. Ram kemudian langsung melihat ke Kakaknya yang ada di depannya yang terlihat menyeramkan sekali tanpa pikir panjang saat No 2 meminta seperti itu.
“Ka, kakak berhentilah!” minta Ram dengan sedikit ragu karena di minta oleh No 2. Saat di minta seperti itu tatapan Sahabatnya berubah dengan melihat ke Ram. No 2 mengintip dan melihat tatapan Sahabatnya agak beda dan itu bukan di tujukan padanya melainkan pada Ram.
“Ram kamu aneh.” kata Sahabatnya dengan terang-terangan sekali. No 2 masih tetap bersembunyi di belakang Ram dengan tenang saja dengan sedikit mengawasi. “Sudahlah Anto bisa kamu lakukan sekarang?” Tanya sahabatnya dengan serius sekali. No 2 masih tetap di tempatnya dan tidak beranjak.
“Tidak mau!” jawabnya dengan santainya. Sahabatnya langsung kaget mendengar itu. “Nanti kamu akan balas dendam kalau aku sudah selesai melakukannya.” tambahnya dengan sangat yakin sekali.
“Tidak serius, ku mohon!” minta sahabatnya dengan memelas sekali. No 2 masih saja di tempatnya dengan suasana hati yang sama sambil mengintip meski sudah bisa di lihat dengan jelas sekali. No 2 cukup lama mengintip dari balik Ram dan tidak beranjak sama sekali.
“Tidak mau. Aku tidak akan tertipu lagi.” timbal No 2 dengan serius sekali. “Aku selalu ingat janji palsumu yang selalu tidak kamu tepati. Misalnya saat kita bermain game itu, aku sendiri yang harus bayar meski aku menang. Setelah itu kamu juga membatalkan….” No 2 terus mengingatkan sahabatnya beberapa janji ringan yang tidak pernah di tepatinya sama sekali. Sementara itu Arma hanya bisa diam saja melihat kelakuan mereka bertiga yang tidak di mengertinya sama sekali.
***