Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 138


Saat mereka bicara itu, tiba-tiba Anto merasakan ada sesuatu yang terbuka dalam dirinya yang membuat dirinya bisa merasakan kehangatan yang lebih dalam dan juga sangat nyaman. “Ini apa? kenapa rasanya tidak asing?” Anto yang bertanya-tanya pada dirinya sendiri saat merasakan ada sesuatu yang terbuka dalam dirinya.


-Ini… Ini semua kekuatan yang tadi tersegel kini terbuka Anto- Respon NAVI yang tidak menduga sama sekali. NAVI jadi senang sekali saat mengetahui semua kekuatan itu telah terbuka lagi. Anto yang merasakn itu, bisa merasakan seberapa besar kekuatannya dan juga seberapa besar daya hancurnya. -Lebih baik kamu gunakan dengan baik dan juga kuasi control kekuatanmu terlebih duhulu yang mungkin sudah tumpul- NAVI mengingatkan dengan sangat serius sekali.


Anto belum merespon sama sekali karena masih proses menerima semua kekuatan. Dia dengan segenap hatinya masih mempepelajari semua tentang kekuatan menggunakan Skil Study nya saat masih sedang proes menerima kekuatannya. “Sepertinya itu tidak perlu NAVI, karena aku sudah paham dengan kekuatan yang ku miliki ini.” Respon Anto dengan membawa kabar lebih baik lagi dari pada hanya diam saja dan tidak merespn setelah beberapa lama diam di tempatnya menerima kekuatan sambil memperljarinya. “Caranya itu, lamu sendiri yang jadi kekuatan itu. Maksudku, anggap saja dirimu itu mengatur pelepasan kekuatan sesuka hati dan aku pengguna kekuatan itu sesuka hati.” Anto menjelaskan dengan singkat dan jelas apa yang di maksudnya. NAVI yang mendengar itu, sedikit kaget dan terdiam tidak merespon Anto sama sekali. Anto tahu apa yang menyebabkan NAVI diam. NAVI mencari data mengenai hal tersebut, tapi sama sekali tidak dalam dirinya itu. Anto yang bisa merasakan sedikit perasaan NAVI, mengerti dengan rasa ingin tahunya itu yang lebih mendalam lagi. “Kamu tidak perlu mencari lagi. Semua datanya tidak ada sama sekali dan bahkan kamu tidak bisa menambahkannya. Karena itu akan secara alami, seperti bernapas biasa di lakukan.” Anto mejelaskan lagi dengan lebih detail maksudnya supaya NAVI tidak sibuk dengan urursannya sendiri.


NAVI jadi tidak bisa membalas Anto yang berkata begitu, dia merasa senang dan juga tidak tahu harus apa. Rasanya dia jadi kosong tidak tahu harus melakukan apa. NAVI diam cukup lama tidak merespon Anto sama sekali. -Nah Anto, apa aku ini masih dari bagianmu?- Tanya NAVI yang meragukan dirinya sendiri. Anto yang bisa merasakan kegelisahan NAVI tidak mengerti apa yang menyebabkannya. Anto diam sebentar dan tidak langsung merespon, malah merasakan perasaan NAVI yang semakin aneh


“Kamu kenapa NAVI?” Tanya Anto yang tidak mengerti dengan NAVI yang bersikap seperti itu padanya dan bukannya merespon jawaban NAVI. NAVI diam saja dan tidak merespon Anto sama sekali. Anto masih bisa merasakan kegelisahan dari NAVI yang sepertinya sangat takut, depresi, senang, tidak suka, semua perasaannya jadi campur aduk tidak di mengertinya. “Tenangkan dirimu." Suruh Anto dengan suara tenang. Tapi masih saja NAVI tidak tenang sama sekali. "Kenapa perasaanmu jadi tidak karuan. Aku bisa merasakan semua perasaanmu ini. Jika kamu seperti itu, kamu akan mati di telan perasaanmu dan tidak akan hidup lagi. Ini berbeda jika aku mematikanmu, cepat tenang dirimu.” Suruh Anto yang tetap tenang dan tidak gelisah saat NAVI sedang gelisah sendiri.


Meski begitu, NAVI masih saja tetap seperti itu perasaannya. Anto yang tidak paham dengan apa yang sedang di rasakan dan di ketahui NAVI hanya bisa diam menunggu untuk sementara. -Anto, matikan aku untuk satu hari. Rasanya aku tidak bisa menahan perasaan ini, jika tidak aku akan benar benar menghilang. Aku tidak tahu apa yang sedang ku alami, tapi untuk sekarang matikan aku- Minta NAVI dengan suara kecil yang berusaha mengucapakannya. Anto yang mendengar jadi serius dan  tidak menanggapi NAVI yang ternyata serius saat menatakannya.


“Ini sangat menyakitkan.” Anto yang tidak bisa berpikir dengan jelas. Setelah Anto membaringkan Gadis itu, dia berjalan kembali ke kursi meja makan. Di sana Anto duduk dengan terus menahan sakit yang semain lama semakin sakit. “Jika seperti ini, aku akan berteriak!” Anto dengan keputusan cepat mengambil tindakan membuat dirinya akan tertidur. Tapi, saat hendak mau melakukan itu tiba tiba kepalanya jadi merasa lebih baik dan tidak sakit lagi. Anto menenangkan dirinya dengan terus diam sambil menatap dengan kosong. “Kenapa, kenapa dengan Dunia ini. Tadi sakit sekarang tidak. Dunia ku sangat aneh.” Anto yang tidak mengerti dirinya sendiri dengan semua yang terjadi. Semua darah yang tadinya keluar, kini bersih dengan sendirinya tanpa di bersihkan olehnya. Anto berdiam diri di tempatnya dengan perasaan yang tidak di mengrtinya lagi. Sementara itu, Anto yang tidak memperhatikan layar yang masih menyala terus menerus dengan cepat loadingnya bertambah cepat. Saat sudah 100 persen ‘UPDATE COMPLATE’ tertera jelas dan langsung hilang layarnya.


Anto yang masih diam di tempatnya langsung mengenakan pakaian serba hitamnya lalu berdiri. “Fyuh…!” Anto menghela napasnya dengan sangat dalam dalam. “Anto, tenanglah. Jangan pikir yang tidak tidak. Sekarang saat pergi ke Dunia lain.” Anto menenangkan drinya sendiri sambil berjalan ke arah Gadis itu yang masih tidur dan berusaha unyuk tidak mengingat kejadian tadi. “Ku rasa aku belum menanyai namanya.” Anto yang baru teringat belum bertanya mengenai nama Gadis itu. Saat dia hendak duduk, Gadis itu membuka matanya tiba tiba yang membuat Anto sedikit kaget dengan semua itu. Gadis itu bangun lalu melihat ke Anto yang berdiri di dekat kasur. Gadis itu lalu berdiri di kasur depan Anto dengan tegak lalu menatap ke Anto. “Apa yang kamu inginkan?” Tanya Anto dengan suara lembut dan juga tidak mengerti dengan tindakan Gadis itu.


Gadis itu tidak langsung merespon , malah melihat Anto yang tersneyum padanya. “Nama? Nama Kakak si, siapa?” Tanya Gadis itu dengan sopan dan berusaha untuk akrab sama Anto. Anto tersenyum dengan Gadis itu yang mulai bertanya duluan dari pada dirinya.


“Namaku Anto dan ZERO.” Jawab Anto singkat dan jelas. Gadis itu malah bingung dengan jawaban Anto yang tidak di mengertinya. “Ehm!” Anto mengubah pakaiannya jadi biasa lagi. “Panggil aku Anto jika mengenakan pakaian biasa atau pakaian sehari hari. Tapi…!” Anto mengubah lagi pakaiannya dengan serva hitam dan topengnya. “Panggil Aku ZERO jika mengenakan pakaian ini.” Dengan suara yang tiba-tiba berubah dari sebelumnya. Anto kaget dengan perubahan suaranya yang tiba tiba dan tidak di mengertinya. “Ini suaraku kan? Kenapa terdengar sangat dingin meski aku dengan suara lembut di balik topeng ini?” Anto yang kaget dengan perubahan suaranya, padahal sebelumnya masih normal-normal saja. Anto jadi kepikiran dengan perubahannya itu dan tidak berkata apa apa lagi.


Next Chapter