
Sahabatnya kemudian di bicarakan oleh banyak orang mengenai kehebatan berpedangnya dan juga merupakan murid berbakat dari sekte pedang terkenal. No 2 yang melihat dan mendengar itu tetap tenang saja. Setelah itu sahabatnya mulai mengeluarkan pedangnya lalu mengerahkanhya pada No 2. Setelah itu sahabatnya menyerang tanpa ragu dengan kekuatan penuhnya, tapi No 2 tetap pada posisinya hingga dirinya tertusuk. Semua orang diam saja tidak ada yang bicara melihat No 2 sudah tertusuk di tempatnya Setelah sahabatnya kemudian menarik pedangnya dan terlihat ada darah yang mengalir dari pedangnya. Di saat itulah orang tua yang melayang tadi terjatuh hingga sampai tanah. “Lama tak bertemu!” sapa No 2 dengan tenang pada sahabatnya yang di depannya yang terlihat tegas.
Sahabatnya kemudian membuang pedang itu kemudian melihat melihat ke orang tua yang jatuh itu tanpa merespon No 2. “Kamu kejam Orang Tua. Kamu tidak pantas hidup di dunia ini.” dengan suara sangat tegar mengatakan itu. “Kamu menghilangkan ingatanku selama puluhan tahun dan membuatku menjadi bonekamu, bahkan kamu ingin menggunakan anakku sendiri buat keuntunganmu sendiri, jangan pikir aku akan diam saja.” dengan terus terang berkata itu pada orang tua yang perlahan memulihkan diri.
“Kamu sudah menikah!” Kaget No 2 di dekatnya yang terlihat jelas sekali. Sahabatnya lalu melihat lagi ke No 2 dan adiknya sendiri. Sahabatnya langssung tersenum pada No 2 dan adiknya saat melihat mereka.
“Panjang ceritanya.” respon sahabatnya dengan senyum.
“Singkatkan saja.” timbal No 2 yang masih ingin tahu dengan wajah kagetnya.
“Hmm…!” sahabatnya merenung sebentar. “Gini, saat aku terpisah denganmu aku sampai di sebuah rumah kecil dan yang tidak berpenghuni, setelah itu aku keluar dan belajar lalu setelah tahu bahasa dunia ini, lalu aku masuk ke sebuah sekte pedang terkuat, tapi aku malah di cuci otak dan tidak mengingat siapa diriku dan hanya di anggap kalau aku di adopsi oleh seseorang dan untungnya aku menanamkan chip ingatan sekali pakai di kepalaku yang merekam semua ingatanku, dan akan aktif saat kamu sampai di sini dan baru semua ingatanku akan di transfer semuanya.” dengan singkat menjelaskan. No 2 masih tenang mendengar semua itu sambil menganguk-nganggukkan kepalanya.
“Lalu siapa anakmu?” Tanya No 2 yang masih belum tahu sama sekali dan juga masih dengan tenang saja. Sahabatnya langsung menunjuk ke belekangnya lalu No 2 melihat bersama adik sahabatnya dan saat melihat ternyata yang di tunjuk ialah gadis yang berpakaian pengantin yang tanpak bingung sekali.
“Dia ya… tapi kayaknya dia bingung dengan sikapmu yang tiba-tiba berubah. Lalu di mana istrimu?” Tanya No 2 lagi pada sahabatnya dengan balik melihat lagi. Sahabatnya langsung terdiam dan tidak segera merespon.
“Aku tidak tahu. Beberapa tahun lalu aku dan dia telah di pisahkan setelah melahirkan Arma. Aku di cuci otak bersama dengannya, tapi tenang saja karena kamu sudah di sini aku merasa tenang.” jawabnya dengan tanpak lesu sambil tetap senyum.
Saat sahabatnya sampai di dekat Orang Tua itu dia langsung memegang lehernya lalu mengangkatnya dengan satu tangan. “Apa kamu ingat apa yang kamu katakan saat membuatku kehilangan ingatan?” Tanya sahabatnya dengan suara tegas sekali. Orang Tua itu diam saja melihat seperti masih belum tahu apa yang terjadi. “Seperti kamu tidak mengingatnya, kalau gitu biar ku ingatkan, AKU AKAN MENGAMBIL SEMUA MILIKMU DAN KAMU TIDAK TAHU SIAPA DIRIMU LAGI DAN HANYA AKAN JADI ANJING SEKTE INI… itu yang kamu katakan padaku.” dengan teriak dan mengulang kembali apa yang di ingatnya. Setelah itu dia tidak bicara lagi. “Selain itu, kamu membuatku membunuh banyak orang selama puluhan tahun, tapi kamu pikir aku tidak tahu apa rencanamu!” setelah itu sahabatnya langsung mematahkan leher orang itu yang kemudian orang itu menghilang.
“KAKEKKK…!” teriak seorang remaja di dekat No 2 dengan keras sekali yang memakai pakaian pengantin. “Kenapa? kenapa?” remaja itu melihat dengan tajam sekali pada sahabat No 2. Setelah itu sahabat No 2 mendekat padanya lalu menyentuh dahinya dengan jari telunjuknya. Setelah beberapa saat dia melepas telunjuknya lalu melihat ke lagi ke No 2.
“Mari pergi.” ajak sahabatnya dengan tenang saja. No 2 mengangguk saja sebagai respon. Setelah itu sahabatnya jalan ke anaknya dengan senyum dan saat sampai langsung memegang tangannya kemudian membuka sebuah portal di dekatnya. Sahabat dan anaknya duluan masuk lalu No 2 mengajak Ram, tapi dia berhanti setelah dekat dengan portalnya.
“Puas melihat?” Tanya No 2 sambil berbalik melihat ke langit. Setelah itu No 2 mengangkat tangannya lalu di tangannya perlahan muncul sebuah pistol, setelah itu dia langsung menembakkan ke langit yang kosong. Setelah sebuah retakan muncul yang dapat di lihat dengan jelas sekali oleh semua orang. “Lemah!” kata No 2 lalu masuk ke dalam portal. Dan saat sampai di balik pintu, dia sampai di sebuah gubuk tua yang tidak terawat di luarnya.
“Cepar sini masuk!” ajak sahabatnya yang terdengar jelas dari dalam gubuk itu. No 2 dan Ram jalan ke gubuk yang sudah terlihat lapuk dari luar. Saat sampai di pintu gubuk itu, pintunya secara otomatis terbuka yang membuat No 2 dan Ram sedikit heran. No 2 segera masuk dan saat sampai dalamnya ternyata itu sebuah ruang tamu yang sama dengan era maju dari dunia mereka bertiga.
“Ruangan ini cukup bagus juga.” Puji No 2 lalu jalan mendekat ke sahabatnya yang duduk di sopa bersama anaknya. Saat sampai dia langsung duduk di dekat sahabatnya tanpa ragu sama sekali. Semua terdiam dan tidak ada yang bicara sama sekali. “Baiklah, kalian berdua pasti bertanya-tanya, kalau gitu kalian boleh menanyakan apa pun pada kami berdua!” minta No 2 dengan tenang pada Ram dan anek sahabatnya.
“Tunggu!” sahabatnya menghentikan No 2 yang berkata seperti itu. “Selamatkan istriku dulu!” minta dengan wajah serius pada No 2. No 2 melihat ke sahabatnya yang serius sekali.
“Aku mengerti, tapi kita uji coba dulu teori ini pada kalian berdua.” responnya dengan singkat dan tenang. Sahabatnya mengagguk saja tanpa pikir panjang lalu No 2 melihat ke gadis yang masih memakai gaun pernikahannya yang masih bingung sekali dengan situasi yang baru pertama kali di alaminya. “Sebaiknya kamu tenangkan dulu dia!” minta pada sahabatnya yang melihat gadis di dekatnya yang terlihat berusaha mencerna tapi tidak bisa masuk sama sekali ke kepalanya. Sahabatnya langsung melihat ke anaknya yang seperti. Dia jadi sedikit kaget melihat anaknya yang berpikir keras sekali di dekatnya. Setelah itu dia memegang kepala anaknya dengan tenang sambil tersenyum lalu setelah beberapa saat dia melepaskannya.