
“Mari kita turun dulu. Jika ku katakan sekarang tidak akan menarik sama sekai.” Anto menambahkan dengan serius lalu senyum pada Haruna dengan menghilankan ekpresi sedihnya sambil jalan duluan. “Benar, ini sudah waktunya memberi tahu tentang diriku.” Anto jalan duluan meninggalkan Haruna yang diam saja. Di sisi lain Anto yang sudah tahu kalau Haruna menyukainya hanya bisa diam dan tidak mengungkapkannya karena dirinya juga suka pada Haruna. Tapi bukan kerena takut melainkan karena mereka akan berpisah untuk waktu yang lama sekali. Jika ingin mengungkapkannya dia harus punya alasan dulu supaya mereka bisa bersama.
Saat mereka berdua sampai di lantai bawah, Anto dan Haruna jalan ke ruang makan. Tidak ada yang bicara sama sekali, di sisi Haruna terlihat sangat tidak sedih sekali saat mereka sedang jalan ke ruang makan. Anto yang melihat ekpresi itu hanya bisa diam tidak komentar. “Sepertinya akan sulit menjelaskannya, tapi ini lebih baik dari pada sia-sia. Mumpung tinggal satu tahun lagi sebelum aku mati, lebih baik ungkapkan saja kan.” Anto yang sama sekali merasa bersalah pada Haruna yang akan mendapat hal yang tidak di inginkannya sama sekali.
Setelah mereka berdua sampai di ruang makan Anto langsung duduk di kursinya. Makanan di atas meja semuanya sudah tersedia oleh Haruna yang memasak. “Sepertinya kamu sedih ya. Tapi… sudah lah, mari kita sarapan, dan setelah selesai akan ku beritahu semuanya.” Setelah mengatkan itu, Haruna mulai mengisikan Anto makanan pada piringnya. Anto diam saja menunggu dengan memperhatikan Haruna yang lagi sedih dan juga sebentar lagi kesedihannya itu akan bertambah jika dia tidak menerima kondisinya.
***
Setelah beberapa lama sarapan Anto dan Haruna selesai, kini waktunya Anto akan menceritkan dirinya dan siapa dirinya itu. “Haruna, apa kamu mau menikah denganku?” Tanya Anto langsung saat Haruna sedang duduk saja di tempatnya dengan sedih. Haruna malah langsung sangat kaget dengan pertanyaan Anto. Dia bertingkah sangat berbeda dari biasanya. Haruna langsung mengangguk tanpa ragu sama sekali meski dia tidak tahu sama sekali kenapa Anto bertanya seperti itu padanya dengan sedikit senang sekali. “Aku juga ingin menikahimu, tapi aku tidak bsa memilikimu sekarang karena sebentar lagi aku akan kembali ke Duniaku.” Bicara Anto dengan jelas.
Saat mendengar itu Haruna jadi terdiam dan tingkah senangnya jadi pudar dan terlihat hanya sekedar harapan saja. “jangan bersedih dulu. Aku tetap akan menikahimu, tapi aku juga terpaksa melakukan hal ini. Kamu tahu tiba di Dunia ini karena misi dan setelah misinya aku akan keluar dari Dunia ini. Jika aku tidak menyelesaikannya dalan 1 tahun lagi maka aku akan mati karena gagal memenuhi misinya.” Anto menjelaskan hal itu padanya dengan singkat dan jelas. “Jadi apa kamu mau menungguku kembali?” Tanya Anto pada akhirnya karena ingin tahu.
Haruna yang mendengar itu sangat ragu dan juga masih terlihat tidak ingin terima sama sekali dengan perkataan Anto itu. “Bagaimana cara meyakinkannya?” Tanya Anto pada dirinya sendiri saat melihat Haruna yang sangat tidak ingin terima. “Haruna, apa kamu tahu kenapa aku melakukan ini? itu semua karena kamu aku melakukan ini.” Anto menanyakan itu pada Haruna dan langsung menjawab sebelum Haruna meresponnya. “Jika aku tidak menyukaimu, aku sudah pergi beberapa tahun yang lalu meninggalkanmu sendiri.” Anto mengingatkan itu dengan jelas.
Haruna bukannya langsung merespon malah dia membanting meja ke samping hingga membuat Anto kaget dan semua barangnya tumpah semua. Haruna langsung berjalan ke Anto yang duduk terdiam karena kaget dengan perbuatan Haruna. Setelah di dekatnya dia langsung memeluk Anto dengan sangat erat hingga Anto jadi berdiri. “Ku mohon jangan tinggalkan aku. Aku takut sendiri di sini…” Minta Haruna dengan suara kecil dan sedih padanya. “Aku akan melakukan apa pun yang kamu mau… jangan tinggalkan aku sendiri…” Dengan sedih meminta pada Anto.
Anto diam saja membiarkan dirinya di peluk oleh Haruna yang sangat gemetar sekali. “Mustahil Haruna. Kamu tahu kan kalau aku tidak menyelesaikan misiku, aku akan mati karena hukuman. Apa kamu mau aku mati sia-sia?” Tanya Anto pada Haruna yang memeluknya dengan sangat erat sekali. Haruna langsung menggelengkan kepalanya yang bisa di rasakan oleh Anto. “Kalau gitu apa jawabanmu, apa kamu mau menungguku?” Tanya Anto pada Haruna dengan suara halus tanpa sama sekali membalas pelukan Haruna. Haruna langsung mengangguk yang bisa di rasakan olenya. “Kalau gitu baguslah, aku akan menjelaskan rencana saat ini padamu.” Anto yang merasa lega dan tetap membiarkan Haruna memeluknya.
“Dengarkan baik-baik, setelah ini kita akan pergi dari kota ini dan akan pergi membawamu pulang dalam waktu 6 bulan ke rumahmu. Tapi sebelumnya itu kamu harus jadi kuat dan memhami banyak sihir supaya kamu tidak di jodohkan dengan siapa pun dan bisa menentang siapa pun yang melawanmu. Kamu tahu sendiri kan kalau di tempat tinggalmu itu sudah hal biasa di jodohkan.” Anto menjelaskan secara singkat. Haruna hanya mengangguk saja dengan terus memeluk Anto. “Selain itu kamu tidak boleh ikut aku melawan orang yang jadi tujuanku.” Saat mendengar itu Haruna langsung melepas pelukannya lalu melihat ke Anto dengan tajam. “Tunggu! Bukannya aku tidak ingin mengajakmu, tapi karena kalau aku mengajakmu aku akan mati juga. Ini misi tidak boleh ku timpa pada orang lain atau aku akan mati jika mengajak seseorang. Makanya aku tidak mau mengajakmu.” Anto menjelaskan dengan singkat.
Meski itu bukan alasan yang sebenarnya Anto melakukan itu, tapi itu lebih baik dari pada tidak sama sekali karena dia tidak ingin Haruna terlibat melawan bos Mosnter dari Dungeon itu. “Maaf Haruna, ini satu-satunya cara supaya kamu tidak ikut.” Anto yang hanya bisa diam saja saat masih di tatap oleh Haruna. Anto berdiri lalu memeluk Haruna yang menatapnya. “Tenang saja, aku pasti selamat. Jika tidak ku selesaikan misi ini, Duniamu akan hancur juga karena aku gagal, tapi aku yakin pasti akan berhasil karena aku sudah banyak senjata yang mematikan dan bersekala besar, meski saat ini aku lemah.” Anto menjelaskan dengan lembut.
Haruna merasa tenang lalu membalas pelukan Anto. Anto kemudian melepas pelukannya dari Haruna. “Kamu pergi kemasi barang-barang yang kamu perlukan.” Minta Anto dengan sangat lembut pada Haruna. Haruna mengangguk lalu langsung berlari meninggalkan Anto sendiri. Saat Haruna sudah pergi Anto kemudia membuka dimensi di dekatnya lalu memasukkan tangannya dan mengeluarkan pakaian serba hitamnya dan bagian lainnya. Anto kemudian melepas pakaian seragamnya lalu mengenakan pakaian serba hitamnya.