
“Nah Nua, kali ini aku butuh penjelasan yang jelas ya.” Tatap Ana pada Gadis itu dengan senyum dengan tatapna tajam sekali padanya.
“Haha!” Nua tertawa takut dan tidak bisa mengelak sama sekali dengan Ana yang sudah ada di depannya. Luna yang ada di sana jadi sedikit terarik dengn Gadis yang takut oleh Ana itu.
“Siapa dia?” Tanya Luna yang memperhatikan Gadis itu. Ana yang tadinya marah kini berhenti sejenak menatap ke Nua yang ada di dekatnya. Selama beberapa saar kamar di ruang yang berbeda itu jadi hening tanpa pembicaraan setelah Luna mengajukan pertanyaan itu.
“Aku Nua Nanda, saudari jauh Ana. Salam kenal.” Nua langsung memperkenalkan dirinya tanpa ragu sambil melihat ke Luna yang bertanya padanya. Nua memalingkan wajahnya saat di lihat lagi oleh Ana yang ada di dekatnya.
“Sepertinya akan tambah banyak saja orang di sampingnya.” Luna yang merasa senang dan juga masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya sendiri yang menemukan orang yang mencintai orang yang sama hanya bertengkar kecil dan tidak mempermasalahkannya. Luna tersernym saat melihat mereka yang mulai bertengkar lagi sambil melihatnya dan juga mulai ikut saling ngobrol santai di kamar itu meski pada awalnya saling bertengkar.
Semenatar itu, Anto yang pingsan akibat tertimpa Nua kini mulai membuka matanya. “Mm…!” Anto langsung bangun dan tidak merasakan sakit apa pun lagi di tubuhnya. Setelah bangun, dia langsung melihat ruanagn lain yang berada di dimensi yang berbeda. Anto melihat pertengkaran kecil di dalamnya dan juga Luna yang senyum-senyum sendiri. “Luna! Siapa yang bersamanya?” Tanya Anto saat melihat dari jauh Nua dan Ana yang berada di ruangan itu. Anto hanya memperhatikan dan tidak melakukan apa pun lagi. Anto melihat ke sekitanya yang yang sudah berada di dalam gubuk itu yang juga sudah di renovasi di beberapa tempat supaya jadi bersih. “NAVIGATION ON!” Anto mengaktifkan NAVI setelah melihat sekelilingnya.
-Hah… Gadis itu membuatku sakit punggung tadi pas menimpaku- Bicara NAVI dengan wujud perinya dengan ekspresi lemas. Anto tidak menanggapi, malahmelihat ke ruanan itu dengan sediki tpenasaran. -Ruang Pribadi. Itu sejenis ruangan rumah seperti reflika, namun di buat dalam ruangan berbeda- NAVI menjelaskan singkat dan jelas mengenai ruangan yang teus di perhatikan Anto.
Anto berhenti melihat dan melihat ke NAVI beranjak duduk ke pundaknya. “Jangan bahas itu dulu, sebenarnya kenapa mereka bisa tahu kalau kita di sini?” Tanya Anto yang menanyakan hal lainnya dari pada melihat kondisinya sendiri yang melupakan hal yang telah di alaminya itu.
-Mungkin Karena kita menghilang semalaman- Jawab NAVI dengan santainya sambil melihat ke dalam ruang pribadi itu yang sepertinya sedang menikmati mengobrol mereka. -Dari pada itu, kenapa kamu tidak masak saja. Kamu juga belum sarapan dari tadi kan- NAVI yang megingatkan Anto yang tidak sarapan saat mulai memanen padi.
“Kali ini aku tidak akan masak. Nanti malah tidak ada rasanya sama sekali seperti kemarin itu.” Jawab Anto sambil melihat ke celah ruang pribadi itu. “Sebaiknya kita perhatikan saja apa yang mereka lakukan. Sebentar lagi mereka juga akan keluar dari ruangan itu.” Anto lanjut berbaring dan memejamkan matanya.
-Terserah kamu. Aku hanya ingin mengetahui saja kan. Semuanya tergantung keputusanmu sendiri apa yang akan kamu lakukan- Timbal NAVI sambil duduk di dada Anto yang sedang berbaring. Setelah itu, para Gadis itu keluar dari ruangan pribadi itu dan langsung tiba di dekat Anto.
“Hm… Entahlah, yang jelas sih tidak seharian. Mungkin beberapa menit lagi dia akan bangun.” Respon Ana sambil melihat ke Anto yang masih tertidur meski pura-pura dan tidak ada yang menydarinya sama sekali. “Selain itu, apa ada yang bisa kita lakukan?” Tanya Ana pada Luna yang mengenai apa yang akan mereka lakukan.
“Ada. Mari ikut aku.” Jawab Luna saat di Tanya itu dan langsung jalan duluan ke luar gubuk. Ana mengikuti Luna tapi Nua malah dia sambil mengamati Luna dan Ana keluar dari gubuk itu. Setelah di tinggal sendiri, Nua mendekat ke Anto yang masih berbaring di kasurnya.
“Woahhh… Tanpannya…!” Nua terlihat girang saat melihat Anto dengan cara yang aneh. “Hehe! Ini kesempatan langka.” Nua menunduk medekati wajah Anto lalu mencium pipi Anto yang sedang pura-pura tidur meski tidak di sadari oleh mereka sama sekali. Nua langsung malu setelah mencium Anto dan langsung loncat kesana kemari dengan girang sekali. “Aku menang… Hahaha…. Tdak ada yang bisa mengalahkanku dalam merebut sesuatu duluan…. Yeeee!!” Nua yang sedang dalam hati dan tidak mengungkapkannya.
Setelah girang cukup lama, Nua memperbaiki ekpresi lalu berjalan keluar dari gubuk itu. Setelah Nua menutup pintu, Anto yang berbaring membuka matanya dengan langsung kaget, kemudian bangun duduk di tempat tidurnya dan tidak menduga sama sekali dengan hal tadi itu. Bahkan NAVI pun juga kaget dengan hal yang di lakukan Nua padanya. “Apa itu tadi? Apa aku barusan di cium? Kenapa dia bilang aku tanpan? Siapa Gadis itu?” Entah kenapa Anto jadi tidak bisa berpikirk jernih saat di cium dengan tiba-tiba.
-Tidak, tidak, tidak, masalahnya bukan itu. Kenapa dia melakukan itu pada orang yang baru pertama kali di kenalnya?- NAVI malah menimbal Anto dengan kaget juga dan tidak berpikit jernih. Mereka berdua jadi diam cukup lama. Dan menengkan diri setelah kaget dengan semua yang di lakukan Gadis itu setelah mereka berdua merasa baik. -Sudah jangan pikrkan itu lagi. Kenapa kita tidak lakukan sesuatu sekarang?- Tanya NAVI pada Anto yang masih diam di tempatnya.
“Memangnya ada yang bisa kita lakukan?” Tanya Anto yang lanjut berbaring lagi. NAVI tidak merespon dan juga paham dengan Anto yang tidak tahu harus melakukan apa. “Selain itu, rasanya kita melupkan sesuatu yang penting sekali.” bicara Anto dengan serius sekali sambil memejamkan matanya. Saat memejamkan matanya, Anto mengulang lagi mengingat semua yang telah terjadi di hari sebelumnya dan di saat yang sama juga, Anto langsung bangun dari berbaringnya dengan wajah kaget saat mengingat Gadis yang tertangkap itu. Dia jadi gemetar karena melupakannya. “NAVI!, Kita harus mengeluarkan Gadis yang kita tangkap kemari itu.” Anto mengingatkan NAVI yang sepertiya lupa.
-APAAAA…!- NAVI teriak meski hanya di dengar oleh Anto yang juga melupakanya sama sekali. -APA YANG KAMU TUNGGU, CEPAT CARI RIANA!- Suruh NAVI yang sangat khawatir melebihi dirinya. Anto langsung jalan keluar menuju pintu ‘DUK!’ dan malah membuka pintu itu hingga membuat seorang yang tidak di lihatnya jadi pingsan. Anto dan NAVI kaget saat melihat Suci yang sudah pingsan akibat benturan pintu yang keras di buka Anto dengan kuat.
Semua orang di sana langsung melihat ke Anto yang masih di depan pintu dan belum menolong Suci karena khawatir dengan hal lain. “Apa aku terlalu buru-buru?” Tanya Anto pada dirinya sendiri saat melihat semua telah terjadi dan tidak bisa mengelak dengan semua yang telah terjadi.
Next Chapter