
Kali ini Anto duduk menunggu dengan terus makan, makan, dan makan sebanyak mungkin karena itu bahkan tidak bisa membuatnya kenyang sama sekali. Waktu terus berlalu, Anto yang menunggu sudah makan banyak sekali masakannya sendiri, dan kini tinggal setengah saja dari masakan yang mereka buat. “Aku ingin tahu sekali kenapa aku tidak kenyang sama sekali. Apa yang sebenarnya terjadi?” Anto yang sama sekali tidak paham dengan apa yang di alaminya itu. “Aku makan dan menghabiskan setengah dari makanan ini, tapi semuanya masih tidak membuatku kenyang. Apa ada sesuatu yang membutaku jadi tidak bisa memakannya?” Tanya Anto yang masih memikirkannya. Dengan cukup lama Anto diam dan masih lanjut makan. “Hah… Aku sama sekali tidak mengetahuinya.” Anto mulai mengambil lagi makanan yang berbeda dari masakannya. Dia mengambil masakan milik Riana yang berbeda darinya. “Sedikit gosong, tapi ya sudah.” Anto mulai makan, tapi rasa makanan itu langsung membuatnay terdiam.
“Masakan ini rasanya berbeda dan makanan ini tidak berubah jadi energy setelah aku makan! Apa masakan ini berbeda dari punyaku?” Tanya Anto lagi yang ingin tahu penyebab. “Hm! Ngapaian aku pikirin itu, lebih baik aku makan saja.” Anto makan dengan lahap dan tidak melakukan hal lain lagi. Anto makan sambil menunggu mereka keluar dari kamar mandi karena terlalu lama.
***
10 menit berlalu, Anto masih makan sangat banyak sekali hingga menyisakan 10 piring saja. “Aku kenyang. Aku tidak sanggup lagi.” Anto yang memgang perutnya yang sudah tidak sanggup makan. “Tapi, kenapa mereka belum keluar juga?” Tanya Anto yang sudah menunggu 40 menitan lebih. “Apa Gadis selalu mandi lama. Tapi ini sudah sangat lama. Lebih baik ku lihat saja.” Anto bangkit dari tempat duduknya sambil memgang pertunya yang kenyang, lalu berjalan keluar dari ruangan itu. Tapi saat sudah diluar tempat itu, Anto melihat mereka berdua sudah di dekat sana. “Hm… Sepertinya aku haru buat kamar mandi pribadi setelah pulang.” Anto yang melihat kedua Saudari itu terlihat segar. “Kalian sangat lama. Masuk sana makan, aku sudah sangat kenyang nggak sanggup makan lagi.” Suruh Anto sambil rjalan masuk lagi ke ruang makan.
Mereka berdua tidak berkata apa-apa dan hanya melihat Anto yang masuk dluan meninggalkan mereka di dekat masuk ke ruang makan. Setelah Anto tidak terlihat, mereka berdua masuk mengikuti Anto yang sepertinye hendak mencari mereka berdua. “Kak, aku sedikit lapar. Bagaimana dengan Kakak?” Tanya Riana yang tidak terlihat seperti kesatria malah Gadis biasa yang ingin menikmati waktunya.
“Sedikit tadi. Tapi, kali ini rasanya nambah lapar.” Respon Sherly singkat. Mereka berdua berbicara dengan suara kecil seperti bisik-bisik saat mereka tida di lihat Anto. Tapi mereka hendak masuk, sambil berhenti bicara dan melihat ke meja makan yang tinggal 10 porsi makanan yang tersisa dan bahkan semua kue yang mereka buat itu tidak ada sasekali tersisa bahkan bekasnya pun tidak ada sama sekali.
“Apa ini?” Tanya Riana yang melihat ke meja makan yang sudah kosong dan bersih sekali juga hanya melihat tinggal 10 porsi saja makanan yang tersisa.
“Kenapa kalian masih berdiri?” Tanya Anto pada Riana dan Sherly saat melihat mereka yang masih diam di tempat masuk dengan berdiri menunggu di tempatnya.
“Di mana makanannya?” Tanya Sherly pada Anto dengan tenang terangan.
“Aku memakannya, apa lagi emangnya?” Tanya balik Anto dengan santainya sambil duduk lagi ke kursinya.
“Semua makanan yang banyak itu kamu makan?” Tanya Sherly yang kaget dan melihat dengan tidak menduga sama sekali. Anto melihat ke Sher;y yang sepertinya tidak menduga sama sekali.
“Ya, soalnya semu masakan yang ku masak jadi sebuah energy dan tidak bisa di makan. Jka ku makan malah enak dan saat di telan langusng berubah jadi energi, mungkin di sini di sebut dengan Mana." Jawab Anto dengan sedikit menjelaskan masalahnya. "Tapi masakan kalian itu berbeda, itu membuatku kenyang dan malah ingin nambah lagi.” Tambah Anto dengan santinya sambil melihat ke mereka berdua. Mereka berdua masih diam di tempat mereka saat dan saat di puji malah jadi melihat ke Anto cukup lama. Anto yang di lihat tidak mengerti dan dengan cepat mengubah ekpresinya. “Jika kalian masih lapar, nanti ku buatkan lagi, meski masakanku tidak akan membuat kalian kenyang.” Anto menambakan dengan serius dan juga merasa bersalah dengan makanan yang tinggal sedikit.
Kedua Saudari itu melihat ke Anto yang terlihat aneh dan juga tidak bisa di mengerti kenapa dia bertingkah begitu. Tapi, kedua Saudari itu masuk lalu duduk ke kursi yang telah di sediakan lalu mereka diam dan tidak melakukan apa pun. Tapi, Sherly mengambil makanan setelah beberapa saat yang ada di depannya itu tanpa ragu sama sekali. “Mari makan.” Ajak Sherly dengan santainya. Riana yang di ajak, mulai mengambil makanan yang ada di depannya.
“Ehm! Oh ya, apa kalian tahu di mana lokasi ini?” Tanya Anto sambil menampilkan tanah lapang yang luas sekali dengan sedikit grogi. Sherly dan Riana melihat layar yang di depan mereka dengan teliti sambil berusaha mengingat dan juga tidak kaget sama sekali dengan hal yang di tampilkan Anto itu pada mereka.
“Setahuku, tidak ada tanah lapang dan luas seperti itu di kerajaan man pun.” Jawab Riana sambil makan dan berhenti melihat ke layar yang di tampikan Anto itu. “Bahkan aku tidak pernah melihatnya sama sekali tanah yang kamu tunjukkan itu.” Tambahnya dengan serius. Anto masih diam dan tidak berkata apa-apa sama sekali.
“Ada tanah yang seperti itu.” Jawab Sherly lagi dengan santainya. Anto dan Riana melihat ke Sherly yang bicara seperti itu dengan santainya dan makan dengan elegan.
“Kakak nggak tahu apa pun. Tapi, jika yang di bilangnya pasti ada.” Dengan santainya jawab sambil lanjut makan lgi setelah merespon Adiknya. Riana jadi terdiam dan terlihat merenungkan perkataan Kakaknya. “Jika kamu di tanya seperti itu oleh dirinya, jawab saja ada. Nanti dia sendiri yang akan mencarinya kan.” Sherly mengajar Adiknya dengan terang terangan. Anto yang melihat Riana dengan serius berpikir tentang tadi membuatnya tersenyum sendiri dan tidak berkata apa-apa.
“Hah! Apa yang dia ajarkan pada Adikknya? Tapi, mana mungkin Riana perca…”
“Oh begitu.” Jawab Riana hingga Anto tidak bisa melanjutkan perkataannya. Anto melihat ke Riana yang terlihat sangat percaya dan nurut sama Kakaknya itu, baru tahu kalau Riana ternayata sudah di cuci otaknya oleh Kakaknya sendiri dengan metode yang tidak di ketahunya hingga membuat Adikknya jadi polos meski sudah dewasa seperti itu.
“Tapi, kurasa ini tidak buruk.” Anto tersenyum lagi sambil melihat kedua Saudari itu bicara layaknya Gadis biasa dan tidak peduli dengan hal lainnya. “Kalian, setelah ini aku mau pergi, apa kalian mau ikut?” Tanya Anto pada mereka berdua yang sedang bicara sambil memotong pembicaraan mereka lalu mengambil stu porsi makanan lagi.
Sherly melihat ke Anto yang bertanya pada mereka berdua. “Kemana?” Tanya Sherly sambil makan dan langsung mengaikan Adiknya. Tapi, Riana juga ikut melihat ke Anto yang bicara seperti itu dan tidak terlihat marah sama sekali atau kesal padanya.
“Tadinya aku akan mengajak kalian ke tempat ini. Tapi, aku berubah pikiran. Bagaimana jika kalian ikut aku jalan-jalan mengelilingi Dunia ini!” Ajak Anto sambil makan dengan santainya melupakan hal yang di minta Sherly sebelumnya.
“Jika kamu mengajak, aku ikut.” Jawab Sherly tanpa ragu sama sekali dengan senyum di wajahnya. Riana yang melihat Kakaknya tersenyum berbeda dari biasanya sediki kaget dan melihat lagi ke Anto.
“Aku juga ikut.” Riana menawarkan diri dengan sedikut malu. Sherly dan Riana melihat ke Riana yang terlihat ingin iut juga denagns edikit malu saat mengatakannya.
“Baiklah, kalau gitu kita akan berangkat setelah dia bangun.” Timbal balik Anto sambil terus makan setelah berhenti beberapa saat dengan perkataan Riana yang tidak di duganya sama sekali. “Karena ini sediki membosankan, lebih abik kita bicara sanrai saja." Anto tersenyum pada mereka berdua sambil makan dengan pelan. Rian dan Sherly mulai sedikit penasaran dengan apa yang di maksud Anto melihat ke Anto dengan sangat serius. "Apa yang kalian biasanya lakukan saat di istana?” Tanya Anto memulai percakapan dengan mereka.
Sherly dan Riana yang tadi berwajah serius kini jadi terdiam sebentar. “Tidal banyak, hanya belajar etika, belajar sejarah, belajar pedang, tidak ada lain selain kecuali sihir yang harus di tekankan bisa.” Jawab Riana dengan santainya. Anto yang medenga itu masih makan.
“Istana kerajaan ternayta membosankan.” Respon Anto dengan santainya. Riana dan Sherly saling tatap lalu melihat ke Anto yang terlihat bosan yang dapat di dengarnya. Tapi, bukan karena bosan dengan jawabannya, melainkan suasana istana yang membuat mereka berdua jadi seperti itu yang membuat Anto mengubah nada bicaranya yang tidak di ketahuinya sama sekali.
“Mau bagaimana lagi, kami hidup di kerjaan memang seperti ini.” Timbal lagi Riana dengan wajah senang. Mereka bertiga ngobrol dengan santai di ruang makan dan tidak melakukan apa pun. Mereka hanya menikmati waktu dengan bicara santai melupakan ha yang tegang dan menikmati yang sekarang. Percakapan mereka betiga tidak berakhir di sana saja, mereka terus menceretakan apa yang mereka lakukan dari masa kecil hingga besar dan apa keinginan terdalam mereka (Pengalaman).
***
Next Chapter