
“Ehm… sudah jangan pikirkan itu lebih baik kalian semua bersiap.” minta guru itu dengan sedikit canggung dan tidak berkata apa-apa lagi. Guru itu pergi setelah mengatakan itu dan hanya bisa diam saja. Semua murid terlihat senyum dan tertawa sendiri, tapi ada juga yang merasa iba pada Anto. Di sisi lain Anto yang sama sekali tidak peduli hanya diam saja merasakan hatinya berdebar melihat banyak reruntuhan di dekatnya. No 2 yang melihat hanya tenang saja melihat semua orang yang terlihat bersemangat.
“Ku harap semua orang selamat saja dah…” ucap No 2 dengan biasa saja melihat semua orang yang terlihat begitu bersemanangat. Saat semua orang senang, dua orang keluar dari sebuah kapal yang kecil, yang ternyata Ayah dan Ibu Anto sendiri sebegai intruktur. 'WAAAHHHH…!' semua orang terlihat senang melihat kedua orang tua Anto yang datang. No 3 tidak peduli sama sekali dengan hal itu dan hanya diam saja terus merasakan hatinya berdebar-debar dengan hal lain. Ayah dan Ibu Anto berhenti jalan di sana lalu para guru memberi hormat pada kedua orang tua Anto.
“Semuanya berbaris!” dengan tegas Ayah Anto memerintah. Semua orang yang mendengar itu langsung cepat bergegas kecuai Anto yang diam di tempatnya. Semua orang diam termasuk Anto yang diam di tempatnya. “Hari ini kita menjelajah ke rertuntuhan kota yang tidak kita kenal dan merupakan yang pertama kalinya akan di jelajah. Oleh sebab itu jangan bertindak sembarangan dan ikut arahanku.” dengan tegas mengatakannya. ‘SIAP!’ teriak semua orang serempak kecuali Anto yang diam saj di tempatnya.
“Pak, apa yang akan kami lakukan?” Tanya seorang murid pada instruktu di depannya dengan tegas.
“Kalian harus menaikkan level kalian supaya bertambah kuat dengan melawan monster di sini. Kami berdua hanya akan mengawasi saja di sini dan akan menjaga kalian supaya aman dari jangkuan monster kuat.” dengan tenang mengatakan itu pada semua muris yang ada di sana.
“Intrukstur, Jenis monsternya apa yang di lawan?” Tanya Fuka dengan tegas dan layaknya seorang prajurit.
“Tidak di ketahui, yang jelas mosnternya berbahaya.” jawab Ayahnya sebagai instruktur. Sementara dari penglihatn No 2, dia tahu kalau itu tempat di mana tepat itu. Itu dalah saat dia bertemu dengan Hana di masanya sendiri. No 2 dapat merasa banyak monster sedang berlari ke arah mereka dan itu merupakan jenis yang sama dengan yang di habisinya di masanya itu. Sementara No 3 yang berdebar hatinya dengan tenang melihat sana sini tanpa peduli dan merasakan sesuatu yang mendekat. Di saat yang sama juga, No 2 mulai di tarik oleh sesuatu menggantikan No 3 yang berdebar hatinya. “Kamu! Kemari!” Anto di panggil Ayahnya setelah menggatikan No 3 tepat di sana. tapi Anto sama sekali tidak merespon dan malah di lihati oleh semua murid di sana.
Semua orang terdiam melihat yang di lakukam Instruktur. “Sekarang pemuda ini akan menunjukkan cara memburu monster yang tepat pada kalian semua…!” dengan tenang mengatakan itu pada semua orang, saat Anto sedang tersungkur di tanah dia perlahan bangun. ‘AHHHHH…!’ No 2 berteriak setelah beberapa saat lalu bangun dengan cepat.
“Apa yang Ayah lakukan…?” Tanya No 2 dengan tajam sekali padanya. Semua orang membeku dengan tatapan Anto pada intrukstur di depannya. Ayahnya malah terlihat tegas saja, tapi itu berubah saat Anto yang lainnya yang muncul. ‘ROARRGGGHH…!’ teriakan monster itu sudah terdengar sangat dekat sekali dan mereka membuat tanah di sekitar mereka bergerak dan bergetar hebat lalu berhenti beberapa saat. Semuanya jadi hening tidak ada yang bicara sama sekali, tapi bukan kerena msonter itu. “Ayah… Intrukstur, apa mereka bisa melawan monster tinggi ini?” Tanya Anto pada Ayahnya yang di sekitarnya henig sekali.
“Apa maksudmu?” Tanya Ayahnya yang penasaran dengan perkataan Anto yang seperti itu. Anto tidak merespon malah menunjuk pada sebuah gedung-gedung yang rubuh dan banyak puingnya di dekatnya. Anto tidak hanya menujukkan satu saja tapi beberapa kali menunjuk ke tempat yang kosong dan tidak ada apa pun di sana. ‘AHHH…!’ salah satu murid berteriak dengan lengannya yang sudah terpotog, lalu beberapa murid lainnya juga mulai berteriak. Semua murid jadi bersiaga dengan serius sekali lalu sesuatu yang tadinya tidak ada kini perlahan di sekeliling mereka banyak sekali monster. Tidak ada yang bicara sama sekali dan mereka semua ketakutan dengan berusaha menahannya.
“Kalian tidak takut mati ya… beruntungnya Ayah punya pasukan seperti ini dan tidak terlalu bergantung para semua robot yang ku berikan.” puji Anto dengan senyum melihat ke Ayahnya, lalu jalan meninggalkan Ayah dan mendekat ke salah satu monster yang dekat. Semua orang orang hanya melihat saja termasuk Ayah dan Ibunya yang melihat ketenangan anak mereka. ‘RO…!’ baru saja mau meraung monsternya sudah tidak di dekatnya. Semua orang hanya terdiam melihat monster yang tidak ada di sana dan tidak berkata apa-apa sama sekali. Anto hanya tersenyum pada semua orang dengan tenang dan penuh percaya diri sekali. “Kalian tahu, aku bisa dengar semuanya sejak dulu ocehan kalian tentangku, tapi aku sengaja menahan diri untuk mencari teman dan mengajari mereka cara bertahan hidup yang benar di Dunia. Tapi itu sia-sia saja dan tidak berguna sekali.” dengan tetap senyum mengatakannya pada mereka. Setelah itu Anto menyembuhkan beberapa murid yang terluka dari kejauhan tanpa menggerakan badannya dan hanya terdengar suara aneh saja. Setelah menyembuhkan semua murid yang terluka, dia tetap di tempatnya. “MATI!” No 2 mengatakan itu dengan jelas sekali pada semua orang. Setelah itu semua mosnternya menghilang dalam sekejap lalu monster yang pertama hilang, kini muncul dalam ke adaan sudah terpotong juga tanpa ada tulang dan kulitnya sama sekali di depan mereka semua. Tidak ada yang bicara malah mereka sangat ingin tahu apa yang barusan terjadi. “Dengan level kalian yang sekarang sangat mustahil melawan mereka, jadi sebaiknya kita pindah saja kelas praktiknya ke tempat yang lebih cocok buat kalian semua.” dengan tenang mengatakan itu pada semua orang di sana.
Ayah dan Ibunya hanya diam saja tidak berkata apa-apa karena mereka tahu anak di depan mereka itu adalah anak yang sudah mengetahui lebih tentang semua kondisi dunia yang sesungguh dan bagaimana cara mengadapinya. “Kalau gitu di mana tempat yang cocok buat mereka?” Tanya Ayahnya dengan terang-terngan. Anto langsung tersenyum pada Ayahnya lalu melihat ke semua murid yang terlihat tidak percaya dengan apa yang dirinya lakukan.
“Pertama lokasi ini sudah terlalu berbahaya untuk level kalian semua. Mungkin bagi ayah ini adalah level pemula, tapi jangan sama mereka dirimu Yah… mere…!” Anto tidak jadi melanjutkan perkataanya saat melihat sesuatu di dekat Fuka yang terlihat samar di dekatnya yang seperti bola besar sekali. Anto yang melihat itu terlihat panic lalu berlari dengan sangat cepat sekali hingga di depan Fuka dan beberapa gadis lainnya menghalangi mahluk yang terlihat sama-samar itu. “Siapa kamu?” Tanya Anto dengan tatapan tajam pada sesuatu yang sama yang lagi mau memegang tangan Fuka.