
Para pelayan yang di pilihkan Mama Mereka berdua mejadi takut dengan perkataan Lala yang terdengar menggerikan bagi mereka.
“Menarik!” Kata Momo yang ikut tersenyum menggerikan sambil melirik gadis-gadis pelayan yang ketakutan.
“Siska! Marya! Kemari.” Panggil Lala dengan suara lembut dan juga terlihat sangat senang.
Namun Siska dan Marya tidak melihta ke arah Lala dan hanya melihat ke layar di depan mereka yang melihat Anto yang menderita. Lala yng menyadari itu langsung menghilangkan layar itu lagi.
“Kenapa Kakak menutupnya?” Tanya Siska yang terlihat sangat marah pada Kakaknya sambil teriak padanya.
“Dengarkan saja.” Kata Lala sambil melihat Siska yang berjalan ke arahnya dan Marya yang menatap takam ke arah Lala.
“Cepat tampilkan lagi.” Siska teria di depn wajah Kakaknya dengan sangat kencang sambil menatapnya dengan sangta marah sekali.
Lala menatap Adiknya yang sangta narah dengan senyum di wajahnya.
“Apa kamu mu melihatnya menderita saja? Atau tidak ingin menolongnya?” Kata Lala pada Adiknya yang tersedar dengan ucapan Kakaknya yang sangat benar sekali.
Dengan tenang Siska melepas tatapan tajamnya sambil menunggu kata Kakaknya selanjutnya.
“Lihat ini!” Lala menampilkan sesuatu pada semua orang yang ada di dlam ruangan itu.
Semua orang melihat ke arah layar yang di tampilkan. Layar itu menampilkan sosok seorang yangs edang berjuang mati-matian melawan begitu banyak musuh di luar angkasa yang sangat luas dan dia melawan sendiri.
“Kalian tau siapa yang berpakaian serba hitam itu?” Tanya Lala pada Semua orang di ruangan itu.
Tidak ada yang menjawab dan hanya diam saja sambil memeprhatikan layar yang sudah di pause.
“Dia adalah petualang AntarBintang. Seorang yang paling kami bertiga sayangi dan juga paling sukai.” Kata Lala menegaskan pada Siska dan lainnya “Dan kalian sebenarnya tau siapa dia!” Kata Lala yang masih penuh dengan penjelasan yang membingungkan.
“Kak!” Panggil Marya yang dari tadi hanya diam saja mendengarkan certa dan penjelasan dan sangat kahwair kini sudah sedikit tenang “Bagaimana cara menyelamatkannya?” Tanya Marya yang tidak mendengar perkataan Lala sebelumnya.
“Tadi ku bilang, kalian harus jadi tumbal. Paham.” Kata Lala menjawan pertanyaan Marya yang terlihat serius.
“Akan ku lakukan.” Jawab Marya tanpa terlihat ragu sama sekali.
“Baiklah. Kemari!” Lala memanggil Marya dengan suara lemnut dan juga penuh senyum di wajahnya.
Tanpa ada rasa curiga pada Kakaknya Lala, Marya berjalan ke arah Kakaknya dengan santai. Setelah sampai di depan Kakaknya. Marya dia saja melihat apa yang akan di lakukan Kakaknya. Lala berdiri di depan Marya kemudian menyentuh keningnya dengan jari telunjuk, setelah itu Marya langsung pingsan dan Lala menangkap Maryia kemudian membaringkannya di lantai.
“Kita tunggu satu menit.” Kata Lala dengan suara pelan.
“Apa yang Kakak lakukan?” Tanya Siska yang sangat serius.
“Kita tunggu saja selama satu menit.” Kata Lala dengan penuh ketenangan.
Siska tidak bertanya lagi, saat Kakaknya duduk lagi dan membiarkan Marya tertidur di lantai.
***
Satu menit berlalu, tiba-tiba Marya bangun dengan wajah yang sangat berbeda dari sebelumnya
“Kamu baik-baik saja?” Tanya Siska yang terlihat khawatir pada Marya.
Marya melihat ke arah Siska yang terlihat khawatir padanya. Marya tersenyum pada Siska dengan lembut. Siska menjadi bingung dengan apa yang terjadi dengan Marya yang sangat berubah drastic sekali.
“Tidak papa. Sebaiknya kamu melakukannya saja.” Kata Marya yang membuat kursi melayanh dari partekl duania juga.
Siska yang tidak mengerti sama sekali dengan apa yang di alami oleh Marya menjadi takjub dan juga sangat bingung sekali dengan perubahan Marya yang tiba-tiba sekali.
“Apa yang terjadi dalam dirinya?” Tanya Diri sendiri Siska.
sepuluh pelayan berbaris di depan Lala denagn rapi.
“Ada yang lainnya?” Tanya Momo dengan sangat serius tanpa wajah senyum dan hanya menatap dingin.
Tujuh pelayan berbaris lagi mengikuti pelayan sebelumnya. Pelayan lain dengan ragu mengikuti tujuh pelayan yang sudah berbaris dengan rapi.
“Siska! bagaimana denganmu?” Tanya Lala pada Adiknya yang sangat ragu sekali .
Siska melohat Adiknya yang masih sangat ragu hanya diam saja sambil tersenyum. Karena Siska belum meresponnya, Lala berdiri dan membuuat pelayan di depannya pingsang setelah menyentuh keningnya. Lala terus melakukan hal yang sama pada pelayan berikutnya hinga yang terakhir. Setelah selesai Lala kembali duduk dan membiarkan semua pelayan tertidur di lantai.
“Apa yang sebenarnya yang di lakukan Kakak?” Siska yang sangat bingung sekali dan jiga tida tau harus melakukan apa.
“Jangan ragu!” Suara telepati dari Marya membuat Siska terdiam dan juag melohat ke berbagai arah.
“Marya! Apa itu kamu?” Tanya Siska pada Marya yang menatap ke arahnya.
Marya mengangguk sambil tersenyum dan juga terlihat tenang sekali.
“Kenapa Marya mempunyai kekuatan seperti itu?” Pikir Siska yang sangat bingung dan juga sangta penasaran dengan kekuatan Marya.
“Kenapa masih berdiri saja, cepat ke Kakakmu.” Kata Marya dengan telepati mempeingati Siska yang terus menatapnya dengan penuh penasaran.
Siska yang masih belum terbiasa dengan telepati yang di lakukan Marya, masih membuatnya kaget. Namun Siska, menuruti perkataan Marya untuk ke depan Kakaknya. Siska berjalan pelan menuju depan Kakaknya.
“Kurang dekat!” Kata Kakaknya dengan tegas pada Siska yang agak jauh dari Kakaknya.
Siska berjalan pelan ke depan Kakaknya. Setelah berada di dekat Kakaknya, Kakaknya menatap tajam padanya. Siska membalas menatap Kakaknya dengan lebih tajam.
“Kenapa terlalu dekat, jauh sedikit lagi.” Kata Kakaknya dengan senyum di wajahnya.
Siska menjadi bingung dengan perkataan Kakak yang menyuruh jauh lagi. Tapi, Siska tetap menurti Kata Kakaknya dengan tenang.
“Terlalu jauh.” Kata Kakaknya dengan tenang dari kursi.
Siska mendekat lagi ke Kakaknya.
“Terlalu dekat.” Kata Kakaknya dengan tegas.
“Apa yang Kakak Lakukan.” Pikir Siska yang masih ke menjauh sedikit dari Kakakknya.
“Terlalu jauh.” Kata Kakaknya lagi denagn tatapan dingin.
“Apa yang mau Kakak lakukan!” Siska yang sudah sedikit kesal dengan Kakaknya.
Lala menunggu dengan sabar, melihat Adiknya yang masih berdiri di tempatnya.
“Kenapa kamu tidak ke sini?” Tanya Lala dengan sangat tegas saat melihat Siska yang berhenti berbalik.
Siska berbalik dan berjalan mendekat ke Kakaknya dengan tenang.
“Terlalu dekat.” Kata Kakaknya dengan tegas.
Siska yang mendengar itu langsung diam dan tidak berkata apa-apa lagi. Siska tidak beranjak sama sekali dari tempatnya berdiri.
“Kenapa masih berdiri di sana?” Tanya Lala dengan tegas dan juga terdengar suara lembut “Cepat menjauh dari sini.” Kata Kakaknua dengan suara halus.
Siska masih tidak merespon perkataan Kakaknya dan hanya diam saja. Setelah beberapa saat Siska tiba-tiba memukul Kakaknya dari kursinya hingga terjatuh.
Next Chapter