
Setengah jam berlalu, kali ini Anto yang makan lebih banyak dari Siska meski sudah makan beberapa menit yang lalu. Tinggal satu porsi lagi di atas meja da itu pun hanya untuk Anto saja. “Hari ini, aku akan pergi menjelajah di sekitar sini, jadi apa kamu mau ikut?” Tanya Anto pada Siska dengan santai sambil menghilangkan semua bekas piring kotor yang sudah habis makanannya, lalu mengambil satu lagi yang tersisa. Siska tidak langsung menjawab malah diam merenungkan sesuatu
“Menjelajah? Apa itu?” Tanya Siska dengan sangat polos sekali pada Anto. Anto yang makan jadi berhenti lalu melihat padanya dan tidak bisa tahu harus berkata apa dengan pertanyaan yang baru di dengarnya itu meski sering sekali di pakai.
“Apa Kakak itu putri rumahan, hingga tidak tahu arti menjelajah?” Tanya Anto yang melihat Siska yang seperti tidak punya pengetahuan tentang Dunia luar.
“Ya aku seorang putri, tapi bukan putri rumahan.” Jawab Siska yang mulai terbuka pada Anto dengan sangat yakin sekali. Tapi Anto yang mendengar itu malah tambah sangat yakin sekali kalau Siska seorang putri rumahan. “Seingatku, aku tidak pernah keluar istana sama sekali dan hanya mengikuti apa yang di katakan Ayahku.” Siska menambahkan dengan suara tenang sekali.
Anto yang melihat Siska yang sangat bersih dan polosnya, jadi sedikit penasaran sejauh mana kepolosannya itu. "Siska, apa kamu tahu cara buat anak?" Tanya dengan terang-terangan pada Siska yang terlalu polos. Siska malah terlihat bingung mendengan pertanyaannya itu dan hanya diam saja. "NAVI, bagaimana?" Tanya pada saat melihat Siska yang bingung begitu.
-Bagaimana ya... Sepertinya aku harus memberi pelajaran dasar lagi. Dan juga sepertinya dia sangat tertutup dengan pengetahuan tentang Dunia luar, selain jalan Kultivasi yang dirinya tahu saja." Respon NAVI dengan sangat jujur setelah mengatahui Siska yang burung yang selalu di dalam sangkarnya. Anto yang mendengar itu berhenti makan sebentar.
"Kak, setelah ini kamu harus belajar mengenai dasar-dasar pengetahuan modern dari Bumi. Jika tidak kamu pasti akan selalu mengitkui apa yang Ayah mu katakan hingga dia mati." dengan serius Anto mengucapkannya. "Tapi, bukan berati tidak boleh mengikuti apa yang Ayah mu katakan. Hanya saja, Kakak itu sangat kurang sekali mengetahui Dunia luar sebenarnya." dengan tetap mode seriusnya supaya di perhatikan. "Jika ini terus berlanjut, Kakak akan mudah terpengaruhi oleh bujukan orang, sama seperti sekarang ini." Kata Anto sambil mulai makan lagi melanjutkan sisa makanannya. "Saat ini Kakak sudah pernah mengalami, perasaan yang berbeda dari sebelumnya bukan?" Tanya Anto sambil makan.
Siska terdiam dengan perkataan Anto yang terakhir. Apa merenungkan pertanyaan itu yang kenyataan yang tak terbantah sama sekali olehnya. "Ya, aku mengalami itu sejak di sini." Jawab Siska dengan memalingan wajahnya dari Anto saat Anto mrlihat ke arahnya. Ano tersenyum melihat Siska yang terbuka tapi masih menjaga jaraknya.
"Sudahlah, nanti kita lanjut bahas itu. Sekarng waktunya kita berkeliling dan untuk mengetahui tempat ini." Anto memperjalas perkataan sebelumnya dengan terus makan yang tinggal sedikit. Siska langusng paham maksud Anto sedikit melirik padanya..
"Anu... ZE- ZERO kemana kita pergi." Tanya Siska dengan menyebut nama lain Anto. Anto terdiam dengan namanya sendiri yang di sebut sepeti itu sambil menghabiskan makanan terakhirnya..
"Pa-panggil aku Anto untuk saat ini." dengan senyum meminta itu pada Siska. Siska terdiam oleh perkataan Anto yang tidak mengerti maksudnya. "Panggil aku dengan ZERO, saat aku menggunakan pakaian serba hitamku,dan jika aku memakai pakaian panggil Anto saja supaya lebih nyaman." Anto memperjelas makusdnya. Setelah itu Anto menghilangkan piring kotor yang habis di pakainya itu, lalu bangun dari kursinya duluan. "Pakai!" Ucapnya dengan jelas hingga di dengar Siska kemudian semua pakaiannya berubah jadi serba hitam. "Kalau gitu mari kita berangkat." Ajak Anto sambil berjalan duluan meinggalkan Siska yang masih duduk.
Siska tidak bertanya dan hanya melihat Anto yang keluar duluan. Saat Anto tidak terlihat Siska masih diam di tempatnya. -Kenapa masih di sini, cepat ikuti.- Suruh NAVI pada Siska yang masih di ruang makan. Siska yang mendengar itu jalan keluar mengikuti Anto. Di sisi lain, Anto yang sudah sampai di depan pintu keluar, langsung keluar tanpa menunggu Siska. -Siska keluar- NAVI memperingati Anto yang sudah di luar. Anto diam saja dan tidak membalas perkataan NAVI. Anto terus menunggu Siska di luar tenda itu, tapi dia belum keluar juga.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Anto sambil melihat kegelapan malam yang tidak pernah berubah sama sekali. Sambil menunggu Anto melihat lagit malam yang sama seperti kemarin. Anto melihat sekitar, melihat pohon dan yang tinggi dan lebar yang tidak masuk akal sama sekali. Anto melihat pohon itu memiliki ketinggian 10 kali lebih besar dari pohon di Planet Bumi. "Nyaman juga di sini." Ucapnya dengan jelas sambil merasa angin di sekelilingnya sangat nikmat. Saat merasakan angin itu, tiba-tiba matanya dapat melihat dengan jelas sekali dan mirip sekali saat di waktu siang, meski dia tahu kalau yang di rasakannya itu adalah waktu malam haru. "Apa yang terjadi?" Tanya Anto yang tidak tahu apa yang terjadi. "NAVI!" Pangginya dengan jelas sekali untukl meminta penjelasan.
-Adaptasi- Jawab singkat NAVI. -Kekuatan kita tumbuh dengan cepat, dan ini seperti kita memiliki banyak kontraktor- NAVI menjelaskan juga sedikit bingung dan seperti berusaha mengalihkannya. -Selama 2 tahun terakhir, kekuatan kita tumbuh sangat cepat dan sekarang bisa menghancurkan beberapa Planet dengan mudah- NAVI menjelaskan dengan singkat. Anto terdiam mendengar itu.
"Tidak NAVI, saat ini kita masih lemah dengan kekuatan segitu. Kita masih tujuan yang jauh dari itu." timbal Anto yang terdengar serius mengatakannya. "Aku setuju, kalau kita mudah beradapatasi dengan lingkungan yang kita jelajahi, tapi satu hal yang kamu lupakan, masih ada Dewa atau kekuatan yang lebih kuat lagi dari Dewa di belahan Dunia lain yang tidak pergi ke mana-mana, demi melindungi Dunia mereka sendiri atau hanya sebagai mainan saja." dengan serius menambhkan perkataannya. NAVI tidak berkata apa-apa dan senang dengan pendapat Anto yang masuk akal sekali. Saat mereka berdua bicara, Siska keluar dari tenda dengan mamakai pakaian Kultivatornya.
Setelah Siska keluar dari tenda, Anto berbalik melihat ke tenda dan langsung membakar tenda tersebut di depan Siska. “APA YANG KAMU LAKUKAN?” Teriak Siska sambil memegang bahu Anto dengan tiba-tiba, pada saat Anto sudah membakar tenda.
“Yah! Aku cuma membakar tenda itu!” Jawab Anto dengan sikap Siska yang tiba-tiba berubah padanya.
"Kenapa kamu bakar NAVI?" Tanya Siska pada Anto dengan sedikit sedih sambil memegang Anto tambah kuat.
"Sakit sakit sakit. Kenapa?" tanya Anto yang tidak tahu kenapa Sisika tba-tiba bersedih meski wajahnya tertutup dengan menahan sakit bahu karena di remas terlalu kuat oleh Siska. "Tunggu tunggu, aku tidak pernah bakar NAVI." Jawab Anto yang menahan sakitnya. Siska tidak percaya sama sekali dengan ucapan Anto semakin kuat memegang bahu Anto. "Sungguh. NAVI!" Anto yang telah menahan sakit yang di rasakan memanggil NAVI.
-Siska!- Panggil NAVI yang tidak menduga kalau Siska juga khawatir dengannya. -Ada apa?- Tanya NAVi pada Siska dengan mengeluarkan suaranya tepat di depannya.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Siska pada NAVI dengan suara khawatir, sambil semakin menambah meremas pundak Anto yang terdengar bahagia saat NAVI masih ada.
-Tidak, malah pundakku sakit- Jawab NAVI saat Siska memegang Anto yang semakin kuat. Siska tidak mengerti dengan maksud NAVI. Siska malah perlahan melonggarkan pegangannya pada Anto meski tidak mengerti. -Kenapa kamu tiba-tiba memegangku begitu?- Tanya NAVI pada Siska yang terlihat khawatir.
-Begini Siska, sebenarnya itu aku adalah Anto dan Anto adalah aku- Jawab NAVI dengan sedikit menjelaskan singkat dan padat. Siska malah terlihat bingung maksud NAVI karena penjelasan singkat sambil melihat ke Anto yang diam senyum padanya. -Begini, aku dan Anto itu satu jiwa. Dan tubuh yang kamu pegang tadi adalah tubuhku juga. Lebih tepatnya aku adalah Anto itu sendiri- NAVI memperjelas maksudnya pada Siska yang tadi tidak mengerti.
"Siska, apa kamu tidak curiga sejak suara kami sama persis?" Tanya Anto pada Siska yang terliht sedang mencoba memahami maksud NAVI. Siska terdiam medengar itu sambil melotot ke Anto. "Sebenarnya yang bicara sama kamu tadi malam itu adalah aku." Anto memperjelas dengan cepat.
"Kamu bohong kan?" Tanya Siska yang tidak percaya sama sekali dengan perkataan Anto. Anto melihat melihat Siska jadi sedih dan kecewa padanya setelah mengatakan itu. Siska terus melotot sekali pada Anto yang masih tidak percaya dengan semua itu. Anto melihat Siska yang sedih, tidak tahu harus apa. Siska yang kecewa pergi duluan tebang melayang meninggalkan Anto.
"Tunggu!" Panggil Anto saat Siska yang sudah terbang menjauh di udara dengan sedih, tanpa mendengarkan penejalasan dirinya lebih jauh lagi. "Adeh... seperti dia marah sekali..." Anto yang tidak bisa menghentikan Siska pergi jauh meninggalkannya. "Ini sebabnya. Lain kali, lebih baik tidak ceritakan lagi tentang NAVI." Anto yang tidak tahu harus apa dengan situasinya itu.
-Ayo kejar, dia tidak tahu tempat macam ini- Suruh NAVI memperingati Anto dengan jelas. Tanpa merespon Anto langsung menghilangkan tenda yang di bakarnya jadi debu, lalu memakai topengnya lagi, kemudian dengan cepat terbang mengejar ke arah Siska terbang sendiri. Dalam mencari Siska, Anto tidak menemukan apa pun dan hanya ada pohon yang sangat besar saja yang terlihat. Anto yang tidak menemukan Siska di mana pun tidak tahu harus apa, dia berhenti.
"Skil pencarian!" Anto menyebarkan auranya ke seluruh area yang di jangkaunya. Auranya bisa mendekteksi semua bentuk pohon dan jenis moster yang di lihatnya. Tapi, Anto masih tidak menemukan Siska. "Di mana?" Tanya Anto yang masih belum menemukan Siska. "Perluas!" Pencarian Anto semakin jauh dan kuat, tapi masih juga belum menemkan Siska. "Masih belum. Perluas." Anto yang masih tidak menemukan Siska meski sudah cukup jauh. Kali ini Anto menemukan Siska dalam situasinya Siska seperti kebingungan dengan situasinya sendiri dan seperti ketakutan di sebuah batang pohon yang besar sekali. "Tunggu Siska!" Anto terbang dengan cepat ke tempat Siska berada, dengan rasa khawatir bergegegas ke Siska.
***
Setelah 5 menit terbang Anto sampai di tempat Siska yang cukup jauh dari lokasi sebelumnya. Anto melihat Siska di salah satu cabang pohon yang cukup besar duduk meringkuk ketakutan. Siska melihat ke suara yang medekat padanya. "Jangan pergi sendiri lagi, Putri." Kata Anto dengan suara ramah sambil melayang dan membuka topengnya pada Siska yang sedih dalam balik penutup wajahnya. "Putri yang kuat, tapi tidak bisa menggunakan kekuatanya, sangat tidak berguna sama sekali." ucap Anto yang pada Siska dengan cukup mengkahwatirkannya. Siska yang melihat Anto, tiba-tiba melompat memeluk Anto saat sedang melayang. Anto mendapat kejutan pelukan dari Siska yang takut, perlahan turun ke dahan pohon yang besar itu dan membiarkan Siska memeluknya.
"Susah punya Putri rumahan yang tidak tahu apa pun dengan Dunia luar." Bicara NAVI pada Anto yang sedang di peluk Siska. Anto tidak nerespon perkataan NAVI, malah balas memeluk Siska yang sedang ketakutan padanya.
"Sudah baikan?" Tanya Anto pada Siska yang masih memeluknya. Siska tidak merespon sama sekali perkataannya dan terus memeluknya. "Biar ku perlihatkan sesuatu padamu." Kata Anto sambil melepas pelukannya dari Siska dengan memaksanya lalu tanpa menunggu Siska melepasnya sendiri, lalu Anto menaruh jari telunjuk kanannya di kening Siska. "Transfer!" Kata Anto dengan sangat jelas sambil tersenyum. Siska melihat berbagai gambaran pencipataan NAVI pada Anto yang mentranfer ingatannya pada dirinya. "Kamu percaya sekarang?" Tanya Anto dengan lembut sambil tersenyum. Siska mengangguk dengan cepat pecaya pada Anto. 'KREK!!' Kebahagiaan Siska tidak berlangsung lama. Dari dekat, Anto dan Siska mendapat sebuah kejutan dan terduga dari seekor monster di kegelapan. Siska langsung gemetar saat melihat Monster yang belum pernah di lihatnya. Monster itu sangat besar sekali dari pohon yang mereka singgahi dan meski itu cukup jauh dari pohon itu membuat gemetar Siska. Anto yang melihat itu menangkan Siska dan juga merasa pernah melihat Monster yang di lihatnya itu.
"Trex!" Anto kaget dengan mahluk yang di ketahui pada Prasejarah di Bumi. Trex itu berdiri tegak lebih tinggi dari pohon si sekitarnya. "Apa cuma perasaanku saja, atau memang monster itu melihat ke sini?" Anto yang bisa melihat Trex itu seperti melihat ke mereka berdua. 'RAAGGGHHH!!' Trex itu meraung ke arah Anto dan Siska yang masih ada di dahan pohon. Siska semakin gemetar dengan raungan itu dan semakin kuat memeluk Anto. "Tenanglah." Dengan senyum lembut pada Siska Anto menangkan Siska yang sanga ketakutan. "Siska, naik ke punggungku." dengan suara lembut meminta pada Siska yang masih ketakutan sambil berbalik. Siska belum bisa melepas pelukannya, tapi perlahan dia melepasnya. "Naiklah, kita akan pergi dari sini. Dan aku lebih cepat dari Trex itu." Ajak Anto dengan cepat sambil melihat Trex yang sedang berlari meihat ke arahnya. Nina yang mendengar itu, dengan cepat mengubah posisinya ke punggu Anto.
Anto pun mulai terbang dengan kecepatan sedang. -Wahhh, lebih cepat dari yang ku duga- Kata NAVI pada Anto yang sedang terbang dari cukup bawah. -Awas!- NAVI memperingati Anto yang sudah terbang hampir menabrak poho di depannya karena tidak fokus, tapi untungnya Anto cepat berhenti lalu mendarar di dahan phon kemudian langsung melompat di antara dahan pohon yang ada, mumpung saling berdekatan satu sama lain. Anto lalu melihat ke belakang ingin melihat Trex itu, tapi malah melihat sebuah batang kayu sangat besar sedang ke arahnya meski sangat jauh. Anto yang melihat itu, langusng terbang lagi dengan cepat, tapi Trex itu tetap mengejarnya meski sudah jauh. -Sepertinya kamu tidak akan bisa menghidari dari penciumannya, lebih baik kamu lawan saja- saran NAVI padanya yang sedang terbang.
"Ya." Jawab singkat Anto sambil mencari tempat aman buat Siska. Sambil mencari tempat aman, dia terus terbang menjauh dan masih bisa merasakan Trex itu mengejar. "Sebelumnya aku menggunakan deteksi, tapi aku sama sekali tidak merasakan auranya, tapi sekarang malah terasa sangat jelas kalau Trex ini bukan Trex biasa." pikir Anto yang merasakan kekuatan yang kuat pada Trex itu. "Nah NAVI, menurutmu sebrapa besar Planet ini?" tanya Anto degan suara serius untuk mengalihkan perhatiannya. NAVI tidak langusng menjawab, dia malah diam seperti sedang melakukan sesuatu.
-Hm... Anto, Planet ini copyan dari Planet Bumi. Lebih tepatnya, Planet yang sama persis dengan Bumi. Tapi Planet ini di tutupi oleh awan gelap di seluruh Dunia dan pulaunya pun tidak terlihat sama sekali dari luar Angkasa. Aku tidak tahu apa pun selain itu. Dan satu hal lagi, waktu di sini juga 24 jam. Sama seperti waktu di bumi. Meski Planetnya besar seperti ini- Jawab NAVI meski agak lama meresponnya.
"Selain itu, apa ada hal lain?" Tanya Anto pada NAVI yang sepertinya melakukan suatu hal selagi dia tidur. NAVI tidak langsung merespon malah diam sebentar.
-Ya. Selain yang Planet ini mirip dengan Bumi, Planet lainnya juga sama dan mereka 10 kali lebih besar juga dari aslinya. Aku tidak sempat menjelajahi Planet lainnya dan tidak tahu apa ada penghuninya atau tidak. Sudah, lebih baik lihat dia semakin cepat dari mu- Suruh NAVI yang selesai menjawab Anto sambil memperingatinya
Anto yang mendengar kata NAVI, mempercepat diri dari sebelumnya hingga cukup jauh. Tapi itu sia-sia Trex itu tetap mengatehui ke mana ia pergi. "Kalau begini pasti akan sulit. Tidak ada pilihan lain." Anto yang tidak bisa terus terusan berlari mengindari Monster Trex itu. Anto menambah kecepatannya untuk sedikit menjauh dari Trex itu, lalu berhenti setelah cukup jauh di sebuah dahan pohon yang cukup besar. "Siska!" Panggil Anto dengan lembut yang dari tadi diam dan tidak melakukan apa pun di pundaknya, tapi malah tidak di respon. Anto kemudian melihat ke Siska yang tidak meresponnya sama sekali. "Siska!" Panggil Anto dengan telepati supaya Anto bisa langsung di dengar. Siska membuka matanya mendengar suara Anto. "Sepertinya aku harus melawan Monster Trex itu. Kita tidak bisa terus menghindarinya. Selain itu, kita tidak bisa terus lari, Penciuman Trex di Dunia ini sangat tajam, jadi ak...!" Siska samakin memeluk Anto yang akan bertarung dengan Monster itu.
"Jangan, kumohon. Aku takut." Minta Dengan sangat sedih sekali seperti anak kecil. Anto tersenyum dengan perkataan Siska yang terdengar tulus.
"Tenang, aku itu Seorang Petualang AntarBintang, Jadi, aku tidak mudah mati." Respon Anto dengan suara yang lembut dan tidak ada kebohongan sama sekali dari ucapannya. "Aku tidak akan berhenti di Planet ini, aku masih banyak sekali petualang yang belum ku lakukan di belahan Dunia lain yang aku dan kamu tidak tahu sama sekali. Maka, aku tidak akan mati semudah itu di Planet yang bukan kampung halamanku." Anto menegaskan lagi dan akan tetap melawan. "Dan jika aku memang tidak bisa mengalahkan Monster Trex itu, aku akan kabur. Itulah aku seorang Petualang AntarBintang." Siska memeluk Anto semakin erat dan tidak ingin membiarkannya pergi. Tapi, Anto menurunkan Siska dirinya dengan telepotasi dekat, yang membuat Siska sudha duduk di dahan pohon besar itu. "Tunggu di sini ya." minta Anto pada Siska yang baru menyadrai kalau dia tidak akan bisa menghentikan dirinya yang sudah lepas dari pelukan Siska.
Setelah itu Anto langsung terbang ke arah Monter Trex itu. "KEMBALI LAH...!!" Teriak Siska dari jauh meski Anto tidak dengar sama sekali. Dengan kecepatan tinggi, Anto terbang ke Trex yang mulai terlihat jelas. Setelah dekat, Anto menerjang duluan ke mahluk Prasejarah yang sangat besar itu dengan sebuah bola api yang cukup besar. Tapi, Monster Trex itu malah bisa menghidari serangan Anto yang sangat cepat. Trex itu berhenti mengejar dan melihat ke Anto yang sudah siaga dan juga siap melawannya di tempat. Mereka berdua saling tatap, dan menunggu siapa yang akan menyerang duluan. Anto duluan menyerang dan mereka bertarung dengan dengan sangat sengit.