
“Kenapa harus buat senjata?” Tanya Anto dengan polosnya. Setelah menanyakan itu Anto merasa seperti di lihat dari berbagai arah yang membuatnya langsung melihat sana sini. Semak-semak bertanya padanya lagi alasan kenapa Anto bertanya seperti itu padanya. “Kenapa? bukannya membuat senjata itu berbahaya dan juga bisa melukai orang lain. Aku tidak mau melukai orang lain karena itu tidak baik. Apa lagi tanpa alasan yang jelas. Ibuku pernah menyuruhkan untuk tidak melukai teman atau seseorang yang seperti itu dan berusaha memaafkan mereka yang bersalah terus menggunakan senjata pada saat yang tepat saja. Misalnya saat mau memasak, melawan orang jahat, saat orang menindas yang lemah, dan masih banyak lagi yang tidak merugikan banyak orang.” Jawab Anto dengan diam sebentar memikirkan apa yang akan di katakanya selanjutnya.
“Aku tidak mau melukai siapa pun tanpa alasan yang jelas. Aku tahu kalau diriku ini belum dewasa dan belum mengerti banyak hal, makanya aku selalu melihat kehidupan orang lain mencari petunjuk untuk memahami banyak perasaan yang belum keluar dari diriku. Ayah pernah berkata kalau ada cinta dalam diriku, tapi tidak akan bisa tahu kalau belum dewasa.” Anto menjelaskan itu dengan polos dan masih merasa di perhatikan dari berbagai tempat. Setelah itu Anto merasakan sesuatu yang hangan dalam dirinya dan juga sebuah notikasi langsung muncul. ‘Naik Level… Naik Level… Naik Level… Naik Level… Naik Level…!’ Notifkasi it uterus meuncul di depan Anto. Setelah itu Anto langsung memeriksa Statusnya yang semua rata-rata 100 dan tidak ada yang kurang. ‘Anda Menyelamatkan Bangsawan Elf Mendapat Kenaikan Level 50’ Setelah itu notifikasi naik level terus bermunculan di depannya.
Setelah itu semua Statusnya jadi rata-rata 150 semua. Semak-semak bertanya pada Anto kenapa diam dan tidak bicara lagi padanya. “Kamu tidak lihat ini?” Tanya Anto pada semak-semak mengenai System yang di milikinya. Anto bisa memahami kalau semak-semak dan yang lainnya bingung dengan pertanyaan dirinya, tapi Anto malah bingung dengan para tumbuhan yang bingung juga. ‘KRAUHGH!’ perut Anto langsung berbunyi hingga membuat semua tumbuhan di sana jadi melihat ke Anto lagi, semak-semak yang mendengar itu langsung menyuruh Anto keluar dan meminta buah pada Monster pohon buah. Anto bertanya lagi dengan bahasa alam apa dia tidak akan mati kalau mendekat. Semak-semak dan yang lainnya tertawa meski hanya Anto yang memahami itu secara langsung. Anto yang polos diam saja karena tidak tahu bagian mana yang lucu dari pertanyaannya itu. Setelah itu semak-semak menyuruhnya meminta dengan bahasa yang di pakainya pasti akan di beri dengan percuma.
Anto hanya menjawab mengerti kemudian keluar dengan pakaian yang sudah berganti. Saat sudah di luar semak-semak, Anto merasa di sekitarnya jadi hidup dan sangat berbeda sekali. Terdengar suara sapaan pada Anto dan Anto pun membalas sapaan itu dengan bahasa yang sama. Anto terus di perhatikan oleh semua tumbuhan saat sedang jalan ke dekat Mosnter pohon itu. Saat sudah di sana Anto langsung di sapa oleh Monster pohon itu dengan suara halus, dan Anto yang mendengar itu pun membalas dengan sopan dan juga dengan sedikit takut padanya. Pohon itu bertanya padanya mau buah yang mana. Anto jadi bingung dan kenapa dirinya tidak di marahi, hingga membuat dirinya bertanya pada Mosnter pohon itu. Anto pun langsung di respon kalau itu semua hanya masa lalu dan karena dia belum memahami bahasanya, makanya dia berbuat seperti itu. Mosnter pohon juga menjelaskan kalau dirinya juga terhubung dengan pohon seperti dirinya makanya aku tahu seperti apa kondismu saat itu, makanya dia tidak marah sama sekali dengan semua yang di lakukannya itu.
“Terima kasih.” Anto langsung mengatakannya dengan sedih dan senang dan merasa tidak takut lagi. Anto di tenangkan oleh semua tumbuhan di sana hingga Anto merasa senang. Setelah itu sebuah buah jatuh dari pohon mosnter itu di dekat Anto. Anto pun langsung memungut buah itu. Anto duduk di dekat pohon itu lalu makan buah yang jatuh di depannya itu. Anto di sana di temani bicara dan di ajarkan banyak hal umum meski dia tidak mengerti sama sekali.
***
Semak-semak langsung menyuruh membawa gadis Elf itu keluar dari dalam dirinya karena dia tidak menerima gadis Elf itu di dalam dirinya saat baru saja sadar. “Ayolah jangan gitu, nanti saja sampai dia sembuh total.” Minta Anto dengan serius dan dengan bahasanya sendiri. Semak-semak merasa enggan, namun dengan terpaksa dia menerima permintaan Anto dan tidak bicara lagi padanya. “Lah… ayolah jangan marah?” Minta Anto dengan sedih karena Anto bisa memahami kalau semak-semak itu sedang kesal dengan dirinya. Tapi semak-semak malah diam tidak merespon Anto sama sekali. Anto hanya bisa diam saja kareja merasa bersalah tidak menurti permintaan semak-semak.
Sementara itu Gadis Elf itu malah bingung dengan Anto yang bicara sendiri. Anto kemudian melihat ke gadis Elf itu lagi. “Apa ada yang sakit?” Tanya Anto pada gadis Elf itu dengan senyum. Gadis Elf itu diam saja saat Anto bertanya padanya dengan sopan. ‘KRAUGHH…’ suara perut gadis itu langsung terdengar oleh Anto. Anto yang menyadari itu terdiam karena hal itu. “Sepertinya kamu lapar, apa kamu mau buah?” Tanya Anto dengan sopan pada gadis Elf itu. Elf itu hanya mengangguk kecil sebagai jawaban dan tidak melakukan apa pun. “Kalau gitu ikut aku.” Ajak Anto mengulurkan tangannya pada gadis elf itu. Gadis Elf itu berdiri sendiri saat di ajak Anto, tapi saat sudah berdri dia itu malah langsung lemas dan terjatuh lagi, Anto dengan sigap langsung menangkap supaya tidak jatuh.
Semak-semak menyuruh Anto mengambil sedikit daunya lalu menyuruh gadis Elf itu memakannya. Anto tanpa pikir panjang lansung menyobek sedikit bagian daun semak-semak itu. “Coba makan ini!” Minta Anto pada Elf yang di pegangnya itu. Elf itu ragu sekali pada Anto yang menyodorkan sobekan daun dari orang yang di temuinya. “Apa kamu takut padaku?” Tanya Anto yang sudah belajr banyak dari para tumbuhan meski hanya sikap baik pada semua orang. Elf itu malah langsung mengambil daun itu dari Anto karena pertanyaan itu membuatnya tersakit tanpa luka yang tidak di mengertinya. Setelah memakannya gadis itu malah merasa lebih baik dan segar sekali.
(Dalam Menggunakan bahasa Alam akan menggunakan narasi saja sebagai lawab bicara. Alasanya kalau bicara sama tumbuhan akan terlalu banyak percakapan karena jenis tumbuhan itu banyak kalau pakai bahasa percakapan)