Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 151


Anto yang kecewa hanya bisa jalan masuk ke ruang makan sendiri, sedangkan kedua Saudari itu hanya berjalan menuju tempat yang di maksud Anto. “Kak, entah kenapa rasanya hari ini sangat berbeda sekali.” Bicara Riana dengan sangat senang dan dengan ekpresi yang berbeda dari sebelumnya. Sherly yang melihat Adiknya berbeda dari sebelumnya tersenyum kecil.


“Kamu tidak tahu apa yang sebenarnya. Sekarang ini lebih baik kamu tidak tahu apa pun dan perhatikan saja semua yang ada di sini dan kejadian yang akan di perbuatnya." Dengan senang dan serius mengatakannya. "Jika kita bersamanya, kebahgiaan yang tiada tara akan kita dapatkan dan tentunya kita juga tidak boleh serakah dengan kebahagiaan yang akan kita dapatkan nanti.” Dengan senyum Shlery bicara seperti itu. Riana yang mendenga itu senang dan juga jadi kepikiran maksus Kakaknya di beberapa kalimat terakhir. Tanpa mereka sadari juga, mereka telah sampai dan berhenti di sebuah pintu paling akhir di sana. “Mungkin ini!” Sherly tanpa ragu membuka pintu itu.


Saat membukanya, kedua Saudari itu melihat ruangan yang sangat luas sekali. “Ini?” Riana jadi kagum saat melihat sebuah pemandian umum yang sangat luas sekali. Sherly masuk duluan meninggalkan Adiknya yang masih melihat saja dengan kagum.


“Jangan diam saja di sana, mari masuk.” Ajak Sherly dengan senyum senang di pemandian itu.


Sementara itu, Anto yang ada di tempat lain sedang mempersiapkan masakan yang telah di siap, bekerja sendiri mengisi meja dengan bolak balik mengambil makanan yang ada di dapur  untuk membawanya ke dalam reflika rumahnya yang sudah di setiing berbeda sedikit, yang makanan itu di taruh di atas meja yang sangat besar. Setelah beberapa kali bolak balik, kini sudah selesai. “NAVIGATION ON!” Anto mengaktifkan NAVI yang mematikan dirinya setelah bisa membuat dirinya. Setelah beberapa detik, NAVI terbangun dan langsung membentuk peri.


-Sudah ku duga, dalam beberapa saat saja aku mendapat pengalaman berbeda jika of- Dengan wajah senang NAVI bicara sambil melihat Anto yang sedang mengubah pakaiannya dengan pakaian biasa. -Jadi apa yang akan kamu lakukan dengan semua ini?- Tanya NAVI saat melihat begitu banyak makanan di atas meja.


“Malah nanya, tentu di makan kan. Tapi, aku tak yakin dengan semua ini.” Anto lalu duduk di kursi yang telah di persiapkannya dengan sedikit lelah. Anto duduk dengan memperhatikan makanan itu dengan di temani NAVI yang terus melayang dari tadi. “Sudah cukup lama mereka di kamar mandi, apa mereka masih belum selesai juga?” Anto yang telah selesai mengambil semua makanan itu dan mengingat kedua saudari yang sudah cukup lama mandi. “Sudah berapa menit mereka masuk?” Tanya Anto pada NAVI yang bisa tahu lebih jelas meski sudah of.


-Hm… Sekitar 5 menit  lebih. Mungkin mereka belum terbiasa menggunakan alat modern, makanya lama- Respon NAVI dengan singkat.


“Ya sudah, kalau gitu aku mandi di kamar lain saja.” Anto beranjak berdiri dari tempatnya.


-Memangny ada di rumah ini? Seingatku di rumah asli cuma ada satu!- NAVI yang mengingat jelas tentang rumah di Bumi.


“Memang tidak ada. Kita buat saja yang baru kan.” Jawab Anto dengan santainya. NAVI yang mendengar itu tidak bisa berkata apa-apa. Setelah itu, Anto memunculkan pintu di dapur itu yang di dalamnya tentunya kamar mandi. Setelah itu, Anto masuk ke dalam dan di sana cuma ada bak mandi kecil dan tidak seperti pemandian umum yang di pakai oleh Sherly dan Riana yang telah di editnya supaya jadi luas. Anto bersiap-siap melepas pakaiannya tanpa menghilangkan supaya tanpak normal lalu mengambil handuk yang sudah di sediakannya kemudian masuk lebih dalam dan mengantung handuknya lalu menggunakan shower.


“Rasanya kulitku tidak bisa merasakan air dingin ini. Apa mungkin akibat aku tidur terlalu lama di dalam air itu.”  Anto yang mengingat dirinya yang bangun pada sebuah tabung yang berisikan air. Karena tidak ada rasanya sama sekali, Anto mematikan shower lalu berjalan ke bak pemandian yang sudah terisi dengan air hangat. Anto langsung masuk, tapi masih belum juga bisa merasakan hangatnya air itu. “Apa suhunya masih kurang?” Anto yang bertanya-tanya saat masih tidak bisa merasakan hangantnya air itu. Tapi, Anto diam dan tidak melakukan apa pun tetap berendam. “Rasanya sudah banyak hal terjadi. Berbagai macam Dunia yang telah ku lewati dan semuanya berkahir singkat saja. Apa aku memang cuma bisa sebentar saja di setiap Dunia?" Tanya Anto pada dirinya sendiri yang tidak tahu kenapa dirinya berpikir seperi itu. "Tapi, kali ini, aku akan diam di sini selama setahun lalu pulang. Meski aku ingin pergi ke Planet lain. Tapi, aku sudah sangat rindu rumah dan OrangTuaku.” Anto terenyum sambil melihat langit-langit atap kamar mandinya. "Rindu adalah alasanku jadi seperti ini. Dan ini juga rasa yang tidak ingin ku lewati begitu saja. Aku akan terus mengejar rindu seperti ini dan mencari cintaku di berbagai belaha Dunia lainnya, suatu saat nanti." Dengan sangat jelas sekali Anto bicara dan tidak ada yang mendengarnya sama sekali.


Setelah dia diam sambil terus melihat ke langit-langit kamar mandinya. “Status!” Ucapnya dengan jelas. Setelah itu Statusnya muncul, tapi bukannya menampilkan Statusnya malah yang keluar sebuah layar kosong saja. “Apa ini?”  Tanya yang sepertinya baru tahu. "Aku tahu Statusku bisa di Upate, tapi kapan Statusku jadi kosong seperti ini?" Tanya Anto yang tidak tahu sama sekali. Anto jadi kepikiran dengan semua itu. Tapi, dengan tetap posisi mandinya. “Hah... NAVIGATION ON!” Anto mengaktifkan NAVI lagi supaya lebih jelas dengan menanyakannya padanya.


NAVI bangun dengan wujud astral dan masih diam saja. -Yang kamu liha itu penyimpanan data. Bilang saja Tambahkan Folder. Kamu akan langsung paham- Setelah itu, NAVI langsung memastikan dirinya lagi dan tidak berkata apa-apa lahi pada Anto.


Anto yang sudah paham langsung melihat lagi ke layar kosong itu. “Tambah Folder.” Saat melihat, Anto paham dengan apa yang ada di depannya itu. Layar kosong di depannya itu malah seperti datang kosong yang butuh di isi dengan data virtual apa pun yang di inginkan. “Atur waktu mundur dengan waktu 8.760 jam  di dunia ini.” Anto mulai mengatur jadwalnya (8.760 jam setera dengan 1 tahun). “Aku akan pulang sebentar lagi. Aku ingin merasakan masakan Ibu lagi. Semoga saja aku bisa menamukan sesuatu yang dapat ku bawa pulang.” Anto menutup matanya dengan perlahan dengan senyum yang masih jelas di wajahnya. Dan juag di saat yang bersamaan masih kurang nyaman. “Airnya masih kurang panas.” Anto yang masih ingat hal tersebut, tapi dia tetap saja berendam dengan menutup matanya. Anto yang di sana masih berendam dengan menutp watanya menikamti meski  tidak terlalu terasa.


***


10 menit berlalu, Anto membuka matanya karena sudah cukup lama berendamnya. “Fyuh... Darahku rasanya sedikit mendidih. Meski aku tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tubuhku, tapi ku rasa tidak ada hal yang buruk.” Anto yang bangkit dari bak mandinya. Setelah itu, Anto berjalan langsung ke tempat dia menaruh pakaiannya lalu langsung mengenakannya. Setelah berjalan keluar dari kamar mandi tanpa berkata satu pun kata. Saat sampai di luar, Anto masih tidak menemukan mereka berdua. “Apa mereka masih mandi?” Anto yang tidak menemukan kedua saudari itu di sana. Karena tidak menemukan mereka di sana, Anto duduk kembali ke kursinya sambil menghilangkan pintu kamar mandi yang di buatnya itu. Setelah itu, Anto mengambil makanan yang ada. Setelah semua makanan terisi prnuh di piringnya, Anto mulai makan dengan pelan. Sambil menunggu, Anto diam saja makan dengan menimkmati dan tidak melakukan hal lain.


***


Anto yang makan sudah makan lebih dari 10 menit, sudah merasa kenyang karena banyak sekali makanan yang di cernanya. “Apa yang mereka berdua lakukan?” Tanya Anto yang sudah menunggu lebih dari 20 menit. “Aku memang menduga cewek akan mandi lama, tapi bukannya ini terlalu lama!” Anto yang masih menunggu saja di sana. “Apa aku nunggu lebih lama lagi?” Tanya Anto yang masih lanjut makan sendiri meski kenyang. Anto terus nunggu sambil memambah lagi makanan ke atas piringnya. “Semua makanan ini memang tidak membuatku kenyang, bahkan sudah makan cukup banyak malah semuanya berubah jadi energy jiwa. Kenapa bisa begitu?” Tanya Anto yang tidak mengerti sama sekali sambil berusaha mengalihkan pikirannya. Tapi, Anto diam dulu dan tidak melanjutkan makannya sambil memikirkan itu untuk mengalihka perhatiannya dengan kerinduannya yang sangat tidak di tahannya.


Next Chapter