Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 109


Di dalam Hotel, Nayla dan lainnya yang sedang berdiskusi sesuatu si ruangan tertentu. “Sepertinya sesuatu terjadi di luar. Sofi, bisa lihat?” Minta Nayla yang duduk malas-malasan. Sofi tidak merespon sama sekali dengan Nayla. Sofi sibuk membaca buku yang di bawanya. Tapi, Sofi berdiri tanpa berkata apa-apa pada yang lainnya, lalu berteleportasi tanpa berkata satu patah kata pun pada semua orang yang ada di di sana (10 Heroine berkumpul satu tempat). Sofi langsung sampai di pintu masuk Hotel dengan begitu banyak orang yang di luar yang berkumpul melihat ke atas.


“Kenapa ribut!” Sofi menutup bukunya saat melihat keramaian yang tidak di ketahuinya. Sofi berjalan keluar Hotel untuk mengahui apa yang sedang terjadi. Saat melihat, dia melihat Nina, Nia dan Ria sedang melayang di udara. “Apa yang mereka perbuat?” Sofi melayang sambil membawa bukunya.


“LIHAT!!” Teriak seorang saat melihat Sofi. “Putri Es. Kekuatannya bisa menghancurkan kota ini. Kenapa dia di sini?” Tanya orang melihat itu. “Katanya dia sudah bertungan dengan Putra Mahkota kerajaan C, tapi dia menolaknya saat hendak di lamar.” Gosip tidak jelas dari para penonton yang tidak tahu apa pun. Mereka terus bergosip hingga Sofi tiba di dekat mereka bertiga. Semua orang diam saat melihat Sofi tiba di depan Orang ang bewarna merah darah dan Kultivator yang tidak di ketahui semua orang.


“Kenapa kalian masih di sini, cepat masuk. Yang lain sudah nunggu.” Ajak Sofi dengan wajah dinginnya namun sopan pada mereka bertiga.


“Nia ada masalah sama Kultivator itu.” Jawab Nina sambil menunjuk ke Kultivator itu. Sofi melihat ke orang yang di maksud Nina. Sofi melihat ke orang yang di maksud Nina. Sofi melihat dingin ke orang yang di maksud Nina.


“Dia Putra Mahkota kerajaan C yang lagi menyamar. Kenapa kalian tidak tinggalkan dia dan masuk?” Sofi yang langusng tahu. "Aku tidak tahu apa masalahnya, tapi dia sudah banyak melecehkan Gadis di bawah umur 15 tahun.” Sofi menjelaskan singkat tentang sejatinya Putra Mahkota. “Mungkin dia menginginkan Nia yang masih di bawah umur.” Sofi menambahkan sambil meninggalkan Ketiga saudarinya.


Sofi meninggalkan ketiga saudarinya, setelah menjelaskan sifat dari Putra Mahkota Kerajaan C itu. “Sofi, bisa bantu Nia?” Tanya Ria yang masih menenagkan Nia.


“Mustahil. Putra Mahkota orangnya Kepala batu.” Jawab Sofi sambil terus jalan meninggalkan Saudarinya. “Nina sendiri juga sudah tahu.” Sofi langusng menghilang saat masih melyang dan teleportasi ke dalam Hotel. Setelah kejadian itu, semua orang ribut-ribut dan bertanya dengan situasi yang barusan terjadi itu. Mereka semua sangat penasaran dan apa maksudnya itu.


“Sudah ku bilang bukan. Tapi, sepertinya bukan Nia saja yang dia inginkan. Mungkin ada hal lain yang dia inginkan dari Nia.” Nina mencoba mencerna maksud Sofi dan juga menambahkan pendapanya sendiri. “Ria, sebaiknya jangan ganggu Nia dan biarkan dia menyelesaikannya sendiri. Jika dia mau di bantu, bukannya dia bisa minta bantuan kita sejak awal.” Nina yang mengungatkan dengan sepenuh hatinya.


Ria tidak bisa berkata apa-apa dengan perkataan Nina. “Nia, apa kamu benar ingin menyelesaikannya sendiri?” Tanya Ria pada Nia yang masih memeluknya. Nia mengangguk yang bisa di rasakan Ria. “Aku paham. Tapi, cepat selesaikan dan juga buat dirimu bahagia sebahagia mungkin.” Ria yang sudah paham tidak bisa membantah dengan keinganan Nia. Setelahnya Ria melepas pelukannya dari Nia dan tidak melakukan apa-apa lagi. Nina menarik tangan Ria yang sudah  melepas Nia menuju Hotel.


Ria yang masih kahawatir dengan Nia hanya bisa melihat saja. “Kalian sudah selesai?” Tanya Putra Mahkota yang sedang menyamar. Ria tidak merespon hanya melihat ke Nia yang terus menatap Putra Mahkota. “Kuanggap itu selesai.” Sambil memasang teknik pedangnya. Nia tetap di tempatnya bersama Ria dan Nia yang masih dalam Invisible.


“Nina Ria, Lala di sini dengan yang lainnya. Tapi, Anto terlempar ke Dimensi lain.” Jawab Sofi yang tampak sedih dan juga kecewa. Setelah mendengar itu, Nina langusng lesu wajahnya dan paham maksud Sofi yang harus menunggu lebih lama lagi buat ketemu sama Anto.


“Aku pulang dulu.” Nina langsung teloprtasi setelah medengar itu dengan wjah yang sangat sedih sekali. Ria yang masih menggunakan warna merahnya, juga beeleportasi tanpa mengatakan apa pun pada yang lainnya.


“Sofi!” Panggil Lala dengan lembut. Sofi melihat ke arah Lala yang memanggil sambil menenangkan Nayla. “Maaf aku tidak bisa menjaganya.” Lala yang sangat sedih juga dengan kejadian yang di alaminya.


“Sudahlah, lebih baik ceritakan kejadiannya padaku.” Minta Sofi sambil menangkan Nayla yang sudah terlalu sedih. “Ikuti aku.” Ajak Sofi sambil terus menerus menangkan Nayla. Lala dengan wajah tampak lesu juga merasa tidak bisa berbuat apa-apa dengan hal yang sudah terjadi dan hanya bisa menerima. “Aku lebih tertarik dengan cerita kejadian Kakak dengan yang lainnya sekarang ini, dari pada sedih yang tidak karuan.” Kata Sofi yang memimpin jalan.


“Aku paham.” Jawab Lala sambil terus mengikuti Sofi. Setelah menjawab itu, Sofi dan Lala tidak ada yang bertanya lagi dan hanya berjalan ke sebuah ruangan yang tidak jauh dari pintu masuk Hotel. Sesampainya di sana, Sofi, Nayla dan Lala masuk. Mereka bertiga tiba di tempat yang mirip ruang berkumpul untuk banyak orang. Sofi berjalan ke sopa panjang bersama Nayla yang masih sedih. Sementra Lala berjalan ke sopa panjang satunya lalu berbaring sambil memeluk bantal.


Mereka bertiga belum mulai menceritkan semua kejadian itu dan malah istirahat sebentar. “Siapa mereka Lala?” Tanya Sofi yang bertanya mengenai orang yang bersama Lala.


“Mereka adalah Kekasih barunya. Semuanya.” Jawab Singkat Lala sambil terus menenangkan dirinya. “Kapan aku bisa mulai cerita?” Tanya Lala setelah menjawab pertanyaan Sofi tadi. Sofi tidak langsung jawab, malah menenagkan Nayla yang sedih. Lala melirik karena tidak ada respon sama sekali dari Sofi. tapi, Lala langsung paham dan tidak bertanya lebih panajng lebar lagi saat melihat Nayla yang lebih sedih darinya. “Siska dan Marya. Mereka adalah Adikku, mereka berasa dari Planet yang sama denganku. Termasuk ke-30 Maid itu. Mereka semua kekasihnya. tapi, mental mereka saat ini sangat lemah, jadi ku harap yang lainnya bisa menangkan mereka.


“Kalau gitu, ceritakan semua kejadian saat kalian ke sini.” Minta Sofi sambil menenagkan Nayla yang sedih. Lala mengangguk, lalu duduk ke arah Sofi yang sedang menenangkan Nayla.


Next Chapter