
Luna yang melihat kejadian itu langsung terbang ke arah Anto yang sepertinya terjadi sesuatu padanya. Sesampainya di sana, dia hanya melihat Anto sudah tenggelam dalam lumpur kering dan tidak sadarkan diri sama sekali. “KAKAKKKK…!” teriak Suci yang sepertinya mendekat ke arah Luna yang masih memperhatikan saja sambil mellayang dan belum menonolongnya. Luna yang Suci mendekat, langsung turun menolong Anto dan menariknya dari lumpur kering itu. Suci yang sampai di sana langsung terlihat panic dan terlihat tidak tahu harus apa.
“Tenang Suci. Dia hanya pingsan saja.” Luna yang tidak menyangka dapat melihat ekspresi Suci yang berbeda lagi. “Tapi, apa yang jatuh menimpanya itu. Aku sama sekali tidak merasakan adanya mahluk hidup di sekitar sini.” Luna yang melihat sana sini tidak menmukan siapa pun kecuali dirinya.
“Luna, apa yang terjadi padanya?” Tanya Suci sambil menatap ke Luna dengan cukup panik. Luna tidak langsung merespon malah melihat sana ini dan belum mendeteksinya.
“Aku tidak tahi, tapi tadi seperti ada yang meimpanya kemudian jatuh dan tidak sadarkan diri.” Jawab Luna dengan jujur sekali. Suci masih saja menatap Luna yang masih melihat sana sini tanpa memperhatikannya sama sekali. Luna menutup matanya lalu menggunakan Skilnya dan setelah beberapa saat dia membuka matanya. “Aku sama sekali tidak bisa merasakan adanya orang di sekitar kita. Apa kamu bisa merasakannya?” Tanya Luna pada Suci setelah melakukan deteksi dengan Skilnya yang tidak menemukan apa pun.
Suci melakukan deteksi juga, tapi hasilnya sama saja tidak menemukan apa pun di dekatanya. “Aku akan percaya saja dengan semua yang terjadi hari ini karena bukan kamu." Dengan serius menatap ke Luna. "Cepat bersihkan Kakak, aku akan menyaipkan makan siangnya sebenrar lagi." Suci berbalik dari tempatnya setelah mengatakan itu dengan sedikit cemas meski wajahnya itu terlihat tenang dan juga dengan sedikit mengancam Luna. Luna yang di salahi begitu tidak bisa berbuat apa-apa.
“Hah… Siapa sebenarnya yang tadi tiba itu. Jika itu Ana tidak mungkin muncul dengan seperti itu.” Luna yang mengingat Ana seperti apa orangnya meski baru belum sehari bersamanya dan jadi kepikirna dengan orang yang membuat masalah untuknya. Setelah itu, Luna melayangkan Anto yang di selamatnya lalu terbang menuju ke gubuk kecil itu. Setelah sampai dia langsung masuk dan menemukan semua yang di dalam telah berubah sedikit. Di dalamnya terdapat meja makan dan sebuah tempat tidur baru yang baru di buat oleh Suci. Tapi, kursi meja makan masih kurang tinggal satu lagi karena Ana belum sampai.
Luna berjalan ke kasur lalu membaringkanya di kasur dengan pelan. Luna langsung duduk di dekatnya tanpa memeriksa kondisi Anto yang tadi jatuh. “Luna, di mana mereka berdua.” Tanya Suci yang ada di dekat pintu yang terbuka sambil membawa beras yang sudah siap di masak.
Luna langsung melihat ke Suci yang bertanya dari dekat pintu masuk. “Sherly cari sayur dan Riana pergi mencari Sherly.” Jawab singkat Luna dengan santainya dan tidak mengabaikan Suci.
Suci terdiam dan mencerna maskud Luna. “Apa kita harus masak nasi pakai api itu?” Tanya Suci pada Luna sambil membawa beras yang sudah bersih itu. Luna jadi kepikiran dengan hal itu dan juga merasa kalau memasakanya dengan api di luar akan membutuhkan waktu lama untuk nasinya jadi.
“Kalau beras itu mending pakai mesin, dan lauk ikan dan lainnya nanti kita panggang atau goreng caranya.” Jawab Luna yang baru kepikiran dan langsung menjawab dengan itu. Suci langsung masuk ke dalam gubuk dan mendekat ke meja makan lalu di sana dia membuat sebuah alat memasak (Lebih simple anggap megicom), yang kemudian dia menuangkan berasnya ke dalam dan langsung menghidupkan mesinnya tanpa menggunakan listrik apa pun.
Kuna hanya memperhatikan saja dan tidak melakukan apa pun lagi. “Suci, bantu cari ikan di sungai, danau jika ada.” Minta tolong Luna pada Suci sambil menyelimuti Anto yang sudah di bersihkannya dengan singkat. Suci yang sudah selesai menaruh nasinya di atas meja, kini dia melihat ke Luna dengan biasa saja.
“Ya. Kalau gitu kamu gantikan aku menjaga api itu, sekalian juga kumpulkan padi yang sudah di panennya. Nanti kita bersih semuanya biar kita dapat makan selama beberapa hari.” Respon Suci sambil jalan keluar. Setelah di luar, Suci langsung membuat sayap kemudian terbang meninggalkan gubuk itu yang sudah siap di singgahi. Luna yang melihat Suic tidak berkata apa-apa dan hanya bisa diam saja karena sudah terbiasa dengan hal itu meski baru sehari kenal dengan semunya.
Perlahan dia bangun sambil memegang kepalanya yang terbentur. “Luna, sepertinya sudah sampai langsung ke tempatmu.” Sapa Ana dengan sopan yang sudah berdiri tegak. Ana melihat sana sini dan menemukan beras yang sedang di masak sudah tumpah semua. “Maaf!” Ana langsung memimta maaf pada Luna yang sedang duduk di sampingnya. Tapi, Luna hanya tersenyum lalu berdiri dan mengangkat tangannya lalu membereskan semua itu dengan menghilangkan semuanya.
“Maaf, tapi kenapa kamu mau ke sini?” Tanya Luna pada Ana yang melihat ke Anto. Ana tidak langsung merespon malah melihat dengan penasaran pada Anto yang tertidur.
“Aku ingin jadi bagian dari Haremnya.” Jawab Ana dengan santai sambil berjalan ke Anto yang sedang terridur. Setelah cukup dekat, Ana melihat ke Anto dengan sedikit penasaran tapi di saat yang bersamaan juga menemukan sesuatu yang tidak di duganya. “Kenapa ada luka di dadanya?” Tanya Ana yang sepertinya sudah memeriksa kondisi Anto.
“Luka apa?” Tanya Luna yang sepertinya tidak memeriksa Anto saat menyelamatkannya sambil melihat ke Anto yang masih berbaring.
“Entahlah, tapi itu hasi dari tetimpa sesuatu yang berat.” Jawab Ana dengan santainya yang sudah di dekat ke Anto. Ana yang ada di sana langsung memegang tangan Anto lalu membuat Anto jadi sedikit bercahaya dalam beberapa detik dan setelahnya cahaya itu padam. “Oh ya, apa kamu menemukan saudariku di sini?” Tanya Ana yang pada Luna.
“Saudarimu? Tidak pernah ku temukan siapa pun!” jawab Luna karena tidak menemukan siapa oun saat kembali dari Dunia itu kecuali dirinya dan lainnya yang masih di tempat mereka masing-masing. Tapi di saat yang sama juga, Luna jadi teringat saat Anto yang tiba-tiba jatuh pingsan. “Sepertinya, aku tahu siapa yang menimpanya sampai pingsan sekarang.” Sambil tersenyum pada Anto yang masih terridur. “Apa di Duniamu ada Skil yang bisa menghalagi pendeteksi atau sejnisnya?” Tanya Luna pada Ana yang melihat ke Anto. Saat di Tanya itu, Ana terdiam sebentar memikirkannya.
“Ada.” Jawab singkat Ana yang hanya focus pada Anto dan tidak memperhatikan pertanyaan sesungguhnya dari Luna.
“Apa kamu bisa mengajariku?” Tanya Luna pada Ana yang masih focus pada Anto. Ana berdiri lalu melihat ke Luna yang meminta itu padanya. Ana yang di tanya seperti itu langsun melihat ke Luna.
“Nanti saja, karena sepertinya aku tahu yang kamu cari.” Ana langsung membuka sebuah ruang di dekatnya yang terlihat jelas apa yang di dalamnya, yang di dalam ada seorang gadis yang tidak di kenalnya sedang berbaring di sebuah tempat tidur dengan nyamannya. “Mari masuk.” Ajak Ana dengan santainya. Setelah masuk, Gadis yang di dalam langsung sedikit kaget dan melihat ke arah Ana dan Luna yang masuk. Ana mendekat ke Gadis yang berbaring enak di kasurnya sedangkan Luna berdiri agak jauh dari mereka.
“Ana.” Panggil gadis itu dengan santaunya saat sudah di dekatnya. “Kamu sudah sampai ya hehe…” Gadis itu tertawa ambil mengalihkan pandangannya saat di lihat oleh Ana dengan sangat tajam.
Next Chapter