
Anto dan NAVI melihat Bumi cukup lama dan tidak memperhatikan sekitarnya sama sekali. -Sepertinya kita akan tiba di rumah saat sudah sangat malam sekali- NAVI yang melihat kotanya itu sedang di selimuti kegelapan malam. -Anto mari ajak mereka- Suruh NAVI sambil melihat ke Bumi dan tidak memperhatikan sama sekali para BIDADARI. Anto tidak merespon dan tetap diam saja sambil melihat ke Bumi juga. Anto masih belum melihat ke sekitarnya, namun karena mulai terasa ada sesuatu yang tidak benar, Anto segera melihat ke sekitarnya dan menemukan tidak ada satu pun BIDADARI nya di sana.
“NAVI… Apa yang harus ku lakukan sekrang?” Tanya Anto dengan terang-terangan saat sudah menduga kalau mereka tidak menepati janji mereka, saat tidak menemukan satu pun di sana. NAVI diam saja tidak berkomentar saat melihat semua itu. “Apa aku kejar saja!” Anto jadi tidak tahu harus apa dan juga tidak tahu apa yang akan di perbuat duluan antara mencari mereka atau pulang duluan.
-Ku sarankan pulang saja dulu. Kalau mereka pastinya akan baik baik saja di Bumi. Dan juga mereka tidak akan ke mana mana- Saran NAVI dengan wajah masih senang sekali. -Mereka mengerti dengan keadaan kita ini. Jadi lebih baik pulang dulu dan tidak melakukan apa pun selain menemui Kloningmu- Tambah NAVI dengan masih senang.
“Baiklah… Aku akan pulang dulu dan tidak melakukan apa pun lagi.” Timbal Anto sambil melayang lalu terbang mendekat ke Bumi. Tapi, baru beberapa meter terbang Anto berghenti. “NAVI, coba perlihatkan tahun berapa sekarang ini!” Minta Anto dengan sangat ingin tahu sekali. NAVI terdiam tidak merespon langsung. Sebuah layar di depan Anto langsung muncul dan memperlihatkan sebuah Tanggal xx Bulan xx Tahnu 2xxx dengan sangat jelas sekali. Anto jadi senang sekali melihat sudah 10 tahun terlewat sejak ke berbagai belahan Dunia yang tidak pernah dia kunjungi siapa pun di Dunianya.
-Kita pulang tepat 10 tahu sudah berlalu. Dengan 1 bulan lebih sebagai tambahan saja. Sepertinya Dunia lain yang kita tinggali selama 1 tahun itu mempunyai perbedaan waktu yang sangat cepat di banding dengan Bumi ini- Dengan senang NAVI menjelaskan sedikit. Setelah itu Anto membuat dirinya jadi tidak telihat dan juga tidak bisa di deteksi oleh satelit dan pengawas yang mungkin sudah maju meski tidak merata di berbagai tempat.
Anto dengan sangat senang sekali mulai memasuki atmosfir Bumi dengan pelan supaya tidak terbakar saat menembus setiap lapisan yang ada di pada Bumi. Setelah cukup lama menembus atmosfir Bumi, Anto tiba di kota Z tempat kelahirannya. Anto melayang dengan wajah ceria sekali dan juga NAVI membuat dirinya jadi of karena ingin tahu lebih dengan perasaan dari tubuhnya yang asli mengenai perasaan itu. “Pertama kali ku lihat ini sejak kecil. Entah kenapa rasanya sangat asing sekali.” Anto yang merasa sangat senang sekali.
Anto terbang tinggi sambil melihat kota dan juga orang-orang di sana yang banyak sekali tertawa, bersenang-senang, dan juga banyak yang sedih dari yang di lihatnya. “Semua ini kampung halamanku. Entah kenapa rasanya sangat menyegarkan sekali saat melihat ini.” Anto tersenyum. “Hm!” Saat terbang Anto tidak sengaja melihat seorang OrangTua yang berada di tengah penyebrangan dan juga melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi sedang ke arahnya dengan menyalip mobil-mobil di depannya. “Kurang 20 detik lagi. Masih sempat.” Anto langsung menbuat dirinya terlihat lalu terbang dengan sangat cepat sekali men uju OrangTua itu yang sedang berjalan lambat. “Tunggu!” Anto melihat ke pakaiannya yang masih bermodel dengan Dunia lain dan belum sempat menggantinya.
Dengan cepat Anto mengganti pakaiannya sesuai dengan khas Dunianya lalu terbang lagi dengan kecepetan penuhnya lalu di depan OrangTua itu dengan sekejap mata. OrangTua itu kaget dengan Anto yang sudah ada di depannya. “Apa ya…!” Mobil itu sudah di dekat mereka berdua dan Anto langsung memgang tangan OrangTua itu lalu dengan cepat menghindar dan tiba di tepi jalan. Semua orang kaget dengan mobil yang melaju kencang itu yang menabrak pembatas jalan dan juga tiang rambu-rabu lalu lintas.
“Kakek tidak papa kan?” Tanya Anto dengan lembut sambil tersenyum. Kakek itu melihat ke Anto dengan termenung. Semua orang di sana juga jadi kaget dengan Anto yang menyelamatkan Kakek itu. “Sepertinya hanya kaget saja.” Anto yang melihat Kakek itu baik-baik saja dan juag terlihat sangat sehat sekali.
“Skil Pemulihan, atau sejenisnya ya!” Anto yang melihat itu jadi sedikit tertarik pemuda itu. Pemuda itu terlihat garang sekali melihat sana sini ke semua orang. Lalu melihat dengan tajam ke Anto dan Orangtua di dekatnya yang sedang beranjak berdiri. “Sepertinya mentalnya sangat rusak.” Anto yang melihat pemuda itu sepertinya akan melakukan sesuatu padanya saat melihat ekpresinya yang sangat marah dan kesal sekali.
Pemuda itu berjalan ke arah Anto dan Kakek itu dengan ekpresi kesal dan marah lalu berhenti tepat di depan Anto dan Kakek itu. Dia melihat ke Anto dan Kakek itu secara bergiliran. “Maaf!” Pemuda itu langsung menundukkan kepalanya pada Anto dan Kakek itu. Anto dan semua orang yang ada di sana jadi terdiam tidak bisa berkata apa-apa dengan perbuatan yang di lakukan pemuda itu jauh berbeda sekali dengan ekpresinya.
“Apa yang kamu lakukan? Bukannya seharusnya kamu melunjak marah pada kami dan berniat akan membunuh dan mengancam kami!” Timbal Anto denga sedikit kaget. Pemuda itu langsung bangun dan melihat ke Anto yang berkata seperti itu matanya dengan menatapnya.
“Kamu aneh, apa kamu banyak baca Novel dan Komik?” Tanya Pemuda itu pada Anto dengan wajah tenang dan juga masih terlihat kotor dan juga mulai terlihat membaik.
“Lah! kan biasanya orang begitu kalau orang kaya dan sombong seperti kamu.” Timbal Anto dengan santainya dan juga tidak memperhatikan kalau mereka sedang di lihatin banyak orang.
“Hah! Kamu gila ya? Menganggap aku orang denagn standar rendah seperti itu!” timbalnya dengan dengan sedikit kesal dan juga mulai berdebat.
“Hei! Kamu bilang aku gila? Bukannya kamu yang gila hah!” Timbal Anto yang mulai tidak terima dengan perkataan pemuda itu yang sepertinya juga tidak terima dengan perkataannya tadi.
“Kamu ngajak ribut ya?” Tanya pemuda itu dengan serius sekali. Anto jadi terdiam dan menatapnya dengan sangat tajam sekali.