
Umam yang mendengar itu tidak berka apa-apa hanya saja berwajah serius sekali, tapi Umam merasa kalau itu hanya sebuah pertanyaan yang di lontarkan untuk membenarkan apa yang akan di lakukan oleh Luna selanjutnya. “Luna, kamu boleh saja melakukan itu, tapi ku sarankan jangan pernah saja lakukan. Kamu tahu, ZERO itu tidak suka kehidupan panjang, apa lagi ratusan tahun yang penuh dengan kebosanan.” Umam mendekat ke Luna yang ada di kasurnya dan duduk di dekatnya tanpa melihat ke matanya. “Kamu tahu, hidup ribuan tahun itu sangat membosankan. Tapi, aku yang sekarang sama sekali tidak pernah bosan meski hidup lebih dari ribuan tahin dengan cara menikmati Game dari berbagai Dunia yang telah ku kunjungi. Setiap hari aku selalu main Game, tidur, makan dan melakukan itu setiap hari. Dan pekerjaan ku hanya sebagai penulis Novel yang di kenalkan oleh ZERO sendiri.” Umam bercerita dengan senang.
Setelah itu Umam diam dan tidak lanjut lagi. Bukan hanya diam saja, rasanya dia menunggu Luna bertanya. “Kenapa kamu bercerita seolah-oleh kamu sudah hidup ribuan tahun?” Tanya Luna yang melihat dari samping seperti melihat kekosongan namun terlihat bahagia. Umam tidak langsung merespon dia melirik ke Luna yang hanya bertanya pada dan juga tidak bisa merasakan niat dari apa yang di tanya itu.
“Luna, umurmu baru ratusan tahun. Tapi umurku sudah 1 juta lebih dan juga sudah banyak Istriku yang meninggal. Setiap Istriku meninggal 1, aku mecari pasangan baru di Dunia lain dan membawa ke sini dan itu selalu membuatku lebih hidup dengan menatap mereka setiap hari dan juga merasa senang dengan apa yang mereka lakukan.” Umam melanjutkan ceritanya dengan mengabaikan Luna yang bertanya seperti itu padanya. “Mungkin karena kamu terlalu polos belum menyadari apa artinya kebahagiaan sesungguhnya. Oleh sebab itu kamu akan selalu bersikap semaumu dan terkadang berusaha melakukan sesuatu secara berlebihan meski pada akhirnya itu akan berakhir sama.” Setelah bercrita Umam langsung memberi nasihat pada Luna. Tapi, Luna sama sekali tidak paham dengan apa yang di sampaikan oleh Umam itu.
Setelah itu, Umam diam saja dan tidak melanjutkan perkataannya dan menunggu Luna bicara. Luna juga jadi diam saja dan tidak bertanya apa pun pada Umam yang diam. Beberapa waktu berlalu, mereka masih saling diam saja dan tidak ada yang bicara sama sekali. “Apa aku harus Tanya!” Luna yang jadi canggung karena tidak ada yang bicara sama sekali. “Ano, yang tadi itu lanjutannya apa?” Tanya Luna dengan sopan. Umam dia dan tidak langsung menjawab.
“Tidak ada lanjutannya, hanya itu saja yang ku lakukan. Karena kamu merupakan BIDADARI nya, lebih baik ku kasi tahu saja. Seandainya kamu melihat Suami tua apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Umam dengan teka-teki simple. “Biar lebih jelas, apa yang akan kamu lakukan jika ZERO menjadi tua Bangka yang tidak bisa melakukan apa pun?” Tanya ulang Umam dengan sangat jelas sekali. Luna jadi terdiam dan tidak merespon sama sekali. Dia jadi kepikiran dengan perkataan Umam. Di sisi lain, Umam tersenyum saat melirik Luna yang jadi serius berpikir tentang perkataannya tadi itu. “Cuma dua yang perlu kamu lakukan. Apa kamu ingin hidup lama bahagia, namun semakin bosan atau kamu ingin hidup singkat dan bahagia sampai mati. Itu saja yang ingin ku katakan, selanjutnya itu terserah kamu yang akan memilih hidup seperti apa.” Saat mengatkan itu, Umam melihat ke Luna yang sedang menyimaknya.
Di sisi lain, sebuah portal terbentuk di dalam kamar itu selagi mereka bicara dan yang keluar itu Ana dengan sebuah koper besar. “Kakek, aku sudah siap.” Sapa Ana dengan santainya tanpa peduli apa yang di bicara keduanya. Umam melihat ke Ana yang sudah siap pergi ke Dunia Anto.
“Baiklah, sudah saatnya kalian pergi dari sini.” Umam berdiri lalu menutup matanya. Setelah itu sebuah lingkaran sihir di atas langit-langit kamar itu terbentuk. “Ana, kamu mungkin akan sediki lambat tiba di Dunia itu. Oleh karenanya, mungkin kamu akan tiba secara acak di sana. Pastikan kamu selamat dan jangan buat dirimu di cari sama dia.” Umam menegur Ana yang baru tiba.
“Tenang saja Kakek, Ana pasti aman.” Timbal Ana dengan sangat senang dan tidak kelihatan sedih sama sekali dengan meninggalkan Dunianya sendiri.
“Baguslah. Luna, semoga kamu mendapat kebahagiaanmu sendiri di Dunia itu.” Umam tersenyum pada Luna yang masih diam di tempatnya. “Sekarang tutup mata kalian!” Suruh Umam pada Ana dan Luna. “Luna, bagimu mungkin di sini itu hanya sekejap matam, tapi jangan lupakan kalau yang kamu kunjungi ini bukan sebuah ilusi.” Bicara Umam pada Luna yang sedang menutup matanya dengan rapat sekali. Setelah itu, Umam tidak terdengar lagi.
“Kak Luna, di mana Kak Sherly?” Tanya Riana pada Luna yang sudah selesai menyalakan api samba menjaganya tetap berkobar. Luna melihat ke Riana yang menjaga api itu. Dia diam saja dan tidak merespon Karena baru saja pulang dari negeri yang tidak di ketahuinya sama sekali. “Kak Luna!” Panggil Riana yang tidak di tanggapi sama sekali oleh Luna.
“Huh… Tenang, jangan pikirkan apa pun sekarang.” Luna yang belum merespon Riana yang menjaga api. “Maaf Riana, Sherly tadi pergi mencari baham makanan yang akan kita masak.” Jawab Luna meski telat. Saat mendengar itu, Riana langsung menatap ke Luna dengan kosong.
“Kemana dia mencarinya?” Tanya Riana dengan biasa saja dan juga telihat khawatir.
“Entahlah, yang jelas aku menyuruhnya ke pasar tadi, mungkin.” Luna yang sedikit kacau ingatannya saat baru kembali dari Dunia lain jadi tidak memperhatikan wajah Riana. “Sebaiknya nanti saja ku pikirkan msalah Dunia lain itu. Sekarang ini lebih baik ku masak saja.” Luna mengambil beras yang sudah di bersihkan oleh dirinya dan Suci. Saat sudah mengambilnya, dia baru kepikiran kenapa dirinya membutuhkan api yang di buat Riana jika ada kompor elektronik.
“Aku akan mencarinya.” Riana pamit dengan meninggal Luna yang mau memasak. “Aku mungkin akan lama, kalian nanti makan duluan.” Suruh Riana yang sepertinya tahu apa yang terjadi dengan Kakaknya itu. Luna hanya melihat saja ke Riana yang terbang tidak melarangnya dan membiarkannya. Setelah dia melihat ke Anto yang sudah selesai dengan satu petak sawahnya.
Luna melihat Anto berpindah lagi tanpa melihat ke arah lain kecuali sawah berikutnya yang akan di panen. “Sepertinya dia terlalu menikmatinya.” Luna yang melihat Anto sama sekali hanya melihat ke padi di dekatnya dan tidak memperhatikan sama sekali. “Eh!” Luna kaget saat Anto tiba-tiba terjatuh dengan cepat bahkan hingga terlihat sama sekali seperi jatuh.
Next Chapter