Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 139


“Na, namaku Suci.” Dengan suara kecil Suci memperkanlakan dirinya pada Anto. Anto yang mendengar itu langsung diam tidak berkata apa pun. Dia merasa senang dengan apa yang telah terjadi sambil terus berusaha melupakan hal tadi. Setelah itu, Anto melepas pakaiannya jadi biasa lalu kemudian mengulurkan tangannya ke Suci. Suci yang melihat itu langsung memegang tangan Anto dengan cepat.


“Mari kita pergi ke Dunia lain.” Dengan senyum jelas Anto mengajak Suci. Suci langsung tersenyum senang meski baru beberapa saat mengenal Anto. Suci turun dari tempat tidur dan berdiri di samping Anto dengan tetap memegang tangannya. “Baiklah.” Anto dengan suara senang mengangkat tangannya yang satunya, lalu menutup matanya. Setelah itu, barrier yang tadi terpasang, kini di hilangkan olehnya lalu menghilangkan juga semua bekas makanan yang mereka berdua telah gunakan.


Suc yang ada di sana melihat semua itu dengan jelas sangat terpakau melihat barier di dekatnya menghilang. “Apa yang Kakak laukan?” Tanya Suci yang memberanikan diri bertanya. Anto yang masih menghilangkan semua itu tersenyum kecil dengan tetap menutup matanya dan fokus.


“Ini di sebut dengan kekuatan. Mungkin kamu pernah lihat Monster yang nyerang pakai api yang menyembur dari mulutnya. Mungkin itu sejenis dengan itu.” Anto menjawab dengan seuara senang.


Suci melihat lagi ke sekitarnya yang sudah tidak ada apa pun termasuk bangunan dan hanya terlihat sebuah lubang besar di bawahnya. Tapi, dia tidak terganggu sama sekali, lalu melihat ke Anto yang masih mengangkat tangannya. “Jadi apa Kakak itu Monster?” Tanya Suci dengan suara polosnya. Anto yang mendengar itu sedikit terganggu.


“Tidak. Kakak itu manusia." Jawab Anto dengan santainya. "Manusia juga bisa menggunakan kekuatan seperti ini, bahkan kamu juga  bisa menggunakan dalam waktu singkat jika kamu memperlajarinya.” Anto menjelaskan supaya Suci mudah mengerti. Suci yang mendengar jadi tertarik dengan kekuatan yang di bicarakan Anto.


Suci melihat ke tangan Anto yang tidak ada apa pun, namun terlihat seprti mengontrol apa yang tidak di lihat olehnya. “Apa aku bisa memplajarinya?” Tanya Suci lagi meski sudah di jelaskan tadi. Anto tidak langsung menjawabnya, dia diam sebentar lalu perlahan membuka matanya.


“Ya. kamu bisa memperlajarinya. Nanti Kakak ajarkan di Dunia lain yang akan kita kunjungi.” Anto menjawab hingga lupa yang barusan terjadi. Setelah itu, Anto emnurunkan tangannya dengan pelan. “Yosh, selesai.” Anto tersenyum lalu melihat ke Suci yang dari tadi terus bertanya padanya. “Mau Kakak gendong? Supaya kamu tidak jatuh nanti dalam perjalan.” Tanya Anto dengan senyum ramah.


Suci yang berdiri dari tadi mengusap matanya lalu mengangguk kecil. Anto yang melihat itu duduk lalu melepaskan tangannya dari Suci, lalu menyuruhnya naik ke punggungnya. “Kita akan ke mana Kak?” Tanya Suci yang terdengar ngantuk.


“Coba lihat ke bawah kaki Kakak.” Suruh Anto. Suci melihat ke bawah tepat ke kaki Anto. Saat melihat, dia melihat seubah lingkaran dan berbagai macam bentuk ukiran yang tidak di mengertinya di dalamnya (Lingkarn sihir sebelumnya yang di tahan NAVI). “Itu namanya lingkaran sihir pemanggil pahlawan. Saat ini ada orang yang melakukan pemanggilan dari Dunia lain dan memanggilku.” Anto menjelaskan dengan singkat dan jelas.


Tapi Suci tidak mendengar sama sekali apa yang di bicarakannya karena sudah tertidur dengan jelas. “Ya ampun, cepatnya.” Anto yang tidak bisa berkata apa apa tentang apa yang di lakukan Suci yang cepat sekali tidurnya. Tapi Anto merasa senang dengan Suci yang menunjukkan wajah cerianya tanpa menutupinya saat melihat begitu banyak tersenyum saat di punggungnya. “Hahhh… Ini sangat melelahkan, tapi sepadan dengan yang di dapatkan.” Anto yang merasa senang dengan apa yang di lihat dan di rasakannya.


Di saat yang bersamaan juga, Anto baru terpikirkan lagi tentang lingkarang sihir yang akan memanggil ke Dunia yang sama seperti sebelumnya. “Lingkaran sihir ini seharus memang bisa menghubungkannya dengan Dunia sebelumnya. Tapi, kenapa mereka mereka malakukan pemanggilan sihir lagi?” Anto yang bertanya Tanya apa penyebab orang Dunia lain itu melakukan pemanggilan lagi meski sudah melakukannya sebelumnya. Anto yang sudah menyelesaikan menghilangkan semua apa yang berbahaya di bekas meteor itu, kini membuka semua barrier yang telah di pasangnya sambil melepas barrier yang ada pada manusia yang tertidur. Anto melihat sekitarnya yang tanpak lenggang dengan pemandangan yang kosong. "Sepertinya akan sedikit sulit pulih jika di biarkan seperti ini. Apa lagi jika di tinggal seperti ini." Anto dengan sedikit tersenyum ,elihat luabng besar akibat meteor yang jauh


Anto menutup matanya, lalu di bawah kakinya muncul sebuah gambar jam yang lebih besar dari lingkaran sihir pemanggil. Jawam itu bukan maju melainkan mundur waktunya dan di saat yang bersamaan, tanah bermunculan, gedung yang rusakk kembali ke tempatnya dan semua yang ada di sana puliah hanya dalam waktu kurang 1 menit. Setelah itu, tanpa berkata kata dan melihat lagi Anto melepas penahan pemnggilannya dan membiarkan dirinya terpanggil ke Dunia lain yang sama sekali lagi dengan harapan yang berbeda. “Jika ini masa lalu di Bumi, maka tidak aneh jika pemanggilan orang dari masa depan sepertiku bisa terjadi. Kira-kira siapa yang membuat sihir pemanggilan ruang dan waktu ini. Hingga aku bisa di pangil untuk yang kedua kalinya, yah meski aku tahu apa yang menyebakanku terpanggil lagi sih” Anto yang sepertinya sudah tahu teori sihir pemanggilan yang terjadi di lakukan oleh orang Dunia lain.


Tapi, bukannya mereka malah menyambut Anto, malah mereka semua terlihat bingung dengan kemunculannya. “Apa yang terjadi? Kenapa ada Hero muncul lagi?” Tanya Raja dengan bahasa yang sudah di mengerti Anto pada orang yang memakai jubah di sampingnya (Mudah di tahulah, kan udah paai mahkota).


“Yang mulai, saya tidak tahu apa yang terjadi. Tapi ini adalah sihir pamnggilan kuno yang telah di tinggalkan, mungkin saja dia pahlawan yang tertinggal.” Jawab orang Tua yang memakai jubah dengan sangat serius dan terdenagr meyakinkan. Anto yang bisa mendengar jelas apa yang mereka katakan yang tanpaknya juga kebingungan dengan Dunia yang dia kunjungi kali ini.


Raja itu tidak bisa membalas perkataan orang tadi. “Sudahlah, masukkan bahasa kita ke Hero dan biarlan dia berkumpula besama yang lainnya.” Raja itu yang terlihat tidak bisa berbuat banyak. Penyihir Tua di samping Raja itu berjalan ke Anto yang masih di tempatnya bersama Suci yang tampaknya masih tidur.


Baru beberapa langkah, dia berhenti saat melihat ada sesuatu yang bergerak di punggu Anto. “Mmm…!” Suci perlahan membuka matanya lalu sedikit kaget dengan apa yang di lihatnya. “Kakak!” Panggil Suci yang takut dengan apa yang di lihat di sekelilingnya.


Anto yang bisa merasakaj Suci memgang dengan erat tetap tenang sambil meliaht ke belakang lalu tersenyum. “Tenang saja.” Anto menyruhnya tenang dengan sangat lembut. Penyhir yang berhenti tadi bergerak berbaik saat melihat anak kecil yang ada di punggung Anto, lalu ke Raja menghadap.


“Yang mulia!” Panggil penyihir itu dengan sopan. “Apa kita akan mengirim anak kecil sepertinya juga itu bertarung?” Tanya Penyihir itu saat melihat Gadis kecil di punggung Anto. Raja yang melihat tidak bisa mengerti dan tidak tahu harus apa.


Semua orang yang di sana tampaknya jadi khawatir dengan Anto dan Gadis kecil ini. Tapi Anto yang ingin mendapat pengalaman berbeda dari sebelumnya, kini tidak berbicara dan pira pura tidak memahami bahasa mereka dan tetap diam di tempatnya. “Kita ada dimana Kak?” Tanya Suci yang masih ketakutan.


Anto sedikit menengkan Suci dengan suara lembutnya. “Kita ada di Dunia lain. Saat ini sepertinya ada masalah di sini, jadi kita diam dulu dan menunggu apa yang akan di lakukan mereka.” Jawab Anto dengan suara lembut.


“Apa tidak berbahaya?” Tanya Suci yang masih takut. Suci melihat ke sekelilingnya yang tampak khawatir. Orang-orang di sana melihat ke Raja yang juga terlihat tidak tahu harus bicara apa saat melihat ke Anto dan Gadis kecil di punggungnya itu.


“Tenang saja. Jika berbahaya, kita akan kabur dari sini.” Anto berusaha menangkan Suci yang masih sangat khawatir sekali dengan dirinya. “Bukannya kamu ingin belajar kekuatan kayak Kakakmu ini. Di sini kita bisa belajar dengan tenang.” Anto menambahkan lagi perkataannya. Suci yang mendengar itu jadi bersemangat tiba-tiba meski tidak menunjukkan dengan jelas. “Kita tunggu saja apa yang akan terjadi selanjutnya.” Anto dengan terus lembut menenangnya Suci. Suci menganguk kecil sambil mulai melihat setelah bangun dari tidurnya yang beberapa saat saja.


Next Chapter