
Meski Anto tenang di sana, bukan berarti dia tidak khawatir. Malah dia berharap di sana tidak ada BIDADARI yang muncul. Saat semua orang lagi sibut debat tentang mereka berdua, Anto diam-diam mengaktifkan Skil pencariannya yang berharap tidak menemukan satu pun BIDADARI di Dunia itu. Selama proses menggunakan Skilnya, dia tidak menemukan BIDADARI yang ada di sana dan bukan berarti dia tidak harus khawatir karena belum tentu juga mereka tiba-tiba hadir seperti yang seblumnya. Setelah mengecek tidak ada BIDADARI, Anto mulai memperhatikan lagi perdebatan yang di lakukan di sana.
Raja yang di tanya masih belum merespon, dia hanya memgang kepalanya tidak tahu harus merespon apa. “Yang mulia!” Panggil seseorang dari jauh yang menggunakan gaun Putri. Dia berjalan dengan sopan mendekat ke Raja. Saat sudah dekat dia berhenti sebentsr melihat ke semua orang yang masih diam saja. “Apa pemanggilannya selesai?” Tanya Putri itu dengan suara pada Raja.
Raja itu melihat ke Gadis yang ke arahnya. “Putriku…!” Raja langsung melihat dengan penuh pasrah dan terlhat kebingungan. Raja tidak menjawab malah terlihat setres. Putri yang melihat itu, melihat sekelilingnya melihat penjaga dan semua orang di sana ya g tanpak diam sambil melirik ke Anto.
Penuihir Tua yang tadi bicara sama Raja, mendekat ke Putri yang datang. “Putri! Biar hamba yang menjelaskannya.” Penyihir Tua itu mengajukan diri dengan sopan. Putri yang tanpaknya sopa dan terlihat lembut melihat ke semua orang yang juga terlihat kebingungan.
Putri itu melihat ke Penyihir yang masih diam menunggu responnya. “Penyihir Tua, ceritakan apa yang terjadi di sini.” Dengan suara perintahnya Putri itu menyuruhnya dengan sopan. Pernyihir Tua mengangguk lalu bersiap.
“Putri, sebenarnya pemanggilan ini berhasil memanggil 3 Hero sebelumnya, namun sepertinya ada yang telat dan juga ada seorang anak kecil yang ikut bersamanya. Kami masih bingung harus berbuat apa pada situasi ini.” Penyihir Tua itu menjelaskan dengan singat dan jelas. Putri melihat ke Anto yang menggendong Suci di punggungnya. Dia menatap ke Anto dengan serius.
Semua orang terdiam dan melakukan apa-apa, menunggu Putri yang baru datang bicara dan memberi saran pada mereka. Saat semuanya tiba-tiba jadi hening dan tidak ada yang bicara Seorang remaja dari salah satu Hero berjalan maju. “Anu! Boleh kami bicara sama mereka berdua dan menjelaskan situasi ini?” Tanya seorang Hero yang sudah terpanggil duluan. Semua orang melihat ke Hero yang tanpaknya terlihat percaya diri sekali itu.
Semua orang diam dan menunggu repson dari Raja dan yang berkuasa. Putri tdak merespon malah terus menatap ke Anto dan Suci, sedangkan Raja masih terlihat setres dan tidak terlihat mau merespon sama sekali. Tapi, Penyihir Tua melihat ke Hero itu. “Apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Penyihir Tua itu pada Hero dengan sopan dan juga tidak menduga akan pertanyaan seperti itu.
“Tidak ada, mungkin cuma menjelaskan situasi yang terjadi di sini,” Respon Hero itu dengan sopan. Semua orang terdiam dan belum ada izin dari Penyihir Tua dan Raja. Penyihir itu diam dan belum merespon sambil berpikir. Saat semua orang lagi sibuk sendiri, Anto malah tidak mengrti dengan situasi yang terjadi kali ini dan hanya bisa diam saja.
“Nampaknya mereka tidak membutuhkanku.” Pikir Anto saat melihat mereka yang terlihat diam saja. “Suci, mari kita pegi dari sini.” Ajak Anto dengan suara lembut dan kecil. Suci yang masih di punggungnya mengangguk kecil. Di saat yang bersamaan juga, Hero yang bicara tadi berjalan mendekati Anto tanpa persetujuan dari Pnyihir yang masih ragu meresponnya. Anto melihat sana sini mencari jalan keluar untuk kabur dari sana meski sudah tahu apa yang mereka bicarakan. “Di sana!” Anto melihat sebuah lubang bercahaya kecil yang muat untuk di lompatinya, saat semua orang sibuk sendiri, dia berlari tanpa ada keraguan sama sekali dengan cepat meninggalkan semua orang yang ada di sana menuju lubang itu.
Semua orang kaget dengan tindakan Anto yang tiba-tiba berlari. Tidak ada yang menghentikannya dan dia terus berlari ke lubang itu yang semakin dekat. “BERHENTI! JANGAN KE SANA….!” Teriak Putri dengan keras saat Anto sudah dekat dengan lubang itu. Tapi, Anto tidak mendengarkan sama sekali perkataan Putri dan bergegas lari ke lubang itu. Tapi Putri itu dengan cepat di depan Anto tanpa di ketahuinya menghadang dirinya yang akan kabur. Anto tersenyum sambil tersu berlari lalu melompat dan membuat gerakan berputar dan langsung keluar lewat lubang itu. Tapi, saat sudah keluar, kaki Anto di tangkap lalu di tarik oleh Gadis itu dengan sangat kuat.
“AHHH…!” Suci tiba-tiba berteriak saat jatuh hingga Anto langsung memegang tagannya lalu menarik lalu kemudian memeluknya. Anto yang baru sadar ketinggian tempat dia melompat, dan juga baru sadar kenapa Putri itu berusaha menghentikannya unyuk melompat.
“PENYIHIR TUA CEPATLAHH…!” Teriak Putri itu dengan lantang. Setelah itu, Anto tiba-tiba melayang dan mudah di tarik oleh Putri itu lalu di tarik hingga kembali ke dalam ruangan itu. Anto yang di tarik langsung duduk dengan terus memeuk Suci yang tidak berani melihat ke mana mana.
“Adeh, pantatku sakit. Sepertinya aku jadi cerobah gara-gara NAVI tidak ada.” Anto yang menydari dirinya yang bertindak ceroboh saat melihat kesempatan singkat itu. “Tapi, kenapa Putri ini sangat kuat?” Tanya Anto pada dirinya sendiri karena tidak menduga sama sekali kekuatan dari seorang Putri yang terlihat lembut mempunyai kekuatan seperti itu.
“KAMU!” Bentak Putri pada Anto yang sudah ada di dalam dengan posisi duduk sambil emantapnya dengan tajam. “Kenapa kamu menysahakan orang HAH! Jika…” Putri terlihat berapi-api pada Anto yang masih bersikap biasa saja dan tidak peduli dengan jdirinya yang hampir bunuh diri tadi. Semua orang yang ada di sana tidak ada yang berani bertindak sama sekali dengan kemarahan Putri itu. Dia terus mengoceh memarahi Anto dengan sangat lantang dan bisa di dengan sermua orang. Anto yang di sana baru ingat, kalau tidak boleh menilai seseorang dari kulitnya saja. Anto yang melihat Putri memarahinya tanpa henti diam saja sambil melihat ke Suci yang memluknya dengan sangat erat sekali.
“Suci, kamu takut?” Tanya Anto sambil bangkil dari duduknya lalu berdiri pelan. Suci menggeleng dengan terus memeluk Anto dan tidak berani meihat ke Putri itu yang marah dengan bahasa yang tidak di mengerti olehnya. “Mau pergi daris ini?” Tanya Anto lagi sambil mendengar ocehan Putri itu yang terus memarahinya. Suci mengangguk kecil. Setelah itu, Anto melihat sekitar dan tidak memperdulikan Putri itu yang terus mengoceh dari tadi dengan sangat tegas sekali padanya. “Berisik banget.” Anto yang menahan ocehan dari Putri dan terus melirik sana sini mencari jalan keluar banyak menmukan ruang kabur, tapi semuanya di jaga ketat dan hanya satu yang terisa yang itu tempat dia lompat tadi yang ada di belakang Putri. Hanya di belakang Putri saja yang masih kosong penjaganya. “Sepertinya aku menunggu dia sedikit lengah.” Anto terus memperhatikan Putri itu yang ngoceh. Putri yang sedikt lengag memberi Anto sebuah kesempatan kabur. dan langsung lompat lagi ke tempat dia barusan lompat. Kali ini Putri yang lengah, tidak sempat menangkap Anto yang berhasil dari penjagaannya.
“PENYIHIR TUA…!” Teriak Putri dengan sangat keras hingga Anto yang sudah jatuh mendengar dari jauh.
“Wahh… Ini sangat tinggi. Jika mendara di tanah pasti mati.” Anto yang masih tenang dan tidak peduli dengan ketinggiannya. Anto yang terjun bebas, masih terus memperhatikan menara yang begitu tinggi dengan teliti. “Di sana.” Anto menemukan lubang lain yang mirip seperti tempat dia melompat. Saat melihat itu, Anto langsung membuat dirinya pelan terjun lalu melayangkan dirinya, lemudian mendekat ke dinding itu dan masuk ke dalamnya. Saat sampai di dalam, dia tidak menemukan siapa pun dan hanya menemukan lorong yang terlihat panjang dan juga ada lubang angin setiap 10 meter. “Suci.” Panggil Anto sambil terus memeluk Suci dari tadi. Tapi, Suci tidak merespon karena dia tidur lagi. Anto yang melihat itu terus menggendongnya, sambil melihat keadaan sekitar. Karena sepi tidak ada penjagaan, Anto mulai masuk ke dalam berjalan sambil melihat situasi yang ada.
Setelah beberapa meter, Anto masih tidak menemukan siapa pun di sana dan hanya ada keributan saja. “CEPATTT…!” Anto medengar seorang teriakan Laki-laki yang terdengar sangat tegas sekali. Anto berhenti sebentar lalu melihat lewat lubang angin yang mengarah ke luar itu. “Cepat temukan mayat yang jatuh dari menara.” Suruhnya dengan tegas pada semua Prajurit itu. ANto yang di kira mati tida bisa berkata apa-apa.
“Hm… Aku belum mati.” Anto yang tidak bisa berkata apa-apa karena kabur dari sana dan di kira mati karena jatuh dari ketinggian yang sangat tinggi. Anto terus melihat penjaga yang monda mandir mencari dirinya ke tempat dia di kira mati, lalu melihat ke langit. “Apa aku ada di kerajaan lain dan buan di kerajaan sebemlumnya?" Tanya Anto pada dirinya yang mengongat kejadian pada pemanggilan sebelumnya. "Semoga saja berbeda dari pemanggilan sebelumnya.” Anto yang masih melihat langit yang nampak sudah mau malam. “Tapi, sebaiknya periksa saja dulu situasi di sini. Mungkin saja ini masih di kerajaan yang sama seperti sebelumnya. Dan kemungkina ini adalah pemanggilan di masa lalu untuk ke tigaHero tadi." Setelah itu, Anto berhenti melihat ke langit, lalu masuk lagi dan berlari lagi di lorong yang tidak tahu ke mana tujuannya dengan santai supaya Suci tidak bangun~~~~.
Next Chapter