Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 156


System yang memperhatikan dati tadi, hanya diam saja. Tapi, Dewa itu malah jadi tertarik pada Suci yang seperti itu padanya. -Sepertinya dia merasakna sesuatu di hatinya- System memperingatkan dengan serius sambil terus memperhatikan sekitaranya dan tingkah Dewa itu.


“Kamu benar. Dengan wajah ini memang tidak terlihat seperti Dewa malah terlihat seperti anak muda…”


“Tidak, kamu terlihat seperti bajingan malah.” Potong bicara dewa itu oleh Suci dengan cepat dan terus terang. “Kamu berpenampilan layaknya kamu masih muda, padahal usiamu sudah lebih 1000 tahun. Dasar nggak sadar diri.” Suci dengan terang-terangan menghina Dewa itu di depannya.


“Hahahaha… Kamu orang kedua yang menghinaku seperti ini.” Dewa itu dengan sangat senang sekali. Tapi, Suci yang melihat itu semakin jijik dengan Dewa di depannya itu yang terlihat sangat senang saat di hina. “Jangan begitu, aku bukan Dewa seperti yang kamu bayangkan itu.” Dewa yang melihat reaksi wajah Suci yang tampak jijik sekali yang kira dirinya seorang masokis.


Suci diam saja melihat Dewa yang seperti itu lalu berbalik jalan. “Aku pulang saja.” Suci pamitan dengan mengabaikan Dewa itu tanpa berkata apa pun padanya.


“Tunggu!” Dewa itu mengehntikan Suci dengan hendak memegang tangannya, tapi dengan cepat Suci bereaksi dan mengindar dari Dewa yang mau menyentuhnya itu hingga dia terjatuh. Suci diam di tempatnya karena dewa itu terseungkur di dekatnya dan tidak bergerak sama sekali.


-Hati hati- System memperingatinya namun System tenang lagi sambil melihat ke Dewa yang bangun dengan perlahan. -Kamu di lindungi lagi- Bicara lagi System dengan masih waspada. Dewa itu langsung melihat ke Suci dengan tatapan aneh padanya.


“Menajauhla dariku.” Suruh Suci dengan sangat jijik sekali pada Dewa itu yang melihat wajahnya yang terlihat senang.


“Hahaha…” Tertawa Dewa itu hingga membuat wajah yang menjijikkan, saat melihat ke Suci yang sedang  melihatnya seperti masokis sungguhan. “Maaf, maaf, aku sudah lama tidak melihat reaksi itu. Entah mengapa kamu sangat mirip sekali dengannya yang selalu menghinaku seperti itu.” Dewa itu tersenyum pada Suci setelah berdri dengan memperbaiki posisinya. Tapi Dewa itu malah di lihat dengan tatapan sangat tidak di sukai oleh Suci dengan sangat tajamsekali padanya.


Suci berjalan lagi saat melihat Dewa itu yang sama seperti sebelumnya. “Aku pergi.” Pamit Suci pada Dewa itu tanpa melihat ke belakang dan terus jalan.


“Tunggu, kali ini aku serius.” Dewa itu langsung berusaha menghentikan Suci. Suci diam dan tidak berbalik tidak memperdulikannya sama sekali. “Aku mau minta tolong sama kamu membawa Luna dari ini.” Dengan suara tulus pada Suci. “Seperti yang kamu lihat, dia itu adalah malaikat juga merupakan putriku yang ku besarkan di sini. Alasan kenapa aku memintamu mengajaknya karena dia memiliki hati seperti manusia. Masalahnya adalah dia sudah hidup di dunia atas sini dan tidak mempunyai kenangan bagus selain bersama Ibunya yang sudah meninggal dan tidak pernah mengembangkan hati manusianya itu. Oleh sebeb itu, apa kamu bisa membawanya dan memberikan tempat tinggal di Dunia bawah dan mengajarinya?” Dengan sangat serius sekali Dewa itu memohon pada Suci. Suci diam saja dan belum berbalik.


“Aku tidak bisa. Aku juga tidak bisa menjaga diriku sendiri dan hanya bisa mengandalkan Kakakku. Maaf, aku tidak bisa memenuhi apa yang kamu inginkan.” Respon Suci dengan sangat serius sekali tanpa berbalik sama sekali.


“Aku tahu itu. Tapi, setidaknya bawa dia bersama kalian.” Respon  Dewa itu dengan serius dan dengan memohon sekali. Suci diam di tempanya dan tidak berkata apa pun.


“Dengarkan aku. Aku akan membawa orang yang akan jadi bagian dari Harem Kakakku dan tidak membawa perempuan yang tidak mau jadi bagian dari Haremnya. ” Respon Suci tanpa berbalik sama sekali melihat ke lawan bicaranya. Setelah itu dia tidak bicara lagi dan diam saja.


“Aku tidak peduli, kamu tambahkan dia dalam haremnya. Asalkan dia bisa memahami artinya punya hati.” Timbal balik Dewa itu pada Suci yang berakata seperti itu. Suci berbalik melihat ke Dewa yang berkata seperti itu. “Dia terlahir di Dunia Dewa ini dengan kematian Ibunya waktu masih kecil, jadi aku tidak bisa mendidiknya sebagai manusia dan hanya bisa mendidiknya sebagai malaikat. Oleh sebab itu aku sengaja membuat sebuah rumor  mengenai sebuah pintu yang mengarah ke Dunia Dewa sebelum aku naik ke Dunia ini dan menjadi Dewa terkuat ada beberapa ratus tahun yang lalu." Dengan suara serius Dewa itu bicara pada Suci. "Sebelum kamu naik ke sisni, ada seorang anak laki-laki yang datang, tapi rasanya ada sesuatu yang sangat tidak biasanya dari dan itu sebebnya aku tidak memanggilnya kemari.” Dewa itu menceritak sedikit supaya Suci bisa memahami maksud Dewa itu.


Suci jadi sedikit berpikir saat Dewa berkata itu di akhir kalimatnya. “Apa pakaian orang itu terliha biasa saja dan tidak punya kelebihan?” Tanya Suci pada Dewa itu yang mengingat Anto yang memang selalu bersikap biasa saja pada semua orang.


“Ya. Makanya aku tidak memanggilnya karena tanpak biasa saja dan tidak terlihat terpilih. Apa kamu tahu anak itu?” Tanya balik setelah merespon. Suci yang mendengar Anto di anggap biasa saja merasa sangat kecewa dan tidak tahu kenapa merasa sabar.


“Bukannya kenal saja, tapi dia orang yang ku sayangi dan orang yang tidak bisa ku berikan apa pun kecuali diriku padanya.” Respon Suci dengan wajah tidak senang pada Dewa saat membahas Anto. “Andaikan kamu memintanya datang, dia pati akan menolongmu lebih baik dari diriku. Mungkin bahkan dia bisa saja membantumu dalam hal yang kamu tidak duga sama sekali.” Suci dengan terus terang berdebat mengenai Anto yang merasa di rendahan sekali oleh Dewa di dekatnya itu.


Setelah itu Suci diam dan tidak berkata apa apa pada Dewa. “Oh ya. Apa ada yang kamu inginkan sebagai balasan permintaanku?” Tanya Dewa itu pada Suci yang setuju dengan permintaannya. Suci diam saja seperti memikirkan sesuatu.


“Seberapa betah dia akan bersamanya, mungkin hanya 10 tahun saja dan mungkun palingan 20 tahun lama menurutku. Kamu tahu kan umur manusia itu singkat dan tidak mungkin setelah dia mati baru dia kembali ke Dunia ini sendiri.” Timbal balik Dewa itu dengan serius dan senang denga cepat. Dan entah bagaiamana Suci jadi kesa dengan Dewa yang cepat sekali tanggapnya dan tidak diam sebentar saja.


“Kalau gitu kita taruhan saja! Bagaiamana menurutmu?” Tanya Suci pada Dewa itu dengan rasa kesa padanya dan juga sangat percaya diri akan menang. Dewa itu memandang Suci cukup lama dan terlihat melihat tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Dewa itu tersenyum pada Suci dengan terlihat senang.


“Okelah, mari kita taruhan sebarapa lama putriku bisa tahan bersamanya dan berapa lama dia mau tinggal bersamanya.” Respon balik Dewa itu.


“Baiklah, sepakat. kalau gitu aku bertararuh dia akan tinggal bersamanya hingga ribuan tahun dan bahkan sampai melupakanmu.” Respon Suci dengan memulai menyebut taruhannya tanpa berbalik sama sekali.


Dewa itu jadi terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa dengan Suci yang berkata seperti itu. “Ya sudah. Aku bertaruh dia akan bersamanya selama 80 tahun lebih dan kurang dari  100 tahun.” Dewa itu memulai taruhannya dengang Suci di tempatnya. Suci berbalik dengan rasa kesal pada Dewa itu yang terdengar sangat meremehkan Anto.


-Gunakan ini- Suruh System dengan memunculkan sebuah bola yang berukuran segenggam tangan bewarna hitam gelap sekali yang juga merasa kesal dengan Dewa itu. -Buatlah perjanjian dengan ini, dan nanti akan tertera di Systemmu taruhan yang kamu pasang, kemudian bolanya akan bewarna putih setelah ada hadiahnya dan itu telah di sepakati- System menjelaskan dengan terlihat senang dengan taruhan itu dan juga kesal pada Dewa yang mengolok Anto.


“Kita gunakan ini.” Suci menunjukkan bola hitam itu pada Dewa, lalu dia langsung menaruh bola itu di keningnya dan kemudian memasukkan semua perkatan taruhannya tadi. “Sekarang kamu masukkan semua perkataanmu tadi di sini.” Suci memberikan sedikit arahan. Dewa yang lagi senang itu mengambil dan menuruti apa yang di katakan Suci padanya dan tidak peduli dengan bola apa yang di berikan padanya.


Dewa itu menaruh bola di keningnya dengan meniru Suci lalu melepasnya lagi. “Sudah selesai.” Respon Dewa itu dengan senang sekali.


“Kalau gitu apa hadiah yang jadi taruhannya?” Tanya Suci pada Dewa itu. “Kalau aku bisa memberikan apa pun yang kamu inginkan sebagai hadiahmu. Tapi, kamu apa yang akan kamu berikan padaku?” Tanya Suci pada Dewa itu dengan santainya. Dewa itu terdiam lagi dengan ekpresi percaya diri Suci.


“Kalau aku juga akan memberikan apa pun yang kamu mau nanti. itulah jawabanku.” Respon Dewa dengan sangat senang. Dan juga di saat yang bersamaan  bola yang di pegang tadi bewarna putih. “Eh!” Dewa itu sediki kaget dan seperti merasakan sesuatu di jiwanya. “Apa itu tadi?” Tanya Dewa itu pada Suci.


“Itu taruhan kita yang telah terikat sampai ada pemenangnya.” Jawab Suci dengan sangat senang sekali. Dewa itu terdiam lagi dan seperti melihat sesuatu pada Suci.


“Oh begitu. Tapi, aku yakin pasti menang.” Respon balik Dewa itu yang sepertinya masih senang dengan Suci. Scu yang mendengar Dewa itu beraka seperti itu padanya membuatnya kesal tanpa sebab.


“Kalau gitu aku akan balik dulu.” Suci berbalik dengan sedikit kesal. Suci membuat sebuah portal di ruangan itu dengan santainya. Tapi dia tidak langsung masuk dan diam sebentar. “Apa kamu akan diam di sana?” Tanya Suci pada malaikat yang tidak mengerti sama sekali dengan pembicaraan tadi yang terlihat mencerna sekali. Tapi karena tidak mengetahui maksudnya dia hanya diam saja dan tbergerak dengan tetap pada posisi menghormati.


“Kenapa masih diam di sana, ikuti dia dan nanti pastika kamu membawa kemenangan unutkku.” Dengan suara serius pada Luna Dewa itu menyuruhnya. Luna hanya mengangguk lalu berdiri dan berjalan ke samping Suci lalu masuk bersamanya tanpa berkata apa-apa. Setelah itu, portalnya tertutup rapi dan ruangan itu jadi hening sekali.


Semua malaikat yang ada di sana melepas persembunyiannya dan menampkan diri. “Hahahahaha… Sungguh takdir yang tidak ku duga sama sekali.” Dewa itu menteskan air matanya.


“Yang mulai.” Teriak malakat di dekatnya yang tiba-tiba mendekat banyak sekali.


“Diamlah.” Bentak Dewa itu sangat serius. Setelah itu para malaikat diam dan tidak ada yang berani bicara sama Dewa itu. “Kenapa Gadis itu mirip sekali denganmu, meski wajahmu tidak sama sekali." Bicara Dewa sendiri. "Taruhan yang dan perjanjian yang sama persis dengan apa yang kamu lakukan untuk bersenang-senang itu sangat tidak ku duga akan terlihat dalam hidupku yang sudah lama ini.” Dewa itu memuncul sebuah foto yang terlihat jelas seorang Gadis yang bersamanya dengan menggunakan gaun pernikahan. “Herlina Luna…” Ucapnya dengan jelas sekali sambil tersenyum melihat foto itu. “Putriku semoga kamu memahami apa yang di maksud dengan manusia dan juga bawakan aku kemenangan itu.” Dengan wajah senang sambil melihat ke bola di tangannya itu dan tidak memperhatikan sama sekali dengan yang barusan dan hanya terpesona dengan Suci yang membuatnya mengingat beberapa kenangan pentingnya. Kini beralih ingin tahu benda apa yang di gunakan oleh Suci padanya itu.


Next Chapter