
“Seperti nya kamu salah paham deh.” Kata Anto dengan sangat jelas pada Lala yang meundukkan kepalanya.
Lala yang mendengar itu melihat ke arah Anto yang berbicara begitu padanya dengan sangat jelas sekali..
“Sebenarnya aku berharap kalian selalu melakukan itu." Anto dengan suara sangat jelas mengatkannya "Tapi hanya sekali saja kalian melakukan di dunia berbeda.” Kata Anto lagi dengan suara tidak marah sama sekali pada Lala.
Lala tidak mengerti sama sekali dengan perkataan Anto. Dan bukan hanya Lala saja yang bingung, Momo dan Nana kaget dengan Anto yang masih bersikap biasa saja meski mereka salah dan juga mereka merasa tidak asing dengan sikap Anto yang seperti itu.
“Kalian ini, kan sudah mengerti aku." Ucap Anto pada Nana, Lala dan Momo yang kaget dengan ucapannya "Jangan terlalu pikirkan masalah ini, lebih baik pikirkan bagaimana cara mengembalikan ingtan orang ini.” Anto memperingtakan semua gadis di sana sambil menunjuk pada Andri.
“Tapi!” Lala yang tidak tau harus berkata apa pada Anto yang terlihat biasa saja yang juga masih merasa bersalah, tapi tidak bisa mengungkapkannya.
“Lala!” Panggil Andri yang di dekat Anto dengan penuh senyum “Lakukan apa pun yang kamu inginkan.” Kata Andri dengan cukup lembut pada Lala.
Lala diam saja dan tidak berkata apa-apa. Momo dan Nana yang melihat itu tidak tau harus berbuat apa juga. Nana dan Momo mendekati Lala yang bingung dengan sikap apa yang harus di lakukannya. Andri dan Anto yang melihat ke tiga orang yang terlihat saling menyemangati, dan saling peduli tidak bisa berkata apa-apa dan hanya termenung melihat mereka bertiga saling memberi semangat dan membuat suasana baru yang membuat mereka bertiga saling memahami.
“Andri!” Panggil Marya dengan suara lembut pada Andri yang terus melihat ke arah Lala dan dua lainnya.
Andri tidak merespon Marya yang memanggilnya dan hanya melihat ke arah mereka bertiga saja yang sedang saling menyemangati.
“Apa?” Tanya Andri dengan buru-buru pada Marya yang dari tadi melihat ke Nana dan Lainnya.
“Hm!” Marya bingung dengan tingkah Andri yang tiba-tiba berubah dalam sekejap saja.
“Kamu kenapa?” Tanya Marya dengan sopan “Terus kenapa kamu melihat ke mereka bertiga dengan begitu?” Tanya Marya lagi yang sedikit penasaran dengan itu.
“Tidak ada apa-apa.” Jawab Andri dengan sedikit cepat sambil melihat ke araj Marya yang seperti tidak percaya pada jawabannya.
Marya tidak bertanya lagi meski sangat penasaran dengan tingkah Anto yang begitu pada Kakak nya.
“Sudah lah. Lebih baik kalian masuk ke dalam kapal.” kata Anto pada mereka semua “Kami ada sesuatu yang kami harus lakukan.” Anto memberi tau mereka dengan penuh senyum dan dengan suara lembut pada mereka semua.
Semua gadis tampak bingung dan diam sema beberapa saat. Sebagian mereka mengangguk dan juga mulia mebuat portal pribadi mereka sendiri. Karena beberapa orang muali masuk ke dalam portal, yang lainnya juag mengikuti termasuk Lala, Momo dan Nana yang dari tadi memperhatikan saja
“Lala!” Panggil Andri dengan sangta lembut.
Lala yang di panggil melihat ke arah suara. Lala melihat Andri terbang ke arah nya dengan pelan sambil menggendong Siska. Tanpa berkata apa-apa, Andri menyerahkan Siska yang ada di gendongannya dengan pelan kepada Lala. Nana dan Momo yang melihat itu, dengan cepat mengalihkan perhatian mereka dengan duluan masuk ke dalam portal.
“Nah Lala, aku senang bertemu kalian. Meski aku tidak ingat apa-apa. Jadi, bagaiama dengan kalian?” Andri yang bericara pribadi dengan Lala yang masih belum masuk ke dalam portal buatannya sendiri “Aku ingin tau jawaban mu dan juga yang lainnya setelah ini selesai.” Ucap Andri dengan suara lembut pada Lala.
Setelah berkata begitu, Andri kembali berjalan meinggalkan Lala yang sudah menggendong Siska.
“Kenapa?” Tanya Lala saat Andri yang sudah berjalan agak jauh sedikit.
“Entahlah.” Jawab Andri dengan terus berjalan meninggalkan Lala yangmelihat Andri sangat berbeda sekali.
Lala yang di penuhi kebingungan, hanya diam saja saat meliha Andri yang bersikap cuek padanya. Lala dengan pelan masuk ke dalam portal dengan membawa Adiknya yang sedang pingsan. Setelah Lala masuk, hanya tinggal Andri dan Anto saja yang ada di angkasa. Mereka berdua saling tatap setelah yang lain pergi.
“Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Andri pada Anto.
“Sudah jelas kan, aku ingin kita bertarung.” Jawab Anto dengan penuh senyum dan juga terdenagr sedikit semangat.
“Jujur saja, aku tidak ingin sekarang. Saat ini kondisi ku sangat kurang fit dan juga tidak sanggup untuk bertarung.” Andri menjelaskan pada Anto kenapa dia tidak bisa bertarung dengannya.
“Kalau gitu sebagai gantinya, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan diri mu.” Anto yang tidak bisa melakukan apa pun tehadapap pendirian Andri yang sudah tetap.
“Kalau itu aku bisa saja.” Respon Andri dengan santai “Baiklah, kalau begitu mari kita duduk dulu.” Ajak Andri sambil membuat meja dan kursi serta makana ringan di angkasa yang luas.
Anto dengan senang hati duduk di kursi yang di buat Andri tanpa di suruh, Setelah Anto duduk, giliran Andri yang duduk lalu menceritakan semua kejadian yang telah ia alami di Planet Aqua.
***
Setelah lama bercerita.
“Wah, tidak di sangka pengalaman yang sangat bagus dan sangat mengharukan." Anto yang mengomentari cerita Andri "Yah sepertinya sudah waktunya pergi.” Ucap Anto saat dirinya mulai terlihat pudar.
“Aku paham.” Andri yang merespon Anto dengan santai.
Setelah Andri berkata begitu, Anto mendekati Andri, kemudian menyentuh pungung Andri dari belakang. Anto yang menyentuh Andri, mengeluarkan semua kekuatan ke dalam Andri dengan sangat cepat sekali dan langsung mengabiskan kekuatannya hingaa Anto lenyap tanpa tersisa dari dirinya. Setelah Anto menghilang, Andri menjadi diam selama beberapa saat, di luar angkasa dan tidak berbicara apa pun.
“Andri, saatnya memasuki hibernasi singkat dan menerima semua pengalaman.” NAVI memberi tau Andri yang hanya diam saja dan dengan tetap dalam posisi duduknya saat Anto sudah hilang di belakangnya tanpa apa pun yang tersisa.
“Ya. Aku siap kapan saja.” Andri dengan santainya merespon NAVI yang sudah memperingati Andri.
“Bailkah. Proses ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama, mungkin sekitar seminggu lebih.” NAVI menjelaskan dengan santai dan juga tidak ada rasa keberatan.
“Lakuakan saja sekrang.” Andri menyuruh dengan sangat tegas sekali.
"Apa kamu yakin?" Tanya NAVI pada Andri yang terdengar meragukan Andri.
"Ya." jawab Andri singkat.
NAVI yang sudah mendapat respon dari Andri, langusng memulai pengabungan jiwa dari dunia yang berbeda dengan dunia asli.
“Aku mulai ngantuk.” Andri yang sudah siap dengan efek samping dari pengabungan jiwa dari dunia yang berbeda.
“Anto saat ini, kamu akan mengalami rasa lemas di seluruh tubuh, sekarang hilangkan semua benda itu.” NAVI menyuruh Andri untuk menghilangkan semua meja dan kursi yang telah di buatnya.
“Ya.” Jawab Andri yang sudah sangat ngantuk sekali sambil menguap lebar-lebar.
Andri bangun dari kursi nya kemudian menghilangkan semua makanan dan mimunam yang ada di meja.
“Sekarang apa?” Tanya Andri yang semakin tidak menahan rasa kantuknya.
“Tahan dulu, jangan sampai tidur. Saat ini butuh waaktu untuk menyatukan semua jiwa ilusi dan jiwa asli.” Suara NAVI yang juga terdengar lemas sama seperti Andri.
“Berapa lama waktu yang di butuhkan?” Tanya Andri yang sudah melayang tanpa tujuan di angkasa dan hanya membuat matanya tetap terjaga.
“Lima detik saja.” Jawab NAVI yang rasa nya sudah tidak bisa merespon Andri lagi.
“Begi…!” Andri yang sudah mulai tertidur dengan mengambang di angkasa saat dalam proses penyatuan jiwa dengan Anto dari dunia ilusi.
***
Next Chapter