Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 120


Anto yang melihat betapa paniknya semua orang hanya bisa melihat ke Istrinya yang lupa diri saat dia berubah ke bentuk aslinya. “Lihat sendiri akibat perbuatanmu itu.” Anto menegusr Istrinya yang terlihat biasa saja saat memgang pedang itu dan memainkanmya beberapa kali.


“Eeto... Maaf. ini.” Iblis itu berubah lagi ke bantuk manusianya dan sambil melempar kedua pedang itu ke Anto.


“Kenapa… Kenapa?” Tanya Raja pada Maid Iblis yang sudah mencabut pedang itu dengan sangat kaget sekali. “Iblis mencabut pedang Hero, Mana mungkin!” Raja sangat shock dengan hal yang di lihatnya itu. Anto yang melihat itu, merasa bersalah dan tidak tahu harus berbuat apa pada Ayah mertuanya.


-Perkembangan ini sangat bebeda dengan NOVEL dan KOMIK yang pernah ku baca- Bicara NAVI meski tidak di dengar semua orang kecuali Anto saja.


“Ya. Rasanya lebih ke pertengkaran keluarga.” Respon Anto yang berharap lebih jauh dari kenyataan yang di depannya.


“Ayah…!” Panggil Putrinya yang sudah jadi Istri Anto yang tidak punya tanda BIDADARI. “Maaf…” Dengan suara tulus meminta maaf pada Ayahnya sambil menundukkan kepalanya.


“Jangan minta maaf!” Istri Anto yang terlihat sangat mengancam Ayahnya, terus menerus menatap Ayahnya yang terlihat kaget. “ADIK! JANGAN PERCAYA SAMA WAJAH BUSUKNYA ITU!” Dengan teriak sangat kencang sambil menatap Ayahnya. Anto yang di sana jadi tidak tenang dan mulai melepaskan auranya tanpa peringatan hingga membuat semua orang membeku seperti  melihat sesuatu di depan matanya yang sangat berbahaya.


“Adeh… Ku harap ini bisa berjalan mulus, tapi kenapa malah begini!” Anto yang mengaharapkan akhir bahagia, tapi tidak sesuai ekspetasinya. “Sepertinya kalian semua sudah tenang.” Bicara Anto pada semua orang yang di sana termasuk sebagian warga yang masih di sana yang terlika akibat dari berebutan keluar.


-Para Dewa juga datang- NAVI memberitahu Anto yang sepertinya tidak tahu itu. Anto di lihati dengan penuh rasa takut oleh para Dewa yang hadir yang bisa merasakan kekuatan Anto yang begitu besar dan tidak di ketahui oleh mereka sama sekali.


“Aku tidak tahu apa yang kalian takutkan dari Iblis, tapi yang pasti bagiu itu nggak menakutkan sama sekali.” Bicara Anto dengan suara lantang. “Selain itu, Raja yang sekarang ini sedang membuat kebohongan besar yang kalian semua tidak ketahui sama sekali.” Terus bicara. “Dan satu hal lagi, para Hero yang di depan kalian ini sudah menyaksikan hal tersebut dengan membantu raja di masa depan yang kalian tidak ketahui sama sekali.” Anto berhenti bicara sebentar sambil emliaht ke semua orang.


-Hm… Sepertinya para Hero mulai tertarik- Bicara NAVI yang bisa meliaht sekitanya dengab luas, termasuk para Hero yang melihat ke Anto dan juga para Dewa yang bersembunyi mengawasi dari dimensi yanh berbeda.


“Sebelum itu. Hero, Lihat lah ini!” Anto menampikan gambar Bumi pada semua Hero yang ada di sana. Semua Hero melihat dengan sangat tertegun seperti mengaharap ada di sana. “Akan ku kirim kalian pulang tanpa bantuan dari Dewa Dunia ini, karena kalian tidak di butuhkan sama sekalis.” Anto dengan teru terang langsung bicara pada mereka semua. Para Hero yang melihat idan mendengar ucapan itu merasa ada harapan besar sekali padanya.


‘WUSH!’ Raja tiba-tiba mengeluarkan aura meski tidak sebanding dengan aura yang di keluarkan Anto. “Siapa kamu?” Tanya Raja pada Anto yang tidak gugup sama sekali dengan  aura yang di kaluarkannya. Tapi ‘WUSH!’ Semua Istri Anto tiba-tiba menekan aura Raja dengan paksa hingga membuatnay berhenti. Semua orang kaget dan tidak percaya ada yang lebih kuat dari Raja yang mereka ketahui selama ini.


“Kamu tidak pantas mengetahui siapa dirinya.” Tatap Maid Iblis pada Raja dengan sangat tajam sekali.


-Bukannya ini yang kamu mau?- Tanyab NAVI yang merasa senang.


“Ya sih, tapi nggak berlebihan gini juga kali!” Respon Anto yang hanya bisa ngomel dalam hati dan debat sama NAVI. “Ehm…!” Anto yang mau bicara langsung di pelototi semua Istrinya keculai 2 Istrinya.


-Hahahaha…- NAVI tertawa tidak menahan tawanya meski hanya Anto yang dengar, karena tsudah di tahu kebiasannya yang mau menghentikan orang lain yang sedang adu mulut. -Kayaknya kamu nggak bisa lagi bicara, hahaha…- NAVI yang masih saja tertawa dengan semua hal yang terjadi.


‘KRANG!’ Kedua pedang yang di pegang Anto di goreskan secara bersamaan hingga membuat suara yang nyaring dan membuatnya jadi putih lagi dalam sekejap kedua pedang tersebut. “Bangun, jangan takut.” Bicara Anto pada kedua pedang tersebut dengan lembut. Anto yang mengatakan itu di lihati dengan cara aneh oleh semua orang saat Anto menatap pedang itu sambil tersenyum. Saat tatapan itu mengarah ke Anto, tiba-tiba sebuah cahaya terang menerang keluar dari kedua pedang itu lalu berubah menjadi dua bocah perempuan kembar yang menangis sambil meringkukkan kakinya.


“A, aku takut… ihik, hihi..” Mereka berdua menangis tanpa di sadari sudah dimunculkan. Anto yang melihat kedua bocah tersebut mendekatinya lalu memegang kepalanya.


“Tenanglah!” Dengan suara lembut Anto sambil mengelus kepala bocah itu. Kedua bocah itu melihat ke Anto yang sedang megelus kepalanya.


“Siapa?” Tanya mereka secara bersamaan. Anto tersenyum membalas pertanyaan itu.


“Aku kakak kalian.” Jawab Anto dengan lembut dan tulus. “Berhenti nangis ya, mari ikut kakak pulang.” Ajak Anto dengan suara lembut dan tulus yang dapat di dengar semua orang. Kedua bocah kembar itu saling lihat. “Tenang saja. Kakak tidak akan meninggalkan kalian.” Bicara Anto lagi dengan penuh percaya diri dan dengan suara lembut.


“Benarkah?” Tanya kedua pedang secara bersamaan.


“Ya.” Jawab Anto pendek. Kedua bocah perempuan itu langsung terlihat bahagia sambil tersenyum lalu berubah jadi pedang Hitam lalu masuk ke dalam tubuh Anto. “Kedua pedang ini sekarang ada di tanganku dan tidak akan berpisah dariku selamanya.” Bicara Anto dengan terus terang.


“Siapa kamu?” Tanya dengan suara yang datang secara tiba-tiba. Semua orang kaget dengan suara yang tiba-tiba itu keculai Anto dan semua Istrinya yang tidak kaget sama sekali. “Kenapa kamu bisa menenagkan hati mereka?” Tanya lagi suara itu dengan penuh rasa ingin tahu. “Kumohon jawab aku.” Mintanya dengan sangat tulus. Anto yang medengar itu tersenyum.


Next Chapter