Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 39


Anto terbang dengan pelan supaya Lala menikmati terbangnya. “Master apa aku bisa terbang seperti ini?” Tanya Lala pada Anto.


“Hm!” Anto jadi teringat pernah bertanya seperti itu pada ayahnya. “Tentu saja bisa, jika kamu memperlajarinya.” Jawab Anto dengan senyum di wajahnya.


“Benarkah?” Tanya Lala dengan suara senang yang dapat terdengar jelas.


“Ya, nanti ku ajari” Anto menjawab dengan senyum dan juga sambil terinbta kenangan yang lalu. Lala tidak bersuara lagi setelag bertanya itu dan itu membuat Anto melihat ke punggungnya dan melihat sudah tidur dengan nyenyak. "Yah namanya juga anak kecil, pasti kadanga cepat lelah." Anto yang tersenyu kecil saat melihat Lala yang sudah tidur.


Tapi yang Anto tidak sadari ialah kalau itu hanya tipuan saja. Lala sebenarnya tidak tidur sama sekali dan hanya menutup matanya sambil terus memperhatikan Anto dengan wajah yang senang dan juga terlihat bahagia. “Aku ingin pulang.” Bicara NAVI dengan tiba-tiba.


Anto diam saat mendengar itu dan juga merasakan hal yang sama. “Aku juga, sudah lama tidak melihat mereka.” Anto tersenyum dan tiak berkata apa-apa lagi sambil melihat lurus terbng ke Kerajaan A.


***


Waktu lama terus berlalu, Anto dan Lala tiba di salah satu pulau terapungnya. “Itu pulau terapungnya.” Anto yang melihat salah satu dari 5 pulau besar yang terapung di udara. Anto memperhatikan jari jauh sebelum masuk. Ano melihat betapa besarnya pulau itu dan jga luasnya. Setelah melihat cukup lama dari kejauhan Anto mulai terbang medekat ke pulau itu. Saat hampir sampai, Anto melihat begitu banyak Antrian yang banyak sekali dan sangat panjang.


Semua orang di sana melayang dan tdak ada yang berjalan keculai penjaga yang bertugas. Anak-anak, remaja, orang dwasa, dan orang tua mengatri untuk masuk, Bahkan ada tempat untk kapal yang datang. “Sepertinya kita memerlukan tanda pengenal.” Ucap NAVI saat melihat banyak rang yang menunjukkan tanda pengenan dan langusng masuk.


"Bisa kamu buat?” Tanya Anto pada NAVI yang sudah tau kondisinya


“Itu hal mudah. Tapi sebelum itu, aku harus memriksa dulu struktur gambaran dari tanda pengenal yang ada.” Jawab NAVI sambil muelai memeriksa selama bebrapa detik. "Simpel." Ucapnya pendek. Setelah itu, NAVI membuat sesuatu dari partikel lecil pyih yang erkumpul di depan Anto. 5 menitan Anto menunggu dan baru selesai. dua buah plakat pengenal melayang di depan Anto. “Tinggal kamu tambahkan darah saja.” NAVI memberikan arahan pada Anto yang sudah menerima 2 tanda pengenal.


Setelah itu Anto  menggit tangan sedikit supaya berdarah, kemudian menateskan darahnya pada tanda pengenal itu. Tanda pengenanl itu becahaya sedikit setelah itu berubah warna menjadi merah darah. Setelah selesai Anto merubah pakaianya dengan sama persis orang yang mengantri di sana. Setelah itu, Anto mengambil 1 helai rambut Lala, lalu megalirkanya sebuah energi dan setelag beberapa saat, sehelai bulu itu berubah jadi darah yang cukup banyak. "Sepertinya aku membuat terlalu banyak." Ucap Anto sambil meneteskan darah dari bulu Lala ke plakat satunya. Dan setelah kedua Plakat itu jadi, Anto terbang ke Antria yang panjang.


“Tunggu” NAVI menghentikan Anto yang hendak terbang ke gerbang masuk.


“Apa?” Tanya Anto saat NAVI menghentikannya.


“Tubuhmu.” NAVI mengingatkan Anto yang masih kecil. Anto memperhatikan dirinya dan juga paham maksud NAVI.


“Hm...” Anto melihat dirinya yang masih anak kecil. Lalu dia mengubah struktur tubuhnya jadi lebih dewasa sebagai penyamaran sementara. Setelah itu terbang ke Antria yang pajang dengan cepat.


“Jangan terlalu tampan!” NAVI memperingatkan Anto yang sedang mengubah wajahnya


“Sesekali menikmati rasa popular.” Respon Anto dengan terbang dengan elegan ke gerbang masuk dan dengan senyum terang sambil mengubah gendongan ke depan. Anto terbang dengan pelan ke gerbang pintu masuk. Orang banyak mengantri untuk masuk, tapi Anto langsung maju ke depan tanpa mempedulikan yang lainnya mengantri.


“Hei! tunggu seperti yang lainnya?” Seorang pria dengan berbadan besar menghampiri Anto yang sedang terbang mendahului antrian.


“Ada apa?” Tanya Anto dengan suara sopan saat sudh berbalik.


“Kamu harus antri sebelum masuk.” Pria itu denga tegas bicara dengan Anto dengan suara mengancam


“Ada klasik di komik dan novel” Bicara NAVI pada Anto saat melihat kejadian itu yang juga sepertinya menikmati.


“Diamlah!” Anto menuyruh NAVI diam sambil menatap pria kekar di depannya yang terlihat garang. “Aku juga mau antri, tapi paling depan!” Jawab Anto dengan sopan dengan suara ramah pada pria kekar itu.


“Antrilah di paling belakang.” Dengan suara tegas dan garang pada Anto.


“Tidak. Aku harus masuk sekrang. Tidak terlalu enak di luar sini dan aku sangat lapar, jadi aku harus antri di paling depan.” Anto bicara dengan suara sopan tapi terdengar sombong. “Ini menyenangka juga.” Anto yang kegirangan berekting sambil melihat ekpresi kesal dari pria di depannya yang tanpak kesal.


“Aku bilang antrilah di paling belakang.” Pria itu dengan tegas berteriak pada Anto sehingga membuat semua orang melihat kearah Mereka berdua.


“Apa apa dengan mereka….” suara bisik-bisik banyak orang yang melihat kejadian itu.


“Hei kalian!” Penjaga datang dengan cepat. “Kenapa kalian ribut?” Tanya penjaga itu dengan sangat tegas.


“Orang ini mau mendahului antrian!” Jawab pria kekar itu dengan tegas dan juga masih kesal sama Anto.


“Apa itu benar yang di katakannya?” Tanya penjaga itu dengan tegas pada Anto.


“Dia bohong!" Berteriak Pria kekar pada Anto dengan keras.


“Bisa kamu tidak berteriak, mulutmu bau!” Anto mengejek orang dengan suara sopan pria kekar itu. Pria kekar itu semakin kesal dengan nada bicara Anto yang sopan tapi mengjek dengan terus terang. Semua orang melihat itu hampur tertawa dengan lelucon yang ada di hadapn mereka.


“Mohon jangan buat keributan disini” Penjaga memperingati dengan tegas pada Anto dan pria kekar itu.


“Kalau begitu saya antri dulu.” Dengan Anto sambil pergi meninggalkan penjaga dan pria kekar itu ke depan


“Anda mau kemana?” Tanya penjaga itu saat melihat Anto yang melangkah ke antrian depan.


“Saya mau antri masuk.” Jawab Anto dengan sopan sambil terus maju ke atrian paling depan.


“Lihatkan, aku tidak bohong!” Kata pria kekar itu pada penjaga saat melihat Anto yang berjalan terus ke antrian paling depan.


“Berhenti!” Penjaga memerintahkan Anto berhenti dengan tegas. “Mohon untuk antri paling belakang!” Dengan suara tegasya.


“Saya mau antri, kenapa kalian tidak ikut saja, supaya kalian percaya” Ajak Anto dengan suara sopan pada penjaga. Penjaga dan pria kekar itu jadi bingung dengan perkataan Anto yang mengajak mereka. Anto duluan meninggalkan Pnejaga dan Pria kekar itu.


“Woi! kenapa kalian masih di situ, cepat ikut aku.” Ajak Anto dengan sopan sambil terbang ke antrian depan. Penjaga itu hanya bisa menuruti perkataan Anto yang mengajaknya denga sopan. Setelah beberapa lama Anto tiba di antrian paling depan, setelah berjalan beberapa meter.


“Permisi!” Dengan sopan Anto pada pria yang antri paling depan.


“Ada apa?” Tanya dengan suara kasar pada Anto yang bertanya padanya.


“Ini, saya beli antrian kamu paling depan.” Dengan sopan Anto mengeluarkan sebuah kantung beriskan uang dan menyerahkan pada Pria itu. Pria itu lanngusng tersenyum saat melhat betapa banyak uang yang ada i kantong itu.


“Silahkan tuan.” Pria itu dengan sopan pada Anto mengambil sekantong uang yang di berikan Anto padanya dan memberikan antriannya yang paling depan. Setelah itu, pria itu dengan terbang senang antrian bagian paling belakang.


“Terima kasih.” ucap Anto dengan sopan dan tersenyum pada pria yang memberikan antrianny saat sudah jauh meinggalkannya. “Penjaga saya sudah antri kan?” Tanya Anto pada penjaga itu dengan sopan sambil berdiri di antrian paling depan


“Y… Ya!” Penjaga itu tida tahu harus mau bilang apa dengan tindakan Anto yang membeli antrian dan juga baru tahu ada cara seperti itu. Pria kekar itu denga sangat kesal  dan marah pada Anto meningalkan Anto yang sedang menikmati antriannya yang paling depan.


“Selanjutnya.” Panggilan antrian berikutnya.


“Giliranku!” Anto ke sumber suara dengan cepat. Anto langsung berjalan setelah di panggil. saat sampai di sana, Anto hanya menyerahkan dua tanda pengenalnya.


“Aneh sekali namamu.” Bicara penjaga itu saat melihat nama ZERO tanda pengenalnya.


“Haha.. Itu sudah biasa, aku juga di begitukan di tempat tinggalku.” Anto yang berusaha menahan canggungnya meski hanya ekting.


“Ya sudah, ini!” Sambil mengembalikan 2 tanda pengenal milik Anto dan Lala yang masih tidur.


“Lala masih tidur.” Sambil menggendongnya dan masuk ke dalam kota. “Wah... ini sangat kuno.” Anto yang melihat sambil berjalan dengan normal. Anto sangta kagum dengan hal baru yang di lihatnya. "Untung saja dia tidak bangun tadi!" Mengingat saat ribut dengan pria kekar sambil mengubah posisi tidur Lala ke Punggungnya.


“Sebaiknya kamu ke penginapan yang tidakjauh dari sini.” Suruh NAVI Sambil mentranfer gambaran kota pada Anto. Tanpa merespon, Anto langsung meuju ke sana dengan santai sambil menikmati kota yang baru di masukinya. Anto berjalan sekitar 10 menitan baru sampai di penginapan yang di maksud NAVI.


“Hm...” Lala yang mengusap matanya. “Master!!” Sambil memeluk Anto dalam tidurnya. Anto tersenyum saat melihat Lala yang menyebut namanya.


“Sebaiknya kamu segera memesan!” NAVI menyuruh Anto yang masih berdiri di depan Pintu. Setelah itu Anto masuk dengan sopan ke pinganpan.


“Sangat sepi sekali!” Guman Anto saat tidak melihat satupun pelanggan di penginapan itu.


“Selamat datang.” Sapa seorang gadis pada Anto yang terlihat sangat kelelahan.


“Eh!” Anto tiba-tiba merasa ada sesutau di gadis di depannya itu.


NEXT Chapter