
Anto yang terus kabur perlahan melihat dengan kabur, meski melihat dengan kabur Anto masih menjaga kesadarannya dengan paksa. “Aku sudah tidak kuat lagi…” Keluh Anto yang semakin kabur pandangannya akibat kelelahan sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya terutama di bagian kakinya. Di saat Anto mau di hadang di depannya Anto melihat sebuah lubang di bawah tanah meski kabur penglihatannya, Anto melihat ke belakangnya mencari cara mengalihkan perhatiannya supaya dia dapat masuk ke dalam lubang itu. Tapi tepat saat hampir tiba di lubang itu, monster pohon itu sudah lompat dari jauh. Anto langsung berhenti kemudian berbalik lari. Monster pohon yang melihat itu dari ketinggian hanya berfokus melihat ke Anto dan tidak melihat ke tempat dia akan mendarat.
‘BLUSH!’ Monster Pohon itu langsung masuk ke dalam lubang itu hingga seluruh batanngnya tertanam. ‘Ruar?!’ suara monster itu jadi tidak jelas karena seluruh mulutnya sudah tertanam. Anto langsung berbalik saat mendengar suara mosnternya agak berbeda dari suara sebelumnya. “Huh, huh, huh, huh, huh, huh… Berhasil,” Anto yang sudah tidak sanggup lagi berlari terus mengatur napasnya suapaya tidak pingsan dan merasa lega dengan mosnter yang sudah kalah olehnya meski dengan jebakan yang baru di temukannya. Anto kemudian mendekat ke monster pohon itu yang sudah tinggal daun dan buahnya saja yang tertinggal. Anto kemudian mengambil buah itu dan langsung memakannya tanpa ragu sama sekali meski itu racun yang di makannya. Saat Anto memakannya, rasanya sangat enak sekali hingga Anto langsung mengambil buah yang lain. Anto terus melakukan hal yang sama pada buah yang lainnya hingga semua buah di pohon itu habis di makannya dalam waktu singkat.
Saat semua buahnya habis, Anto melihat ke pohon itu yang perlahan hilang jadi berbagai butiatn putih hingga hilang sepenuhnya ‘Naik Leve! Naik Level…!’ beberapa kali notifikasi memberi tahu Anto di depan layar bronzenya. “Uhuk!” Anto langsung memuntahkan darah dan pandangannya semakin sangat kabur sekali meski sudah kenyang dan tidak jelas memperhatikan notifikasinya. “Gawat, panas... dingin...!” Anto tidak mengerti dengan tubuhnya sendiri yang merasakan kedua hal itu secara bergantian dengan cepat. Anto terus menahannya meski pandangannya sangat kabur sekali. Dia berusaha menjaga kesadarannya supaya tetap terjaga.
‘Skil berevolusi. Study: Bisa Mempelajari Apapun Tanpa Resiko Apapun’ Setelah itu layarnya menutup dengan cepat. Semantara itu Anto menahan sakit yang luas biasa namun tidak berteriak sama sekali oleh hal itu, tapi malah matanya berlinang darah yang kelaur karena memaksakan diri terus bertahan. Waktu terus berlalu sudah sekitar 1 jam Anto menahan sakitnya dan juga bisa merasakan tubuhnya mati rasa. Mata Anto sangar kosong sekali dan tidak bisa berpikir jernih sama sekali dengan semua yang telah terjadi. ‘KRUSH!’ Anto yang mendengar sesuatu itu jadi berusaha bangun dari tempatnya terlentang.
Saat berusaha bangun Anto mendengar langkah kaki yang sangat banyak sekali hingga membuatnya semakin panil dan tidak bisa berpikir jernih sama sekali. Anto yang bangun bisa mengrtshui kalau tubuhnya sangat gemetaran sekali. “A, aku harus pergi dari sini.” Dengan perlahan Anto berhasil berdiri. Tapi Anto merasakan lagi panas dingin di tubuhnya yangmembuat tubuhnya semakin lemas dan sangat tidak kuat sekali berdiri. Tapi dengan sangat memaksakan Anto berjalan lurus yang tidak ada sumber suara itu sama sekali.
Anto jalan beberapa langkah setelah itu suara jadi tenang sekali. Anto berhenti jalan dan tertunduk lagi. “Aku akan bertahan hidup di Dunia ini apa pun yang terjadi.” Anto terus menjaga kesadarannya meski tubuhnya sudah terkulai lemas sekali. Anto sama sekali tidak bisa melihat semua indaranya tumpul dan tidak bisa di gerakkan sama sekali kecuali pikirannya yang masih terjaga dengan aman dan tidak ada hal lainnya. "Siapa pun... to, tolong aku...!" rintih Anto yang menderita yang menangis darah, tapi tidak ada siapa pun di dekarnya kecuali hening saja.
***
Setelah beberapa lama berlalu, Anto yang kecil masih menjaga kesadarannya, kini mulai bisa merasakan indra matanya dan juga bisa melihat lagi dengan jelas seperti biasanya. Selain itu Anto juga mulai merasakan tangan dan kakinya yang bisa di gerakkan. Anto perlahan bangun dengan kondisi tubuh yang masih lemas sekali. Anto berjalan lurus dengan kaki gemetar yang dia tidak tahu kalau sudah sembuh total. Setelah beberapa langkah, Anto melihat lagi pohon yang sama dan juga buah yang sama. Anto kangsung tahu kalau itu adalah pohon yang sama.
Anto yang melihat itu perlahan naik dan merasa nyaman di aras itu. Anto kemudian langsung berbaring tanpa ragu sama sekali. “Entah kenapa rasanya mirip seperti waktu itu.” Anto jadi tertidur dengan mengingat Ibunya yang telah tiada. Anto tersenyum tidur di atas bulu itu. Selama Anto tertidur, di luar di dekat ada beberapa orang yang bukan manusia berjalan setelah Anto masuk ke semak-semak. Mereka punya tanduk sangat besar dan lumayan tinggi dari pada manusia biasa yang dengan senjata kapak, pedang dan tombak bahkan senjata yang tidak di ketahuinya. Mereka segerombolan pasukan yang sedang jalan menuju jalan lain. Salah seorang prajurit tombak mendekat ke semak-semak tempat Anto sedang tidur.
Paskukan hanya melihat saja apa yang di lakukan reakannya, namun ada seorang yang paling depan memerintahkan pasukannya berhenti saat melihat rekannya sedang berjalan ke semak-semak tempat Anto berada. “Hei, apa yang kamu lakukan?” Tanya seorang prajurit kapak yang terlihat sangat kuat sekali. Prajurit langsung berbalik saat di panggil bergitu dan melihat ke arah orang yang memanggilnya.
“Saya mau lihat apa ada sesorang di balik semak-semak ini.” Jawabnya dengan takut pada rekannyan yang lebih besar itu. Orang yang memgang kapak itu langsung melempar kapaknya pada semak-semak itu namun malah semak-semaknya langsung menghancurkan kapak itu dengan satu daunnya saja. Orang yang memegang tombak tadi jadi sangat takut dan tidak berani bergerak dari tempatnya sama sekali.
“Dengarkan semuanya, nama semak-semak itu adalah Bunga Berduri. Kalian akan di tarik karena penasaran dan membuat kalian ingin tahu apa yang di dalalmnya, namun setelahnya kalian mati seperti kapak yang hancur tadi jika kalian sudah sangat dekat. jika kalian ingin mati mendekat saja ke sana.” Orang itu menjelaskan dengan singkat dan jelas. tidak ada yang komentar dengan hal itu. ‘AHHH…!’ terdengar suara teriakan tidak jauh dari pasukan mereka.
Semua orang langsung melihat ke sumber suara yang ternyata, Mosnter Pohon yang di makan sama Anto itu sedang membunuh salah seorang dari mereka. “Nama pohon yang kalian lihat adalah pohon buah kematian. Siapa saja yang berusaha mengambil 1 buahnya saja dia akan di kejar ke manapun. Dia tidak akan pernah lelah sampai dia di bunuh. Terkadang dia akan mempermainkanmu terlebih dahulu sebelum membunuhmu.” Orang tadi menjelaskan lagi mengenai pohon yang penah di masukan Anto ke dalam lubang yang dalam itu.
Tidak ada yang bicara sama sekali membalasnya bicara. Prajurit yang di dekat semak-semkan mendekat ke barisan lagi dan tidak berkata apa-apa pada semua orang kecuali diam dengan nyali yang ciut. Setelah itu tidak ada yang bertanya lagi dan mereka kini lanjut jalan lagi dan tidak berani sembarang pegang. Sementara Anto yang di dalam semak-semak tertidur sama sekali tidak tahu apa yang di masukinya itu dan juga buah apa yang di makannya itu. Anto yang tertidur sama sekali tidak terganggu dan malah lanut tidur karena dia sebelumnya sama sekali tidak bisa tidur nyenyak di dunianya.
***