Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 55


“Hm…! Meski aki tidak ingat siapa diriku, tapi Aku tau, Aku tidak akan mati semudah itu.” Sambil melihat Lala berlari kemudain menghilang dengan portal “Lala. Kamu bilang kamu Bidadariku, tapi apa itu Bidadari?” Tanya diri sendiri yang masih tidak mengetahui istilah yang di buatnya.


Setelah lama diam di taman, Andri beranjak pulang ke rumah karena sudah malam.


***


“Aku pulang.” Andri menyapa saat sampai berteleportasi di pintu rumahnya.


“Kamu sudah pulang! Mari masuk, ada sesuatu yang Mama akan bicarakan.” Ucap Mamanya yang sepertinya juga baru pulang saat melihat Mamanya masih memakai pakaian yang sama saat pergi.


Mamanya duluan masuk, meinggalkan Andri yang masih termenung diam di depan pintu saat melihat Mamanya yang tidak tersenyum sama sekali padanya.


“Seperinya ini, akan jadi hari yang berat.” Pikir Andri sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


Andri masuk rumah dengan santai.


“Apa Aku langsung ke kamar aja?” Pikirnya sambil mebuka portal kecil menuju kamranya


“Tunggu!” Siska memanggil Andri yang hampir masuk ke portal yang di buatnya.


“Ada apa?” Tanya Andri yang tidak mengerti dengan sikap Siska yang sedikit aneh.


“Apa yang kamu lakukan pada kakakku?” Tanya Siska dengan sangat garang sekali pada Andri.


“Eh! Apa yang terjadi?” Andri yang sangat bingung dengan perubahan Siska yang sangat berbeda sekali dari biassanya.


“Kenapa kamu tidak jawab?” Siska menatap Andri dengan sangat garang dan mengancam.


“Kamu siapa?” Tanya Andri dengan sangat polos sekali.


Siska langsung terdiam saat selesai mendengar pertanyaan Anto. Siska semakin marah sekali dengan Andri yang yang bertanya balik padanya.


“Andrii…!!” Siska berteriak di dalam rumah dengan sangat kerasa sekali.


“Ini bukan Siska kak? Apa yang terjadi?” Andri yang sangat kaget sekali dengan tingkah Siska yang tidak biasa langsung melompat ke dalam portal dan meninggalkan Siska yang seprti bukan Siska yang dia kenal.


Andri yang sangat kaget dan juga ketakutan masih belum menyadari dimana dia berada.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” Tanya Maria yang sedang menyelimuti dirinya dengan selimut tebal.


“Apa?” Andri menatap Maria yang sedang menyelimuti dirinya “Maria, apa yang kamu lakukan di kamarku?” Tanya Andri pada Mari yang masih memakai selimut dan juga wajah yang sangat memerah sekali.


Maria melihat Andri dengan sangat marah dan kesal padanya sambil menatapnya dengan sangat tajam sekali.


“Keluar!” Kata Mari pada Andri dengan suara agak malu dan juga kesal pada Andri.


“Tidak, ini kamarku, mana mungkin Aku keluar.” Jawab Abdri yang masih belum mengerti sama sekali dengan situasinya dan di mana dia berada sebenarnya.


Maria semakin sangat kesal dengan jawaban Andri yang sangat tegas dan juga sangat sombong. Maria hanya diam saja dan membiarkan Andri mengetahui sendiri di aman dai berada sekarang. Andri terus menatap Maria yang menutupi dirinya dengan selimut sangat tebal.


“Apa dia tidak kepanasan?” Pikir Andri yang tidak mengerti dengan Maria yang membungkus dirinya dengan selimut.


“Ini bukan kamarmu.” Ucap Maria dengan tatapan tajam pada Andri yang sama sekali tidak memperhartikan sekitar.


Setelah Maria bicara begitu, Andri mulai memperhatikan sekitar. Andri yang sudah tau dirinya salah masuk kamar, langsung keluar tanpa berkata-kata. Sesampainya di luar kamar Maria, dengan terburu-buru Andri menekan tombol di pergelangan tangan kirinya yang memunculkan layar kecil. Andri memperhatikan dengan sangat cermat gambar semua ruangan di layarnya. Setelah begitu lama memerhatikan, tidak ada kamarya sama sekali di sana.


“Mama pasti melakukan sesutau.” Ucap Andri yang mengingat Mamanya selelau berlebihan padanya “Aku Tanya saja.” Sambil menekan tombol di layarnya lagi.


Setelah menekan tombol, Andri langsung masuk ke dartal yang di bukanya. Sesampainay di tujuan, Andri langsung duduk di salah satu kursi di ruang keluarga yang masih sepi.


Andi menunggu dengan tenang selama 1menit, tapi Mamanya juga belum datang. 30 menit kemudian juga masih belum datang.


“Ini sudah malam.” Sambil membaringkan tubuhnya.


Andri yang lelah menunggu tertidur lelap di ruang keluarga dengan nyenyak.


***


Tengah malam, Mamanya datang ke ruang keluarga. Mama dan dua pelayan yang menemaninya mendekat ke Andri yang sedang tertidur pulas.


“Bawa dia?” Mamanya Andri memberi perintah pada salah satu pelayan di sampiangnya.


Tanpa kedua pelayan itu menjawab, pelayan di samping kanan langsung membawa Andri dengan menggendong Andri dengan pela dan suapaya Andri tidak bangun. Setelah Andri di gendong Mamanya langsung terenyum pada Andri yang tertidur pulas dengan wajah polos sekali.


“Saat kamu tidur kamu sangat polos sekali!” Mamanya menatap Andri dengan sangat gemas sekali pada Andri yang tidur dengan sangat pulas sekali.


“Nyonya?” Panggil pelayan di samping kirinya.


“Maaf!” Dengan sangta gugup Mamanya menjawab “Mari kita berangkat.” Ajak Mamanya sambil membuka sebuah portal.


Setelah portal tebuka, Mamanya masuk dengan pelan dan di ikuti oleh kedua pelayan itu dengan santai.


Setelah tiba di  atap, emua orang telah menunggunya. Maria, Siska juga bersama para pelayan mengikuti Mamanya dengan pelan.


***


“Ini bukan kamarku lagi?” Andri yang mehat bagian atas yang bukan rumahnya “ Kali ini, dimana?” Andri yang beranjak duduk.


Andri melihat sekeliling dengan sangat teliti dan juga penasaran. Ruangan yang sangat ssedehana dan cukup kecil dan juga Andri yang melihat dirinya yang memakai pakaian biasa dan bukan pakaian maju.


“Aku sendiri disini!” Gumannya “Tapi, Kenapa aku merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan?” Ucap Andri dengan sangat jelas sambil melihat kearah pintu masuk yang terbuat dari kayu.


Andri menatap cukup lama pintu itu, karena merasa ada sesuatu yang akan masuk. beberapa menit kemudian tidak ada yang terjadi.


“Hm! Cuma perasaanku saja!” Andri yang sudah tenang dan berdiri


Andri melihat bajunya lagi dan sangat penasaran dengan sekali.


“Ini baju yang sangat kuno sekali, dan juag celana apa ini?” Saat melihat celana yang bewarna coklat.


Andri yang penasaran berjalan ke pintu keluar. Saat membuka pintu, Andri sangat kaget dengan hutan belantara di sekitanya dan juga hanya gubuk kecilnya saja yang ada di sekitarnya.


“Woi! Seriuslah, kalau ini Cuma candaan kan!” Andri yang tidak percaya sama sekali dengan yang ada di sekitarnya.


Andri menelan ludah dan kemudian masuk ke dalam gubuk itu lagi dengan sedikit takut.


“Tenang, ini hanya hutan saja.” Andri yang sedikit gematar di dekat pintu dan juga mulai tersenyum.


Cukup beberapa detik saja, Andri langsung menjadi tenang setelah gemetar selama beberapa saat.


“Ini sunggu menyenangkan.” Ucap Andri dengan sangat senang dan juga tersenyum.


Andri mulai melihat dirinya lagi. Semua barang teknologi muttakhirnya tidak ada sama sekali. Tidak bisa lagi berkomunikasi dengan orang lain termasuk Mamanya.


NEXT Chapter