
Di sisi lain, Nina yang suah terbang sangat jauh dari tenda berhenti terbang dan mendarat di tanah. “Kenapa aku lari?" Nina yang tidak mengerti dirinya sendiri. Nina yang merasa bingung pada dirinya sendiri. 'Srhh...!!' Nina yang mendengar suara dari tengan hutan tempat dia mendarat. Nina langsung waspada. "Kenapa ini harus terjadi?" Nina yang ketakutan dan juga tidak mengerti dengan perasaannya yang tidak di ketahuinya. Meski tidak menangis, Nina cukup takut dengan hal yang tidak di ketahunya yang tiba-tiba muncul. 'Wush...' Angin berhembus di dekat Nina. “Siapa?” Tanya Nina dengan sangat ketakutan.
“Ini aku.” Jawab Lia dari balik bayangan sebuah pohon yang sangat gelap. Nina semakin ketakutan dengan Lia yang berjelan ke arahnya.
“A-apa yang kamu lakukan?” Tanya Lia yang masih sangat ketakutan saat Lia sudah di dekatnya. Lia tersenyum pada Nina yang katkutan dan gemeatr, tapi tetap siaga padanya.
“Justru aku yang bertanya itu, apa yang kamu lakukan di tempat penuh monster ini?” Tanya Lia sambil memperlihatkan beberapa Monster yang sangat besar sedang melihat ke arah Nina. “Apa kamu ingin mati?” Tanya Lia dengan suara memarahinya. Lia menatap tajam ke arah Nina yang sedang takut padanya. "Kamu tahu betapa khawatinya. Jika dia tidak meminta, alu tidak akan mencarimu." Lia terus memarahi Nina yang takut padanya. tapi, kali ini Nina diam saja dan tidak bicara. "Kenapa kamu diam?" Tanya lia dengan suara sedang memarahi Nina
“Maaf!” Nina mengatakannya dengan sangat gugup di depan Lia. Lia terdiam dengan Lia yang minta maaf padanya. Lia yang melihat Nina ketakutan, menarik napasnya.
“Sudah.” Lia yang memarahi Nina mengelus kepalanya dengan lembut. “Cepat ikut aku.” ajak Lia sambil menarik tangan Nina yang tenang dan juga masih gugup padanya. Nina yang di tarik tagannya oleh Lia tidak melawan malah merasa lebih baik.
Lia dan nina yang terbang melayang, tidak satu pun dari mereka yang bicara. “Kenapa kamu mencariku?” Tanya Nina yang menundukkan kepala dan tidak melihat ke Lia. Lia melihat ke nina dengan terus terbang dan memgang tangan Nina.
“Karena kamu merepotkan orang lain. Selain itu dia ingin kamu menjadi Gadis nya. Tentu saja aku harus membawamu.” Jawab Lia dengan suara agak tegas yang terbang dengan pelan. Setelah menjawab itu, mereka bedua diam lagi dan tidak bicara.
“Bagaimana kamu bisa tahu dia baik atau tidak?" Tanya Nina yang masih gugp dan juga dengan terus memberanikan diri bertanya. "Dia bukan orang baik yang sebenarnya?” Guman Nina yang bisa di dengar jelas oleh Lia yang di dekatnya. Lia tidak langusng mengusrnya, tapi malah melirik nina sambil tetap lururs memimpin terbang.
“Tentu saja karena aku bisa mengetahui isi hati seseorang.” Jawab Lia dengan jujur sammbil melihat ke Nina. nina yang mendengar itu secara refleks melihat ke Lia. Saat melihat, Lia tersenyum ke arahnya dan itu langsung membuatnya memlingkan wajahnya. “Jika ku lihat, kamu tidak marah padanya. Sebenarnya kamu belum mengertinya sama sekali apa maksud dari tindakannya itu.” Lia melanjukan pembicaraannya.
“Kamu bohong.” Nina menepis tangannya dari Lia, lalu berhenti terbang dan melayang di udara. Lia yang melihat itu hanya tersenyum pada Nina dan tidak marah sama sekali dengan tindakannya, hanya saja sedikit kaget.
“Kamu sangat keras kepala sekali.” Lia dengan tenang berusaha menenangan Nina. “Ikut aku!” Lia menarik kembali tangan Nina yang baru saja di lepasnya. Nina terdiam lagi saat Lia menarik tangannya dan mulai terbang lagi.
“Lepakan!” Nina menarik tangannya lagi dari Lia, lalu berhenti lagi. Lia melihat ke Nina yang tetpa diam di temaptnya. Lia tersenyum pada nina yang ternyata merasa senang dengan apa yang sedang terjadi. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Lia menarik lagi tangan Nina untk ketiga kalinya dan kali ini memgangnya degan erat sekali. "Tu-Tunggu!" Nina tidak bisa melawan lia yang kekuatannya lebih besar darinya terpaksa diam dan membiarkan lia menariknya lagi sambil terbang. Dalam perjalanan mereka berdua tidak bicara sama sekali.
***
10 menit berlalu, Lia dan nina sudah terbang cukup lama. “Sudah baikan?” Tanya Lia sambil tersenyum pada Nina sambil terbang di sampingnya yang sudah terlihat lebih baik. Nina tidak merespon apa yang di pertanyaan Lia dan hanya diam saja sebagai jawabannya. lia sama sekali tidak marah meski tidak di jawab oleh Nina. “Sudah sampai.” Kata Lia saat sampai mulut gua tempat tenda itu berada.
“Kenapa kita kesini lagi?” Tanya Nina saat belum masuk ke dalam tenda dan masih melayang melihat lubang besar dari dekat. Lia melihat ke Nina yang terliha tidak mengerti sama sekali. lia tersenyum saat melihat Nina yang brtanya padanya tnapa ada rada takut darinya.
“Pulang ke rumah!” Jawab singkat Lia sambil tetap memgang tangan Nina dan masuk ke mulut gua. Nina terdiam mengerti maksud Lia. tapi, nina yang tidak mengerti dengan perasaannya sama sekali, masih merasa janggal dengan hal yang barusan di lakukan Anto.
“Di sini bukan rumahku.” Nina membalas perkataan Lia sambil memalingkan wajahnya dan juga tidak mau mengakui merasa lebih nyaman tinggal di sana. Lia tersenyum pada Nina yang memalingkan wajahnya setelah melihat tenda kecil di depannya.
“Tentu saja bukan. Itu adalh tenda." Jawab Lia yang setuju dengan Nina. Nina langusng melihat ke Lia saat dia menagtakan itu di depannya. Lia meliaht ke wajah nina yang terlihat sedikit kesal setelah Lia mengatakan itu. "Besok dia akan mengantarmu pulang ke kerajaanmu.” Kata Lia sambil menunjuk ke tenda. Nina lngsung mengerti apa yang di maksud Lia. “Ayo masuk” Ajak Lia sambil menarik tangan Nina. Nina hanya bisa menurut saja dan tidak berani bertindak sama sekali dengan apa yang di lakukan Lia padanya. Lia dan Nina yang sudah ada di dalam tenda, menutup pintuk masuk dengan kunci pintu depan. “Mari kita tidur.” Ajak Lia sambil menatik tangan Nia ke sebuha pintu kamar OrangTua Anto.
“Lepaskan!” Nina melepaskan tangannya dengan sedikit paksaan dari Lia yang terus menerus memgang tangannya. Lia melihat ke Nina yang melepas tangannya dengan cara kasar padanya sedikit tersenyum.
“Baiklah. Tapi, jika kamu berusaha kabur, akanku pegang tangnmu itu seharian penuh" Jawwab Lia yang nerasa senag dengan tindakan Nina. Nina tidak beranti mnejawab dan diam saja. Lia masuk ke dalam kamar OrangTua Anto dan langsung berbaring di sana.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanya Nina pada Lia yang tidur di dekatnya.
“Tidur, apa yang kamu lihat?" Tanya balik Lia sambil melihat ke Nina yang di sebelahnya membelakanginya.
"Aku mau tidur sendiri...!!" Nina tida melanjutkan kata-katanya pada Lia dan hnay bisa diam saat Lia mengelus kepalanya dengan lembut.
“Bisa kita bicara besok, sekarang nikmati waktu ini. Besok aku mau menghabiskan waktu bersama dia, dan tenatu saja kamu juga harus ikut” Lia terus mengelus kepala Nina hingga Nina tidak berkata apa-apa dan hanya bisa diam dan tidak meresponnya sama sekali. "Saat ini, kamu lebih baik tidur meski kamu seorang Kultivator. Hanya di dekatnya saja baru seorang Kultivator bisa tidur dengan nyenyak, meskipun sebenarnya para Kultivator tidak memerlukan tidur." Lia terus menurus membuat Nina menjadi nyama dengan kata-kata yang membuatnya bisa memejamkan matanya dan juag hingga dia tidur.
“Apa-apaan mereka berdua ini?” Nina yang tidak mengerti dengan apa yang sedang di alaminya. Nina yang merasa sangat nyaman dengan apa yang terjadi, tanpa dia sadari mulai menyebabkannya terditidur.
***
Dalam tenda, Anto yang masih tidur merasa sangat nyaman hingga lupa waktu. 'Mm!!' Anto membalikkan badan 'DUK!!' Anto terjatuh dari sopa tempat dia tidur. “Sa… Sakit!” Anto yang merasa kurang baik saat jatuh, hingga dia memegang pinggangnya yang terbentur. Anto yang jatuh tidak punya banyak tenaga saat bangun dari tidurnya. Anto masih berusaha menahan sakit dari jatuhnya di sopa selama 1 menit kurang.
“Apa yang kamu lakukan?” Tanya NAVI yang tidak pernah tidur.
“Bantu aku cepat.” Anto minta bantuan pada NAVI saat dia bertanya padanya. Tanpa NAVI merespon, dia langsung memasukkan energy ke dalam tubuh Anto supaya ada energinya. 'Huh...!' Anto yang merasa lebih baik setelah NAVI memberinya enegey yang membuatnya cepat sembut. “Sakit juga jatuh dari sopa.” Anto yang mulai meregangngkan badannya lalu meregangkannya.
"Ada sesaatu yang haru ku tranfer sama kamu. Fokuslah." Monta NAVI dengan sangat serius. Anto tidak merespon malah langsung menutup matanya. Setelah beberapa saat Anto membuka matanya lagi.
“Ini semua peta dunia ini?” Tanya Anto pada NAVI. Anto yang mendapat gamabran seluruh Dunia yang gelpa gulita kecuali beberapa Pulau yang terbang di berbagai tempat yang saling menghubungkan.
“Ya.” Jawab singkat NAVI “Aku belum tau nama kerajaan tersebut dan juga ada beberapa penghalang. Jadi aku membutuhkan kekiatanmu untuk masuk.” Suara NAVI yang terdengan mengeluh. "Satu hal lagi, sepertinya Immortal yang di bilang Lia itu masih hidup sampai sekarang." NAVI memperingati Anto yang tidak tahu apa-apa.
Anto terdiam saat mendegar kabar tersebut. “Nah NAVI, apa yang kamu butuhkan?” Tanya Anto yang sudah paham situasinya.
“Aku membutuhkan kamu untuk memakai Skil Stdudi dengan saling sinkronisasi dengaku dan dengan skala lebi luas dan besar.” NAVI memberi tahu Anto dengna sangta serius sekali
“Aku paham, kita lakukan di luar.” Anto yang menjawab dengan sangat serius juga. "Jika Dunia ini kembali seperti semula apa yang akan terjadi." Anto yang tidak takut dengan hal apa pun, tapi malah bersemangat dengan semua perubahan yang akan terjadi. "Dunia ini hanya mementingkan yang kuat dan tidak peduli dengan yang lemah. Sudah biasa bagi mereka mengatakan bunuh atau di bunuh." Anto yang paham dengan situasi yang sudah terlibat jauh sekali dengan Dunia yang seharusnya tidak bisa hidup lebih lama lagi. "Immortal itu siapa? Entah kenapa saat mengingatnya, aku jadi tidak tertarik sama sekali." Anto yang memikirkannya hingga lupa diri sendiri yang sudah sampai di depan pintu tenda. Anto yang sudah terlalu banyak mikir, langsung keluar dari tendanya. Saat sampai di luar, semuanya masih saja gelap gulita. “NAVI, apa resiko kita melkukan ini?” Tanya Anto dengan santai dan juag ingin tahu akibat dari hal yang akan di lakukannya
“Kemungkinan Immortal itu akan mengetahui tentang keberadaanmu.” Jawab NAVI singkat dan jelas
“Apakah aku yang sekrang bisa menang?” Tanya Anto dengan penuh percya diri. NAVI terdiam dan tidak langusng merespon.
“Sekrang tidak mungkin bisa menang melawan Immortal itu, Mungkin kita bisa meng jika kita punya nyala jiwa sebesar pohon...! ” NAVI berhenti mnawab seperti kaget dengan sesuatu.
"NAVI, apa ada sesuatu?" Tanya Anto akrena NAVI tiba-tiba diam
"Sepertinya kita bisa menag 100% kalau melawan Immortal itu." Anto langusng menjawab Antto dengan keyakin yang sangat yakin.
"Apa yang baru saaj terjadi?" Tanya Anto yang sudah paham maksud NAVI.
"Jangan pikirkan itu sekarang. Yang bisa ku katakan ini ada hal yang aneh sedang terjadi di kita sendiri." Jawab NAVI dengan serius dan juga tidak tahu menahu dengan apa yang sedang terjadi padanya. Setelah menjawab itu, Anto tidak bisa bentanya lagi jika NAVI sendiri tidak tahu apa yang telah di lakukannya.
"Baiklah, mari kita lakukan singkronisasi." Anto yang mulwi fokus dan tidak memikirkan hal lain lagi. Setelah beberapa lama fokus, Anto dan NAVI sudah bisa dapat singkronosasi dari Skilnya itu. Saat melakukan singkronisasi, Anto dapat melihat banyak hal yang tidak pernah di lihatnya. Dia berdiri tega di luar Angkasa melihat Dunia yang di tinggalinya lebih besar ketimbang Bumi, mesi itu hanya kesadarannya saja yang ada di luar Angkasa. "Ini Dunia yang ku lihat itu?" Tanya Anto yang sudah melihat betapa besar Planet yang sangat gelap itu dan juga 10 Pulau yang terapung besar di udara.
"Kamu sudah tahu kan. Kita lakukan ini untuk menembus pertahanan mereka." NAVI mengingtakan lagi. Anto mengangguk lalu fokus lagi. Anto dan NAVI memperkecilkan Dunia mereka hingga bisa melihat 10 Pulau. Anto bisa merasakan kekuatan pengahalang yang sangat besar sekali ada di pulau itu. "Bagiamana?" Tanya NAVI pada Anto yang juga bisa merasakan apa yang di rasaknnya.
"Kenapa Immortal itu tidak menemui kita?" Tanya diri sendiri karena bingung. "Kita sudahi NAVI, menurutku, sebaiknya kta jangan mesngusikknya. Lebih baik kita ke tujuan kita." Anto yang terseadar dia melupakan tujuannya selama beberapa saat. "Kita di sini bukan jadi pahlawan, kita kesini untuk cari Gadis." Anto mengingatkan lagi NAVI yang sangat lupa karena kekuatan besar yang ada di pelindung itu..
"Astaga, aku sangat lupa itu." Respon NAVI dengan sangat jujur. "Sia-sia kita melakukan ini." NAVI yang mengeluh da kecwa pada diinya sendiri. NAVI yang merasa kecwa langusng memutuskan singkronisasinya dengan Anto.
"NAVI!" Panggil Anto karena tidak mengerti dengan NAVI. Padahal mereka itu jiwa yang sama tapi memiliki pikiran yang sama dan juga memiliki hal yang sama. "Apa dia non-aktif lagi?" Anto yang teringt saat NAVI tiba-tiba berhenti bicaraa saat kepalanya yang tiba-tiba sakit.
“Sebaiknya kamu masuk dan buat sarapan. Sebenrtar lagi mereka akan bangun. Nanti kita lanjut bahas ini.” NAVI tiba-tiba merespon Anto yang ceruga pada dirinya sendiri. Anto yang teringat, masuk ke dalam tendanya. Anto tidak menydari sama sekali hal itu akan membuat perubahan dengan hal di sekelilingnya saat dia melepaskan keuatannya yang begitu besar bagi Dunia yang gelap gulita itu.
Next Chapter