
Anto yang mendegar itu jadi terdiam tidak mengerti dengan hal yang di katakan NAVI padanya. Dulu dia merasa akan punya ratusan lebih, tapi kenapa jadi 7 atau 37. itu membuatnya jadi kepikiran dengan perkataan NAVI itu. “NAVI, Tunggu. Bukannya seharusnya aku dapat BIDADARI ratusan lebih?” Tanya Anto yang sama sekali tidak paham dengan maksud NAVI.
-Hah! Kalau ratusan mana mungkin kamu bisa membahagikan mereka secara bersamaan. Apa kamu mau kencan dengan mereka setiap malam dan tidak tidur?- Jawab NAVI yang tidak menduga dengan pertanyaan Anto. -Dulu memang kita beranggapan seperti itu, tapi kita tidak akan pernah bertemu dengan mereka lagi di Dunia kita saat kembali- NAVI menjelaskan sedikit.
“Kenapa, kenapa kamu baru kasi tahu sekarang?” Tanya Anto yang menahan kesalnya saat NAVI bicara dengan nada seperi itu padanya dan juga tidak ada rasa bersalah sama sekali padanya.
-Lah… Aku sendiri baru tahu karena data yang ada. Aku memang punya banyak data yang di masa depan kita yang berbeda. Karema kamu adalah ZERO ke 10.000, maka banyak sekali data yang belum bisa di akses. Aku tahu ini karena ada berkasnya yang terbuka- NAVI menjelaskan bagaimana dia dapat informasi itu. Anto yang mendengar itu tidak jadi marah dan hanya diam saja sambl terus terbang ke depan. -Kayaknya bukan 7 tapi 8, tadi aku lupa satu lagi- NAVI menambhakn yang lupa menghitung jumlah BIDADARI yang di dapatnya.
Anto yang mendengar itu jadi sedikit kesal lagi. Tapi, setelah bbeberapa meter terbang, Anto menemukan mereka berdua yang sedang terbang mengarah padanya dan membuatnya jadi tidak marah dan bicara sama NAVI. Anto berhenti saat melihatnya lalu menunggu sambil melayang di udara. Dia menunggu kedua Saudari yang terbang ke arahnya dengan tenang. “Ke mena mereka sebenarnya pergi?” Tanya Anto dalam hatinya yang melihat Sherly sepertinya sedikit lesu. "Luna bilang di pasar, ini malah bukan pasar lagi." Anto yang merasa di bohongi sama Luna.
Anto yang menunggu, tidak melakukan apa pun dan diam saja. Setelah keduanya sampai di dekatnya, mereka hanya saling lihat saja dan tidak ada yang bicara. Sekama beberapa lama, ketiaganya tidak ada yang bicara sama sekali -Bicara sesuatu lah… Kalau bseperti ini bisa jadi canggung- Suruh NAVI yang duduk di kepala Anto setelah terbang bersamanya cukup jauh dari pasar.
“Kalian sebenarnya ke mana?” Tanya Anto tanpa merespon NAVI sama sekali. Kedua saudari itu hanya diam saja dan belum menjawab. Anto menunggu lebih lama namun masih tidak ada respon sama sekali. Sherly yang dari jauh dari terlihat lesu, jini memperbaiki ekspresinya jadi tenang. “Apa salah lagi pertanyaannya?” Tanya Anto pada dirinya sendiri yang di diami oleh mereka berdua.
“Ano, apa Tuan Muda bisa bantu kami?” Tanya Riana dengan sangat ragu pada apa yang akan di katakannya. Anto yang mendengar itu jadi tidak bisa menjawab dan tetap diam saja karena panggilan Riana. bukan hanya Anto saja yang kaget, Sherly juga sedikit kaget dengan yang di dengarnya itu
-Tuan Muda… Sejak kapan mereka jadi pelayanmu?- Tanya NAVI yang sepertinya tidak suka di panggil seperti itu oleh calon istrinya. nto maih diam saja dan tidak merespon NAVI juga karena pertanyaan Riana sebelumnya yang masih teringat di pikirannya.
“Mungkin sejak kejadian kemarin malam mereka jadi sedikit berubah,terutama Riana yang berubah lebih.” Respon Anto dengan santai. “Asalkan bisa ku lakukan.” Jawab Anto dengan santai dan serius pertanyaan Riana. “Tapi, Riana apa kamu masih membawa bola yang kemarin ku berikan padamu itu?” Tanya Anto pada Riana mengenai bola yang menyimpan Gadis itu. Riana langsung merogoh sakunya lalu mengeluarkan boa itu dan memberikannya ke Anto bola itu tanpa meresponnya sama sekali. Anto menerima dengan tanpa ada perkataan lainnya. “Kalau gitu, apa yang kamu minta?” Tanya lagi Anto yang senang dengan bola itu yang berhasi di dapatnya. Riana diam dan belum menyebut apa pun permintaannya padanya.
Anto menunggu respon dari Riana, tapi maih diam saja dan tidak menjawab lagi. "Apa aku harus nunggu lagi?" tanya Anto yang masih di abaikan oleh Riana yang terus melirik ke Kakaknya yang ada di sampingnya. Meski Anto menyadarinya dia tetap membiarkannya dan tidak melakukan apa pun.
“Apa ada hal lain?” Tanya Anto balik yang melihat ke mereka sepertinya juga ingin meminta hal lain. Sherly tidak merespon sedangkan Riana hanya melihat ke Kakaknya dengan berharap menanyakan sesuatu. “Apa aku sudahi saja!” Anto yang tidak mengerti dengan sikap mereka yang seperti itu. Di sisi lain, Riana yang sepertinya ingin melakukan sesuatu pada permintaannya hanya melirik ke Kakaknya untuk minta bantuan dan sedangkan Sherly hanya menunggu jawaban dari Anto atas pertanyaannya tadi. “Hah… Mengenai kerajaan ini… Sebenarnya itu dalam proses dan kita harus nunggu tinggal beberapa hari lagi juga akan selesai.” Jawab Anto karena tidak ada hal lain lagi yang mau di tanyakan oleh mereka berdua.
Sherly melihat ke Anto yang kecewa dengan sebab yang tidak di ketahui jadi terlihat sedikit murung dan tidak bertanya lagi. Di sisi lain juga, masih mengeharapkan sesuatu darinya meski itu hanya sebuah pertanyaan kecil saja. “Kakak, kenapa Kakak tidak tanyakan itu?” Tanya Riana yang menggunakan telepati pada Kakaknya. Sherly melirik ke adiknya yang mentelepatinya.
“Riana, dia bukan orang seperti itu. Memang kalau kamu meminta pasti akan di berikan, tapi jangan saja. Aku merasa sesuatu yang baik akan terjadi pada kerajaan kita ini. bahkan tanpa meminta mereka melatih pasukan khusus buat menjaga kedamaian kerajaan ini pun dia pasti akan tetap menjaganya.” Timbal Sherly sambil melihat ke Anto.
“Tapi Kak…!”
“Jangan Khawatir! Apa kamu ingin berbuat kesalahan untuk kedua kalinya pada dirinya?” Tanya Sherly yang mengingatkan tentang apa mereka perbuat pada Suci. Riana hanya bisa terdiam dan tidak berkata apa-apa.
“Mau sampai kapan kalian akan telepatian? apa kalian kira aku tidak tahu!” Tanya Anto pada mereka dengan raut tidak senang karena membahas sesuatu di depannya dirinya. “Sudah, nanti saja kita lanjut bahas apa yang kalian inginkan dariku.” Anto tersenyum pada mereka untuk menenangkan mereka berdua yang sedikit kaget dengan dirinya yang tadi mendeteksi saat mereka saling telepati. “Dan satu hal lagi, namaku Anto, panggil Anto saja dan jangan Tuan Muda. kalian itu bukan pelayan yang ku punya, tapi calon Istri yang ku punya.” Dengan tersenyum dan sedikit malu mengatakannya.
Setelah itu Anto terbang dengan kecepatan sedang mengarah ke gubuk kecil itu meninggalkan mereka berdua. Waktu yang sudah hampir siang hari, kedua Saudari itu saling lihat lalu melihat ke Anto yang sama sakali tidak marah pada mereka berdua dan hanya melihat Anto yang kesal lalu meninggal mereka. “Apa ada orang sebaik itu di Dunia ini?” Tanya Riana dengan jelas sekali saat Anto yang sudah terbang cukup jauh.
“Tidak ada orang yang tidak baik Luna. Hanya saja, kebaikan itu sepertinya tidak datang dengan sendirinya, tapi karena kita yang memintanya. Kamu juga sudah menyadarinya bukan! Anto itu orangnya baik dan misterius, tapi bukan dia yang misterius. Malah kita yang menganggapnya seperti itu.” Timbal Sherly yang mengatakan apa isi hatinya.
Setelah itu, Sherly terbang menyusul Anto dan Riana diam saja melihat Kakaknya yang sepertinya sangat percaya dengan apa yang di lakukan Anto selama ini. “Apa aku masih tidak tahu menahu tentang dirinya?” Tanya Riana pada dirinya sendiri. “Andaikan aku tanyakan permintaan buat melatih prajurit sejati yang membela kerajaan ini saat krisis seperti ini, apa dia akan menerimanya?” Tanya pada dirinya sendiri yang ingin tahu. Riana belum menyusul Anto yang sudah sangat jauh terbangnya dan masih bisa di lihat, Riana kurang percaya diri pada dirinya sendiri yang selalu mengambil keputusan pribadi karena keputusan yang selalu di lakukannya itu berdasarkan apa yang di minta Kakaknya sendiri. Dengan sedikit kurang percaya dirinya itu, Riana terbang mengejar mereka berdua yang sudah meninggalkanya sangat jauh sekali.
Next Chapter