Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 51


***


“Kalian berdua!” Andri menatap kedua pelayan itu dengan sangat marah sekali saat sampai di dapur.


“Tu… tuan muda, ada apa?” Tanya salah satu pelayan dengan sedikit ketakutan pada Andri yang sedang menatap mereka dengan sangat tajam dan menyeramkan.


“Ada apa kalian bilang!” Menatap kedua pelayan itu dengan semakin tajam “Bukankah aku suruh bawa beberapa makanan saja, jadi jelaskan sekarang juga? Kenapa kalian bawa semuanya ke meja makan?” Dengan sangat tajam sekali menatap kedua pelayan itu yang mulai ketakutan dan gemetar.


Kedua pelayan itu saling tatap dengan sangat ketakutan.


“Tuan muda yang suruh bawa kan!” Ucap salah satu pelayan dengan jelas yang sedang ketakutan pada Andri.


“Apa!” Andri sedikit kaget dengan jawaban pelayan itu “Kapan aku menyuruhmu membawa semuanya?” Tanya Andri yang sepertinya lupa dengan berhenti mengancam kedua pelayan itu yang mulai sedikit tenang.


“Tuan muda kan yang bilang begini ‘cepat bawa sisa makanan yang lain ke meja makan’ kan.” Salah satu pelayan mengingatkan. (lihat chapter 49).


“Dan juga tuan muda bilang gini ‘Sekarang kalian bawa semua makanan ini ke ruang makan’ dengan sangat tegas pada kami berdua.” Pelayan satu lagi mengingatkan Andri yang sedang marah dan kesal. (lihat chapter 49).


“Apa! Aku bilang gitu?” Andri yang tidak percaya satu katapun ucapan kedua pelayan itu, sambil mengingat kembali.


Setelah beberapa saat, Andri mengingat semua perkataannya pada kedua pelayan itu, yang menyruh mereka membawa semua makanan itu ke meja makan


“Kalian pergilah?” Andri yang menyuruh kedua pelayan itu pergi dengan rasa takut pada Andri.


Tanpa mejawab, kedua pelayan itu pergi dengan sangat cepat meninggalkan Andri yang sedang memikirkan sesuatu.


“Aduhhh! Ini semua ulahku sendiri!” Guman Andri dengan rasa bersalah pada kedua pelayan itu sambil menepuk dahinya sendiri “Sebaiknya ke kamar saja!” Ucapnya denga jelas sambil menekan tombol di pergelangan tangan kirinya. Yang kemudian setelah menekan tombol itu, memunculkan sebuah portal kecil untuk pergi dari dapur.


Andri tiba di pintu kamarnya. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam dengan ke kamarnya dengan sangat lesu sekali, kemudian langsung merebahkan dirinya ke tempat tidur tanpa ganti pakaian.


“Seharian ini banyak sekali kejadian yang tidak terduga. Perasaan akrab ini, apa sebenanya ini?” Pikir Andri yang sangat ingin tau tentang kebenaran tentang dirinya *“*semua yang kurasakan seharian ini, entah kenapa Aku pernah mengalaminya.” Andri yang mulai terpejam matanya karena terlalu lelah.


Andri yang sangat kelehan secara mental, tertidur pulas di kamarnya dengan sangat lelah.


***


Pagi hari, Andri masih belum bangun.


“Bangun tuan muda, ini sudah pagi.” Panggil seorang gadis dengan suara lembut.


“Lima menit lagi!” Jawab Andri yang sedang tidur dan tidak ingin bangun.


“Tidak bisa tuan, sekarang sudah siang. Nona Siska sudah menunggu tuan dari tadi.” Suara berbeda lagi di dekat telinganya.


“Mmm! Suruh dia pulang saja.” Ucap Andri dengan masih mata terpejam.


“Tidak bsa tuan muda. Nona siska sudah menunggu dari tadi pagi.” Jawab lagi gadis yang berbeda


“kalau begitu…!” Yang masih tidur dan tidak melanjutkan perkataannya.


“Tuan muda!” Panggil lagi gadis lain.


“Bisakah kalian tenang sedikit, Aku masih mau tidur!” Teriak Andri yang tiba-tiba bangun, sambil membuka matanya yang merah dan juga sangat marah.


Andri yang tidak mengerti dengan situasinya, merasa sangat bingung sekali, saat melihat bgitu banyak gadis di dekatnya yang berpakaian pelayan. Andri menatap satu persatu orang yang di lihatnya. semua orang tersenyum padanya dengan sangat ramah.


“Eh! Apa ini?” Andri yang merasa memegang sesuatu di samping kiri kanannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?’ Andri yang bingung dengan semua yang terjadi “Eh! Apa ini?” Andri yang teriak saat baru menyadari kalau dia tidak ada di kamarnya dengan sangat kaget.


“Berisiklah! Hoam…!” Siska yang menguap dengan santainya.


“Pagikah…!” Maria yang mengusap mataya.


“Hmm…! Andri!” Siska langsung memeluk Andri saat bangun.


“Oh…! Ini semua hanya mimpi.” Ucap Andri dengan senyum tidak percaya dengan sekitanya “Pagi Siska, pagi Maria.” Andri yang menyapa Siska yang sedang memeluknya dan Maria yang sedang mengusap matanya.


Anto yang mengira semua hanya mimpi belaka. bersikap biasa saja pada semua orang di dekatnya yang sedang tesenyum dan juga bingung dengan perkataan Andri.


“Mimpi yang sangat realistis.” Ucap Andri dengan sangat jelas setelah melihat semua gadis yang berpakain sangat cantik dan juga rapi “Hm! jumlah mereka ada 32 orang termasuk Maria dan Siska!” Pikir Andri yang sudah menghitug semua gadis di dalam kamar itu.


“Andri! Apa kamu akan menikahiku?” Tanya Mari yang sedang menatap Andri dengan wajah memelas.


“Tantu saja.” Jawab Andri dengan penuh percaya diri sambil tersenyum.


“Benarkah?” Tanya Maria yang matanya berbinar-binar.


“Ya.” Jawab Andri dengan penuh percaya diri.


“Sudah ku bilang kan, Andri akan menikahi kita. Mama juga sudah setuju.” Kata Siska pada Maria dengan senyum di wajahnya.


“Hehe…!” Maria tersenyum kecil dengan sangat senang.


“Tapi aku juga sudah mempunyai gadis lain selain kalian!” Ucap Andri dengan sangat tegas.


“Siapa? Apa mereka? kalau itu kami juga tau, kami sudah setuju untuk kamu menikahi mereka.” Jawab Siska dengan senyum di wajahnya dengan sangat ceria.


“Bukan mereka, ada 70 gadis lain, selain kalian.” Jawab Andri dengan sangat jelas “Saat ini aku sedang berusaha mengingat mereka, tapi aku tidak bisa.” Andri yang menjelaskan dengan sopan dan juga dengan wajah sedih.


“Kenapa sedih?” Tanya Seorang yang terlihat kasihan pada Andri


“Tidak ada. Yosh…! Ini mimpi yang sangat indah.” Kata Andri yang sedang berdiri sambil meregangkan badannya yang tidak memakai baju sehelai pun.


Semua pelayan dan Maria langsung berbalik saat melihat Andri yang setengah telanjang. Tapi Siska dengan sangat jelas menatap  tubuh Andri dengan sangat penasaran. Maria yang melihat Siska yang hendak menyentuh tubuh Andri, langsung menarik Siska yang sangat polos sekali.


“Kenapa kalian seperti itu. Ini hanya mimpi saja, jadi kalian tidak perlu berlebihan begitu.” Ucap Andri dengan sangat jelas pada semua gadis di kamar itu dengan senyum di wajah yang sangat tulus.


Karena Andri yang mengira semua hanya mimpi tidak merasakan malu sama sekali dengan kelakuan yang di lakukannya.


“Kenapa mereka bereaksi berlebihan begitu?” Andri yang masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya “Ini sungguh mimpi yang sangat realistis.” Ucap Andri dengan sangat jelas sekali di hadapan semua gadis di kamarnya yang sedang bebalik.


“Eh!” Maria yang sedikit kaget dengan perkataan Andri “Kamu bilang ini mimpi?” Tanya Maria yang sangat kelihatan marah dan malu sekali sambil menatap Andri yang masih tersenyum padanya “Rasakan ini! Jika ini mimpi.” Maria memukul wajah Andri sampai terjadi ke lantai “Kalian, ikut Aku keluar.” Ajak Maria pada semua pelayan yang ada di kamar itu dengan sangat malu dan marah pada Andri yang masih duduk di lantai yang belum menyadari kalau itu semua bukan mimpi.


“Ini sangat sakit sekali!” Ucap Anto sambil memgang pipinya yang masih sakit karena di pukul Maria denagn melihat Maria dan lainnya keluar dari kamar


Selama beberapa saat Anto sedikit terdiam saat melihat Maria, Siska dan lainnya menghilang dari kamar.


“Eh! Apa….!” Andri sangat kaget sekali yang baru menyadari apa yang telah di lakukannya dan juga menydari kalau semua yang di alaminya bukan mimpi.


***


NEXT Chapter