Interstellar Adventurer

Interstellar Adventurer
Chapter 126


‘BUK!’ Keduanya saling pukul wajah dan masih berdiri tegak. “Mengalahlah Rein, jika kamu tidak ingin babak belur oleh pukulanku.” Bicara Anto sambil menahan sakit di wajahnya.


“Mengalah! jangan harap. Kamu yang harus mengalah ZERO.” Timbal Rein sambil membalas perkataan Anto. Karena di antara tidak ada yang mau mengalah, terjadilah keriubtan di antara mereka dengan saling pukul tendang dan tinju serta beladiri mereka. Mereka membuat kerubutan di dekat para BIDADARI yang terlihat menikmati dan juga sepertinya sudah sering melihat ini. Barang-barang di sana banyak yang jatuh dan rusak akibat dari keributan yang mereka lakukan.


“Memngalahlah Rein!” Suruh Anto sambil melancarkan serngannya. Rein tidak langsung merespon dan masih menangkis dan menyerang balik.


“Kamu yang harus mengalah Anto.” Timbal Rein sambil tersenyum dengan pukulan dan tangkisannya. Dalam perkelahian mereka, semuanya tanpal sangat kerasa dna bisa merusak apa pun. Tapi mereka berdua telihat menikmati itu dengan penuh senyum di wajah mereka. Para BIDADARI hanya bisa melihat saja dari jauh saat mereka berdua sudah berada di ruang tamu. Mereka berdua berhenti sejenak di ruang tamu sambil melihat sekeliling. “Anto, beehiltah dan mengalah!” Suruh Rein dengan wajah serius lalu menyiapkan kuda-kuda.


Anto memperbaiki kuda-kuda juga dan mulai bersiap. “Kamu yang harus mengalah.” Timbal Anto dengan serius juga. Ketegangan di antara mereka semakin menjadi jadi dan tidak ada yang menghentikan mereka berdua. ‘BLAS!’ Mereka berdua mulai saling pukul dengan lebih keras dan dengan wajah serius. Balasan tiap serangan mereka terlihat sama kuat hingga tidak tahu siapa yang akan menang. Anto yang sengaja membuat dirinya jadu seperti manusia biasa yang hanya memiliki kekuatan setara manusia juga bisa merasakan sakit dan terluka dari pukulan yang di lancarkan oleh Rein.


Keduanya tidak ada yang mau mengalah dan terus saling melancarkan serangan. TV yang ada di ruang tamu rusak akibat perkelahian mereka akibat masalh kecil saja. Bukan hanya itu saja yang  terjadi, keramik yang ada banyak yang rusak dan retak bahkan ada yang sudah berlubang di bawahnya akibat dari kuat nya mereka berkelahi. “Apa kita tidak akan melakukan sesuatu tentang mereka?” Tanya BIDADARI yang melihat itu.


“Kita tidak perlu melakukan apa pun. Sudah ada yang datang menghentikan mereka.” Jawab BIDADARI lain sambil melihat ke OrangTua Rein yang datang dengan wajah kaget akibat kerusakan yang ada di mana-mana di dalam rumah mereka. Para BIDADARI yang asa di sana langsung membuka lebar dan memberikan mereka berdua tontonan saat anak mereka sedang berkelahi dengan sangat intens dan seru.


Papanya melihat tajam ke anaknya yang sedang bertarung. “BERHENTI SEKARANG!” Triak Papanya dengan sangat marah dan garang sekali saat melihat Anto dan Rein yang bertarung. Mereka berdua yang melihat itu berhenti mendadak dan langsung takut saat melihat wajahnya yang sangat menakutkan sekali. “Kalian apa yang kalian lakukan HAH?” Tanya Papa Rein saat melihat kehancuran benda di dalam rumahnya sendiri. Anto dan Rein saling lihat satu sama lain dan tidak ada yang berani merespon.


“Baiklah, semuanya tenang!” Suruh Mama nya dengan suara lembut. Papanya yang tadi sangat marah kini tenang dan tidak melanjutkan lagi tatapannya yang tajam pada anaknya. Anto dan semua BIDADARI nya kaget dengan perubahan Mama Rein yang tidak terduga. Saat ini dia dengan wajah lembut dan hangat, tapi saat mereka mengingat lagi… Tidak ada yang mededuga kalau dia seperti itu atas Ranjang.


“AAAHHH…!!!” Rein tiba-tiba berteriak pada Anto sambil menggoyangkan tubuhnya dengan kuat sekali dengan raun wajah yang terlihat sangat merah sekali. Dan tentunya Anto paham yang di lakukan Rein yang berbeda sekali dengan kenyataan yang di lihat di depan matanya. “LUPAKAN YANG KAMU LIHAT SEKARANG JUGA…!!” Teriak Rein pada Anto dengan sangat malu sekali.


“BUKANN…!” Rein sama sekali tidak bisa membantah Anto yang berkata jujur dan benar. Papa dan Mama nya malah melihat ke Rein yang dari tadi berteriak dengan keras dan membuat para BIDADARI menonoton dengan tenang dan damai. Rein jadi terdiam dan tidak berani berkata apa-apa lagi dan berhenti mentap ke Anto. “Kamu menang kali ini.” Bicara Rein sambil berjalan ke sopa tamu yang sudah rusak. Anto terdiam dengan Rein yang tiba-tiba mengalah dan tidak melkukan apa pun lagi.


“Kamu kira masalah ini sudah selesai! Sayangnya ini masih berlanjut, Rein.” Anto dengan nada biasa saja bicara pada Rein. Rein yang tidak paham dengan perkataan Anto, terdiam sebentar lalu teringat kedua OrangTua nya yang sudah ada di sana. “Sekarang bagaimana?” Tanya Anto pada Rein saat dia sudah duduk dengan santai dan lupa kalau dia sudah ada di Bumi.


Rein melihat ke semua orang secara giliran termasuk kedua OrangTua nya. “Sepertinya kamu sudah sadar.” Bicara Mamanya sambil melihat ke arahnya. Rein hanya bisa menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat ke Mamanya yang sedang bicara padanya. “Jadi, siapa mereka dan apa yang kamu lakukan di saat jam sekolahmu belum berakhir?” Tanya Mamanya dengan suara lembut sekali. Tapi, bukannya langsung merespon malah Rein tambah diam dan tidak bicara sama sekali.


“Mama.” Rein bicara sebentar dan tidak melanjutkannya lagi. “Aku minta maaf atas semau yang ku lakukan selama ini.” Rein dengan nada kecil meminta maaf pada Mamanya. Tapi, Mama dan Papanya malah kaget dengan anaknya yang tiba-tiba minta maaf padanya. “Aneh ya.” Bicara Rein sambil melihat ke Mama dan Papanya dengna wajah yang malu, senang dan di barengi dengan senyum bahagia dan juga ketakutan dengan hal yang telah di perbuatnya.


“Ma, dia anak kita kan?” Tanya Papanya saat melihat anaknya sendiri yang tidak di keyahui apa penyebabnya berubah. Mama nya malah merasa aneh dan juga tidak percaya dengan hal yang  di dengarnya itu. Tapi, Rein yang berkata seperti itu malah kesal dan merasa tidak seharusnya mengatakannya.


“HAHAHAHA…!!” Anto tertawa jelas sekali saat melihat Rein yang kesal dengan sangat senang sekali. Rein yang melihat betapa senang Anto langsung mendekatinya ‘BUK!’ Rein langsung memukul wajahnya lagi dengan keras. Anto yang di pukul terjatuh lagi dengan wajah yang sedikit keluar dari wajahnya. “Yang tadi itu cukup sakit .” Bicara Anto saat sudah terjatuh.


Anto yang sudah jatuh bangkit lagi. “Jangan ketawa lagi.” Rein menatap Anto dengan sangat tajam sekali. Anto yang sudah bangun, membalas menatap. Mereka berdua langsung menyiapkan kuda-kuda untuk saling pukul lagi. Mama nya yang melihat itu langsung mendorong suaminya ke pertengkaran mereka berdua hingga Anto menendang perut Papa Rein, sedangnya Rein memukul wajah ayahnya hingga dia pingsan akibat serangan mereka berdua yang tiba-itba.


Next Chapter