
“Lia! Kenapa kamu bisa tau banyak tentang Bumi? Jujur saja jarak antara Bumi dan Planet ini sangat jauh sekali?” Anto bertanya karena sangat penasaran dengan Lia yang mengetahui budaya di Bumi. Lia meliaht ke Anto yang bertanya padanya.
“Mudah saja. Aku sudah hidup sangat lama sekali, di bandingkan dengan kalian berdua." Jawab Lia yang belum jelas. Anto yang tidak mengerti maksud Lia yang merespon dengan jawaban lain. "Tenag saja, aku belum pernah melakukan hubungan intim dengan siapa pun." Lia menggoda Anto yang terlihat bingung dengan tiba-tiba hingga membuatnya merah sekali wajhanya karena sedikit malu
“Maaf, aku tidak bertanya hal itu.” Anto merespon dengan malu dan juga senang dengan perkataan Lia. “Ehm, Terus bagaimana caranya kamu bisa tahu?” Tanya Anto mengulang pertanyaan yang sama.
“Lihatlah!” Lia menunjukkan hologram Planet Bumi dan warna-warninya. “Ini adalah gambar Bumi terakhir yang kudapat. Sekitar 300 tahun lalu, aku terputus hubungan dengan planet Bumi. Aku berusaha memperbaiki penghubungku dengan Bumi, tapi tidak berhasil. Waktu itu, rasanya seperti ada sesuatu yang menghalagi kesadaranku masuk ke Bumi. Karena tidak bisa lagi masuk, aku sangat marah sekali selama seratus tahun dan mengahancurkan berbagai wilayah. Setelahnya, aku berusaha menenagkan diri selama 100 tahun lebih." Lia merespon Anto yang sangat penasara sekali dengan apa yang di ketahuinya.
"Begitu ya. Jika itu 300 tahun yang lalu, kira-kira berapa umur Lia yang asli." Anto yang menatap Lia dengan penuh penasaran sekali.
"Apa yang kamu pikirkan?" Tanya Lia pada Anto dengan menatap sangat tajam sekali. Krena merasa Anto
memikirkan sesuatu yang tidak di ketahuinya.
“Eh! Aku hanya bingung, bagiaman kamu bisa mengetahui jam dan tahun? dan kapan kamu belajarnya?” Tanya yang sangat gugup sekali dengan tatapan Lia yang taham. Anto merasa takut, jika di ketahui apa yang sebenarnya di pikirkan dia. Lia menatap tajam pada Anto yang sepertinya gugup sekali dengannya.
“Hah... Setiap kali aku mengintip ke Bumi, pengetahuannya masuk dalam kepalaku. Aku tidak bisa lama-lama mengintip dan hanya sedkit sekali yang bisa ku pelajari dari apa yang masuk ke dalam kepalaku. Dan pakaiaj ini juga desai dari apa yang ku dapat di Bumi.” Jawab Lia sambil berbalik dan masuk ke dalam tenda Anto.
“Apa!” Anto sangat kaget sekali dengan jawaban Lia. “NAVI, apakah itu Skil Belajar?” Tanya Anto pada NAVI karena kaget dengan Lia dan juga penasaran.
“Sepertinya ya. Tapi, itu hanya mirip. Aku sendiri tidak tau rinciannya dengan jelas." Jawab NAVI yang sepertinya juga kaget dengan jawaban Lia. "Dengankan baik-baik, Rasanya Lia mempunyai jiwa yang sama sepertimu. Tapi lebih lemah.” NAVI memberi tahu Anto meski baru pertama kali dia memberi tahunya.
"Bentar NAVI!" Anto yang merasa pusing dengan apa yang baru saja di dapatnya. "Kenapa aku bisa pusing sih?" Anto yang tidak mengerti dirinya sendiri yang tidak tahu dirinya tiba-tiba pusing. "Padahal aku selalu hidup teratur." Anto yang tidak menyangka dirinya aka mengalami rasa sakit kepala yang tiba-tiba. "NAVI, apa yang terjadi?" Tanya Anto pada NAVi karena tidak mengerti. NAVI tidak merespon Anto malah diam dan tidak menjawab. "Aghh...!!" Anto yang menahan sakit kepalanya yang tiba-tiba sakit. "Ini bukan pusing, apa ini?" Anto yang terus menahan suaranya supaya tidak keluar sama sekali. Anto yang menahan sakit kepalanya, sampai berkeringat dengan sakit yang tidak tertahankan. Selama 1 menit lbeih Anto berdiam diri di tempatnya.
"Hei!" Panggil Lia karena tidak tahu nama Anto dari dalam rumah. "Bagiamana cara gunakan ini?" Tapi, sepertinya itu bukan pertanyaan untuk Anto, melainkanuntuk Siska. Anto yang masih menahan rasa sakit di kepalanya.
"Nina, kenapa kamu memakai nama samaran. Lia sudah tahu semua yang kamu yang berbohong." Anto yang mengkhawatirkan Siska dengan cara yang aneh. "...!!" Anto yang tiba-tiba sudah tidak sakit kepala lagi tidak bisa
berkata apa-apa dengan dirinya sendiri.
"Anto, apa yang terjadi barusan?" Tanya NAVI yang juga tidak tahu apa-apa.
"Bukannya aku yang harusnya nanya!" Anto yang bingung sendiri dengan pertanyaan NAVI.
"Aku tiba-tiba non-aktif." Jawab NAVI yang sama sekali tidak tahu apa-apa.
"NAVI, kamu cari tahu penyebabnya, sementara aku melihat mereka berdua." Minta Anto pada NAVI sambil mengganti pakaiannya dengan pakaian normal. NAVI diam tidak merespon Anto, tapi mengerjakan apa yang di minta Anto. Mereka berdua yang tidak tahu apa-apa hanya bisa mencari tahu penyebab terjadinya barusan itu dan mengerjakan bagian masing-masing. Anto yang telah meninggalkan urusan lain pada NAVI, masuk ke dalam tendanya lebih dalam untuk melihat keadaan mereka berdua yang sepertinya tidak ada yang bicara lagi. Anto meliha ke ruang keluarga, merek berdua tid ada di sana. Setelahnya, Anto mecari ke ruang tamu, mereka berdua juga tida ada. "Di mana mereka?" Anto yang tidak menemukan mereka berdua di kedua tempat itu.
Saat Anto hendak naik ke atas, dia mencengar sesuatu dari dapur. Tanpa berkata apa-apa dan bingung, Anto sudah tahu di mana mereka berdua, langsung ke sana melihat apa yang mereka berdua sedang lakukan. Saat sampai, Anto mengintip dari luar, melihat apa yang mere sedang lakukan. Anto melihat Siska yang sedang ketakutan pada Lia yang tersenyum padanya dengan sangat tukus sekali. "Apa kamu ingin jadi Istrinya dia?" Tanya dia pada Siska yang sedang ketakutan sekali padanya. Lia tetap tersenyum pada Siska yang sangat ketakutan adanya.
"Sepertinya aku harus masuk." Anto yang tidak bisa melihat Siska yang tertekan sekali dengan Lia yang sangat mendominasinya. Anto yang tadi mengintip, masuk ke dalam dengan senormal mungkin. "Siska." Panggil Anto dengan lembut. Siska yang melhat Anto langsung k belakangnya bersembunyi. "Jika aku tidak masuk, apa yang akan terjadi?" Anto yang merasa aneh saat melihat Siska yang bersembunyi pada dirinya yang lebih kecil adannya. "Oh ya, perkenalkan namaku Anto dan dia Siska." Anto dengan sopan memperkenalkan dirinya. "Maaf, aku baru ingta belum memperkanalkan diri." Anto yang berkata jujur dan tulus pada Lia.
"Tidak papa. Aku sendiri juga tidak mempekenakan diriku dari benar tadi." Lia yang menjawab Anto dengan baik. "Kalau gitu, namaku Lia, ini namaku sejak aku lahir yang di berikan OrangTuaku. Jadi sangat mirip dengan nama Manusia di Bumi." Lia yang mengulang lagi perkelanan dirinya.
"Ya." Respon singkat Anto sambil tersenym pada Lia. "Nah Lia, apa kamu mau makan?" Tawar Anto pada Lia dengan tersenum kecil padanya. Lia langsung tersenyum senang lalu mengangguk sebagai jawaban. Sete;ahnya Anto berjalan ke dapur, tapi di hentikan oleh Siska yang ada di belakangnya. "Siska!" Anto yang melupakan Siska yang bersemunya di belakangnya. "Ada apa?" Tanya Anto dengn lembut.
"Ne Siska... Sepertinya salah. Ne Nina, kenapa kamu membohongi Anto?" Tanya Lia tanpa basa-basi mau menunggu lebih lama di bohongi lagi. Nin ayng medenga itu, terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa.
Setelah itu, Nina berjalan pelan tanpa mengatakan satu kata patah pun pada Anto dan Lia. "Apa kamu yakin ingin membiarkannya begitu?" Tanya Lia pada Anto dengan biasa saja.
"Mana mungkin. Tapi, untuk saat ini lebih baik membirakannya saja menengkan dir." Jawab Anto sambil mleiah ke arah Nina yang keluar tadi. "Selain itu, tunggu aku selesai memasakn di sini." Anto meninggalkan Lia sambil berjalan ke dapur. "NAVI, ku serahkan padamu." Anto langusng meminta pada NAVI.
"Mustahil." Jawab singkat NAVI. "Dia tahu kalau aku dirimu dan dia tahu aku itu kamu. Jadi dia tidak akan bicara sama aku sama sekali. Tapi akan ku coba membujuknya." NAVI yang sepertinya masih sibuk dengan urusannya yang di minta Anto yang belum selesai.
"Oh ya." Anto menghentikan langkahnya. "Lia, kenapa kamu tidak meminta para Kultivator untuk mengantarmu ke bumi?” Tanya Anto pada Lia sambil melihat ke arahnya.
“Aku tidak mungkin minta pada mereka. Mereka semua berpikran sempit.” Jawabnya dengan wajah kesal dan jengkel. “Mentang-mentang mereka bisa hidup lama, seenaknya saja mereka mengambil hak orang lain.” Lia senakin terlihat marah saat mengatakannya.
"Aku paham." Anto yang takut saat melihat Lia yang marah seperti ingin menghancurkannya. "Sepertinya aku tidak boleh membuatnya marah sama sekali." Anto yang tidak bisa melihat wajah Lia yang akan marah padany dengan sangat menyeramkan. "Kalau gitu, aku masak dulu dan tunggu aku di sini. Atau kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau di tenda ini." Anto yang meninggalkan Lia yang sudah kembali normal setelah mengatakan itu. Setelah menagtakn itu, mereka tidak melakukan apa-apa lagi dan mekukan apa yang sedang di iginkan mereka
***
30 menit lebih berlalu, Anto sudah menyelesaikan masakannya. "Anto, apa ada yang bisa ku bantu?" Tanya Lia yang baru ke dapur.
"Lia!" Anto melihat berbalik ke Lia yang datang. "Tidak ada, semaunya sudah selesai. Mari kita hidangkan saja di meja." Ajak Anto sambil berjalan ke arah Lia yang di dekat dapur. Semua makanan yang melayang itu, terbang mengikuti Anto yang berjalan ke meja makan. Lia yang mecium bau makanan itu sudah tidak sabar sekali dengan makanan yang di buat Anto dan duluan ke meja makan dengan cepat. Anto yang melihat itu hanya tersenyum kecil dan juga merasa senang meski hanya hal kecil saja sudah membuat bahagia.
Nina yang sudah duduk di kursinya, melihat ke Anto yang sedikit pelan jalannya. Dia menatap tajam ke arahnya meski itu bukan ancaman. Tai, itu membuat Anto sedikit takut dengan tatapannya. "Ceptalah." Panggil Lia saat Anto berhenti saat masih di tengah menuju meja makan. Anto tidak merspon malah berjalan ke Lia.
"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Nina. kamu bisa makan duluan jika mau." Kata Anto saat sampai di kursinya, lalu dia menaruh makanan di atas meja. Setelah tu, Anto meninggalkan Lia sendiri dengan makanan yang telah selesai. "Saat aku kembali, pasti sudah ada rastusan yang habis." Anto yang mengingat Nina yang menghabiskan ratusan dalam sebentar saja. "Hah... Sekarang, lebih baik melihat kondisi Nina." Anto berjalan pelan ke kamar yang mungkin di tempati Nina. Anyo berjalan ke reflika kamar OrangTua nya. "Nina, makanana sudah siap, kapan kamu akan makam?" Anto sama sekali tidak mendapat respon dari Nina. "Apa mungkin dia masih marah." Anto yang tidak bisa berbuat apa-apa. "NAVI, bagaimana?" Tanya Anto pada NAVI yang kemungkinan berhasi membujuknya.
"Dia sama sekali tidak mau bicara denganku. Tapi, sepertinya bukan rahasianya yang terbongkar yang membuatnya pergi. Gejala emosinya tidak beraturan. Jika benar, sepertinya dia sangat bingung dengan semua yang sedang di alaminya." NAVI lansung memberitahu kondisi Nina yang kemungkina tidak sala seperti yang di katakan NaVI .
"Sepertinya hanya bisa kembali." Anto yang lagsung menyerah dan tidak menggangu Nina lebih lama lagi. ANto kembali ke ruang makan. Namun saat sampai, dia sudah melihat Lia yang sudah mengabiskan hampir setengah makanan yang di buatnya. Lia tidak melihat Anto yang sudah kembali dari luar dan terus melanjutkan makannya tanpa peduli. Anto mulai juga makan dengan pela da tidak serakus Lia yang samai tidak melihat situasi di sekelilingnya.
***
“Aku sudah kenyang.” Ucap Anto yang sudah sangat kenyang sekali sambil memegang perutnya. “Tapi, kapan dia akan selesai?” Anto yang melihat Lia yang masih menatap 1 porsi lagi makanan di depannya. "Habiskan itu, nanti ku buatkan lag yang lebih banyak." Anto yang tidak melihat Lia yang menatap makanan itu dengan tajam sekali.
“Benarkah?” Tanya Lia dengan mata berbinar. Anto megangguk sebagai jawaban, setelah itu Lia tiba-tiba berlari ke Anto yang sedang melihtanya kemudai memeluknya dengan erat.
"Terlalu kaut." Anto yag bisa kesakitan dan juga membiarkan drinya di peluk. "Nina!" Anto melihat Nina yang elihat ke arahnya saat sedang di peluk Lia. Anto sama sekali tidak kaget, tapi malah Nina yang terlihat kaget. "Ada apa?" Tanya Anto meski sudah ngerti kenapa Nina kaget dengan Anto yang sedang di peluk Lia. Nina yang melihat itu, tiba-tiba lari tanpa tujuan apa pun dan meninggalkan Lia dan Anto yang sedang di peluk. "Sepertinya dia salah paham?" Anto yang tidak mengeri dengan tingkah Nina yang tiba-tiba begitu. “Bisakah kamu mengejarnya?” Minta Anto pada Lia masih. “Aku tidak paham dengan situasi seprti ini.” Anto yang meminta lagi sambil melihat Nina yang masih memeluknya.
“Serahkan padaku.” Jawab itu dengan penuh percaya diri, lalu mencium kening Anto kemudian pergi mengejar Nina.
“Ya ampun!” Anto yang menatap Lia yang telah menciumnya. Anto berdiam diri di tempatnya setelah Lia tidak ada di sana. “NAVI, sudah kuputuskan, aku ingin di manjakan oleh gadisku.” Anto dengan tegas memeberi tahu NAVI yang menemukan tujuan baru.
“Aku tahu itu.” NAVI yang mengerti perasaan Anto merespon dengan cepat. Setelah itu, Anto tidak berkata apa-apa dan senyum-senyum sendiri di ruang makan. "Apa kamu amu tetap di sini?" Tanya NAVI pada Anto yang sangat senang sekali. Tanpa Anto merespon, dia menghilangkan semua bekas piring dan lainnya. Lalu keluar berjalan dan ke ruang keluarga.
Setelah sampai, Anto berbaring di sopa dengan nyaman. “Aku harap besok semuanya baik-baik saja dan tenang.” Anto yang mulai memejamkan matanya. Anto yang senang dengan hal barusan tersenyum saat sedang tidur.
NEXT Chapter