
Anto duduk lagi di dekat Sherly yang teridur nyenyak. -Tapi, kurasa Adiknya akan ikut jika kamu menyuruh Sherly mengajaknya- Saran NAVI dengan cepat saat Anto tepat sedang memikirkan itu.
“Boleh juga.” Anto yang sedikit senang dengan itu. Tapi, di saat yang bersamaan juga, Riana datang dengan sangat lelah sekali. “Riana!” Anto kaget dengan penampilan Riana yang terlhat kacau sekali.
“Kita harus pergi, para penjaga datang dan sudah mengetahui semua yang telah kita lakukan.” Suruh Riana yang sangat panic. Anyo dan Sherly masih tenang dan tidak merespon Riana yang datang, malah sama sekali tidak khawatir dengan itu.
“Skil, Penenang Jiwa!” Saat Riana yang begitu panik, Anto mengaktifkan Skilnya supaya Riana jadi tenang. Setelah itu, Riana yang tadinya kelihatan panil, kini terlihat tebih tenang. “Riana, tenang dan masuklah.” Suruh Anto saat dia maih melihat Riana masih diam di tempatnya.
“Riana!” Panggil Kakaknya. “Masuk.” Suruhnya dengan santai. Setelah itu, Riana masuk mendengarkan Kakaknya dan kemudian duduk di kurs samping Kakaknya.
“Very Hard, NAVI.” Anto yang tidak di dengar perkataannya sama sekali oleh Riana meski yang di mintanya itu sama seperti Sherly.
-Sabarin aja, nanti luluh juga- Saran NAVI dengan santainya. -Sekrang ini lebih baik kamu buat sesuatu buat lindungi diri kalian saja- NAVI memperingtakan sambil menampilkan peta di depan Anto dengan titik merah sedang mengarah ke arahnya. Anto melihat ke peta itu dan banyak sekali pengepungan di luar.
“Sepertinya kita sudah di kepung dari segala arah, kalian tetaplah di sini dan jangan keluar sampai mereka pergi.” Dengan wajah serius dan senang memperingatkan. Setelah Anto menutup matanya kemudian keluar cahaya dari tangannya dan setekah itu sesuatu melewati Riana dan Sherly yang bisa di rasakannya dengan sangat jelas sekali. “Kalian tenanglah, tadi itu adalah ruang reflika ruangan ini.” Anto menjelaskan denga singkat.
“Reflika ruangan?” Tanya Sherly yang bingung. Anto melihat ke Riana yang sepertinya sangay mengabaikannya dan hanya melihat ke Kakaknya saja. Tapi, Anto masih bersabar meski dia tahu kalau itu tidak sopan menurutnya.
“Biar ku jelaskan. Sekarang kamar ini ada dua. Yang kita tempati sekrang ini berada di ruang reflika, sedangkan yang asli tidak ada kita di sana, dan dari ruang reflika ini, kita bisa melihat semua yang mereka lakukan Ruangan asli dan kita tidak akan ketahuan sama sekali, Anggap saja kita sekarang ini tidak dapat dimlihat sama seklai oleh orang lain. Dan tambahan, mereka tidak akan pernah mendengar suara kita sama sekali.” Anto menjelaskan dengan ringkas dan padat yang mudah di mengerti.
Tapi, setelah beberapa lama mereka terlihat sama sekali tidak mengerti meski di jelaskan dengan mudah. -Seperti nya mereka sama sekali tidak paham- Bicara NAVI saat melihat wajah Sherly dan Riana yang masih berpikir.
"Hm..." Anto yang tidak bisa berkata apa apa dengan kelakuan mereka yang tenang dan ekdpresi pura-puranya itu yang hampir sama seperti mengerti. “Kalian jangan terlalu memikirkannya, kalian lihat sebentar lagi.” Setelah itu tiba-tiba penjaga datang tiba-tiba. Selain itu, Riana menghunuskan pedangnya keluar dan cepay berbalik.
“Kakak cepat pergi dari sini sekarang juga, biar aku yang tangani mereka.” Suruh Riana dengn penuh gementar sekali. Tapi, Sherly tetap tenang dan tidak bergerak sama sekali dari tempatnya. “Kakak kumohon pergilah.” Suruh Riana yang semakin takut saat penjaga mulai masuk ke dalam dengan menatap tajam ke depat.
“Sepertinya ini akan menarik.” Bicara Ano dengan jelas sekalu sambil melihat ke Riana yang tegang dan gemetar sekali. “Full Reflika Planet!” Anto dengan sangat jelas mengucapkannya. Sherly yang mendengar itu melihat ke Anto dengan sangat kagum sekali.
"Kakak apa ini? Adikknya sedang berusaha melindunginya, dia malah tenang saja. Meski memang tidak akan terjadi apa pun." Anto yang tidak paham dengan jalan pikir Sherly yang terlalu percaya atau menang sudah di perhitungkan. “Saat ini semua orang sedang ada di Dunia Reflika dan kita ada di Dunia nyata. Lihatlah!” Anto dengan jelas menjelaskan sambil menyuruh Sherly melihat ke Riana yang bingung saat melihat para penjaga yang tidak ada sa,a sekali. “Tidak ada orang sama sekali di sini kan.” Senyum Anto saat Riana berbaik melihatnya.
“Apa yang terjadi?” Tanya Riana yang tidak mengerti sama sekali dengan kejadian tadi pada Anto dengan wajah yang masih lelah sekali. Anto yang melihat itu menghilangkan senyumnya dan tidak berkata apa-apa saat melihat Riana yang terlihat lelah.
“Nanti ku jelaskan, lebih baik sekrang kamu duduk dan dengarkan semua yang akan ku katakan. Tidak semua perkataan Sherly kamu harus dengar. Tapi bisakah kamu pertimbangkan sedikit percaya sama diriku ini.” Anto mengubah wajah jadi kecewa pada Riana yang tidak mendengarkan sama sekali perkataannya itu. “Level kepercayaanmu padaku adalah nol sedangkan Kakakmu…” Anto berpikit dan tidak melanjutkan perkataannya karena tidak tahu sama sekali tinggkat kepercayaan Sherly yang tidak dapat di mengertinya sama sekali.
“Bisa kamu jelaskan yang tadi itu?” Tanya Sherly dengan sopan dan juga terdengar penasaran. Anto yang di tanya seperti itu, tidak jadi melankutkan perkataannya pada Riana dan melihat ke Sherly yang masih tenang.
“Hah... Seperti yang ku jelaskan tadi, mereka sekarang ada di Dunia reflika yang aku buat, lihat aja sendiri.” Anto yang mengulang perkataannya sambil memuncurkan layar kecil di depan mereka berdua. Sherly dan Riana melihat para prajurit melihat kamar yang sama dan mereka tidak ada di sana. “Bagi mereka sekarang ruangan ini kosong dan tidak ada kita sama sekali. Tapi bagi kita, bagiku ini adalah sebuah Dunia nyata.” Anto yang sepertinya kehabisan kata-kata untuk di ungkapkan pada Sherly.
-Lebih baik kamu keluar dahulu dengan meninggalkan mereka. Selain itu, ku rasa lebih baik kamu jalan-jalan di sekitatr sini. Sejak kita tiba di sini, kita tidak pernah sama sekali menikmati kehidupan sehari hari yang baik, malah terus kena sama masalah. Jujur saja, kehidupan kita tidak normal memang dari awal, tapi kenapa kita harus selalu berhubungan untuk wanita yang kita ingikan, kita juga perlu istirahat Anto- Entah kenapa, NAVI mulai merasa lelah dengan mulai menghilangkan wujud perinya dan kembali masuk ke dalam bentuk astral.
Anto terdiam dengan perkataan NAVI yang masuk akal. Memang sejak dia tiba di Dunia ini, dia tidak pernah ke berkeliling, malah terus kena sama masalah. “Aku mau jalan-jalan dulu, lebih baik kalian juga keluar dan biarkan dia tidur di sana. Jika kalian masih di sana, aku tidak tahu apa yang akan terjadi.” Anto berdiri lalu keluar tanpa melihat mereka berdua. Dengan wajah kurang senang dia melewati Riana yang masih berdiri di tempatnya.
Anto yang bahakan tidak berbalik melihat ke Riana dan Sherly. “Riana! Mari ikut.” Ajak Sherly saat Anto sudah keluar dari kamar itu. Sherly bangkin dari kuesinya lalu berjalan mengikuti Anto di belakangnya dengan cukup jauh, lalu Riana yang menyusul Kakaknya dan ikut berjalan di sampingnya. “Ikuti kemana saja dia pergi dan jangan ganggu apa pun yang dia lakukan, meski kamu itu tidak suka itu.” Dengan sangat serius menegur Adiknya yang hanya mendengarkan kata katanya.
“Aku mengeti Kak.” Jawab dengan lesu. “Ini pertama kalinya aku melihat Kakak yang seperti ini. Dulu Kakak tidak peduli dengan apa yang ku lakukan, tapi sejak dia datang ke sini, Kakak selalu menghalangi apa pun yang berkaitan dengannya. Apa yang Kakak lihat darinya?” Riana tidak mengerti dengan apa yang di lakukan Kakaknya sendiri.
“Jangan berpikir yang aneh aneh dengannya dirinya. Karena kamu tidak tahu apa yang akan terjadi. Kamu tahu, di masa depan kamu bahkan di manjakan sama dia hingga kamu lupa dengan apa yang telah kamu lakukan selama ini.” Bicara Sherly dengan wajah senang sekali. “Selain itu, saat ini dia tidak peduli dengan kita sama sekali, dengan kata lain dia sedang tidak tahu kita mengikutinya.” Sherly dengan wajah senang bicara dengan suara kecil dengan terus mengikuti Anto yang berjalan di luar yang sepertinya tidak di ketahuinya sama sekali.
Sherly dan Riana berhenti saat Anto berhenti di sebuah persimpangan, Anto melihat kiri kanan lalu menggaruk kepalanya, lalu berpikir. “Apa yang di lakukannya?” Tanya Riana dalam hatinya yang tidak mengerti dengan tingkah Anto yang seperti terlihat bingung dengan cara aneh. Setelah itu Anto memilih belok ke kanan dan Riana tanpa sengaja melihat Anto tersenyum yang tidak di perlihatkannya sebelumnya.
Next Chapter