
“Oh ya, menurut kalian gimana tentang dunia yang sekarang?” Tanya Papa Nia untuk memulai obrolan. Nia terdiam saat mendengar ajakan Papanya dan Nina sedikit tertarik dengan pertanyaan tersebut. “Bagaiamana menurut Mama pertanyaan barusan?” Papa Nia melihat ke arah Istrinya sambil mengambil makanannya sendiri.
“Menurut Mama? Bagiamana ya, ini hal baik sekali. Coba lihat, dalam kurang 6 tahun, dunia ini berubah drastis sekali. Yah Mama sih tidak terlalu suka perang jadi tidak tau apa dunia ini jadil ebih baik dari yang dulu.” Jawab Mama nya dengan penuh bahagia sekali. Nina terlihat tidak suka dengan jawaban Mama Nia. Dia merasa jawaban itu yang bukan mereka cari. Semantara Nia hanya tetap makan saja menikmatinya sambil medengarkan saja.
“Kalau kalian bagaimana?” Tanya Papa Pada Nina tersenum mdengar jawaban Mama Nia dan Nia yang sedang makan. Nia menghentikan makannya sebentar lalu melihat ke Papa nya.
“Papa bisa duluan mengeluarkan pendapat.” Kata Nia dengan wajah datar dan merasa tidak senang dengan Papa nya sendiri. Papa nya merasa Aneh saat melihat Anaknya yang berwajah datar begitu. Dia jadi bingung saat di suruh begitu.
“kalau itu, menurut Papa sih, sangat hebat sekali. Seorang Anak kecil melakukan hal berbahaya seperti itu sungguh menakjubkan. Tapi, Papa merasa juga sangat marah sekali dengan hal yang di lakukannya itu.” Kata Papa nya dengan wajah serus sekali hingga Nia juga menanggapi dengan serius sekali wajah Papa nya yang terlihat seperti itu.
“Bagaimana maksud Pa?” Tanya Istrinya yang seperti belum mengerti maksud Suaminya.
“Maksud Papa ialah, kedua OrangTuanya. Papa marah pada mereka. Apa mereka tidak mendidik Anak tersebut dengan benar.” Jawab Papa nya dengan wajah sangat serius dan juga terlihat marah. Nia membuat wajah biasa saja, tapi, Nina dapat menyadari kalau Nia tidak suka dengan pendapat Papanya sendiri yang dengan penuh percaya diri mengatakan hal tersebut.
“Nia...” Nina melihat Nia yang begitu tidak terima dengan pendapat Papa nya hanya bisa diam saja mendengar semua pendapat Papa nya sendiri. Nina melihat ke Papa Nia setelah melihat wajah Nia yang datar seperti itu. “Boleh aku mengeluarkan pendapatku?” Tanya Nina yang sudah menaruh makanannya yang masih berisi.
Papa Nia meliaht ke Nina. “Boleh saja.” Jawab Papa Nia tanpa ragu dan juga terlihat sedikit penasaran dengan apa yang akan di katakan Nina.
“Bagaimana jika OrangTuanya meninggal dan tidak pernah didik?” Tanya Nina dengan sangat serius sekali dan itu dapat di lihat dari wajahnya yang begitu serius sekali. Papa Nia melihat ke Nina yang berwajah serius sekali dan juga tidak ada senyum sama sekali terlintas di wajah Nina. “Apa aku terlalu berlebihan?” Nina yang merasa pertanyaan itu tidak yakin akan di respon.
“Kenapa kamu bertanya begitu?” Tanya balik Papa Nia seolah-oleh tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan oleh Nina. Nia yang melihat respon tersebut, merasa semakin tidak nyaman dan merasa sangat tidak suka sama sekali dengan arah pembicaarn tersebut. Nia malah melainkan terus makan dan hanya mendengarkan saja semua yang di katakn Papa nya.
“Kenapa Nia begitu?” Nina yang tidak megerti kenapa Nia jadi terlihat tidak suka pembicaraan yang sedang terjadi. Nina melihat ke Mama dan Papa Nia yang terlihat aneh dan juga seperti, hanya asal bicara saja dan tidak ada yang di anggak serius oleh mereka. “Kenapa mereka terlihat tidak mengerti dengan yang ku katakan?” Nina bertanya-tanya sendiri pada kenyataan yang masih belum di pahaminya. “Tidak ada apa-apa.” Jawab Nina dengan sopan lalu mengambil makanannya lagi. “Sudahlah mungkin yang ku tanyakan tadi itu hanya karena pendapat yang berbeda. Lagi pula aku masih remaja jadi hanya pertanyaan itu yang mucul tiba-tiba.” Nina menambahkan dengan jelas sambil tersenyum tulus, yang bahkan tidak di sadari oleh Kedua OrangTua Nia kalau itu semua bohong yang sangat nyata sekali.
Mama dan Papa nia saling melihat dan juga mengerti maksud perkataan Nina. “Baguslah jika kamu sudah sadar dengan apa yang kamu katakan.” Papa Nia tersenyum puas dengan respon Nia yang di anggap tidak terlalu special. “Baiklah kita makan saja terlebih dahulu. Nanti kita lanjut ceritanya.” Ajak Papa Nia dengan senyum terpancar jelas di wajahnya. Nina mengangguk sambil meilirik ke Nia yang diam saja dan juga menikmati makanannya, tapi meski itu hanya pura-pura. Mereka berempat makan dengan santainya sambil menikmati suasana taman yang tenang dan damai.
Setelah beberapa lama makan tanpa ada yang berbicara, mereka semua selesai. “Pa, aku main sama Kakak dulu ya.” Minta Nia dengan wajah senyum riang sekali sambil melihat ke kedua Orangtuanya dengan memelas. Papa nya mengangguk sama Nia sebagai jawaban. Nia yang sudah dapat jawaban itu langusng menarik tangan Nina sambil tersenyum berlarian. Nina ikut tersenyum pada Nia yang menariknya secara tiba-tiba.
“Tunggu, pelan sedikit.” Nina yang bicara dengan cukup jelas saat Nia menariknya dengan sangat kuat sekali seprti mengajak menjauh dari kedua OrangTuanya. Nina dengan wajah senyum di wajah hanya ikut saja kemana Nia mengajaknya pergi.
“Jangan terlalu jauh mainnya!” Mamanya memperingati Nia yang sedang cerianya menikmati waktu bersama Nina yang sedang main bersamanya.
“Ya, Ma.” Jawab Nia dengan wajah ceria saat masih dekat dengan kedua OrangTuanya sambil mengajak Nina berlari lebih jauh lagi hingga tidak bisa di lihat oleh kedua OrangTuanya. Setelah cukup jauh, Nia mulai berhenti berlari lalu berjalan dengan santai sambil melepas tangan Nia. Setelah melepas tangan Nina, Nia kangusng terlihat sedih.
“Nia!” Nina tidak tau harus tau memulai pembicaraan saat melihatb wajah Nia yang terlihat sangat sedih sekali. Nia berjalan ke sebuah bangku dengan pelan. Setelah sampai dia langsung duduk. Nina hanya bisa melihat Nia yang terlihat sedih dan juga entah kenapa dia baru melihat sisi Nia yang seperti ini. Taman tempatnya cukup sepi dan juga hanya sedikit orang saja di sana dan tidak terlalu ramai di sana.
Nia yang diam saja meliht ke Nina yang masih berdiri. “Kenapa tidak Tanya?” Tanya Nia pada Nina sambil melihat dengan wajah sedih pada Nina. Nina berjalan ke bangku tempat Nia duduk dan belum merespon pertanyaan Nia. Nia menundukkan kepalanya setelah Nina di dekatnya dan tidak bicara lagi.
“Bagaiamana aku bisa bicara jika kamu saja begitu pagi-pagi gini.” Respon Nina dengan wajah yang bingung atas sikap Nia yang seperti itu. “Lebih baik tidak ku tanya. Kamu juga ingin menyelesaikannya sendiri kan.” Nina dengan suara cerianya berusaha menenagkan Nia. Nia tersenyum saat masih menunduk dan merasa senang dengan perkataan Nina padanya.
“Ya sudah. Kalau gitu mending kita jalan-jalan saja.” Ajak Nia sambil duluan berdiri dari bangku dengan wajah yang sudah baikan. Nina juga berdiri menemani Nia setelah melihat Nia yag sudah lebih baik. Setelah itu , mereka berdua berjalan sambil berpegangan tangan supaya terlihat normal bagi mereka yang menikamti waktu di taman. Tapi itu tidak berlangsng lama, setelah mereka saling pegang tangan dan kalan bbeberapa langkah, tiba-tiba beberapa Kultivator datang ke taman itu terbang dari langit.
Nia mengertakkan giginya. “Mereka di sini.” Setelah mengatakn itu Nia langusng menarik Nina dengan cepat. Semua orang melihat ke arah 4 Kultivator, sedangkan mereka berdua malah menjauh dari sana dan menuju tempat yang sangat sepi sekali dan bahkan hampi tidak ada pengunjung di sana.
“Nia kenapa kamu mengajakku ke sini?” Tanya Nia yang tidak mengerti dengan sikap Nia yang bertingkah lainnya lagi. Nia tidak merespon malah membuka layar Statusnya dan di perlihatkan pada Nina. Tapi bukan Layar Status yang di perlihatkan, tapi layar 2 dimensi. Nina melihat ke layar dan melihat kedua OrangTuan Nina ternyata di datangan oleh ke 4 Kultivator barusan yang datang tersebut.
Next Chapter