
Ke empat Kultivator itu membawa senjata mereka masing-masing. Yang terlihat tampan jadi depan membawa 2 buah pedang yang sama. Yang Gemuk membwa sebuah pedang yang besar dan tampak kuat. Yang kurus tidak membawa apa-apa. Sedangkan yang terakhir, hanya memakai jubah yang membuatnya tidak di ketahui. “Kenapa mereka terus datang menemui nya.” Nia yang terlihat sangat marah sekali dengan Kultivator yang di lihatnya di balik layar. Para Kultivator itu mendekati Papa Nia lalu berbisik sesuatu, setelah berbisik, Papa Nia langsung berubah wajahnya dan menjadi serius sekali. Papa Nia langsung mengambil sesuatu dari bajunya. Papa Nina hanya mengambil kertas dan alat tulis. Setelahnya Mama Nia yang di bisikkan, dia juga tampak kaget lalu cepat berdiri. Papa Nia meninggal sebuah catatan pada tas yang di tinggalnya dan tulisannya menyuruh Nia pulang sendiri.
“Nia, Nia…!” Nina yang menggoyang tubuh Nia dengan cepat. Nia melihat ke Nina yang begitu mengkhawatikannya. “Aku tidak atu apa yng sedang terjadi. Tapi, jika kamu tidak bertindak, mereka akan terseret lebih dalam lagi. Kamu bisa kehilangan lagi apa yang kamu inginkan.” Kata Nina dengan cukup tegas pada Nia yang hanya melihat saja apa yang di kerjakan OrangTua nya. Nia langsung berlari meninggalkan Nina di tengah kesunyian taman tempat mereka berada. “Jangan lupa bawa barangmu itu.” Nina memperingatkan Nia dengan sangat tegas. Nia tida menoleh dan tidak banyak bicara, dia hanya focus apa yang di katakan Nina padanya. “Adik yang selalu bimbang. Sejak pertama kali kita bertemu, kamu selalu seperti ini. Bagaimana bisa aku tenang melihatmu yang selalu terlibat dengan hal yang menyusahkanmu. Yang Cuma bisa ku katakan, semoga berhasil.” Dengan puas Nina tersenyum melihat Nina yang sudah pergi jauh sambil menggunakan kekuatannya.
“Nina kembali sekarang.” Panggil Nayla yang secra tiba-tiba muncul layar 2 dimensi di depan Nina. “Ada sesuatu yang kita lakukan sekarng ini.” Kata Nayla dengan suara biasa saja.
“Apa itu sesuatu yang sangat penting?” Nina yang tidak tau maksud Nayla. “Apa itu?” Tanya Nina yang tidak tau makusd Nayla.
“Baliklah dulu. Waktunya sebentar lagi.” Jawab Nayla dengan teka-teki. Setelahnya Nayla mematikan panggilannya. Nina yang tidak tau maksud Nayla hanya bisa melakukan apa perintah Nayla.
“Tidak ada yang bisa ku lakukan juga di sini, sebaiknya aku pergi saja.” Guman Nina sambil melihat sepinya bagian taman di tempatnya. Setelah berkata begitu Nina langusng membuka portal ke Hotel Nayla. Dalam waktu yang singkat Nayla sudah tiba langsung di depan pintu Hotel. “Hm…” Nina yang melihat Hotel Nayla lebih ramai dari sebelumnya. “Apa ada sesuatu yang terjadi di dalam?” Nina yang melihat begitu banya keributan yang sedang terjadi.
“Awas-awas!!” Nina langsung menepi saat beberapa orang datang. Orang tersebut Kultivator yang menghampiri Mama dan Papa Nia di taman.
“Kenapa mereka di sini?” Nina yang sedikit bingung dengan yang sedang terjadi. “Apa tujuan mereka kali ini?” Guman Nina sambil berpikir. Nina yang tidak menemukan jawaban sama sekali hamya bisa melihat orang tersebut masuk ke dalam. “Jika seperti ini, aku tidak bisa masuk. Tapi bukan berarti sepenuhnya.” Nina langusng mengaktifkan Skil Invisiblenya lalu melayang di tengah kerumunan dan mengikuti empat orang Kultivator itu yang hendak masuk. Ke empat Kultivator itu, berhenti sebentar saat pemimpin mereka yang paling depan diam di tempat.
Dia melirik ke sana ke mari, tapi tidak ada hal yang mencurigakan baginya, lalu dia mengeluarkan pedangnya ‘WUSH!!’ Angin berhembus di sekelilingnya. Kutivator itu menganggkat pedangnya lalu mengarahkannya ke Nina yang sedang melayang di udara ‘CUIZTZ!!’ Angin dengan putaran kuat langsung mengarah ke Nia dengan sangat cepat. Tapi, Nina mudah menghidarinya dengan cepat sekali ke samping. “Keluarlah!” Perintah Kutivator itu dengan tergas sekali pada seseorang.
“Eh! Apa aku ketahuan?” Nina yang masih menebak saja. Tidak lama setelah Nina berpikir hal tersebut, Nia malah keluar dan kini dengan sebuah penyamaran yang sangat jelas sekali. “Nia?” Nina langsung menyadari saat melihat sosok Gadis berusia puluhan tahun dan menutup wajahnya dengan kain. Nina dengan mudah mengetahui itu. "Kenapa dia menyamar seperti itu." Nina yang yang tidak mengrti kenapa Nia menyamar jadi kultivator.
“Siapa kamu?” Tanya Kultivator itu pada Nia. Nia tidak merespon malah diam saja dengan menatap tajam ke arah Kultivator itu.
“Ha!” Nina langsung merasa jengkel pada Kultivator yang mengejek Nina. “Kamu berani mengatakan itu pada Adikku. Sepertinya kamu sangat som…!!” Belum sempat Nina menyelesaikan kalimatnya, seorang datang
lagi dengan teloprtasi ke dekat Nia dan seperti menghalangi jalan orang yang menyerang Nia. Orang itu di selimuti warna merah darah dan tidak ada sama sekali pakaian yang di kenakannya, Cuma sebatas warna merah darah yang selalu meluap keluar dari seluruh tubuhnya.
“Siapa ka…!” Beluum sempat bicara, Kultivator itu langsung terhempas dengan sekali pukul dari jauh oleh orang yang baru saja datang itu. Kultivator yang baru saja di pukul tidak langsung bergerak malah pingsang di tempat tanpa ada sedikit pun yang lecet darinya. Orang itu memegang bahu Nia lalu menggeleng pada Nia. Nia yang tadi sangat tajam tatapannya, kini sudah lebih tenang setelah orang itu datang.
“Kamu tepat waktu Ria.” Telepati Nina pada orang yang menyelimuti dirinya dengan warna merah darah itu. Nina terbang melayang medekat ke mereka berdua.
“Nina kah? Kenapa kamu diam saja tidak menghentikannya?” Tanya Ria pada Nia sambil terus menenangkan Nia sambil melihat ke Nina yang sedang berjalan ke dekatnya.
“Justru aku yang tidak mengerti sama kamu, kenapa malah kamu menghalangi?” Tanya Nia balik dengan sopan pada Ria. Ria tidak langsung menjawab, malah melihat ke Kultivator yang sedikit gemuk yang menerjang ke arahnya dengan pedang beratnya. Tapi, itu juga di tahan dengan satu tangan Ria. "Susah juga buat bicara." Guman Nina sambil melihat Ria yang memgang pedang besar itu tanpa beban sama sekali.
“Biarkan aku memukulmu, kumohon.” Kultivator itu dengan sopan meminta pada Ria, tapi malah itu membuatnya semakin terlihat sombong sekali dan membuat Ria jengkel sekali dengannya. “Tenang saja, aku pasti akan memukulmu dengan sangat kuat sekali hingga merasa mati tanpa ada rasa sama sekali seperti tanpa memnyiksamu dulu.” Pria gemuk itu masih dengan sopan berbicara pada Ria.
“Ria, boleh ku pukul?” Tanya Nina yang terlihat sangat marah dan kesal pada Kultivator itu. Ria yang melihat Nina lebih jengkel dari, merasa kasihan sekali dengan apa yang akan di lakukan Nia pada cultivator itu. Ria mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Nia.
“Kenapa kam…!” Kultivator itu langsung jatuh entah karena apa. Semua kaget dengan apa yang di lihat mereka saat melihat Pria gemuk itu sudah hancur wajahnya dan banyak giginya yang copot. Kini semua orang kini tertuju pada dua Orang yang sangat berbeda sekali yang terlihat saling mendukung dan menjaaga satu sama lain menjadi pusat perhatian.
Next Chapter