
“Tadi aku sempat marah saat melihat pemuda itu, tapi kenapa rasanya ada yang salah!” bingung No 1 yang melihat terus ke pemuda itu yang masih terbang dengan ekspresi yang sama. “Kenapa rasanya dia mirp seseorang yang ku kenal!” kata No 1 yang melihat terus pada pemuda itu. No 1 ters melihat padanya dengan seksama sekali tapi dia tidak dapat mengingat apa pun saat melihatnya terus. “Ku rasa nanti juga ku tahu, sebaiknya ku lihat lagi apa yang mau di tunjukkan ingatan ini.” kata No 1 yang sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi di dalam ingatannya itu.
“Ku harap ini segera berakhir Ayah.” terdengar suara seseorang yang membuat No 1 langsung melihat sana sini saat terus melihat ke pemuda itu. No 1 yang mendengar itu familiar dengan suara itu dan melihat lagi ke pemuda itu. Saat melihatnya dia terus tersenyum dan kali ini tatapan matanya berbeda sambil melihat terus ke No 2 yang sedang lari di samping sahabatnya. “Berapa kali pun ku lihat. Ayah tetap lah hebat meski Ayah tidak tahu siapa diriku. Tapi akan ku bantu sebisaku membuatmu pulang selama di Dunia ini.” dengan tenang suara itu mengatakannya.
No 1 yang mendengar suara pemuda itu jadi penasaran siapa yang di maksudnya itu. “Ayah! Siapa?” Tanya No 1 denagn melihat ke pemuda itu. “Arina memanggilku Kakek, lalu pemuda itu menyebut Ayah! Tapi siapa dan kenapa malah aku yang merasa di pangil seperti itu!” bingung No 1 yang merasa aneh saat mendengarnya. “Tapi ku rasa pemuda itu memang ada hubungannya denganku, tentu saja saat ini aku tidak tahu. Jika di nilai dari panggilam hati tadi, mungkin dia memang anakku dari salah satu Istriku.” dengan tenang menanggapi meski masih bingung. Setelah itu No 1 terus memperhatikan ketiganya dan menunggu akan di perlihatkan apa lagi oleh ingatan yang tidak di Skip ini.
Di sisi lain No 2 dan sahabatnya yang lari tidak bicara sama sekali dalam pelarian mereka berdua. No ekmau melirik ke sahabagtnya yang ekpresinya masih sama saja sejak mereka berlari seperti itu “Sebaikanya kita melakukan sesuatu. Dia terus mengikuti kita.” ajak No 2 pada sahabatnya yang tidak mengajaknya bicara sama sekali. Sahabatnya hanya diam saja tidak bicara dengan terus lari tanpa melihat ke No 2. No 2 terus menunggu respon sahabatnya yang masih tidak bicara sama sekali membalas ajakannya. “Apa aku perlu memanggil namamu?" Tanya sahabatnya itu yang membuat No 1 sedikit kaget mendengar itu.
Sahabatnya juga melihat padanya dengan terus lari sedangkan No 1 malah semakin penasaran dengan nama dari sahabatnya yang tidak pernah di dengar sampai sekarang. “Tidak perlu, kita sudah sampai.” jawab sahabatnya sambil berhenti berlari dan membuat No 2 sedikit berhenti mendadak. No 2 kemudan segera melihat ke sahabatnya yang berhenti mendadak itu yang ekspresinya masih sama seperti sebelumnya.
“Bukan itu maksudku, kamu yang tidak pernah di minta untuk di panggil namamu dan aku menurutinya karena tantangan yang kita buat waktu itu, meski kamu sudah sering melanggar tidak akan memanggil namaku juga.” timbal No 2 yang mengingatkan lagi sahabatnya itu yang melihat sana sini setelah berhenti.
Sahabatnya berhenti melihat sana sini lalu melihat pada No 2. Dia cukup lama memandang No 2 dan tidak berkata apa pun. “Begitu ya, kamu masih menepati kompetisi itu. Sepertinya aku yang terlalu memikirkan diriku sendiri dan tidak pernah memikirkanmu.” timbal sahabatnya itu dengan senyum pahit.
No 2 diam sejenak melihat ekoresi sahabatnya yang sedikit berbeda dari sebelumnya. “Jangan berkata seperti itu. Kamu sudah banyak membantuku dalam menyelesaikan masalahku selama ini, jadi aku tidak mempermasalahkan semua itu.” timbal No 2 yang melihat ekpresi sahabatnya itu masih sedikit senyum pahit yang tidak enak di lihat sama sekali.
No 2 yang mendengar itu hanya diam melihat ekspresi sahabatnya yang memaksakan diri tersenyum. “Jujur saja aku sangat kecewa saat kamu melanggar setiap aturan kompetisi itu, tapi aku juga menikmatinya karena tidak semua kompetisi harus berjalan sesuai aturan. Maksudku aku senang kamu melanggar aturan itu meski aku tidak melanggar, karena sebab itu membuat kita semakin dekat satu sama lain bahkan sudah seperti saudara yang sangat dekat sekali. Selain itu, pendpatku saat kamu membantuku itu karena kepercayaanku saja dan tidak melebihi itu. Kamu hanya menganggap ini sebagai permintaan kecil dariku, tapi permintaan yang ku minta padamu itu pasti akan ku balas lebih baik dari yang sekarang ini.” dengan tenang No 3 mengatakan itu pada sahabatnya.
Sahabatnya masih diam setelah mendengar hal itu dari No 2 yang terlihat santai mengataannya. Dan di saat yang sama pasir tempat mereka berdiri bergetar hebat sekali membuat mereka bergoyang dan juga membuat mereka segera berlari menjauh karena ada benjolan besar perlahan tumbuh dengan cepat dari pasir tempat mereka berdiri. Kedua berlari ke arah yang berbeda saat pasir di bawah semakin tinggi, dan setelah cukup tinggi, pasirnya meledek tiba-tiba. Keduanya sedikit terhempas akibat terlalu dekat dengan ledakan pasir itu, meski tidak membuat mereka berdua terluka. No 2 lalu perlahan melihat ke sumber ledakan tadi dan melihat ke sesuatu yang muncul dari dalam tanah itu. Sahabatnya kemudian membatu No 2 berdiri meski tidak memerlukan bantuan sama sekali. “Ini namanya cacing pasir gurun yang bisa menelan mangsa apa pun. Ini juga pertama kalinya aku lihat yang sebesar ini. Sebaiknya kita pergi dari sini karena ini sudah di kategorikan tingkat tinggi.” ajak sahabatnya dengan serius sekali.
No 2 yang mendengar itu malah melihat ke sahabatnya yang mulai serius lagi. “Kamu ini… aku tidak tahu ya! Kamu itu sekarang cepat sekali seriusnya, mungkin ini yang namanya usia bisa mengubah segalanya.” dengan tenang No 2 merespon sahabatnya itu.
“Kamu benar. Mungkin sekarang diriku sudah berbeda dengan diriku yang remaja kemarin, tapi bukan berarti aku tidak mau bersenang-senang lagi.” jawab sahabatnya degan masih serius sekali yang dapat di lihat dari ekpresi wajahnya. No 2 yang mendapat respon seperti itu sudah tidak bisa berkata-apa lagi dan hanya terdiam saja karena tidak terlalu suka dengan sikap sahabatnya yang sudah terlalu dewasa.
No 2 kemuda melihat ke mosnter cacing yang mulut atasnya terbuka lebar sekali dan juga banyak sekali giginya. “Mungkin lebih baik kita hentikan saja kompetisi ini.” ajak No 2 dengan serius juga. Sahabatnya malah melihat kepadanya yang terlihat kaget mendengar itu. “Ku kira kamu itu masih orang yang sama dengan sahabat yang kemarin, tapi cara pandang, cara bicara dan segalanya sudah mulai berubah dalam banyak hal. Kamu yang sekarang sudah tidak cocok dengan kompetisi kecil seperti ini.” respon No 2 dengan serius sekali.
Sahabatnya terus melihat pada No 2 yang masih melihat ke monster cacing itu yang seperti melihat sana sini dari tempatnya. “Apa kamu serius mengatakan itu?” Tanya sahabatnya yang melihat tajam dan terlihat sedih. No 2 yang mendengar suara sahabatnya sedikit berbeda suaranya yang terlihat seperti tidak terima dan kesal.
“Tidak juga, malah aku sangat bercanda sekali supaya dapat melihat wajahmu yang terlihat kecewa seperti tadi." respon No 2 dengan wajah ceria lagi dengan mengatakan itu pada sahabatnya. Sahabatnya yang mendengar itu terlihat kesal melihat wajah No 2 yang tidak terlihat sama sekali bersalah. No 2 terus enyum senang melihat ekpresi sahabatnya yang ternyata bisa di tipu dengan mudah sekali.