
Lala, Nayla dan Nina melihat ke arah Lia yang terlihat senang secara tiba-tiba. “Kak, siapa yang tiba?” Tanya Lala dengan dengan polosnya. Lia tida tidak langusng merespon malah sekarang terlihat semakin senang dengan kehadiran yang di rasakannya. Nina yang tadi marah pada Nayla, kini berubah wajahnya menjadi kaget dan seperti mengerti maksud dari Lia. Bukan hanya Nina saja yang mulai mengerti, tapi Nayla juga mulai paham maksud dari Lia.
“Tapi kenapa ada banyak sekali aura yang lain sedikit lemah, di sana?” Lia yang tidak mengerti dengan apa yang di rasakannya. “Aura yang familiar dan juga tidak pernah ku temui, siapa mereka?” Tanya diri sendiri saat merasakn 30 aura yang berbeda di sekeliling Anto.
“Ada apa?” Tanya Nayla pada Lia yang melihat saat wajahnya beribah ekpresinya. Lia yang masih memikirkan itu, tidak mendengar Nayla yang bertanya padanya. Nayla menunggu jawaban dari Lia, tapi tidak ada respon darinya sama sekali. “Oi, kamu dengar tidak sih?” Tanya Nayla lagi pada Lia yang masih saja diam seprti memikirkan sesuatu. “Hm…?” Lia yang bingung dengan sikap Lia yang masih diam saja dan terus memikirkan sesuatu.
Saat Nayla hendak bertanya lagi, Lia melihat secara girian ke arah mereka bertiga. “Kalian, saudari yang lain bagaimana kabarnya?” Tanya Lia pada semua orang di ruangan itu. Mereka tidak langsung menjawab malah diam saja sambil melihat ke arah Lia yang sudah meruubah ekpresinya ke normal. “Ada apa?” Tanya Lia pada yang lainnya saat dia di perhatikan oleh mereka bertiga yang begitu serius sekali melihat ke arahnya.
“Lia!” Panggil Nina dengan raut wajah serius sekali. “Bisa kita berhenti saling bohongi begini.” Kata Nina dengan sangat serius sekali. “Aku sudah tidak muak dengan kebohongan ini.” Sambil melihat ke semua orang satu persatu. “Sejak kita semua bersama, kebanyak kita menyembunyikan jati diri kita pada yang lain dan selalu waspada satu sama lain. Aku sudah muak dengan semua ini.” Kata Nina sambil berbalik. Nina yang sudah berbalik, berjalan keluar ke pintu dan tidak bicara lagi. "Aku tidak suka saat kamu selalu bertanya yang sudah jelas begitu." Nina yang berjalan ke arah pintu tanpa melihat ke belakang. Nina yang mengetahui Lia hanya bertanya untuk mengalihkan perhatian sesuatu, merasa sangta tidak suka sekali dengan hal itu.
Semua orang terdiam dengan sikap mereka sendiri yang mereka sudah sadari sejak lama termasuk Lala yang sarapan tidak jadi melanjutkan sarapnnya dan mulai kepikiran maksud Nina. Mereka yang ada di ruangan itu, tidak ada lagi yang bicara sama sekali atau saling melihat satu sama lain. Mereka hanya diam merenungkan diri. “Benar, sebaiknya kita pikirkan itu sekarang.” Kata Nayla tiba-tiba dengan wajah ceria dari sebelumnya. Lia dan Lala melihat ke arah Nayla yang bicara begitu. “Jangan pikirkan masa lalu, nikmati masa sekarang, itu yang pernah dia katakn padaku. Jadi jangan pikirkan hal tadi dan masa lalu mu yang sudah kacau.” Kata Nayla menenangkan Lala dan Lia yang sepertinya masih kepikiran sama perkataan Nina. “Mungkin dia pernah mengatakan ini pada kalian, tapi ini hal pertama kali yang dia katakan padaku saat pertama kali bertemu dengannya. Dan itu selalu ada di hatiku dan kepalaku hingga saat ini.” Nayla dengan santainya mulai mengisi piringnya dengan terus bicara pada mereka berdua. “Itu saja dariku kali ini.” Ucapnya Nayla sambil mengambil lauk lainnya.
Lala dan Lia yang sudah mendengar itu diam terpukau karena langsung mengerti maksud Nayla. Lala yang tadi sedih kini melanjutkan makannya lagi dengan raut wajah senang dan sudah mengerti maksud perkataan Nayla. “Permisi.” Suara baru di dekat pintu yag di buka secara pelan. Seorang Gadis mengintip dari celah pintu yang di bukanya. “Tadi Nina kenapa begitu?” Tanya Gadis itu pada semua orang di ruang makan dari celah pintu.
“Jika kamu tanya, sebaiknya jangan di sana.” Kata Nayla yang mulai makan dengan anggun. Gadis itu tidak langsung masuk, malah diam saja melihat.
“Tida mau.” Jawabnya dengan pelan dan suara sangat kecil sekali hingga hampir tidak di dengar oleh yang lainnya. Nayla sedikit yang mengerti dengan Gadis itu, karena beluma masuk juga, diam saja dan tidak berkata apa-apa lagi karena merasa hal itu biasa saja.
“Kenapa masih di sana?” Tanya Lala pada Gadis itu dengan sedikit heran, karena diam saja dan tidak melakukan apa pun lagi.
Lisa mengangguk sebagai jawaban. “Ya. Lisa ke sini minta tolong sama kak Lala.” Dengan suara kecil dan juga terdengar pemalu.
“Aku?” Lala yang sedikit bingung denga perkataan Lisa. (Lisa dan Lala memiliki umur yang sama) “Apa itu?” Tanya Lala dengan terus makan sambil melihat ke arah Lisa.
“Te-temani a-aku bermain…!” Ajak Lisa dengan sedikit pemalu dan juga grogi. “Aku punya game baru yang ku temukan di salah satu gedung. Jadi mari kita main bersama…!” Lisa menjelaskan tanpa ragu dan juga sambil tersenyum dan grogi dengan sesuatu yang tidak di ketahui semua orang.
“Ya.” Jawab Lala sambil makan. “Aku selesai.” Ucap Lala sambil mengambil tisu lalu turun dari kusinya. Lala yang turun langsung jalan ke arah Lisa yang sedang duduk di kursi. “Ayo kota main.” Ajak Lala denagn wajah cerianya. Lisa mengangguk dan langusng turun dari kurisnya. “Kami pergi.” Sambil melambai pada Nayla dan Lia yang masih di dalam.
“Kalian hati-hati.” Respon Nayla sambil makan dan memberi peringatan. Mereka berdua pergi dan tidak berkata apa-apa. “Sebenarnya apa yang kamu khawatirkan?” Tanya Nayla pada Lia saat tinggal mereka berdua. Lia tidak menjawab malah jalan ke meja makan lalu duduk di kursinya. “Maaf, aku hanya merasakan kehadiran dirinya saja dari jauh dan sedang ke sini dengan membawa 30 orang yang tidak ku kenal.” Jawab Lia sambil mengambil makanan.
“Jangan khawatir, mereka pasti Gadis baru nya. Dan lagi, kita sudah kembali ke masa ini maka bisa jadi meyebabkan bentrokkan antara masa lalu dan masa kini.” Nayla menelaskan sedikit. Setelahnya tidak berkata apa-apa lagi. “Tapi entah kenapa aku teringat pesan itu…” Nayla yang ternat pesan tentang Anto yang selalu merasangnya kembali ke masa lalu dan bukan hanya sesekali memperingatinya, bahkan hampir semua Gadisnya pun tau pesan itu. “Oh ya, mungkin sabaiknya kamu berhenti mengintip, mungkin dia nanti akan sadar saat kamu mengintipnya begitu.” Nayla yang menasehati Lia yang sepertinya tidak focus makan.
Lia hampir saja tersedak karena Nayla yang tau dia sedang apa. “Baiklah.” Jawab Lia dengan santainya dan juga sedikit kaku dengan perkataannya yang tidak di terimanya sama sekali dengan nasehat Nayla yang menydarai apa yang sedang di lakukannya.
Next Chapter