Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 203


Anto jalan sedikit pelan suapaya tidak di lihati olehnya. “Kak! Ada yang aneh!” Run memperingatkan Anto  dengan telepati dengan tiba-tiba. Anto jadi berhenti jalan nan memperhatikan sekitarnya. Anto melihat ke pelajar yang juga terlihat tertawa dan tidak terlihat memikirkan hal kemarin. Anto terus jalan dengan melihat keanehan yang tidak bisa di cernanya karena terlihat berbeda dari yang di bayangkannya.


“I, ini apa?” Tanya Anto yang tidak tahu kenapa dengan semua orang di sana. “NAVI ON! Hari ini kita harus bicara serius denga kemampuan yang ku miliki dan juga beberapa hal lainnua.” Bicara Anro dengan sangat serius pada NAVI yang di aktifkannya. “Kita jalan saja dan jangan peduli dulu. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di sekolah ini. Sebaiknya kamu pura-pura tidak tahu saja apa yang terjadi kemarin itu.” Balas Anto dengan memperingatkan Run yang juga sedikit penasaran. “Saat ini kita tidak tahu apa yang terjadi. Oleh karena itu, kita harus diam saja.” Sekali lagi Anto memepringatkan.


Run melihat ke Anto yang jadi serius sekali saat melihat ke wajahnya. “A, aku mengerti kak.” Jawab Run dengan teurs jalan selaras bersama Anto meski jadi pusat perhatian. Mereka berdua terus jalan hingga ke halaman sekolah.


“HeiI!” Anto di kagetkan oleh teman-temannya di belakang hingga berhenti jalan. Anto masih berekspresi biasa saja dan tidak kaget saat temannya mau menjahilinya. Antoo berbalik melihat ketiga temannya yang terlihat biasa saja dan juga tidak ada yang berubah pada sikapnya.”Kamu ke mana saja kemarin?” Tanya Mar dengan ceria dan juga di temani Roni dan Andre yang memperhatikan saja.


“Aku menemui OrangTua ku.” Jawab Anto dengan santai sambil lanjut jalan.


“Pagi Run.” Sapa Roni. ‘Pagi Run’ sapa juga Andre. Run hanya tersenyun membalas perkataan.


“Kamu punya OrangTua?” Tanya Mar dengan tidak menduga sama sekali. ‘Hah!’ Anto jadi sedikit kesal melihat Mar yang bertanya dengan nada kaget seperti itu padanya.


“Kamu kira aku lahir dari batu hah?” Tanya balik Anto yang mendengar itu dengan nada suara sedikit pedas padanya.


“Tidak, tidak, tidak. Aku heran saja kenapa aku tidak pernah melihat kedua OrangTua mu.” Timbal Mar yang sedikit takut saat Anto terlihat berbeda dari sebelumnya. Setelah itu Anto diam saja tidak bicara sama sekali mengenai apa pun dengan terus menatap Mar yang ketakutan.


Anto mengubah ekpresinya dengan cepat lalu melihat lagi ke Mar. “Oh ya! Kemarin apa yang kalian lakukan?” Tanya Anto pada Mar yang berjalan di belakangnya. Marm Roni, Andre dan Run mulai jalan saat Anto jalan lagi meski dengan pelan.


“Apa! Bukannya belajar seperti biasa.” Jawab Mar dengan  biasa saja dan juga terlihat tidak mengubah perkataannya. Anto dan Run yang mendengar itu jadi sedikit pnasaran dengan apa yang terjadi dan juga merasa kalau semua orang sudah di ubah ingatannya dalam semalam. “Satu lagi. Seperti nya hati ini kamu akan sangat sibuk dengan para Gadis yang akan…” Mar tidak melanjutkan perkataannya saat merasa ingin tertawa besar di halaman sekolah.


Anto hanya diam saja melihat ekpsresi Mar yang sebenarnya sangat ingin keawa sekali. Saat mereka berlima sedang jalan, beberapa Gadis melihat ke Run yang sedang di tunggu. “Kak, aku akan ke kelas dulu.” Izin Run yang berbeda kelas dari Anto. Anto mengagguk membiarkan run masuk ke kelas Silver bersama temannya.


Anto hanya melihat Run dari jauh menuju temannya. “Nanti kita main Run ke…” Bicara temannya sambil jalan ke kelas mereka. Anto hanya diam jalan.


“Ne Anto. Boleh ku miliki Run?” Tanya Mar pada Anto hingga di buat berbalik melihat dengan tajam padanya. Mar dan kedua temannya jadi sangat takut saat Mar bilang begitu pada Anto. “A, aku mengerti, jangn lihat aku seperri itu!” Mar yang jadi takut karena di ihati dengan sangat tajam sekali oleh Anto. Anto tidak mendengarkan dan terus menatap dengan tajam sekali pada Mar.


“Dengar baik-baik, dia itu milikku. Jika kamu menyentuhnya…” Anto terus menatap dengan tajam sekali pada Mar yang bergeming di tempatnta karena tidak berani dengan tatapan Anto. Anto yang merasakan dirinya marah sekali tadi, kini perlahan mengubah ekpresinya. “Maaf, aku berlebihan. Tapi jangan ambil Run. Cari yang lain saja, karena kamu menyesal nantinya.” Anto memperingatkan dengan biasa saja. “Mungkin ini sulit di percaya, jika kamu mengingat apa yang terjadi kemarin, pasti kamu akan paham maksud dari perkataanku.” Anto jalan lagi meninggalkan ketiga temannya.


Mar dan kedua temnnya yang lain, melihat ke Anto yang jalan seperti itu. “Apa maksudmu yang itu!” Timbal balik Mar. Anto langsung berhenti jalan dan melihat ke belakangnya. Mar menekan tombol di tangannya lalu menekan beberapa kali. “Apa yang ini?” Tanya Mar sambil memperlihatkan sebuah berita hangat di internet yang jadi bahan pembicaraan.


Anto langsung tahu berita dirinya yang menyebabkan banyak sekali tragedy. Mar hanya terlihat menahan tawanya saat memperlihatkan berita Anto yang tertera jelas saat mengatakan itu di depan umum. “Mar, aku tahu kamu suka ini. Tapi hal lainnya yang ku maksud.” Anto mengingatkan lagi  dengan sedikit rasa kesal pada Mar. Mar malah mengabaikannya dengan Manahan tawanya. “Ini akan sulit memperbaiakinya.” Anto yang hanya bisa menahan kesalnya.


Anto meninggalkan ketiga temannya dengan pelan tanpa pamit sama sekali. “Hei… Nanti kita makan siang di kantin.” Ajak Mar saat Anto sudah jalan ke kelasnya cukup jauh. Anto tidak merespon dan hanya melambaikan tangannya. Saat sudah di depan masuk ke gedung kelasnya, Anto berhenti dan melihat sana sini karena terlalu di perhatikan dan juga merasa tidak enak terlalu di lihat seperti itu.


“Aku bolos saja.” Anto berbalik keluar lalu jalan ke arah lain. Anto terus jalan meski di lihatin oleh semua orang. Mereka semua masih menatap dengan tatapan yang sama. “Mending ke kantin saja.” Anto yang tidak tahan tahan dengan terus jalan ke kantin yang di tujunya.


***


Setelah beberapa lama berjalan, Anto sampai di kantin yang masih sepi karena para siswa lainnya sedang di kelas belajar. Anto melihat ke kursi yang ada pengunjungnya. “Dia lagi!” Anto yang merasa kesal setiap kali melihat pelajar yang hampir menabrak orang tua itu. Anto berjalan ke meja lainnya yang sedikit jauh dari pelajar itu. Pelajar itu melihat ke Anto yang duduk cukup jauh darinya tidak mengatakan apa-apa dan hanya diam saja dengan terus menunggu pesanannya.


Sementara itu Anto yang sudh duduk di kursi langsung menekat tombol di atas meja lalu melihat menu makanan yang ada di layar. Anto memilh memasan ayam panggang dengan tambahan nasi. Setelah itu menutupnya dan menunggu di tempatnya. “Huh… Ku rasa ini sangat nyaman meski tidak ada peperangan seperti di Dunia lain.” Anto yang tersenyum sendiri karena senang dengan kedaimaan yang ada.


“NAVI, aku tahu kamu sudah sadar. Sebaiknya kamu mulai ceritakan semua yang kamu ketahui.” Minta Anto dengan diam saja dan tidak melakukan apa pun.


-Aku mengerti. Tapi, ku rasa lebih baik kamu tidak melakukan apa pun seperti kata ZERO- NAVi memperingatkan Anto yang melihat dirinya sendiri di masa lalu itu. -Kamu tahu, dia sendiri yang bilang menyuruhmu menikmati masa mudamu. Jadi apa pun yang terjadi lebih baik kamu diam saja dan terus jalani hidup damai ini- Saran NAVI dengan serius dengan mengingatkan Anto.


Anto terdiam tidak menduga NAVI akan menjawab seperti itu. Anto belum merespon NAVI yang menyarankan itu. Dan juga entah kenpa dia semakin sadar kalau NAVI dan dirinya semakin bertolak belakang darinya. Anto tahu NAVI hanya menyarankan yang terbaik, tapi dia merasa ada yang kurang dari dirinya. -Keputusan itu ada pada dirimu Anto. Semakin sedikit yang kamu ketahui, semakin baik bukan. Dan juga tidak ada beban jadinya- NAVI menambahkan dengan serius.