
Semua orang yang melayang tidak memperhatikan karena mereka semua masih sangat ketakutan dengan monster yang sedang mengarah ke mereka. Sementara itu, semua senjata sudah siap di tempat mereka dan mulai membidik sasaran mereka. Anto kemudian mengangkat tangannya lalu menyemburkan api yang sangat terang sekali, hingga para semua orang melihat ke arahnya. Setelah semua orang diam dan melihat padanya Anto mematikan ap itu. “Nah… kalau begini kan lebih bagus.” Dengan senyum pada semua orang. “Jangan takut... aku sengaja memancing monster-mosnter itu ke sini supaya, kalian memperhatikan aku.” dengan tenang mengatakannya.
Semua orang melihat padanya dengan sangat tajam dan ingin memarahi dirinya. “Hahaha…!" Anto teetawa keas sekalu saat melihat semua orang menatap tajam padanya. "Kalian sungguh marah ya… Hahahah...” Anto tertawa untuk pertama kalinya dengan sangat seram sekali hingga membuat Hana di dekatnya jadi tidak mengerti sama sekali. Setelah beberapa saat ketawa, Anto perlahan membaik dan melihat lagi pada mereka yang sedih, pasrah, marah dan putus asa sekali. Selain itu para Mosnternya juga sudah terlihat mendekat ke arah mereka. “Ini memang menyenangkan, tapi aku tidak terlalu suka suasana ini!” Anto tersenyum lagi dengan tulus sekali pada mereka, meski tatapa mereka masih sama saja.
“Tembak!” Setelah mendengar itu semua senjata itu langsung memenembak ke monster yang datang. Suara keras dari ledakan terus berdatangan dari berbagai arah yang membuat semua orang melihat ke berbgai arah termasuk Hana. Setelah beberapa saat ledakan, semua senjata dan dimensi itu menghilang dan kini hanya tinggal debu dan tinggal mereka saja. Setelah beberapa saat, Anto menghempaskan angin untuk menghilangkan semua debu yang menutupi sekitar mereka. Semua melihat ke Anto yang tenang dan juga Hana yang di sampingnya masih terkejut.
Anto tidak langsung bicara dan melihat ke semua orang yang sedang kaget dan ingin tahu apa yang barusan terjadi. “Sepertinya kalian sudah tenang!” Dengan senyum mengatakannya. Tidak ada yang merespon malah melihat ke Anto yang tenang saja. “Hana berubah!” Minta Anto padanya dengan senyum. Hana hanya tersenyum dengan masih grogi lalu berubah menjadi robot dengan cepat, setelah berubah Anto kemudian langsung naik ke pundak Hana dan duduk dengan santai di atasnya. Anto kemudian langsung membuka dimensi penyimpanannya lalu mengeluarkan 20 porsi makanan besar lalu di terbangkan pada mereka semua.
Saat semua makanan itu sampai pada semua orang, Anto perlahan menurunkan mereka semua yang masih melayang ke tanah tanah yang sudah rata bersamaan dengan makanan di depan mereka. Anto kemudian melepas sihir pada mereka semua supaya bisa bicara, namun mereka hanya saling lihat dan tidak ada yang bicara sama sekali. “Makan apa yang di depan kalian.” minta Anto dengan tersenyum pada mereka semua dari pundak Hana. Tidak ada yang merespon sama sekali dan hanya melihat ke makanan di depan mereka semua.
“Ro, robot!” Dengan suara serak mengatakannya. Anto dan yang lainnya melihat ke suara itu berasal. Anto melihat Kakek Tua dan sangat renta sekali dengan kagum pada robot di depannya sambil berjalan pelan. “Si, siapa yang mem, membuat ini…?” Tanya Kakek tua itu pada Anto yang sedang di atas pundak Hana. Hana melihat ke Anto dengan robotnya dan melihat ke Anto yang tenang dan masih tersenyum.
Hana kemudian melihat ke Kakek tua itu. “Kakek, dia yang membuatnya!” Jawab Hana sambil menunjuk ke Anto. Kakek itu malah terlihat kaget saat mendengar suara itu.
“Kamu siapa?” Tanya Kakek Tua itu pada Hana yang masih melihat ke arahnya. Hana melihat ke Anto yang meliriknya lalu mengangguk.
“Tunggu!” Kakek itu langsung menyuruh Hana berhenti lalu melihat ke arahnya lagi. “Dari mana kamu mendapatkannya?” Tanya Kakek itu dengan sangat antusias sekali ingin tahu. Hana langsung melihat ke Anto yang di pundaknya duduk dengan tenang sekali. Kakek itu melihat ke Anto yang hanya tersenyum saja. “A, apa kamu yang membuat ini?” Tanya Kakek itu pada Anto. Anto melihat ke Kakek itu denagn tenang saja.
“Tidak. Tapi ini di buat oleh seluruh keluargaku dan aku adalah keturunan terakhirnya.” Jawab Anto dengan singkat. Kakek itu hanya terdiam melihat Anto seperti itu. Hana jadi bingung dengan perkataan Anto yang seperti karena dirinya menerima cerita lain dari dirinya. “Mungkin Kakek bertanya-tanya bagaimana keluargaku membust ini, jawabannya sederhana, karena robot ini di buat saat para monster telah datang ke dunia ini.” Anto menjelaskan secara singkat saja meski hanya kebohongan belaka.
“Pada masa keluarnya monster dan masih banyak sekali pengetahuan umum, penemuan robot ini di tolak oleh pemerintah untuk di buat dan di gunakan sebagai senjata melawan mosnter ini. Karena kecewa dengan penolakan itu, karena itu Kakek buyutku waktu itu menggunakan barang bekas membuat berbagi macam senjata saat para monster dari dunia datang. Tapi karena msonter itu selalu berkuran besar datang, kakek membuat robot sendiri di eumahnya dengan menggunakan mobil dan apa yang di temukan pada masa kekacauan besar itu. Dan di saat itu juga Kakekku menemukan cinta sejatinya. Setelah itu, pengetahuan robotnya di transfer pada anak-anak mereka melalui mesin mentransfer data pada otak manusia, dan aku generasi terakhir yang memegang alih robot ini dan juga yang memberikannya pada Hana.” Anto menjelaskan pada mereka semua termasuk Kakek itu dengan sesingkat mungkin.
Anto kemudian melihat ke mereka semua sambil diam sejenak. “Jika aku tidak melakukan hal ini, kalian pasti akan tetap di bawah sana dan tidak keluar dari persemubunyian. Oleh sebab itu, aku sebagai pemilik robot ini akan menyatakan perang pada seluruh monster yang ada untuk membangkitkan manusia dan mengembalikan manusia pada masa jayanya.” Anto menjelaskan dengan serius dan santai sekali. Kakek itu hanya terdiam saja lalu perlahan menereskan air mata. “Kakek, jangan sedih, sekarang makan saja itu dan aku akan membawa manusia pada masa jayanya.” Minta Anto dengan suara lembut.
Semua orang terlihat bingung dan hanya Kakek Tua itu saja yang meneteskan ari mata. “Hana mari terbang sebentar!” Ajak Anto dengan senyum. Hana melihat ke Kakeknya yang mengangguk lalu terbang begitu saja ke langit. Anto di bawa cukup tinggi sekali oleh Hana hingga ratusan km di atas langit. Setelah cukup atas, Hana berhenti terbang lalu melayang dan melihat dari ketinggian. Hana melihat pemandangan kota yang tidak pernah di lihatanya dari bawah yang sangat rusak patah sekali. “Bagaimana menurutmu di atas sini?” Tanya Anto pada Hana yang sedang menikmati hembusan angin di aras pundakn Hana.
“Aku tidak tahu.” jawab Hana dengan cepat hingga Anto tidak menyangka akan di jawab cepat seperti itu. “Tapi, aku tidak tahu kapan aku bisa setenang ini.” tambhanya dengan sangat yakin sekali. Anto hanya diam mendengar keluhan Hana yang seperti itu. “Kamu tahu, selama beberapa tahun terakhir, aku selalu bertanya-tanya apa maksud dari kehidupan ini! Aku selalu mencari sesuatu yang tidak ku pahami dan apa makna dari hidup ini. Tidak ada yang memuaskan jawaban yang ku temukan sama sekali, hingga aku bertemu dengan Kakek tadi.” Hana terdiam sebentar. “Kakek itu menceritakan sebuah kehidupan tanpa adanya peperangan dan tidak adanya monster di tempatnya, aku jadi tertarik dan terus mendengarnya hingga terus menjelajah keluar dari tempat tadi yang kamu hancurkan.” Hana terdiam lagi dan Anto hanya tersenyum saja mendengarkan. “Aku mencari sana sini sebuah bekas kehidupan di masa lalu dan menemukan banyak sekali hal menarik. Aku belajar membaca dari Kakek itu hingga bisa membaca buku tertentu.” Hana tetdiam lagi dan tidak bicara lagi. Anto menunggunya bicara namun dia tetap diam saja dan tidak bicara sama sekali.