
Setelah sahabatnya sampai, dia langsung medekat ke mereka bertiga. “Bagaimana?” Tanya sahabatnya yang langsung bertanya pada No 2 saat melihat ke Arma yang terlohat fokus sekali.
“Tenang saja, kita tunggu dulu.” responnya singkat sambil melihat ke Arma yang focus saja. Setelah itu sahabatnya melihat ke anaknya yang terlihat focus sekali menutup matanya dengan portal yang belum terhubung dengan siapa pun. Setelah itu sahabatnya melihat ke Ram dengan senyum setelah melihat anaknya yang masih fokus.
“Bagaimana menurutmu?” Tanya sahabatnya pada Adiknya sendiri. No 2 hanya memperhatikan saja mendengarkan percakapan mereka berdua. Adiknya malah melirik ke No 2 yang di sadarinya meski dia hanya pura-pura tidak tahu apa yang di lakukan Ram. Ram kemudian mengangguk saja yang membuat No 2 bingung dengan pertanyaan singkat itu yang hanya di jawab dengan anggukan kepala saja. “Kalau gitu baguslah.” dengan tenang mengatakan itu pada Ram.
No 2 yang masih melihat mulai penasaran dengan mereka berdua. “Apa yang kalian bicarakan?” Tanya No 2 pada kedua bersaudara itu dengan ingin tahu. Keduanya malah saling lihat lagi, lalu sahabatnya menepuk pundak No 2.
“Apa yang kamu inginkan setelah menyelamatkan kedua orang tuamu?” Tanya sahabatnya pada No 2 dengan tenang dan juga terdengar serius sekali tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya. No 2 malah terdiam mendengar itu seolah-oleh tidak pernah terpikirkan sama sekali dan juga mulai tidak mengingat pertanyaan sebelumnya. Ram dan Sahabatnya malah melihat terus ke No 2 yang menatap saja tanpa melihat ke mereka berdua. “Ku sarankan kamu bersantai saja setelah melakukan itu dan juga buat sesuatu yang kecil dan bukan yang besar seperti ini.” saran sahabatnya dengan tenang saja. No 2 masih tidak merespon dan juga hanya melihat saja.
Di sisi lain saat mereka bicara portal kecil di depan Arma perlahan terbentuk yang membuat ketiganya segera melihat pada nya. “Ku rasa itu saran yang menarik. Nanti ku lakukan.” respon No 2 sambil melihat ke portal yang sudah terbentuk sempurna dengan Arma yang perlahan membuka matanya. Ketiganya melihat ke Arma dengan ingin tahu.
“Berhasil.” katanya dengan suara kecil. No 2 merasa lega dan lalu mendekat ke portal di dekat Arma. tapi malah No 2 di tarik oleh sahabatnya yang mendahuluinya. No 2 tidak marah soal itu dan membiarkannya karena dia tahu betul perasaan rindu meski beda orang yang di rindukannya. Saat sahabatnya sampai dia melihat sebuah perkarangan rumah dan juga banyak orang yang sedang melakukan sesuatu. “Tapi Ibu tidak mendengarnya dan ada orang lain yang mirip denganku yang bicara padaku.” tambah Ram mengatakannya saat semua orang sudah mengelilingi portal itu.
“Tapi kenapa kamu tidak langsung membawanya saja? Bukannya kamu sudah kuat?” Tanya No 2 yang tidak mengerti kenapa dia bertindak seperti itu.
“Kebenaran.” jawabnya singkat dengan serius sekali. “Dia yang menginginkan ingin bertemu denganmu. Aku tidak tahu alasannya, tapi katanya dia ingin sekali bertemu denganmu bagaimana pun caranya.” jawabnya dengan serius juga. No 2 malah semakin bingung dengan perkataan sahabatnya itu. ‘Kakek!’ terdengar suara jelas sekali di sekeliling mereka berempat yang jelas sekali. ‘Tolong aku!’ dengan suara lemah sekali mengatakan itu. “Arina!” dengan jelas sahabatnya mengatakan itu. “Itu suara Arina!” dengan terlhat panic namun masih tenang mengatakan itu.
“Minggir biar ku lakukan sesuatu mencari!” minta No 2 karena merasa terpanggil begitu saja dan juga tidak tahu kenapa dirinya tiba-tiba seperti itu. Sahabatnya malah diam di tempat termasuk Ram dan Arma karena itu sudah cukup luas sekali untuk dapat melihat semua kejadian yang terjadi di dalam portal. Setelah itu No 2 memasukkan tangannya ke dalam portal dan semua orang di dalam portal melihat ke atas mereka yang ternyata ada tangan besar sekali. Setelah itu No 2 membuat kekacauana dengan menghancurkan sebuah bangunan, tapi tidak hancur sama sekali. No 2 kemudian mengangkat tangannya lalu mengepalkan kemudian memukul ke dalam portal itu. Terdengar suara retakan dari dalam portal dan itu membuat No 2 terus memukulnya hingga terdengar suara pecahan. Semua orang di dalam sana berteriak panic lalu beberapa orang melayang terbang ke tangannya dengan melakukan berbagai macam serangan.
“Jadi seperti kelihatannya." kata sahabatnya yang melihat semua orang dalam saja tanpak kecil seperti serangga. “Kamu hebat bisa membuat teknik ini, tapi jangan buang-buang waktu!” mintanya serius sekali. No 2 diam saja tidak mereposn sambil melawan serangan mereka semua yang tiba-tiba menyerang dari berbagai arah. Karena dia di minta behenti main-main No 2 memunculkan pistolnya lalu menembakan sebuah energy ke bawah dan membuat sebuah lubang besar sekali di dalam sana. Dan untung tidak ada korban dan hanya membuat sebuah lubang besar saja.
“Jangan ada yang melawan kalau tidak ingin ada yang mati!” No 2 memperingatkan dengan serius sekali. Setelah itu No 2 menerbangkan semua orang lalu di lihatnya. “Yang mana Arma?” Tanya No 2 pada Arma yang melihat saja banyak orang di dalam. Arma menunjuk pada seorang gadis yang terlihat lemah sekali dan kekuarangan gizi. Setelah itu No 2 menariknya hingga dia berteriak lalu mengeluarkannya dari portal. No 2 dan ketiganya melihat ke tangan No 2 yang memrgang manusia kecil di tangannya yang gemetar. “Apa kamu tahu di mana Ibumu?” Tanya No 2 pada gadis kecil yang terlihat ketakutan sekali. Bukannya di jawab malah dia diam saja melihat 4 raksasa yang mengelilinginya. No 2 yang melihat gadis itu ketakutan perlahan menurunkan tangannya lalu menaruh gadis itu di tanah. Setelah perlahan gadis itu kembali normal dan membuatnya sedikit kaget dengan hal yang di alaminya itu. “Jadi di mana Ibumu?” Tanya No 2 untuk yang kedua kalinya pada gads itu tapi tidak di respon sama sekali.
“Itu!” kata sahabatnya sambil menunjuk pada seorang yang berpakaian pengantin juga. No 2 segera memasukkan tangannya lalu menarik gadis itu. Setelah itu portalnya menghilang begitu saja dengan di ambilnya orang yeng mengnakan pakaian pengantin. “Cepat besarkan!” minta sahabatnya yan g terlihat tidak sabar sekali. No 2 segera menaruh orang yang mengenakan pakaian itu ke tanah lalu seketika dia jadi membesar lagi. “Arina… ini aku…!” kata sahabatnya dengan senang sekali. orang itu perlahan melepas penutup kain wajahnya dan membuangnya lalu melihat ke sekitar, kemudian melihat ke No 2 di dekatnya.