
“Siska!” Lala yang mengingat Siska yang tiba-iba berubah sikaknya “Apa maksudnya saat dia bilang bahwa dirinya Anto?” Lala yang masih tidak mengerti dengan situasi yang di alami Siska.
Setelah beberapa meter keluar dari ruang yang berantakan, Mereka berdua menyusuri lorong dengan pelan untk mencari ruangan untk istitrahat.
"Kenapa Mama menjadi sangat khawatir sekali. Seingatku, Mama di rumah selalu tenag dan selalu riang saja saat bertemu." Sambil Lala melihat ke arah Mamanya yang di papah oleh Temannya "Ini mungkin rasa kasih sayangnya yang tidak di pernah di perlihatkan pada orang lain" Dengan senyum Lala memikirkannya “Hm!” Lala yang melihat Papanya berlari dengan penuh ke khawatiran.
“Lala!” Papanya semakin cepat berlari saat melihat anaknya yang terlihat baik-baik saja.
Dalam beberapa langkah cepat, Papa Lala sampai di dekat Lala dengan penuh ke khawatiran.
“Papa!” Lala dengan tersnyum menyambut Papanya yang terlihat cemas.
“Kenapa Mama mu? Dan di mana yang lain?” Tanya Papa Lala yang melihat ke sekitar Lala tidak ada orang lain lagi dengan suara sedikit panik.
“Mereka baik-baik saja.” Jawab Lala dengan senyuam di wajahnya.
“Mereka ada di luar kapal.” Kata Mama Marya yang membatu memapah Mama Lala.
Lala sedikit kaget, tapi tidak menunjukkan rasa kagetnya pada saat Mama Marya yang bicara terus terang dan juga menatap ke arah Lala yang terlihat biasa saja saat mendengar Mama Marya berkata begitu.
“Apa maksdud kalian berdua?” Tanya Papa Lala yang terlihat bingung dengan perkataan Mama Marya dan Lala.
Lala diam saja melihat ke arah Mama Marya dan ingin mendengar perkataannya.
“Kapten!” Panggil seseorang yang sedang berlari ke Papa Lala hingga Mama Marya tidak sempat mengatakan isi cerita yang di dapatnya di ruang sebelumnya.
“Ada apa?” Tanya Papa Lala dengan sangat tegas sekali sambil menunggu prajuri itu sampai.
Setelah beberapa saat prajurit itu berlari, dia sampai di depab kaptennya.
“Kapten lihat ini!” Petugas dengan lihai menekan beberapa kali tombol di tangan kirirnya, kemudian layar kecil menampilkan kejadian yang di lihat di luar kapal.
“Marya, Siska!” Kata Papa Lala saat melihat Marya dan lainnya berada di luar kapal dengan sedkit kaget.
Mama Lala langsung jadi segar saat mendengar suaminya memanggil nama Siska, dan dengan cepat Mama Lala ke samping suaminya di temani Mama Marya yang juga penasaran untuk melihat anak-anak mereka dari layar yang di tampilkan. Sementara orang fokus ke layar dan berbicara mengenai kejadian yang sedang terjadi, Lala mebuat portal kecil di belakang secara diam-diam. Dan kurang dari sepuluh detik, portal itu siap di pakai. Karena semua orang sedang foku ke layar, Lala memanfaatkan waktu itu dengan cepat langsung melompat ke portal.
“Hm! Lalaaa!” Mamanya yang melihat itu, sangat kaget saat melihat anaknya masuk ke dalam portal yang tidak tau menuju ke mana.
“Maaf Mama, semuanya.” Lala masuk tanpa sepengatahuan Mamanya dan juga mendengar Mamanya yang berteriak histeris saat tau dirinya masuk ke dalam portal.
“Cepat keluar selamatkan mereka!” Mama Lala sangat sedih dan memerintah suaminya dengan sangat tegas sekali.
“Kapten! Lihat ini.” Panggil prajurit itu dengan sesopan mungkin sambil memperbesar layar.
Saat mereka melihat layar, mereka melihat Lala keluar dari portal dan berkumpul dengan Marya dan lainnya yang sedang mengelilingi Siska dengan sangat siaga.
“Kenapa mereka semua bisa bernapas di luar angkasa.” Papa Lala yang baru menyadari, kalau anak-anaknya terlihat baik-baik saja.
“Cepat selamat kan mereka!” Bentak Mama Lala dengan sangat tegas dan juga sedih pada Suaminya.
“Tenanglah!” Kata Mama Marya yang terlihat khawatir dan juga sangat cemas sambil berusaha tenang “Lihat baik-baik apa yang mereka akan lakukan.” Kata Mama Marya menenangkan Mama Lala yang terlalu khawatir dan juga sedih.
Setelah mendengar saran temannya, Mama Lala melihat ke layar dengan beursaha tenang dan memperhatikan yang akan terjadi selanjutnya. Sementara di luar kapal, di sekitar Nana dan lainya dalam suasana menegangkan.
“kenapa kalian belum menyerang?” Tanya Anto dengan santainya dan tidak takut sama sekali meski di kepung oleh semua orang dari sekelilingnya.
Tidak ada satupun yang menjawab pertanyaan Anto yang melayng di luar angkasa dengan tenangnya.
“Jika bergerak. Sedikit saja bergerak akan ku potong tanganmu!” Nana memperingatkan dengan sangat menakutkan dan mengancam.
Anto tersenyum saat mendengar peringatan Nana, kemudian Anto dengan beraninya menganat tangan kirinya ‘SWISH!’ sesuatu dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba lewat di atas kepala Anto.
“Hm!” Anto sedikit kaget dengan sesuatu di atas kepalanya yang lewat “kamu sungguh-sungguh ternyata.” Kata Anto sambil menurunkan tangan kirinya yang baik-baik saja.
‘KRAK!!’ tiba-tiba tangan Anto terputus dan mengeluarkan banyak darah dari tangan kirinya. Anto tetap tenang meski banyak darah yang keluar dari tangan kirinya dan tersenyum pada Nana.
Melihat reaksi Anto, semua gadis terdiam. Mereka menatap Anto yang menyerah tanpa perlawanan. Selama beberapa saat, mereka hanya melihat ke arah Anto yang menyerah dengan tenang dan juga tidak ada perlawanan sama sekali.
“Hm! Kenapa mereka diam saja?” Anto yang tidak mengerti dengan tindakan orang yang mengapa mereka berhenti mengeluarkan niat membunuh padanya “Kenapa kalian diam saja?” Tanya Anto yang sedikit bingung.
“Tidak! Aku percaya.” Kata Momo dengan senyum pada Anto yang dan berhenti melakukan perlawanan.
Setelah Momo berkata begitu, yang lainnya juga berhenti melakukan perlawanan dan malah tersenyum pada Anto.
“Hah!" Anto jadi bingung dengan sikap semua gadis di sekelilingnya "Apa maksud kalian?" Tanya Anto dengan biasa saja sambil menurunkan tangannya.
"udah kami katakan, kalau kami akan mengujimu." Jawab Nana dengan wajah cerianya.
"Nah! Sebenarnya, kalian melakukan ujian apa sih?” Tanya Anto yang tersenyum pada mereka tanpa marah sama sekali dan juga penasaran sama ujian yang di maksud oleh semua gadis di sekelilingnya.
“Yah! Cuma ujian kecil yang kami tau dari keperibadian alami mu saja.” Jawab Marya dengan senyum pada Anto.
Anto melihat ke arah sumber suara yang menjawab. Anto menatap Marya cukup lama.
“kamu siapa?” Tanya Anto pada Marya yang menjawab dengan sopan.
“Apa!” Marya yang sedikit kaget dengan pertanyaan Anto “Ke-kenapa kamu kenal mereka bertiga dan Aku tidak?” Tanya Marya yang sedikit kesal pada Anto dengan wajah agak merah.
Anto masih diam saja, sambil melihat ke arah Marya yang terlihat kesal padanya.
“Hm… Mudah saja, mereka bertiga mempunyai system BIDADARI yang kubuat.” Jawab Anto dengan sopan pada Marya.
Marya masih memikirkan maksud perkataan Anto padanya. Setelah beberapa saat Marya mengerti maksud perkataan Anto.
“Ehm! Sebaiknya kamu pasang tangan itu.” Kata Momo memperingatkan Anto yang masih membiarkan darahnya keluar.
“Oh!" Anto melihat ke arah tangannya "Maaf, lupa.” Anto yang baru menyadari kalau tangannya masih putus.
Dengan pelan Anto mengambil tangannya, dan kemudian menyambungkan tangannya. Anto mendiamkan tangannya di bagian yang terpotong selama beberapa saat. Dan setelah beberapa detik, tangan Anto tersambung kembali seperti semula.
“Jadi, Bagaiamna aku harus memanggil kalian?” Tanya Anto pada Momo dengan santai dan juga sopan.
“Tunggu!” Lala tiba-tiba bicara dengan tegas “Sebelum itu, apa kamu benar-benar yang asli?” Tanya Lala dengan begitu tegas pada Anto.
Anto tersenyum dengan pertanyaan Lala.
“Tidak. Aku bukan yang asli.” Jawab Anto dengan senyum dan terlihat biasa saja.
“Siapa kamu sebenarnya?” Tanya Lala yang masih tegas dan juga bingung maksud dari Anto.
“Tunggu!” Anto yang berhenti tersenyum malah menjadi lebih tegas pada Lala “Jika kamu BIDADARI ku yang pertama, Kan sudah pernah kubilang pada kalian. Jangan pernah kembali ke masa lalu atau membuat dunia ilusi tentangku.” Dengan sangat tegas Anto mengatakannya “Tapi salah satu dari kalin melanggar itu.” Kata Anto yang sedkit melonggar kata-kata tegasnya.
Lala terdiam seperti memikirkan sesuatu dan tidak bisa berkata-kata.
“Bisa aku bicara?” Tanya Nana dengan wajah ceria pada semua orang.
Anto mengangguk dan sementara yang lainnya diam saja memperhatikan.
“Dengarkan dan jawablah!” Kata Nana dengan sangat ceria “Apa yang akan terjadi kita kembali ke masa lalu dengan ingatan penuh?” Tanya Nana pada semua orang dengan wajah ceria.
“Kita dapat mengubah masa depan yang kita sudah tau.” Jawab Marya yang ikut dalam percakapan.
“Benar sekali.” Kata Nana dengan wajah ceria “Tapi, itu tidak berlaku pada Anto.” Nana menambhakn dengan menghilangkan wajah cerianya.
Semua orang tampak kaget dengan pernyataan Nana yang tiba-tiba berubah drastis, kecuali Lala dan Momo.
Next Chapter