
Anto yang sudah selesai sarapan kini berada di kamarnmya mengambil barang yang akan di bawa ke sekolahnya. “Ini pertama kalinya aku akan sekolah di sini, teman-teman aku datang menemui kalian dengan penuh kejutan kali ini.” Anto tersenyum dengan masa-masa yang akan datang di sekolahnya itu. Setelah selesai mengambil barangnyam Anto kemudian turun ke lantai bawah.
Setelah sampai di lantai bawah Anto langsung jalan ke pintu depan dengan senang. Saat sudah keluar rumahnya, Anto melihat sekelilingnya yang terlihat nyaman di matanya saat melihat halaman depan rumahnya terawat sekali. Anto perlahan jalan keluar ke gerbang rumahnya. Saat sudah di luar, banyak sekali pelajar yang keluar dari rumahnya yang di temani OrangTua nya. “Jujur saja, aku iri melihat mereka dengan keluarganya seperti itu.” Anto masih diam dan bicara dalam hatinya.
Anto yang merasa iri hanya bisa diam saja melihat mereka yang di ajak oleh OrangTua mereka pergi mengarae mereka. Di saat Anto sedang melihat itu dia tidak menyadari ada seseorang yang mendekat ke arahnya. “Hei, tumben sendiri. Mana Run?” Tanya seorang remaja yang berpakaian sama dengannya dengan ceria dan juga 2 temannya di belakangnya yang datang bersamanya. Anto dengan cepat melihat ke arah suara itu dan melihat mereka bertiga dengan senyum saat di sapa duluan.
“Dia tadi jalan duluan, entah kenapa dia jadi berbeda beberapa saat setelah merusak pintu kamarku. saat mau membangunkanku.” Jawab Anto dengan santai sambil mengingat kejadian saat Run hendak membangunkannya. Tapi setelah merespon, semua teman-temannya malah termenung saat melihat ke aeahnya dengan serius sekali. “Lah, kalian kenapa diam saja?” Tanya Anto yang tidak mengerti dengan reaksi mereka bertiga yang masih diam saja saat dia di tatap seperti itu.
“Tidak, hanya saja kamu hari ini rasanya berbeda sekali lo. Tapi aku tidak tahu apa itu!” Temannya di belakang menganggukkan kepalanya setuju dengan pendapat temannya yang di depan.
“Hah! yang benar Mar?” Tanya Anto pada temannya yang paling depan. Mar malah melototi Anto dengan antusias dan sedikit penasran.
“Coba Tanya Andre sama Roni, mereka bahkan sepakat dengan pendapatku kali ini.” Jawab Mar dengan santai dan juga masih penasaran. Kedua temnnay di belakang mengangguk lagi setuju dengan perkataan Mar di depan mereka. “Tapi, kurasa tidak banyak yang berubah darimu. Sudah janga bhas ini lagi, mari kita jalan saja, nanti malah telat lagi masuk kelas.” Ajak Mar dengam ceria, setelah sikapnya berubah dengan cepat. Anto, Roni dan Andre saling lihat dan tersenyum dengan tingkah Mar yang cepat berubah.
Mereka bertiga jalan mengikuti Mar yang memimpin dengan sangat ceria sekali dan juga benyak bercrita di sepanjang jalan yang membuat mereka bertiga terhibur dan juga merasa senang dengan pembicaraan itu. Anto yang jalan melirik sekitarnya yang banyak sekali kesibukan dari orang-orang yang pergi bekerja dan sesekali ikut berbicara saat di Tanya oleh Mar yang terus bercerita di jalan dengan sangat senang sekali dan ceria. Mereka berempat berhenti di sebuah terminal bis terbang yang tidak jauh dari era perumahan itu. “Oh ya, apa kalian sudah selesai mengerjakan tugas rumah bahasa inggris itu. Aku sangat kesulitan hingga tidak bisa mengerjakannya sama sekali?” Tanya Mar pada ketiga temannya dengan serius sekali.
Semua temannya melihat ke Mara termasuk Anto. “Bukannya kamu selalu seperti itu ya!” Jawab Anto sambil mengingatkan dan juga kedua temannya setuju dengan pendapat Anto yang berkata seperti itu. “Dulu kamu bilang, apa kalian sudah selesai mengerjakan tugas rumah matematika itu. Aku sangat kesulitan hingga tidak bisa mengerjakannya sama sekali?, bukan hanya itu saja, di setiap mata pelajaran juga kamu bilang begitu setiap ada tugas yang sudah ke lewat.” Anto memperjelas lagi dan juga jedua temannya sepkata juga dengan Anto.
“Lagian Mar, kita semua bahkan juga tidak pernah mengerjakan tugas rumah sama sekali yang di berikan guru kan.” Roni mengingatkan lagi. Anto pun jadi tersadar dan teringat juga kali dirinya tidak pernah mengerjakan tugas rumah sama sekali meski pintar sejak bergaul dengan mereka jadi terlupa karena terlena dengan semua pertemana dan kelakuan mereka bertiga.
“Gawat juga! jika seperti ini, mungkin aku tidak bisa jadi Raja Harema. Mulai sekarang akan ku kerjakan tugas rumah mulai sekarang dan tidak malas lagi.” Bicara Anto dengan sangat jelas sekali. Semua orang di sana jadi melihat ke arahnya yang berkata seperti itu di tempat umum. ‘Fffftt! Hahahahaha…’ Semua orang di sana tertawa tiba-tiba dengan perkataan Anto dengan raut wajah yang sangat serius sekali saat mengatakannya.
“A, akan ku buktikan kalau perkataanku itu benar.” Timbal Anto dengan ragu-ragu dan juag serius. ‘Hahahaha…’ Semua orang di sana malah tertawa lagi dengan Anto yang berkata seperti itu dengan raut wajah yang merah dan malu yang juga dengan percaya diri mengatakannya. Di saat itulah Roni tiba-tiba memegang bahunya dan membuat Anto langsung melihat ke arahnya dengan masih merah wajahnya.
“Terima kasih hiburan pagi ini. Aku sungguh tidak menyangka kamu pandai membuat lelucon yang sangat menghibur.” Puji Roni dengan meneteskan air matanya yang tidak di hapusnya sama sekali akibat tertawa berlebihan.
“Aku juga berterima kasih. Hari ini rasanya berbeda sekali. Biasanya aku tidak tertawa dan tersenyum secerah ini saat mendengar lelucon lucu, tapi kali ini rasanya tidak bisa ku bayangkan sama sekali.” Puji juga Andre dengan senang sekali yang sudah membersihkan air matanya.
“A, apaan ini? aku itu serius sekali dan tidak bercanda sama sekali.” Timbal lagi Anto dengab penuh percaya diri sekali dan membantah teman-temannya yang mengangap semua itu lelucon. ‘Hahahaha…’ Semua orang tertawa lagi saat melihat Anto yang kesal dan juga serius sekali mengatakan dan membela dirinya.
“Ku, ku mohon ja, jangan bicara lagi, hahaha… A, aku sudah t, tidak sanggup la, lagi…hahaha!” Suruh Mar yang sepertinya ingin ketawa tapi sudah lelah dan juga sepertinya kehabisan tenaga sekali saat mau tertawa lagi. Di saat itulah juga da seorang Kakek tua mendekat yang tidak jauh darinya dengan terlihat lelah akibat tertawanya.
“Anak Muda, ku mohon jangan bicara sama sekali. Jika tidak semua orang akan pingsan. Sungguh!” Sorang Kakek tua memperingatkan Anto dengan wajah senang dan juga sepertinya menikmati semua itu. Anto yang mendengar itu, melihat ke sekelilingnya yang ternyata sudah banyak orang yang lelah ketawa dengan semua perkataannya.
“A, apaaa!!!” Anto jadi kaget sekali dengan semua itu. “Ta!” Mulut Anto langsung di sumpal oleh Roni dengan cepat dan tidak membiarkan Anto bicara dan membela dirinya. Di sisi lain Anto juga lupa diri tentang dirinya yang sudah berpetualang ke Dunia lain dengan semua kejadian itu yang sama sekali tidak ada dalam tujuannya.
“Seharian ini, ku mohon jangan bicara pada siapa pun, kalau tidak akan banyak masalah padamu nanti.” Andre memperingatkan dengan tenang dan kalem sambil ternyum pada Anto dan juga berusaha untung membuat dirinya tenang, sekaligus berharap Anto tidak bicara sama sekali. Anto yang sudah di beri peringatan oleh teman-temannya dan termasuk Kakek tadi, bingungnya jadi tidak mengerti sama sekali dengan situasinya saat ini.
Setelah itu, Anto hanya bisa diam dan mulai berpikir di bagian mana tempatnya lucu dari perkataannya tadi itu. Dan di saat yang bersamaan juga, bis terbangnya datang ke stasiun. Saat membuka pintu bisnya, semua orang perlaha masuk dengan lealh akibat tertawa dan membuat semua penumpang di dalam bis itu jadi bingung dengan hal yang di lihat mereka. Saat semua orang yang sudah mulai naik, Anto di seret oleh Mar untuk masuk dan di ikuti oleh Roni dan Andre dari belekang mereka. Anto yang masih tidak paham tempatnya lucu, memgingat e Dunia lain kalau itu hal biasa kalau di ucapakannya di tempat umum. Tapi, Anto tidak menyadari sama sekali akibat perkataannya itu yang akan viral dan membuatnya kaget bukan main.
***