
Anto tersadar dalam suatu kegelapan yang tidak tahu di mana dirinya. “Ini sangat gelap, rasanya kaku sekali. Ada apa dengan tubuhku?” Tanya Anto yang tidak bisa mengeluarkan suaranya. Anto juga tidak bisa merasakan matanya bisa di buka, seolah-olah menolak membuka. Rapi keadaan itu perlahan membaik saat tubuhnya merasa segar tiba-tiba. Anto perlahan bisa membuka matanya dan juga merasa tidak ada perlawanan lagi dari tubuhnya. Saat melihat ternyata Anto masih berada di kamar yang sama seperti sebelumnya. Anto perlahan bangun lalu melihat sekitarnya yang tidak ada siapa pun. “Rasanya sudah lama sekali aku berbaring." Anto yang merasa seperti itu. "Sudahlah!” Anto langsung beranjak berdiri dan merasa tubuhnya sangat kaku lagi meski beberapa saat yang lalu segar rasanya.
Tapi setelah beberapa saat, perlahan tubuhnya menjadi ringan dan merasa tidak ada sakit lagi di bagian mana pun. Anto memrgang perutnya yang lapar lalu jalan keluar ke pintu yang di dekatnya. Saat di luar Anto menemukan penjaga Iblis itu yang masih terliat sama seperti sebelumnya. Anto kemudian memegang lagi gagang pintu kamarnya dan membukanya lalu menemekan dirinya berada di ruangan yang berbeda. Anto masuk lebih dalam lagi dan di sana ternyata ruang dapur yang sedang sepi. “Masak apa ya?” Tanya Anto pada dirinya sambil melihat peralatan modern di sana. Anto pun langsung mencari kulkas di sana dan menemukannya.
Anto kemudian membuka dan menemukan berbagai macam jenis sayur dan daging. Anto mengeluarkan dagingnya dan beberapa sayur. Anto kemudian mengambil wastafel dan menaruh daging ukuran besar di dalamnya. Anto kemudian mengambil bahan-bahan di sana lalu mengambil wajan dan lainnya. Anto mulai memotong dagingnya jadi kecil-kecil, lalu memotong sayurnya jadi kecil-kecil. Setelah semuanya siap, Anto kemudian menyalakan api lalu merebus sayur dan daging tadi. Anto kemudan menyiapkan penyedap rasa untuk makanannya, dan yang lainnya.
***
Setelah beberapa lama memasak, Anto selesai kini tinggal Anto menyiapkan semua makanan yang sudah jadi ke dalam piring. Karena sudah matang dan siapa Anto kemudian mengambil piring ,lalu menuangkan sayur dan daging yang telah jadi ke atasnya. Setelah beberapa lama, menyiapkannya, semuanya sudah siap dan juga terlihat sangat enak sekali. “Sayangnya tidak ada nasi di ini, dan untungnya aku punya nasi di penyimpananku." Anto kemudian menerbangkan semua lauk yang sudah jadi itu. Kemudian jalan ke pintu yang di lewatinya tadi itu. Saat membukanya Anto sampai di ruang makan tempat Haruna membawanya teleportasi. Anto tidak langusng masuk dan hanya diam saja melihat ruang makan itu yang sepi. Setelah beberapa saat, Anto kemudian masuk sambil melihat sana sini. "Seperti benar, semua pintunya terhubung saru sama lain.” Dengan tenang jalan ke meja makan.
Saat sampai Anto menaruh semua makanan itu di atas meja, kemudian Anto mengeluarkan nasi dari dimensi penyimpanannya. Setelah semuanya siap, Anto kemudian duduk di kursi. Anto lalu makan di sana. Anto makan sangat lahap sekali dengan sangat menikmatinya. Tapi Anto sama sekali tidak tahu yang sedang terjadi di luar sana. Anto yang masih makan, mulai memikirkan apa yang aan di lakukannya setelah ini. “Setelah ini apa yang akan ku lakukan?” Tanya Anto pada dirinya sendiri sambil terus makan dengan perlahan. “Kalau tidak salah aku bisa melihat waktu dari Misiku. Sebaiknya nanti saja ku lihat, sudah berapa hari atau mungkin jam aku tertidur. ” Anto yang mengingat ada waktu yang tertera di dalam misinya.
Anto kemudian berhenti makan sebentar. “Tapi... sebaiknya aku lihat saja lah.” Anto yang sedikit ragu malah langsung mengecek Statusnya. Anto melihat tidak ada yang berubah dalam statuasnya. Lalu Anto melihat ke bagian misinya. Anto yang melihat itu jadi terdiam melihat batas waktunya tinggal 1 jam lagi di dalam Dungeon itu. Anto yidak tah harus berkata apa engan yang di lihatnya itu. “Jadi... berapa lama aku tertidur?” Tanya Anto yang sama sekali tidak menduga kalau dirinya akan tertidur hampis 1 bulan pebuh dan juga batas waktunya di Dungeon itu habis.
Anto merasa makanan yang di mulutnya jadi hambar seketika setelah melihat itu. Antoterdiam lau beranjak berdiri dan meninggalkan ruang makan menuju pintu yang terhubung dengan ruangan apapun. Saat sampai di depan pintu Anto, membayangkan dirinya keluar. Saat membuka pintu keluar, Anto menemukan dirinya sudah berada di luar kastil. Anto tidak melihat sekitarnya malah menggunakan Skil Segel jiwa mencati Haruna yang tidak pernah di lihatnya selema berapa jam saja menurutnya. Setelah menggunakan Skilnya, Anto melihat garis di depnanya yang sangat tipis dan putih yang bisa di lihat olehnya sendiri.
Anto berlari mengikuti garis itu. Tentu saja Anto juga menggunakan Skilnya yang lain supaya tidak terlihat oleh siapa pun. Anto terus jalan mengikuti ke mana arah garis putih itu, yang terus menyusuri kegelapan malam yang sunyi. Tidak ada perubahan dalan jalan ke mana yang di tuju oleh garis putih itu dan Anto merasa sedikit lega karenanya. “Semoa seja kamu tidak pindah dari temptamu.” Anto yang berharap sekali. Anto latinya hanya lari mengiktu garis lurusm kini mulai lompat gi antara bangun lalu semakin tinggi dan tinggi lagi tanpa mengikuti garis puitih yang di lhatnya. Setelah Anto merasa cukup tinggi, Anto kemudian lompat terbang tinggi serkali hingga garis putih yang di lihatnya tadi kini menjadi lurus saja di depannya. Anto langsung meluncur terbang ke arah garis yang di tunjuk oleh segel jiwa itu dengan kecepatan penuh.
Haruna melihat langsung saat ada bayangan yang menutupi pancaran cahaya dan melihat ke Anto di depannya yang tersenyum padanya. “Selamat malam Haruna!” Sapa Anto dengan senyum pda Haruna. Haruna langsung mengeluarkan air mata saat melihat Anto di depannya. “Seperti agak lama aku tertidur ya.” Dengan biasa saja Anto bicara pada Haruna. Haruna tidak merespon malah langsung memeluk Anto dengan erat sekali. “Maaf membuatmu menunggu.” Anto membalas pelukan Haruna yang erat itu dengan cukup lama.
Kedua berpelukan tanpa ada yang bicara lagi. Haruna terus meneteskan air mata sedih dan senang pada Anto yang sedang di di peluknya. “Kenapa Kakak lama?” Tanya Haruna dengan sedih sambil terus memeluk Anto. Anto mengelus kepala Hana dan tidak langusng merespon sama sekali.
“Aku sendri tidak tahu. Tapi yang jelas sekarang sudah bangunkan.” Jawab Anto dengan lembut. Haruna membalas mengangguk sebagai jawaban. “Tapi... Maaf Haruna, mungkin tinggal sebentar lagi aku akan menemaimu.” Anto meminta maaf langsung pada Haruna saat sedang berpelukan. Haruna langsung memeluk Anto dengan erat lagi karena suha paham maksud dari Anto yang akan kembali saat malam Harinya.
“Kenapa sekarang? Padahal baru saja Kakak bangun! Kenapa? Kenapa?” Haruna mulai mengeluarkan banyak air mata dalam pelukan Anto. Anto tidak merespon dan hanya diam saja mendengar kesedihan Haruna itu. Tidak ada yang bicara, karena Anto tahu tidak tahu hatus berkata apa pada Hatuna yang sedih itu. Tapi Anto jadi teringat sesuatu yang membuatnya harus bicara.
“Haruna, jika kamu kurang makan seperti ini lagi, aku akan marah. Coba lihat dirimu yang kurus seperti ini.” Anto nada serius mengatakannya. Haruna diam saja tidak merespon Anto. “Jika nanti aku kembali dan menemukan dirimu lebih kurus dari ini, aku tidak akan menikahimu.” Tambah Anto dengan serius lagi. Haruna yang mendengar itu langsung melepas pelukannya dari Anto lalu melihat tajam ke arahnya. Anto tersenyum pada Haruna yang sedih itu. “Nah jangan bersedih lagi.” Anto langsung mengelus kepala Haruna lalu memberdihkan air matanya.
Haruna terdiam saja tidak merespon dengan terus menaha sedihnya karena permintaan Anto padanya. Haruna perlahan menampakan dirinya yang terlihat baik, namun itu sia-sia karena Anto sadar dan tidak berkomentar apa-apa. “Aku di sini tinggal 45 menit lagi, mari ku temani sampai waktu ku habis!” Ajak Anto sambil jalan lalu duduk di bangku dekat ayunan. Haruna mengangguk dengan sedih mendengar itu. Tapi tidak ada yang bisa di lakukannya selain percaya dan tetap diam saja.
***