
Gadis yang memluk Ibu Anto melihat dengan tajam ke Anto dan Run. “Siapa kalian?” Tanya Lina pada Anto dan Run dengan tegas. Anto dan Run diam melihat ke Ayah dan Ibunya dan tidak peduli sama sekali dengan pertanyaan Gadis itu, namun Run membalas melihat balik.
“Sudah lama sekali ya kita tidak bertemu Ayah Ibu.” Sapa Anto dengan senyum dan diam di tempatnya sambil melepas tangannya dari Run. Ibunya langsung meneteskan air mata saat melihat anaknya sendiri datang menemui dirinya. Ayahnya pun juga meneteskan air mata saat melihat anaknya. “Apa kalian masih mengingatku?” Tanya Anto yang masih diam di tempatnya dengan sangat deg-degan sekali dengan apa yang di depannya.
“Jangan pang!” Ibunya langsung bangun lalu lari berlari kecil ke arah Anto yang diam di tempatnya hingga membuat Gadis itu tidak melanjutkan kata-katanya. Run sedikit menjauh melihat reuni keluarga itu supaya tidak terlalu menganggu. Ayahnya juga jalan perlahan ke Anto yang Ibunya sudah duluan memeluk Anto dengan sangat erat sekali. Di sisi lain, Lina jadi terdiam saat melihat apa yang di lakukan oleh Mama dan Papanya.
Anto yang ada di antara pelukan OrangTua nya perlahan meneteskan air mata juga karena bahagia menemukan OrangTua nya sendiri yang sudah lama tidak di temuinya. “Sudah lama sekali sejak bisa meraskan kehangan ini.” Anto merasa lega sekali merasakan pelukan dari kedua OrangTua nya yang juga ikut memeluknya. Anto yang meneteskan air matanya perlahan menghilangkannya. “Aku tidak bisa bernapas Ayah Ibu.” Bicara Anto dengan lembut sekali. Tapi OrangTua nya malah tidak menjawab dan terus memeluk Anto dengan erat. “Ayah, Ibu, apa kalian tidak membiarkan aku benapas sebentar?” Tanya Anto dengan suara lembut.
Ayahnya melepas duluan dengan perlahan sekali, kemudian Ibunya juga mulai melepas pelukannya. Setelah melepasnya, Ibunya terus melihat ke wajah Anto yang tenang sekali. “Maaf baru datang melihat kalian.” Anto bicara dengan lembut dan senyum ceria pada kedua OrangTua nya. “Aku ingin lebih mengunjungi kalian, tapi aku masih ada di Dunia lain saat kalian sudah pergi, jadi maaf baru darang kemari.” Bicara Anto lagi dengan senyum ceria.
Ayahnya malah terbengong dengan perkataan anaknya semenatara ibunya juga ikutan dan merasa lebih baik lagi dengan perkataan anaknya yang sehat. Setelah itu Anto jalan mendekati Run yang menjauh sedikit darinya. “Ayah, Ibu ini perkenalkan salah satu calon Istriku.” Dengan senyum Anto memperkenalkanya tanpa ragu sama sekali. Ayah dan Ibu nya langsung melihat ke Run yang sedang malu.
“Sa, salam kenal. Namaku Run.” Run dengan sedkit gugup mmperkenalkan dirinya pada kedua OrangTua nya (Mertua). Ayah dan Ibunya jadi terdiam dengan hal itu. “Ini!” Run langsung memberi OrangTua Anto buah yang baru saja di beli dengan sopan dan cepat. Ayah dan Ibunya perlahan mengambil dengan senyum pada Run. Kedua Orang Tua nya melihat ke Anto yang tenang dan juga tidak terlihat seperti anak remaja pada umumnya yang aktif dan punya banyak emosi di tunjukkan meski tidak sering mereka tunjukkan.
Anto yang terus di lihati oleh Ayah dan Ibunyam melihat ke Gadis yang melihatnya dengan tajam. “Kalau gitu, siapa dia? Kenapa dia memanggil kalian Papa dan Mama?” Tanya Anto dengan tenang sambil melihat ke Gadis yang sepertinya terlihat tidak suka padanya.
Ayah dan Ibu Anto tidak langsung merespon, malah melihat ke Fadis itu. “Dia adikmu. Namanya Lina.” Ayahnya langsung memperkenalkan.
“Eh!” Anto jadi sedikit kaget saat mendengar itu. “Kapan Ayah buat adikku untukku?” Tanya Anto dengan terang-terangan sekali. Ayah dan Ibunya tersenyum saat melihat anaknya yang kaget seperti itu.
“Dia bukan adik kandungmu.” Ayahnya langsung menjelaskan menjelaskan saat Anto yang kaget bukan main.
“Huh… Untunglah…” Anto merasa sangat lega sekali. “Ku harap tidak ada adik perempuan.” Dengan suara kecil mengatakannya. ‘Hm!’ Ayah dan Ibunya langsung melihat ke Anto. “Ada apa?” Tanya Anto pada Ayah dan Ibunya yang berdiri di dekatnya.
“Bukan gitu. Kalau aku punya adik kandung perempuan nanti malah tidak bisa menikahinya. Yang kuharapkan punya adik Laki-Laki saja yang bisa di ajak bergaul.” Jawab Anto dengan santainya. Ayah dan Ibunya malah melihat ke Anto yang menjawab seperti itu. “Kenapa kalian masih meiihatku seperti itu?” Tanya Anto pada Ayah dan ibunya yang menatap dengan penasaran. “Sebaiknya kalian cepat duduk, kalau tidak nanti malah semakin sakit. Kalian mungkin masih bisa menahan sakitnya sebentar karena ada jolakan besar pada semangat kalian saat melihatku. Tapi ini waktunya kalian duduk lagi.” Anto segera memperingatkan Ayah dan Ibunya yang masih diam saja di dekatnya.
OrangTua nya malah terdiam melihat anak mereka yang seperti itu pada mereka berdua, Anto mendorong kedua OrangTuanya yang tidak mau jalan ke kasur mereka. Setelah mereka duduk kasur mereka, Anto dan Run duduk di dekat Gadis itu dengan santai. Ayah dan Ibunya yang tadi kelihatan bahagia kini sedih lagi saat melihat ke Anto yang masih senang dan ceria. “Ayah, Ibu, kalian kenapa?” Tanya Anto saat melihat itu.
“Maaf kami tidak pernah mengunjungimu.” Ayah dan Ibunya menundukkan kepala pada Anto dengan sangat sedih dan merasa bersalah sekali. Anto terdiam melihat ke Ayahnya yang berkata seperti itu.
“Kalian tidak usah cemas seperti itu. Lagian juga aku jadi bebas melakukan apa pun yang ku mau. Saat kalian pergi aku banyak menemukan pengalaman baru juga." Respon Anto dengan satai sekali. Meski Ayah dan Ibynya masih terlihat sedih sekali padanya. "Oh ya, apa kalian tahu di mana Hilmi sekarang?” Tanya Anto pada kedua OrangTua nya. ‘Eh!’ Ayah dan Ibunya langsung kaget saat mendengar itu. “Aku sudah tahu sejak awal kalau Himi di kirim oleh la;ian padaku. Tapi sekrang di mana dia?” Tanya Anto yang ingin tahu dan juga Run jadi penasaran dengan hal itu.
Ayah dan Ibunya saling lihat lalu melihat ke Anto yang bertanya seperti itu. “Kami memang mengirim Hilmi padamua, tapi sejak 5 tahu lalu dia tidak pernah kasi kabar lagi pada kami. Pesan terakhir yang di katakannya, tunggu saja anakmu datang.” Jawab Ibunya dengan sedikit menjelaskan. Anto terdiam mengingat itu juga hari di mana Run datang bersamanya.
Anto jadi kepikiran apa yang sebenarnya terjadi. “Oh ya, kenapa kalian bisa jadi seperti ini?” Tanya Anto pada Ayah dan Ibunya yang ada di rumah sakit dengan pengawasan tingkat tinggi sekali. Ayah dan Ibunya juga melihat ke anaknya yang bertanya seperti itu. Mereka berdua terdiam tidak langusng merespon sama sekali.
“Ayah akan ceritakan bagaimana kami ada di sini.” Respon Ayahnya pada Anto dengan serius. Anto dan Ayahnya saling tatap dengan serius dan ingin tahu sekali.
“Ayah mulailah.” Dengan sopan Anto meminta. ‘Bentar’ Timbal Ayahnya lagi. Anto dan Ayahnya saling tatap lagi. Ayahnya malah merinding saat melihat tatapan anaknya dan jadi terdiam. “A, ayah kapan jawab?” Dengan sedikit grogi meminta.
“Ayah dan Ibumu terluka 4 tahu lalu saat mencari herbal Dragon Emperor.” Anto jadi terdiam saat mendengar nama sebuah naga sejati yang seperti di novel, bahkan itu bukan naga melainkan sebuah tanaman herbal. Setelah itu Ayahnya tidak melanjutkan lagi.
“Herbalnya buat apa? Pasti ada orang yang penting sangat membutuhkannya bukan. Jika tidak pasti Ayah dan Ibu tidak mungkin pergi begitu saja kan!” Tanya Anto yang ingin tahu dan juga ingin bericara dengan kedua OrangTua dengan santai meski membahas orang lain.
“Ya, tenatu saja. orang yang membutuhkanya itu Presiden kita yang sekarang.” Jawah Ayah dengan serius. Anto yang mendengar itu jadi teringat dengan Roy meski samar-samar dengan wajahnya yang sudah lama sekali tidak di lihatnya.