Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 112


Anto yang berjalan mengikuti Raja dan pengawalnya tidak melakukan apa pun dan hanya tetap diam saja dan menikmati pemandangan baru di sekitarnya. “Sepertinya ini Dunia lain yang beda lagi. Dunia ini mungkin, Dunia sihir.” Ajak NAVI bicara dengan suara riang dan senang. “Bagaiamana menurutmu?” Tanya NAVI yang sangat tertarik dengan Dunia bau yang di temukannya.


“Sama seperti yang kamu katakan. Selain itu, Dunia ini punya ketertarikan mereka sendiri..” Jawab Anto sambil melirik ke sekeilingnya dengan cepat-cepat mnangkap sumua pemandangan baru yang di lihatnya. “Tapi, aku lebih penasaran dengan mereka itu.” Anto yang masih kepikiran dengan Gadis yang di lihatnya itu dan juga terlihat sangat senang saat melihat ke arahnya. “Entah berapa banyak Gadis yang akan ku miliki.” Anto memperjelas maksudnya. “Tapi satu hal yang pasti, mereka pasti Gadis yang harusnya jadi milik orang lain. Tapi, kini mereka jadi milikku. Seharusnya mereka akan menikah dengan orang yang di takdirkan mereka.” Jawab Bicara dengan jelas Anto pada NAVI.


“Jangan pikirkan tentang hal itu. Pikirkan hal yang kamu lakukan sekarang dan nikmati. Bukannya itu yang selama ini kita lakukan!” NAVI mengingatkan Anto yang masih kepikiran dengan hal yang di katakannya pada NAVI. Anto terdiam saat NAVI bicara begitu dan juga langusng paham maksud NAVI. Dia tidak bertanya lagi dan terus jalan sambil melamun. Saat melamun, dia tidak sadar sudah ada di depan pintu yang cukup tinggi dan lebar di depannya hingga menabrak Raja yang berheti di depannya. “Tuh kan! ” NAVI yang bicara tiba-tiba saat Anto sudah menabrak  Raja yang sudah berhenti. Pengawal di samping Raja menatap tajam ke arah Anto yang tidak memperhatikan jalan.


“Maaf!” Dengan cepat Anto meminta maaf ke Raja dengan sopan dan tulus. Raja langsung melirik ke pengawalnya yang menatap tajam ke Anto. Pengawal itu langsung bersikap profesional lagi merubah ekpresi wajahnya seperti sebelumnya. Pengawal itu diam dan tidak menatap ke Anto dengan wajha tidak ramahnya itu. Raja itu diam saja sambil menunggu di depan pintu yang masih tertutup rapi.


‘DET! DEDET...!! Suara terompet di luar pintu, juga suara druman dari sambutan dan juga mulai terdengar keriuhan sorak-sorakan dari luar pintu. “Hadarin sekalian, hari ini kita akan menyambut raja dan para pahlawan yang di panggil dari Dunia lain yang akan membantu kita melawan Iblis yang jahat itu.” Suara seseorang yang sangat jelas sekali dari balik pintu. ‘!!!’ Pintu di depan Anto perlahan terbuka perlahan. Anto sedikit takjub saat pintunya yang terbuka. Dia berdiri di sebuah kolousium (Lapangan) sebuah pertandingan yang sangat megah sekali. Banyak sekali orang yang sedang melihat ke Raja yang datang dan dalam sekejap semua sorak-sorakan itu terhenti saat Raja sudah datang.


Raja dan pengawal dengan gagah dan sangat mempesona berdiri di antara para pengunjung yang hadir. “Hari ini, keajaan telah berhasil memganggil pahlawan dari Dunia lain. Di antara mereka ada yang memiliki Cahaya suci yang akan menerangi kerajaan tercinta kita ini.” Bicara Raja dengan begitu formal. “Satu hal lagi, setiap Pahlawan punya 1 permintaan yang akan ku kabulkan sebagai perbuatan negeri ini yang memanggil Pahlawan dari Dunia lain.” Kata Raja dengan cukup lantang dan tegas. Semua orang terdiam dan mengerti maksud Raja mereka yang sudah mengerti kenapa mereka meminta itu. “Salah satu yang ku janjikan ialah pernikahan salah satu Pahlawan yang akan di adakan hari ini dan di tempat ini.” Kata Raja dengan sangat jelas. Semua warga langsung saling melihat dan berbicara. “SUMMON!” Panggil Raja dengan teriak sangat jelas sekali. Semuawarga langsung melihat ke Raja mereka yang tiba-tiba berteriak.


Sebuah cahaya muncul di tengah Lapangan. Itu adalah sebuah altar kecil yang belum semuanta terlihat dan sebuah patung yang hanya kepalamnya saja yang terlihat sedang di panggil Raja. “Hm… Lamanya!” kata Anto dengan jelas sekali di depan Raja dan Pengawalnya. Raja sedikit terganggu dengan perkataan Anto, sedangkan Pengawal itu melihat tajam sekali ke Anto yang berkata begitu jelas. “Ada apa? bukannya, memang begitu!” Anto yang membalas menatap dengan wajah senyum ke Pengawal Raja yang sedang marah padanya. Anto diam saja dan tidak bicara setelahnya dan Raja tetap melanjutkan pemanggilannya yang belum selesai. “Sepertinya hanya sedikit terganggu. Bagaimana biar cepat munculnya?” Tanya Anto pada Pengawal yang masig menatapnya denga tajam. Pengawal itu menahan diri cukup baik meski dia mendengar suara Anto yang tidak ada sopan santunnya. “Wah, Raja dan pengawal, kalian cukup hebat menahan godaan dari ku.” Kata Anto yang sedang berusaha mengganggu keduanya. Pengawal di dekanya memegang pedangnya sambil melihat tajam ke arahnya.


“Meski kamu bosan dengan ini, tapi nikmatilah. Sama seperti sebelumnya.” NAVI mengingatkan Anto lagi yang terus mengganggu Raja dan Pengawal. Anto yang tidak di ketaui ekprsinya oleh Pengawal itu, karena topengnya, tidak tersenyum sama sekali dengan hal yang di katakannya barusan dan hanya untuk menghabiskan kebosanannya yang singkat saja. Waktu terus berlalu, Anto hanya diam saja dan mulai menunggu semuanya muncul di lapangan.


15 menit berlalu, semua bangunan itu muncul dan melayang di udara cukup tinggi. Semua warga yang tadi ribut karena menunggu cukup lama. Kini terpesona oleh kemunculan pulau mini yang cuku besar, meski dan tidak cukup untuk semua warga yang hadir di dana. “Sebuah Dunia kecil di dalamnya sebuah pulau yang melayang! Sungguh luar biasa.” Kata NAVI yang juga kagum dengan apa yang di lihatnya itu.Pulau itu mulai mengeluarkan sebuah jalan rumpun menuju ke dalamnya ke seluruh penjuru Lapangan.


“Baiklah, mari kita mulai upacara pernikahan ini.” Kata Raja setelah memunculkan pulau itu. Setelah berkata itu semua penduduk yang ada di sana langsung berjlalan ke pulau itu dengan cepat dan mulai berdeksak desakan bergegas masuk ke pulau itu. Raja dan Pengawal itu mulai jalan ke depan dan mengabaikan Anto yang ada di belakang mereka berdua. Anto juga masih diam saja sambil melihat ke pulau itu yang juga sedikit takjub dengan apa yang di lihatnya.


Setelah cukup lama, Anto mulai mengerjal Raja dan Pengawalnya lalu berjalan lagi di belakang mereka berdua. “NAVI, pulau itu bukan pulau biasakan?” Anto yang bisa merasakan ada kekuatan yang sangat bsar dari dalam pulau itu masih diam di temapatnya. NAVI juga ikut diam sbentar dan tidak merespon Anto dengan cepat.


“Ya. Dia sepertinya ada Dewa atau sesuatu yang punya kekuatan besar. Bisa jadi itu Iblis.” Jawab NAVI dengan biasa saja. Anto mulai berjalan ke pulau itu setelah NAVI menjawabnya dengan cukup masuk akal. Anto mengikuti langkah Raja, tapi Pengawal itu tiba-tiba memberhentikannya saat ada sebuah benda berputar datang mendekat dan hanya ada untuk tiga orang saja. Benda itu diam saja di depan mereka bertiga dan melayang. Tanpa ada pejelasan, Raja dan Pengawal itu langusng naik ke atas piringan melayang itu. Anto yang masih diam di tempatnya masih cukup penasaran dengan piringan itu. Tanpa ada yang menyadari, NAVI mempelajari apa yang ada di piringan itu kurang dari 3 detik. NAVI sudah paham cara kerja dan paham cara mengunakannya, mentranfer langsung hasil analisisnya.


Pengawal di dekatnya melihat dengan tatapan merendahkan Anto yang diam saja saat melihat piringan itu, tapi Anto menghiraukannya dan tidak peduli sama sekali dengan hal yang di lakukan Pengawal itu padanya.. Anto yang tahu cara piringan terbang itu, mulai naik ke atasnya. “Cukup mudah.” Bicara Anto dengan jelas dan sudah sangat seimbang berdiri di atasnya. Raja sedikit kaget yang dapat di lihat dari matanya sedangkan Pengawal terlihat semakin geram dan juga tidak terima dengan apa yang di lakukan Anto yang sudah naik dan seimbnag bedirinya. “Jadi apa yang kita tunggu?” Tanya Anto dengan biasa sambal tersenyum pada Raja dan Pengawal yang sedang menunggu Anto. Tanpa ada yang menjawab, Raja dan Pengawal itu mulai terbang meninggalkan Anto. Ato yang di tinggal tersenyum saat piringan merka berdua terbang dengan cepat. Anto yang di tinggal juga mulai mengejar dengan cepat dan lebih cepat dari mereka berdua.


Next Chapter