
Sesampainya mereka di dekat pintu, sebuah robot yang sama muncul di depan Anto yang berkamuflase tidak terlihat. Anto menaruh buah yang di bawanya di dekat kakinya lalu langsung menunjukkan Kartunya dan Robot itu hanya memindai dan pintu di depannya langsung di buka. Anto mengambil buah tadi kemudian jalan masuk ke dalam pintu yang sudah terbuka. Run tenang dan bersikap normal seperti sudah terbiasa dengan hal itu meski baru pertama kali masuk sana. Saat sudah di balik pintu, banyak orang sekali yang terlihat mengenakan pakaian mewah dan juga mereka jadi pusat perhatian dari semua orang karena seragam sekolah mereka berdua.
Anto dan Run terus jalan meski di perhatikan oleh banyak orang ke sebuah Robot yang banyak sekali menunggu untuk di gunakan. “Hm!” Anto menemukan lagi Gadis tentara itu yang sedang di robot juga yang sedang menggunakannya. Gadis itu melihat ke Anto dan Run yang berjalan ke Robot di sebelahnya. “Kita bertemu lagi!” Sapa Anto dengan sopan. Rapi Gadis itu malah berbalik mengabaikannya dengan Robot yang sudah aktif mengikutinya terbang di sampinganya yang juga di kawal oleh 6 orang tentara lainnya.
“Cih! Dasar Cewek sombong.” Dengan suara kecil Run mengatakannya yang bisa di dengar oleh Anto di dekatnya. Anto hanya bisa ternyum saat mendengar perkataan Run yang tidak suka dengan sikpa Gadis tadi.
“Tenang Run, mari akitfkan robot ini dulu.” Anto memperingatkan supaya tidak membuat keributan. Run diam saja tidak menanggapi Anto yang masih bersikap baik saja. “B, bisa bawakan ini!” Minta Anto sambil mengulurkan buat yang ada di tangan satunya karena tidak bisa menunjukkan kartunya. Run mengambil buah itu dengan tangan satunya dan terus menggenggam tangan Anto. Setelah itu Anto menunjukkan kartunya lalu robot itu langsung memindainya.
‘Pelanggan Terhormat, Saya akan memandu Anda Ke Mana Pun Sesuai Perintah’ Robot itu langsung bersikap sopan pada Anto. “Kalau gitu tunjukkan jalan ke kamar No. 1, yang terdapat pengawasan tngkat tinggi.” Anto langsung meminta dengan tenang dan juga santai. Robot melayang itu terdiam dan tidak berkata apa pun.
‘Di Mengerti’ Jawab Robot itu lalu menuntun jalan duluan. Anto dan Run mengikuti dari belakang ke arah jalan Robot itu terbang. Semua orang hanya memperhatikan Anto dan tidak ada yang berani mendekatinya. “Run, jangan jauh-jauh dariku sekarang saat kamu berada di manapun. Soalnya wajah kita sudah di ketahui oleh orang-orang besar di sini. Mungkin setelah ini kita akan jadi pusat perhatian di kalangan orang atas.” Anto menasihati Run yang hanya diam mengikutunya.
“Aku mengerti Kak.” Jawab Run dengan senang dan juga mulai membiasakan dirinya. Anto hanya tenang dan terus mengikuti robot itu. Robot itu berhenti di dekat sebuah lif yang di sana juga sudah ada Gadis tentara itu bersama tentara lainnya, termasuk Robot pemandunya.
“Ini bukan kebetulan yang aneh kan?” Tanya Anto pada dirinya sendiri yang sejak beberapa saat yang lalu terus bertemu dengan Gadis tentara itu. Anto dan Run sampai di belakang Gadis dan para Tentara itu yang terlihat gagah berani sekali. Gadis itu melihat ke belakangnya yang menemui Anto dan Run lagi. “Kita bertemu lagi!” Sapa Anto dengan ramah dan tersenyum sambil melihat ke matanya yang tajam sekali. Gadis itu hanya diam lalu melihat lagi ke depannya dan juga tidak peduli. Anto diam saja tidak marah dan kesal saat di abaikan. Tapi Run malah melototi Gadis itu dengan tajam. Setelah beberapa saat menunggu, sebuah lif bening datang. Anto, Run, Gadis dan para tentara liannya masuk ke dalam lif yang cukup untuk mereka semua.
Tidak ada yang bicara sama sekali saat sudah di dalam. Kecuali Anto yang melihat ke Run yang masih menatap tajam ke Gadis itu meski di abaikan olehnya. “Semoga saja setelah ini kami tidak bertemu lagi.” Harap Anto yang melihat ke Run yang tidak suka sekali dengan gadis tentara yang selalu diam dan dengan ekspresi tajam pada semua orang. Setelah lif berhenti, Anto mengikuti robot pemandunya yang keluar bersamaan dengan robot pemandunya Gadis terntara itu.
Salah satu tentara lainnya mengambil Robot pemandu Anto kemudian melemparnya kembali ke dalam lif, lalu Gadis dan para tentara jalan mendahului Anto dan Run. Anto hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa sedangkan Run menatap tajam sekali menahan rasa marahnya dengan meremas tangan Anto semakin kuat. Anto tetap tenang dan juga tidak komentar meski di perlakukan seperti itu.
“Jika mereka bertemu lagi, aku akan menderita lagi.” Anto yang perlahan menyembuhkan tangannya yang sakit akibat tulangnya yang retak di remas Run. Anto juga mengakrifkan Skil penghilang keberadaannya supaya para tentara itu tidak melihat mereka yang jalan di belakang mereka. Tapi, harapannya sirna saat melihat mereka di depannya lagi. Di sisi lain, Run semakin kesal saat mleihat para tentara itu. “Jaga jarak dari para Tentara itu setengah meter.” Minta Anto pada robot pemandunya.
Robot itu perlahan melambat kemudian terbang melayang di belakng para Tentara yang sepertinya mengarah ke arah yang sama. “Sepertinya aku harus melakukan sesuatu pada terlebih dahulu.” Anto melihat ke Run yang kuat memegang tangannya dengan kuat lagi, yang masih dalam proses penyembuhan. “Run, tenanglah, kamu menyakiti tanganku.” Dengan telepati Anto mengingatkan.
Run langsung melonggarkan tangannya dengan cepat dan ingin melepaskanya namun Anto menarik tangannya dan tidak membiarkannya di lepas. “Ma, maaf Kak. Aku tidak senagaja.” Dengan cepat Run meminta maaf.
“Tidak papa, tapi jangan lakukan lagi. Ingat, tujuan kita ke sini itu untuk bertemu dengan Ayah dan Ibuku.” Anto mengingatkan lagi Run yang masih ada rasa kesal Gadis dan Tentara di depannya. Run hanya mengangguk. Di sisi lain, banyak orang yang memperhatikan mereka namun, mereka sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang lain.
Anto dan Run yang sudah bicara, kini mereka berdua melihat ke robot pemandunya yang berjalan setengah meter cukup dekat dengan para tentara tadi. Para Tentara berhenti di sebuah pintu dan robot pemanu Anto juga ikut berhenti. Setelah itu robot pemandu Anto ikut masuk saat para tentara itu masuk juga. Anto dan Run jadi bingung dan penasaran karena mereka pergi ke ruangan yang sama. Anto dan Run pun masuk ke dalam kemudian pintunya tertutup.
“Papa, Mama, aku datang menemui kalian.” Sapa Gadis itu dengan suara lembut dan sopan. Anto dan Run terdiam di belakang tentara dan memandangi itu dari celah para tentara di depannya yang mengahalingi melihat. Anto yang melihat dari celah para Tentara belum maju keluar menunjukkan dirinya.
“Lina, kamu datang. Apa kamu tidak sibuk datang ke sini setiap ada waktu luang?” Tanya Suara wanita yang sangat familiar saat di dengar oleh Anto. Anto hanya diam medengar dan belum berani maju dengan sangat deg-degan sekali.
“Tumben juga kamu membawa temanmu!” Anto mendengar lagi suara laku-laki yang juga sudah di kenalnya.
“Teman! Siapa?” Tanya orang yang di panggil Lina sambil melihat ke srotang yang ada di balik para terntara. Para tentara itu melihat ke belakang dan sedikit kaget saat melihatr Anto dan Run berdiri di belakang mereka lalu membuka lebar dan bisa di lihat oleh OrangTua Anto. Di sisi lain, Anto hanya tersenyum ceria saat melihat kedua OrangTua nya yang sedang duduk di tepi kasur menemani Gadis itu yang sedang memeluk Ibunya. Kedua OrangTua nya yang melihat Anto jadi terdiam melongo dengan sangat kaget sekali saat melihat anaknya sendiri yang sudah besar dan juga masih bisa di kenalnya dari senyuman Anto yang tidak pernah berubah sama sekali.