
Anto terus menunggu Hilmi merespon. namun, setelah beberapa lama menunggu respon Hilmi masih diam saja tidak menjawab. "Kak... Kak hilmi? Apa Kakak baik-baik saja?" tanya Anto pada Hilmi di depannya yang terus melihat tanpa berkedip sama sekali. Anto melihat ke mana hilmi melihat, namun di depannya tidak ada apa pun kecali dirinya. Anto pun berbalik melihat dan masih menemukan Hilmi melihat dengan cara yang sama. "Apa aku mengatakan sesuatu yang sala ya...?" Tanya Anto dalam hati karena terus melihat tanpa entah kemana. Anto yang merasa ada sesuatu, mencoba menyentuh Hilmi karena diam terus, tapi tidak ada sama sekali respon saat di sentuh sedikit. "Hm! Apa ini?" tanya Anto saat mencium bau sesuatu yang tidak enak. Anto pun melihat ke asap yang ke ruang makan. "Kak Hilmi, apa Kakak masih memasak sesuatu?" Tanya Anto lagi pada Hilmi yang masih diam saja. Anto menunggu respon, tapi masih sama sekali tidak di balas dan aroma dari dapur semakin kuat.
Anto pindah dari tempatnya dengan pelan, sambil melihat wajah Hilmi yang masih sama. Saat tidak di perhatikan Anto pun segera ke dapur dengan cepat. Saat sampai di dapur, Anto melihat kompornya masih menyala membakar wajan yang berisi sesuatu. Anto tanpa pikir panjang langsung ke kompor lalu mematikannya supaya tidak terjadi hal berbahaya. "Uhuk! ini aneh, kenapa Kakak sama sekali tidak peduli dengan ini?" tanya Anto yang sudah mematikan kompornya lalu melihat ke wajan yang isinya gosong. Anto yang melihat itu langsung menggunakan kekuatannya untuk mengangkat wajan itu ke tempat permbersih supaya baunya hilang. Setelah menaruhnya di sana Anto langsung membuang sisa makanan di wajan itu, lalu membersihkanya dengan sabun supaya cepat bersih dan mengkilap. Setelah beberapa saat membersihkan, Anto mengembalikan wajan itu ke tempat semula.
"Untung tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan terjadi..." Anto merasa lega dengan semua itu sudah berakhir. Setelah selesai Anto kemudian jalan keluar dari dapur lalu ke ruang makan lagi. Saat di sana, Anto masih melihat Hilmi yang masih jongkok di tempatnya. Anto yang tidak tahu kenapa Hilmi masih jongkok, mendekat dengan pelan. Setelah sampai, Anto masih melihatnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya. "Apa ada masalah sama Kak Hilmi?" Tanya Anto dalam hati yang tidak tahu Hilmi yang masih diam saja. Anto yang melihat Hlilmi seperti itu memberanikan diri menggoyang Hilmi beberapa kali, untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi padanya. Tapi bukannya ada reaksi malah Hlimi masih tetap sama saja dan tidak bergerak sama sekali. Anto yang sebelumnya ekting kini jadi penasaran dengan Hilmi dan tidak main-main lagi. Anto kemudian menarik sehelai rambut Hilmi, seteah itu Anto mengeluarkan System priabadinya lalu meleburkan rambut Hilmi pada layar systemnya itu. Setelah peleburan itu system menampilkan kondisi Hilmi, namun anehnya sama sekali tidak ada masalah dalam tubuhnya. Anto yang melihat itu dengan serius menanggapi situasi yang sedang di lihatnya. Anto menutup matanya dengan tenang. Setelah beberapa saat tubuh Hilmi melayang di udara, lalu Anto membuka matanya. "Di sini bukan tempat yang baik buat memeriksanya, sebaiknya ke ruang keluarga saja." Anto jalan dengan pelan ke sana.
Setelah sampai di ruang keluarga, Anto langsung jalan ke sopa panjang. Saat sampai, Anto meluruskan Hilmi dulu di udara lalu membaringkannya. Setelah di baringkan Anto melihat lagi ke Himi yang masih membuka matanya. Anto menutup mata Hilmi suapya tidak terbuka. Setelah itu Anto hanya melihat saja dari tepi sopa dengan birdiri. "Jadi apa yang harus ku lakukan kali ini?" tanya Anto yang baru pertama kali mendapat situasi dan kondisi seperti itu. "Sepertinya tidak ada cara lain lagi!" Anto kemudian menutup matanya dengan pelan, Anto mulai mencari sesuatu untuk membangunkan Hilmi dengan pengetahuan yang di milikinya. Setelah beberapa saat Anto membuka matanya, Anto sama sekali tidak menemukan apa pun untuk membangunkannya dan hanya menemukan cara pemeriksaan lain saja. Tanpa ada pilihan lain, Anto memegang tangan Hilmi lalu mengalirkan Mana ke dalam tubuhnya, tapi tubuh Hilmi langsung menolak aliran Mana Anto. Anto pun mencoba untuk kedua kalinya, namun hasilnya sama saja di tolak. "Apa yang terjadi?" tanya Anto yang sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Setelah itu tiba-tiba cahaya keluar dari tubuh Hilmi yang membuat Anto menutup matanya, saat merasa silau sudah hilang Anto melihat lagi. Namun saat melihat Hilmi, dia sudah punya kuping dan ekor berbeda darinya."Ini bukannya Ras kucing!" Anto yang sangat familiar dengan bentuk tubuh dari Hilmi meski baru pertama kali lihat di nyatanya.
Anto hanya terdiam saja meliha sosok Hilmi yang asli. "Aku tahu ada ras lain, tapi ternyata aku bisa menemukannya secepat ini!" Dengan serius Anto melihat ke telinga dan ekor. Anto terdiam meliha hal itu, namun saat melihat itu Anto jadi teringat dengan ras lainnya yang mungkin ada di dunia ini. Anto tiba-tiba tersenyum sendiri tanpa di sadarinya sama sekali. "Tunggu... jangan pikirkan itu dulu, sebaiknya sadar Anto... Lihat dulu di depanmu." Anto memperingatkan dirinya supaya fokus pada apa yang di depannya. Anto kemudian memegang tangan Hilmi lagi untuk ketiga kalinya, untuk melihat kondisi Hilmi lagi. "Begitu..." Anto tersenyum karena tidak ada penolakan lagi. Meski tadi senang, kini raut Anto mulai berubah jadi serius lagi. Anto membuka matanya lalu melihat ke Hilmi sambil melepas tangannya. "Untung saja hanya kehabisan Mana, tapi kenapa Mana yang kedua dan ketiga menolak sebelumnya untuk?" tanya Anto saat mencoba memeriksa Hilmi namun tidak berhasil pada kedua percobaan itu. Anto memikirkan itu cukup lama. "Hm! Apa ini? Rasanya da sesuatu yang nyaman sedang mendekat?" tanya Anto yang merasa tenang dan aman sekali. Anto melihat sana sini namun tidak bisa melihanya. "Apa mungkin ada sesuatu yang tidak terllihat?" tanya Anto sambil menutup matanya. Anto mengalirkan Mana ke matanya lalu membuka matanya perlahan. Saat melihat ternyata ada Mana di sekitarnya berkumpul memadat masuk ke tubuh Himi secara perlahan. Anto melihat Mana itu masuk seperti tarik otormatis oleh sesuatu dan tidak masuk secara manual seperti yang di lakukannya sendiri. Tapi bukan itu yang membuat Anto tertarik, melainkan Mana yang beda masuk ke tubuh Hilmi. Mana itu tidak seperti Mana yang pernha di serapnya. Mana yang di serap oleh Hilmi itu memilki aliran yang datang dari suatu tempat. Anto melihat dari mana sumber Mana itu datang yang ternyata itu dari luar rumahanya.
Anto mengikuti ke mana sumber Mana itu dengan pelan. Saat sampai did epan pintu rumahnya, Anto langsung memuka pintu dan melihat Mana itu langsung menjulang ke langit dan juga sudah pagi hari meski matahari belum terlihat. "Sepertinya datang dari atas. Apa yang harus ku lakukan?" tanya Anto yang ingin tahu sumber Mana nyaman itu. Anto berpikir apa yang di lakukannya dan teringat dengan dirinya yang pernah lihat beberapa orang terbang saat bersama Ayahnya ke taman. Anto pun langsung menutup matanya. Setelah beberapa saat, Anto perlahan mengambang di udara dan berhenti saat berjarak 1 meter di atas tanah. Anto membuka matanya lalu melihat dirinya yang sedang melayang. Anto senyum sedikit lalu melihat ke langit. "Tunggu sebenar Kak Hilmi, aku mau lihat dari mana sumber Manamu itu." Anto pun langsung terbang dengan cepat mengikuti aliran Mana yang menjulang tinggi ke langit. Anto terus tanpa melihat seperi apa di bawahnya dan hanya mengikuti aliran Mana itu. Anto melihat awan aliran Mananya menembus awan itu. "Sepertinya sangat jauh sumbernya!" Pikir Ano yang yakin karena aliran Mana itu belum sampai titik sumbernya. Anto yang terbang mengikuti aliran Mana itu, langsung menembus awan di atasnya. Saat di dalam awan, Anto hanya bisa mengilti aliran mana itu supaya tahy arahnya ke mana. Anto melihat cahaya dari celah-celah awan yang mulai dan dia tahu akan segera melewati awan tebal itu. Saat sampai melewati awan, ternyata di atas sana banyak sekali Mana yang terkumpul dan sangat banyak sekali di balik awan. "Ini namanya bukan sebuah gumpalan Mana melainkan sebuah awan Mana." Komen sepenuh hati saat melihat banyak sekali Mana di atas yang tidak bisa di lihat dengan mata biasa. Tapi bukan itu tujuan Anto di langit. Anto kemabli fokus ke tujuannya mencari sumber Mana yang di serap oleh Hilmi. kali ini Mana yang di serap oleh Hilmu alirannya lurus sana, Antp kemudian lanjut terbang mengikuti aliran Mana itu.
***
Setelah lama terbang mengikuti aliran Mana milik Hilmi, Anto melihat Mana milih Hilmi perlahan memudar dan seperti sudah mau selesai mengambil Mana dari udara. Anto yang melihat itu mempercepat laju terbangnyanya supaya bisa sampai pada sumber Mana milik Hilmi. Anto melihat aliran Mana yang di ikutinya itu bengkok ke bawah, Anto segera terbang mengikutinya. Anto yang sudah terbiasa dengan kecepatannya, kini menemambah kecepatan trbangnya, supaya bisa dengan cepat sampai sebelum aliran Mana Hilmi menghilang. Anto melihat di depannya, aliran Mana Hilmi turun ke bawah. Anto berhenti sejenak saat melihat ujung Mana itu. "Sepertinya ada di bawah sana." Anto yang yakin dengan yang di lihatnya itu. Anto pun langsung terjun dengan kecepatan tinggi mengikuti aliran Mana yang semakin menipis dengan menembus awan di bawahnya. Anto terus menembus awan sebelum Hilmi selesai menyerap Mana yang di butuhkan. Karena jika selesai, maka Anto tidak akan menemukan sumber Mana itu nantinya. Anto melihat penampankan tanah aneh dari atas membuat Anto menambah kecepatan terjun hingga dia cepat menembus awan tebal itu. Aliran Mana terlihat semakin menipis dan juga sudah tinggal sedikit yang mengalir. Tapi Anto melihat sesuatu dari atas di bawahnya itu terdapat segumpalan Mana yang di serap Hilmi itu.
Di sisi lain Anto juga tidak menduga kalau dirinya sedang berada di gurun pasir yang jarang ada kehidupannya. Tapi Anto masih harus fokus ke Mana Hilmi yang sepertinya sudah selesai menyerap karena kini sudah tidak ada lagi yang mengalir. Tapi Anto senang saat melihat gumpalan Mana di gurun itu terus membuatnya merasa nyaman dan aman. Saat Anto sudah dekat dengan gumpalan Mana itu, dia memperlambat kecepatan terbangnya. Anto kemudian menginjakkan kakinya di gurun pasir yang seharusnya panas. tapi bagi Anto tidak ada sama sekali panas, malah biasa saja. Anto tidak terlalu peduli dengan hal itu, malah meperdulikan Mana di dekatnya yang sedang berkumpul tebal seperti kabut. Anto merasa nyaman di dekatnya dan merasa ingin mendekat masuk. Anto perlahan masuk ke dalam gumpalan Mana itu tanpa ia sadari karena kenyamanan, tapi Anto tersadar saat ada sesuatu menyilaukan dan juga ada sesuatu tarikan yang menarik tubuhnya. Setelah merasa tidak di tarik Anto perlahan membuka matanya yang tadi sedikit terkenal silaun. Anto mengerjapkan matanya dan melihat sekitanya bukan lagi berada di gurun pasir. Anto di kelilingi oleh banyak sekali bunga yang tidak di ketahuinya, dan di dekatnya ada gumpalan Mana yang di masukinya tadi. Anto diam saja di tempatnya dan tidak bergerak, melihat pemandagan baru. "AHHHH..." Anto langsung melihat ke suara yang teriakan kaget yang terdengar di dekatnya. Anto melihat anak semuran dengan dirinya sedang mengenakan di depannya yang terlihat kagett. Dan si saat yang bersamaan juga ada sepuluh orang yang datang.
"------" Anto mendengar suara itu dengan bahasa yang berbeda dari dunianya dan sama sekali tidak di mengertinya. Anto tetap tenang dan tidak bergerak sama sekali meski ada sepuluh orang itu datang. Saat kesepuluh orag itu sampai di dekat Gadis lecil itu, Anto lansung di ancungkan misil tepat di depannya yang muncul entah dari Mana. Anto yang melihat itu langsung kaget karena bididikannya sudah mengarah padanya. Anto yang melihat itu langsung masuk ke gumpalan kabut Mana di dekatnya, tanpa menunggu tembakan itu muncul. Saat di dalam Mana, Anto merasa di tarik lagi oleh sesuatu dan juga ada silauan dari suatu cahaya yang membuatnya menutup mata lagi.
Saat sampai di ruang keluarga, Anto langsung ke Hilmi yang sedang berbaring di sana lalu memegang tangan Hilmi, lalu mengecek keadaannya. Anto merasa lega setelah mengetahui kalau Hilmi baik-baik saja. "ku rasa dalam beberapa saat lagi dia akan bangun." Sambil melihat Hilmi yang belum bangun. Anto ke Hilmi lalu melihat sekelilingnya dan mengingat masa lalunya bersama orang tuanya. Anto menarik napasnya dalam-dalam sekali. "Sepertinya sudah saatnya ya." Anto tersenyum tenang dengan berusaha melupakan semua kejadian yang di alaminya tadi. Anto kemudian jalan keluar dari ruang keluarga dengan tenang. Anto jalan di dalam rumahnya sambil melihat sana sini hingga dia tiba di sebuah pintu. Anto terdiam melihat ke pintu, lalu perlahan membukanya. Saat sudah membukanya, Anto masuk ke kamar orang tuanya lalu jalan ke sebuah foto di dekat lemari. Saat sampai di dekat lamri, Anto mengambil beberapa foto dirinya bersama orang tuanya, dan meninggalkan beberapa juga. Anto tersenyum senang melihat foto yang dirinya masih bayi. Anto langsung menyimpan foto yang di ambilnya pada invetori lalu keluar dari kamar orang tuanya. "Tinggal Hilmi saja yang perlu ku lakukan sesuatu padanya!" Anto jalan lagi ke ruang keluarga untuk melakukan sesuatu pada Hilmi. Saat sudah di sana Anto langusng saja ke Hilmi. "Maaf Kak Hilmi... Aku pergi dulu dan aku akan di gantikan dengan kloningku tinggal bersamamu. Aku ingin melihat semesta luas ini dulu dan memecahkan misteri di planet lain yang ada." Pamit Anto dengan tersenyum pada Hilmi yang tidak sadarkan diri. Setelah itu Anto memegang tangan lalu menutupa matanya. Tangan Hilmi bercahaya terang lalu berhenti dengan sekejap mata. Saat melepas tangan Hilmi, ada sebuah pola bulan sabit pada tangannya yang bewarna hitam. "Ini pola yang ku tinggal supaya bisa pulang ke sini dengan teleportasi, jika sudah selesai. Dengan begitu aku akan tiba lebih cepat ke Bumi meski akan acak tempat teleportasinya, meski itu hanya sebagian saja dari fiturnya." Anto tersenyum mengatakannya.
Setelah itu Anto kemudian berdiri lalu jalan keluar dari ruang keluarga. Anto jalan keluar dari rumahnya. Saat sampai di depan pintu Anto berhenti sebentar. "Status!" Anto melihat ke Status pribadinhya yang masih menggunakan folder. Yang tadinya hanya 1 foldel kini ada dua folder. Yang baru adalah sebuah folder dengan tanda tanya sebagai namanya. Anto menekan tanda tanya itu lalu di depannya keluar cahaya terang. Semakin lama cahaya itu memudar dengan melayangkan seorang anak kecil telanjang yang perlahan membuka matanya. Anak kecil itu mulai di turunkan oleh cahaya itu dan berdiri tegak di depan Anto.
Anto dan anak kecil tadi saling lihat dengan tersenyum. "Selama pagi." Sapa cloning Anto dengan sopan. Anto mengangguk singkat melihat dirinya di depan matanya. "Aku sudah tahu tugasku. Aku akan menggatinkanmu di sini selama 10 tahun. ku harap kamu cepat kembali." Ajak bicara cloningnya.
"Tenang saja, aku cuma sebentar di semesta sana, mungkin." timbal Anto singkat. "Baiklah, sebaiknya kamu segera berpakaian setelah aku pergi dan sebelum Hilmi bangun." Suruh Anto dengan sopan. Cloningnya hanya menagngguk saja. "Satu lagi, biar kamu tidak di curigai oleh siapa pun. Akan ku tanamkan system player padamu. Tapi aku tidak yakin berhasil. Aku akan cari teorinya sambil mencoba menanamkan pada sekarang." Dengan tersenyum mengatakannya sambil jalan mendekat ke kloningya yang belum setuju atau tidak. Anto kemudian menaruh tangannya di kening kloningnya, sementara kloningnya menutup matanya.
Anto kemudian membuat dirinya dan kloningnya bercahaya satu sama lain. Mereka berdua bercahaya satu sama lain selama 1 menit lebih dan setelah itu cahaya pudar sendiri. Anto dan kloningnya perlahan membuka mata dan saling senyumin. "Meski ini cuma teori dari komik dan novel, ternyata terkadang benar!" Anto yang tidak menyangka masih menemukan kebenaran dalam sebuah komik dan novel.
"Jangan berkata seperti itu, masih banyak yang belum terjadi di novel dan komik. Kamu baru saja melihat sebagian kecil saja. Kamu bahkan belum menemukan Dewa, Kultivator,Dunia lain, Iblis atau sebuah Dunia yang lebih maju dari ini." timbal kloningnya dengan sangat yakin. Anto tersenyum senang dengan hal itu.
"Ya, ini belum seberapa." timbal Anto dengan tenang. Setelah itu Anto berbalik ke pintu rumahnya, lalu membukanya perlahan. Anto melihat langit cerah di luar dan juga belum ada matahari yang terlihat. "Sepertinya masih pagi..." Anto tersenyum lalu berbalik melihat ke kloningnya yang ada di dalam rumah dengan telanjang. "jaga dia." minta Anto pada cloningnya. kloningnya tersenyum menganggauk sebagai jawaban. Setelah mendapat respon itu, Anto kemudian terbang ke langit dengan cepat. "kurang cepat!" Anto terus menambah kecepatannya. "lagi!" Anto terus menambah kecepatannya hingga menembus awan. "Masih kurang!" Anto terus menambn kecepatannya hingga merasa menembus sesuatu dan merasa tidak bisa bernapas. Anto menembus semua lapisan Bumi hanya dalam beberapa menit saja dan itu bahkan tidak terasa sama sekali cepat. Anto segera mengalirkan Mana ke seluruh tubuhnya. Setelah merasa seluruh tubuhnya baik-baik saja dan juga merasa bisa bernapas dengan baik Anto melihat ke bawahnya. Anto melihat pemandangan dari dekat Bumi yang tidak terduga sekali. Anto kemudian melihat ke luar angkasa yng ternyata banyak sekali bintang bersinar. "Ini yang ada di luar Bumi... Hebat..." Anto tersenyum senang dengan melupakan segala sesuatu yang berkaitan dengan Bumi termasuk orang tuanya sendiri. Anto melihat ke bulan yang besar dan Anto langsung terbang dengan cepat ke sana. Setelah sampai Anto langsung mendarat sana lalu melihat ke Bumi. “Bumi sangat indah dari sini.” Ucapnya sambil senyum. Anto terus melihat ke Bumi dengan tenang. Anto menatik napanya lalu berpaling dari Bimi. "Baiklah, ke sebaiknya aku mulai saja." Anto terbang ke angkasa yang luas dengan sangat cepat sekali. Anto sangat senang sekali melihat bintang secara langsung di angkasa. Anto berbalik lagi melihat ke Bumi yang semakin kecil karena terus terbang menjauh. "Sampai jumpa Bumi!" Anto tersenyum mengatkannya laku terbang dengan sangat cepat sekali.
***