
Saat hampir sampai di tanah, No 2 langsung melayangkan diri mereka beberapa meter di atas prtmukaan tanah dengan masih tak terlihat oleh yang lainnya. Percakapan mereka semua dapat di pahami karena menggunakan bahasa yang sama dari dunianya sendiri. “Kak, apa ada peradaban manusia yang seperti ini?” Tanya Fuka yang terlihat senang sekali yang tidak di sadarinya saat melihat senyum dari Fuka. No 2 tidak langsung merespon karena juga baru pertama kali melihat peradaban seperti itu.
“Jangan Tanya aku, kita baru saja tiba di sini mana mungkin ku tahu tempat apa ini.” respon No 2 dengan santainya sambil membuka dimensi kecil di depannya. Setelah membukanya, beberapa robot seperti bola kasti keluar yang sudah menggunakan mode tak terlihatnya. Setelah mengatur semua robot itu, No 2 perlahan terbang mengajak Fuka yang masih melihat sana sini ke tempat yang sedikit orangnya. Setelah menemukan tempat yang sedikit sepi Anto dan Fuka mendarat di sana, tapi Fuka tetap jeli melihat sana sini terutama bangunan tinggi di dekatnya. “Fuka… kamu terlihat seperti orang kampung yang datang ke kota saja…” ucap No 2 dengan pelan padanya tapi tidak di pedulikan sama sekali. Setelah itu No 2 melepas tangannya dari Fuka dengan tetap membiarkan Skil tak terlihatnya aktif. Anto melepas Skil pada dirinya tapi tidak pada Fuka yang masih melihat sana sini, dan cuma membiarkan supaya dapat di lihat oleh dirinya saja. Fuka jalan meninggalkan No 2 yang sudah melepas Skilnya. “Fuka… jangan jalan seperti itu…” panggil No 2 dengan lembut pada Fuka. Tapi Fukanya malah terus jalan saja terlihat menikmatinya.
No 2 pun mengikuti Fuka yang masih dalam mode tak terlihatnya. Fuka jalan menuju keramaian di pinggir sebuah jalan besar. Anto dan Fuka melihat kendaraan yang berisik dan tidak pernah di lihatnya, tapi No 2 tahu yang di lihatnya itu sebuah mobil seperti dalam momik yang pernah di bacanya. “Sepertinya ini era modern, tapi apa memang seramai ini orang?” Tanya No 2 yang melihat banyak sekali manusia yang tidak pernah di lihatnya seumur hidupnya. Banyak sekali orang yang lalu lalang yang terlihat santai sekali. No 2 berhenti jalan lalu melhat ke langit yang mataharinya masih belum terlihat karena pagi hari. “Dunia ini sangat damai sekali… benar… ini dunia yang ku dambakan yang tidak ada monster dan peperangannya sama sekali.” No 2 terus di lewati banyak orang saat melihat ke langit karena merasa damai hatinya, setelah itu No 2 jalan lagi dengan senyum di wajahnya. No 2 mencari Fuka yang sudah jauh dan menemukannya berhenti di sebuah tempat yang terlihat ramai sana.
No 2 jalan ke sana melihat apa yang sedang di lihat oleh Fuka. Saat sampai di dekat Fuka, ternyata dia sedang melihat buah yang tidak di kenalinya. “Mau belu nak?” Tanya penjualnya dengan ramah. Fuka langsung menggoyangkan tubuh No 2 yang dalam mode tak terlihatnya. No 2 pun mengangguk lalu Fuka melihat ke beberapa buah dengan menunjuknya. No 2 menunjuk ke buah yang di tunjuk oleh Fuka. Penjualnya mengambil buah yang di tunjuknya. “Nak kamu beli buah beda seperti ini buat siapa?” Tanya penjualnya dengan ramah pada Anto.
“Buat diriku dan pacarku. Dia mau mencoba berbagai macam buah.” jawab dengan sopan No 2. Penjualnya hanya menganggukkan kepalanya lalu menimbang buah itu.
“Semuanya 50.000 rupiah.” dengan senyum megatakan itu pada Anto. No 2 pun baru tersadar kalau dia tidak punya mata uang seperti itu. Fuka yang tidak terlihat pun jadi tidak tahu harus apa. No 2 dengan pelan meraih buah tadi dan di saat yang sama juga ada seorang ibu yang sedang terlihat marah di dekat No 2 yang membuatnya berhenti mengambil buah itu. Ibu itu terus melihat ke No 2 dengan tajam sekali padanya.
“Kamu bilang sebentar… ini sudah lama sekali, mari pulang!” bicara Ibu itu dengna tatapan sangat marah sekali pada No 2. No 2 jadi bingung karena tatapan Ibu itu terus mengarah padanya. Fuka yang dalam mode tak terlihat juga bingung dengan Ibu yang melihat tajam sekali pada Anto. “KAMU DENGAR TIDAKK…!” teriak Ibu itu tiba-tiba hingga membuat No 2 kaget sekali. Kemudian Ibu itu langsung menarik telinga No 2 tanpa berkata apa pun. No 2 malah jadi tambah bingung dengan menahan sakit di telinga karena di tarik sambil jalan. “Cepat bantu Ibu bawa belanjaan!” dengan terus menarik terlinag Anto di keramaian sana.
No 2 malah diam saja tidak merespon dengan Karen tidak mengerti sama sekali dengan terus lihati oleh semua orang yang sedang belanja. Fuka mengikuti saja ke mana No 2 di tarik telinganya. “Ano!” No 2 tidak jadi lanjut saat di tatap balik denga tajam oleh Ibu itu. Sedangkan Fuka malah terlihat senang-senang saja melihat No 2 yang seperti itu. Setelah beberapa meter jalan, No 2 sampai di sebuah tempat yang ada banyak belanjaan di sana.
“Cepat masukan itu ke bagasi mobil.” suruh Ibu itu pada sambil mengambil sesuatu di tas. Setelah mengeluarkannya dia ternyata mengambil kunci lalu menekannya. Saat di tekan terdengar suara di mobil hitam yang tidak terlalu jauh. “Bawa sana!” dengan tatapan tajam menyuruh No 2. No 2 cepat mengangguk tanpa merespon sama sekali. Setelah itu No 2 di tinggal jalan ke mobil itu oleh Ibu yang tidak di kenalnya sama sekali itu. No 2 hanya diam saja melihat karena tidak mengerti dengan yang sedang terjadi padanya.
“Sepertinya ku harus tolong saja.” respon No 2 singkat lalu jalan ke barang yang cukup banyak. “Sepertinya Ibu habis pergi belanja di pasar.” ucap No 2 dengan tenang. sambil tersenyum melihat belanja bawaan yang cukup banyak.
“Pasar! apa itu pasar Kak?” Tanya Fuka dengan polosnya. No 2 yang mendengar itu jadi melihat ke Fuka, lalu tersadar kalau di masa depan itu istilah pasar tidak ada.
“Pasar itu tempat belanja untuk makan. Yah… tempat menjualkan makanan mentah atau yang belum jadi. Biasa yang pergi ke pasar itu Ibu-Ibu rumah tangga saja.” jawab No 2 sambil mengambil beberapa barang lalu jalan di temani Fuka.
fuka mengerti maksud dari No 2. “Tapi kenapa di tempat kita tidak ada pasar seperti itu?” Tanya Fuka pada No 2 yang sedang jalan ke mobil.
“Sederhana saja, di kota kita itu baru di bangun beberapa tahun saja dan belum memiliki pusat seperti itu. Mungkin.” dengan agak ragu menjelaskannya. “Coba Tanya Anto yang lain nanti, aku ini kan Anto yang satunya… kurang tahu masa-masa kecil kalian.” tambah lagi No 2 dengan menyimpan semua barang yang di bawahnya di bagasi mobil. Setelah menaruhnya No 2 kebmbali lagi untuk mengambil barang belanjaan lainnya.
“CEPATTT… JANGAN LAMA-LAMA…!” teriak Ibu itu pada No 2 yang terlalu santai bawa barangnya. No 2 hanya bisa tersenyum saja sambil terus mengambil barang lainnya. No 2 kemudian terus bolak balik memasukkan barang yang tersisa. Setelah beberapa kali bolak balik No 2 selesai memasukan semua barang itu.
“Ano… aku selesai memasukkannya.” dengan sopan mengatakannya. Ibu itu malah melihat dengan tatapan bingung pada No 2 di luar mobilnya itu. “Apa aku bisa pergi…?” Tanya No 2 dengan sedikit canggung. Ibu itu malah diam saja melihat No 2 yang sedang canggung.