
Mereka berdua cukup lama saling tatap dengn penuh intens. “Ganti rugi!” Anto mengulurkan tangannya pada pemuda itu. Pemuda itu langsung melihat ke Anto yang minta seperti itu, dia langsung metogoh sakunya dan mengeluarkan dompet. Anto melihat ke dompet itu dengan sedikit penasaran. “Kamu masih pakai dompet di zaman ini, apa yang kamu pikirkan!” Keluh Ango saat melihat itu. Pemuda itu jadi diam dan berhenti saat hendak membuka dompetnya.
“Kamu ngajak berantem atau minta ganti rugi sih?” Tanya Pemuda itu dengan sedikit kesal pada Anto kali ini yang sepertinya mengajaknya ribut.
“Hah! Kenapa kamu nanya lagi, bukannya jelas aku minta ganti rugi.” Jawab Anto dengan santainya dan juga tidak peduli dengan pemuda itu yang kesal. Pemuda itu menahan emosinya lalu merogoh dompetnya mengeluarkan uang banyak sekali, lalu menyerahkannya ke Anto. Anto terus menatap pemuda itu lalu mengambil uang itu dengan santainya. Anto kemudian mengitungnya dan menemukan uang tersebut sebanyak 1 juta Rp lebih (Pake uang Indo aja). Anto kemudian melihat ke Kakek di sampingnya. “Kek, ini uang buat biaya kakek pulang.” Anto menyerahkan semua uang itu sambil tersenyum dan dengan suara lembut.
“Tunggu!” Pemuda itu menghentikan Anto lalu mengeluarkan lagi uang dengan jumlah lebih besar lagi. “Kek! ini uang buat Kakek dan keluaga. Jadi jangan keluar lagi cari kerjaan jika sudah malam.” Pemuda itu dengan suara lembut menegur. Anto dan pemuda itu mengulurkan uang ke Kakek itu dengan instern. Anto dan pemuda itu saling tatap seperti sedang adu kekuatan saja.
“Kek, jangan ambil uang itu. Ini uangku saja ambil. Aku baru pulang jadi tidak punya uang lebih.” Anto terus mendekatkannya ke tangan Kakek itu sambil tersenyum.
“Kek, jangan ambil uang itu. Itu uang buat dia, dan ini untuk kakek.” Remaja itu mendekatkannya ke Kakek itu dengan sopan dan lembut. Kakek itu jadi bingung harus pilih siapa di antara Remaja yang sedang memperrbutkan untuk menolongnya.
“Pemisi! Siapa di antara kalian yang punya mobil itu?” Tanya seorang petuga polisi yang tiba di sana dengan rekannya dan mereka berdua sama sekali tidak menyadari kalau ada polisi yang ada di sana.
“Dia pak.” Tunjuk Anto pada Remaja itu dengan cepat. Remaja itu langsung melihat ke Anto dengan penuh kemenangan dan tersenyum menang pada Pemuda itu. Dan sebaliknya Remaja itu jadi geram pada Anto yang senang dengan penderitaan yang sedang di alaminya dan juga kesal dengan wajah Anto yang penuh dengan kemenangan itu.
Polisi itu langsung melihat ke Remaja itu dengan tajam. “Kamu ikut kami ke kantor.” Dengan tegas mengatakannya. Remaja itu langsung melihat ke Kakek itu kemudian mengambil tangannya dan melepas semua uang di tangannya itu.
“Kek, jangan di kembalikan ya.” Dengan sopan dan halus mengatakannya. “Pak Polisi, mari pergi.” Ajak Remaja itu dengan tenang dan jalan ke mobil polisi duluan dengan santianya dan membuat semua orang di sana terlihat bingung seolah-oleh mobil polisi itu milik pribadinya. Di sisi lain, Anto jadi kesal entah kerena apa saat melihat senyuman Remaja itu saat berjalan meninggalkannya. Setelah itu Anto melihat ke Kakek itu dan mengambil tangannya dengan cepat uang itu sebelum Kakek sempat berkata apa-apa.
“Kamu tunggu, ikut juga.” Polisi itu memegang bahu Anto yang hendak pergi. Anto jadi tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. “Kamu harus ikut dan menjelaskan semua yang terjadi.” Anto di tarik paksa sebelum sempat pergi dan merespon polosi itu. Anto tidak berkata apa-apa dan hanya diam saja. Semua orang yang melihat itu jadi terhibur senang dan tidak seperti melihat kekacuan yang akan terjadi.
Sesampainya di dekat mobil polisi, Anto langsung di masukan ke bagian belakang mobil yang di sana sudah ada Remaja itu dengan melihat ke arahnya dengan tidak senang. tapi, Anto tetap masuk dengan tidak berkata apa-apa. Di sisi lain, Kakek yang di luar tadi di selamatkan Anto hanya diam saja tidak tahu harus berbuat apa sambil melihat uang yang di berikannya itu. Dan di saat itulah sebuah mobil berhenti di dekat pinggil jalan dekat Kakek itu. Yang keluar dari Mobil itu seorang Gadis muda yang terlihat cerah dan juga ceria yang semuruan dengan Anro dan Remaja itu. “Kakek, kenapa bisa ada di sini? Aku dari tadi mencari.” Tanya gadis itu dengan lembut dan juga terlihat ceria.
“Jua! Kakek cuma jalan-jalan saja. Lihat, Kakek temukan apa!” Kakek itu memperlihatkan uang yang di berikan Anto dan Remaja satunya.
“Uang? Dari mana Kakek dapat uang itu?” Tanya Jua yang terlihat penasaran saat melihat beberapa juta di tangan Kakeknya.
“Nanti Kakek cerita, mati kita pulang dulu.” Ajak Kakek jua dengan senang. Jua tidak mengerti dengan sikap Kakeknya itu karena baru pertama kali melihatnya seperti itu. Di sisi lain, Anto dan Remaja yang sedang di bawa ke kantor polisi hanya saling diam saja dan tidak berkata apa-apa. Mereka melihat ke jendela masing-masing. Anto menikmati pemandangan di luar dengan tenang.
“Jadi seperti ini rasanya naik mobil. Rasanya berbeda sekali saat mengendarai sendiri.” Anto jadi teringat kesehariannya yang selalu santai di Dunia lain. “Sudah banyak hal yang ku lewatkan selama puluhan tahun di sini, tapi kali ini pasti akan ku nikmati apa yang ada di Dunia ini.” Anto tersenyum sambil terus melihat ke luar jendela. Di sisi lain, remaja di sampingnya melihat dengan aneh ke Anto yang selalu mencari lirikan dan tidak berkata apa-apa. Anto yang menyadari itu juga membiarkannya karena tidak tahu apa yang akan terjadi jika bicara di sana.
***
Setelah beberapa menit, Anto dan Remaja itu sampai di kantor polisi. “Kalian ikut masuk.” Ajak kedua polisi itu dengan mengawal mereka berdua. Anto dan remaja itu langsung di bawa masuk dan hanya diam saja. Saat di dalam banyak sekali orang sedang sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing dan sesekali mereka melihat ke Anto dan Remaja yang di bawa oleh polisi itu. “Kamau ikut aku.” Panggil polisi yang tadi pada Anto untuk mengikutinya. Anto diam dan mengangguk sebagai jawaban sedangkan Remaja saunya di bawa polisi satunya ke arah lain. Anto tetap tenang dan diam saja. Setelah cukup jauh dan juga tiba di sebuah pintu, Anto langsung di buka kan dan menyuruh Anto masuk tanpa berkata apa-apa. Anto masuk perlahan tanpa berkata apa-apa setelah itu pintunya di tutup.