Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 207


-Itu semu merupakan ilmu yang kamu pelajari sendiri. Dan untuk ilmu umumnya kamu bisa pelajari sendiri di mana pun. Cuma itu saja yang ingin ku kasi tahu- Setelah itu NAVI diam tidak bicara lagi pada Anto. Anto terdiam di tempatnya dan mulai perlahan bangun. Anto melihat ke bayangan di dekat pembatas gedung itu yang berdiri menikmati pemandangan.


Anto perlahan berdiri di dekatnya dengan sedikit senyum menikmati angin lagi. “Sekolah ini sangat tenang. Apa yang akan ku lakukan sekarang?” Tanya Anto yang pura-pura tidak tahu dan bicara sembarangan. Anto tidak melihat ke bayangan di dekatnya dan terus menikmati angin segar yang perlahan berhembus. “Apa cuma ini NAVI?” Tanya Anto dengan tenang.


-Ya. Sudah ku katakan tadi cuma itu saja. Bahkan yang terkunci pun sudah ku transfer. Entah apa yang menyebabkanya tiba-tiba terbuka- Jawab NAVI dengan sedikit menjelaskan. Anto diam saja dan tidak merespon karena sudah paham maksud NAVI. Anto terus menikmati pemandangan yang ada di sana dengan santai.


“Apa seharian ini sekolah akan libur?” Tanya Anto saat mengingat pesan teman kelasnya yang memberi tahunya kalau ada rapat. “Aku pergi kemana lagi kali ya?” Tanya Anto pada dirinya sendiri. Anto melihat ke gedung kelas Gold. “Aku tidak pernah ke sana, mungkin ku coba saja.” Anto mulai berjalan dari atap gedung menuju pojok gedung sebelah yang berada di dekat gedung Silver.


Saat sudah sampai, dia melihat jarak yang cukup jauh antara gedung Bronze dengan gedung Silver. “Sekitar 10 meter lebih.” Anto Anto bejalan ke sudut gedung Bronze lalu di sana Anto menarik napasnya dalam-dalam. Anto melihat lurus dengan sangat fokus sekali. Setelah itu Anto lari dengan kecepatan penuh dan tanpa kekuatannya sama sekali. Saat sampai di dekat pembatas, Anto langsung lompat melaui besi itu sejauh mungkin yang dia bisa. Karena batas fisik Anto melampui manusia biasa, dia bisa jadi kuat dan bisa melompat lebih jauh lagi.


“Sangat jauh!” Anto yang masih bisa merasakan ketegangan di udara saat hampir sampai lompat di gedung silver. Anto yang lompat tidak tepat sasaran sama sekali, menabrak dinding gedung silver itu hingga hidungnya berdarah dan sempat memegang besi pembatas di gedung silver. “Sakit.” Anto menahan sakit sambil bergelantungan di dinding gedung Sislver itu. Anto menaikkan tangan satunya lalu berusaha memanjat dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya yang mulai terasa.


Saat Anto sudah berhasik naik, Anto menyembuhkan dirinya diam-diam. “Huh… Sangat berbahaya sekali.” Bicaranya dengan sangat jelas sekali. Anto perlahan meregangkan dirinya lalu melihat ke sekitar yang banyak bayangan. Anto pura tidak tahu sambil mengatur napasnya. “1, 2, 3, 4. Cuma 4 orang. 2 siswa dan 2 siswi. Siapa mereka ini dan kenapa mereka menutupi dirinya?” Tanya Anto yang tidak tahu apa pun tentang siswa dan siswi itu. Anto melihat ke bayangan itu yang sepertinya bicara sesuatu dan juga berdebat serius sekali.


“Mereka berdebat.” Anto yang bisa melihat dari bayangan meski tidak terdengar suara mereka. “Lebih baik aku diam saja dan tidak Tanya.” Anto jalan perlahan mengabaikan mereka berempat menuju pojok pembatas yang terhubung dengan gedung gold. Saat sampai di pojok pembatas, Anto melihat ke Gedung gold yang tidak memiliki sama sekali pemabatas. “Lebih mudah dari yang ku kira.” Anto mulai berjalan perlan mejauah dari pojok pemabats itu ke sudut lainnya untuk bersiap-siap lari dan melompat ke gedung gold.


Anto lalu berdiri dan melihat sekitarnya. “Sepertinya tidak ada orang yang naik ke sini.” Bicaranya dengan jelas sekali. Anto kemudian berjalan menuju pintu yang tidak jauh dengan cepat ke sana suapaya tidak kethuan dengan cepat meski vuma pura-pura. Bayangan yang di lihat Anto itu terus mengikutinya. Setelah sampai di dekat pintu, Anto tidak langsung masuk dan berhenti di dekat pintu lalu diam menunggu. Salah satu dari bayangan itu mendekat ke pintu. ‘TIT!’ Anto tersentak kaget saat mendengar itu dan bersembunyi meski pura-pura. Anto melihat dari dinding dekat pintu, namun tidak ada yang masuk sama sekali. Anto yang sudah tahu kalau pintu itu sengaja di buka masih tetap ekting dengan serius dan menunggu selama beberapa saat lagi.


“Kenapa tidak ada yang masuk?” Tanya Anto dengan serius sekali meski itu semua cuma bohongan semata. Karena tida ada yang masuk, Anto perlahan mendekat ke pintu itu dengan terus di perhatikan oleh semua bayangan itu yang mengawasi. Saat sampai di dekat pintu Anto perlahan masuk karena intunya di buka otomatis. “Sangat sepi.” Bicaranya dengan jelas sekali sambil berhenti di dekat pintu masuk yang sudah tertutup. “Aku akan langsung ketahuan jika masuk seperti ini.” Anto yang terdiam melihat ke sebuah tangga yang turun ke bawah.


Setelah itu Anto mengubah penampilan jadi orang lain dan juga mengubah pakaiannya di bagian kerah jadi gold supaya tidak di sadari oleh orang lain termasuk wajahnya. “Dengan ini mungkin aku tidak akan di curigai.” Anto yang terus pura-pura tidak tahu apa-apa. Setelah itu Anto turun dari tangga yang menuju atap itu. Saat melihat bagiam dalam, ternyata di kelas gold itu sangat berbeda sekali dengan gedungnya sendiri. “Astaga ini bukan gedung biasa kayaknya. Semua robot ini hanya bisa di miliki oleh militer saja. Ini sudah berbeda sekali pelajarannya dengan gedung bronze.” Bicara Anto dengan jelas sekali.


“Jika aku terlalu lama di sini, pasti akan langsung ketahuan. Banyak sekali pengawas di mana-mana. Semoga saja penayamaran ini sukses.” Bicara Anto dengan sangat jelas sekali supaya tidak di curigai sama sekali. Anto kemudian jalan dengan sedikit gugup meski itu cuma pura-pura karena para bayangan itu terus mengikutinya. Anto berhenti di sebuah papan pengumumann setelah jalan beberapa meter.


Dia melihat sebuah poster. “Jadi ada yang masih pakaia generasi lama.” Bicara Anto dengan jelas saaat melihat poster itu yang terpasang jelas sekali bersama beerapa hal lainnya. “Di rekrut satuan pengaman sekolah tingkat dengan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Punya Skil menyerang yang memimpini 2. Bisa kerja sama 3. Bisa menjaga rahasia 4. Punya kemauan dan bisa ikut serta dalam kegaiatan yang diadakan jika ada. Wah… Ini mah namanya bukan syarat, ini malah seperti kontrak budak.” Bicara Anto dengan jelas saat melihat masih banyak sekali persyataran tidak masuk akal.


Tapi di bagian akhir Anto melihat kalau itu dapat gaji besar sekali. “Jika aku punya Skil penyerangan pasti bisa ikut coba ini. Aku hanya punya fisik yang kuat saja. Apa mungkin aku bisa menang melawan mereka.” Bicara Anto dengan jelas sekali. Anto merobek poster itu lalu melihatnya dengan jelas. ‘TAP, TAP, TAP….!” Anto melihat poster itu jadi melihat ke atah lain melihat para pelajar sedang berlari. Para bayangan yang di dekat Anto langsung menepi dari jalan.


"Cepat! cepat! cepat!" Seorang remaja di depannya berlari dengan serius. “Hei, ayo cepat…!” Remaja itu menyuruh Anto. Anto hanya diam sambil melihat ke remaja itu karena tidak mengerti sama sekali maksudnya. Anto hanya tersenyum saja membalas remaja itu saat sudah hampir di dekatnya. Tapi saat Remaja itu di dekatnya, Anto malah di tarik tangannya dengan tiba-tiba tanpa sempat meunggu Anto meresponya. Anto hanya diam aja saat di ajak tiba-tiba begitu ke mana pun tujuan mereka.