
-Luar Angkasa-
Sudah dua tahun berlalu sejak Anto pergi meninggalkan Bumi untuk berpetualang di angkasa lepas yang luas sekali. Anto terbang di Angkasa yang luas tanpa arah, melalui berbagai macam kejadian yang tidak terduga. Selama 2 tahun penuh, Anto banyak sekali mendapat pemandangan Angksa luas. Anto hanya terbang berdasarkan isting yang di rasakannya, lalu menemukan pemandangan yang indah tiada tara yang tidak bisa di bandingkan dengan tempat mereka masisng-masing. Anto lalu menyimpanan itu sebagai kenangan dalam hati kecilnya. Selama 2 tahun juga, Anto hampir tidak melakukan apa pun kecuali terbang, terbang, dan terbang saja bahkan bicara pun saat memuji keindahan luar angkasa saja.
Tapi setelah terbang dengan kecepatan sangat tinggi di luar Angkasa sendiri, Anto juga bisa merasa bosan karena tidak ada yang bisa di ajak bicara dan tidak tahu harus melakukan apa, selain terbang dan memuji pemdangan yang di lihatnya. “Aku terbang salama 2 tahun lebih, tidak ada teman bicara. Bukan petualang seprrti ini yang ku inginkan." Dengan lesu memikirkannya. Anto terus terbang lurus saja dan tidak melakukan apa pun lagi. "Tunggu!” Anto mendadak berhenti tiba-tiba. Anto kemudian tersenyum sendiri lalu menutup matanya dan berkonsentrasi. Anto hanya diam saja dan membiarkan dirinya terombang, ambing melayang lurus saja. Beberapa saat kemudian, Anto membuka matanya, lalu memperbaiki posisinya. “Bisa kamu bicara?” Tanya Anto tiba-tiba entah pada siapa dia bicara. Selama beberapa saat tidak ada yang membalasnya bicara sama sekali. “Woi, kamu tuli ya?” Tanya Anto lagi karena tidak mendapat respon apapun juga.
-Siapa yang kamu bilang tuli?- Respon suara yang di tanya Anto. Suara yang merespon sama sekali tidak ada di dekat Anto, tapi Anto tersenyum saat mendengarnya.
“Salah siapa yang tidak bicara coba!” Anto membalas dengan tersenyum dan merasa bosannya sedikit hilang. “Kita lanjut saja bicarnya nanti di perjalanan.” Dengan suara penuh semangat Anto mengajak suara, lalu terbang lagi. “Tapi, bagaimana dengan namamu?” Tanya Anto pada suara itu dengan sopan saat sedang terbangnya.
Suara itu tidak langsung merespon malah dia seperti diam mencari sesuaru. -Paggil aku NAVI- Jawab NAVI dengan penuh percaya diri. Anto terdiam memikirkan itu. -Kamu sendiri tahu alasannya bukan- Suara itu menambahkan dengan meyakinkan lagi.
Anto tersenyum setelah mendengar itu. “NAVIGATOR kah, lumayan bagus untuk orang yang bisa mempelajari segalanya.” Respon Anto dengan jelas dan juga merasa senang. "Tapi ku rasa kamu masih menyembunyikan sesuatu yang lebih besar dari sekedar itu." Tambah Anto sambil senyum. "Tapi terserah kamu sajalah... Nnati juga akan terbongkar dengan sendirimya." Dengan sangat yakin hal itu akan terjadi. NAVI tidak langsung merespon malah diam saja mendengar pendapat itu.
-Ya, tepat seeperti yang kamu pikirkan. Sudahlah, ayo lebih cepat. Ini masih lambat- Jawan NAVI dengan jujur sambil menyuruh Anto. Anto tidak menanggapi NAVI, hanya diam saja dan juga merasa senang dengan obrolan yang singkat itu, lalu terbang lagi. Kembali ke beberapa saat yang lalu, NAVI adalah sebuah program System yang buatnya bisa bicara supaya ada teman ngobrol dalam perjalanan. NAVI, Anto buat karena mendapat ide itu dari sebuah komik yang masih di ingatnya.
Kembali ke alurnya. Setelah beberapa lama terbang dan bicara satu sama lain, Anto yang tidak bicara dengan siapa pun kini perlahan mulai bisa bicara sedikit saja dan tidak terlalu panjang. NAVI terus mengajak Anto bicara meski kebanyak Anto bicara sedikit saja, tapi itu tidak di permasalahkan oleh NAVI. Setelah membahas cukup banyak hal, Anto merasa lebih baik kali ini. "Aku sudah merasa cukup bicara hari ini!" Minta Anto pada NAVI. NAVI tidak langsung merespon dan diam saja mendengar itu. Cukup lama NAVI tidak merespon Anto.
-Anto, sampai kapan kamu memakai pakaian itu?- Tanya NAVI pada Anto yang memakai pakaian biasa dan mengabaikan dirinya yang ingin menyudahi obrolan. Anto yang mendengar NAVI bicara seperti itu langsung berhenti, lalu melihat ke pakaiannya. Anto lalu mengingat, kalau selama ini dia tidak pernah ganti baju, makan, mandi, buang air besar kecil dan mengingat dirinya hanya terbang menikmati pemandangan yang di temukannya. Anto jadi merasa aneh dan heran dengan dirinya sendiri tapi merasa itu bukan hal yang perlu di ketahuinya sekarang.
"NAVI... inikan perasaanku saja kan! Apa aku pernah malakukan kegiatan sehari-hari di luar angkasa seperti di Bumi?" Tanya Anto pada NAVI yang ingin tahu. NAVI malah diam. Anto menunggu tenang dalam posisinya, tapi NAVI malah dia saja dan tidak merespon. "Ku anggap kamu tahu sesuatu, tapi tidak bisa membicarakannya." Tambah Anto sedikit dengan serius.
-Anggap saja seperti itu- Timbal NAVI setelah Anto berkata seperti itu. Setelah itu NAVI diam dan tidak biara lagi. Otak Anto jadi kosong tiba-tiba dan tidak bisa memikirkan apa pun. -Sebaiknya kamu terbang lagi, mungkin ada sesuatu yang bisa kamu tanyakan setelah ini- Suruh NAVI pada Anto yang diam saja karena tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Anto menurti kata NAVI lalu terbang lurus lagi tanpa ada berbicara sama sekali. -Dari pada itu, apa kamu tidak akan mengganti pakaianmu itu?- Tanya NAVI lagi untuk yang keuda kalinya. Anto pun langsung berhenti lagi terbang.
"Benar\, selama ini aku cuma mamakai pakaian yang sama dan tidak pernah ganti baju sama sekali." Balas Anto dengan jelas\, dan juga pikirannya sudah teralihkan sama sekali ke arah yang lain. *"*Selain itu, Aku juga tidak memakai perlindungan diri sama sekali, bukannya ini terlalu berbahaya!" Anto yang teringat dengan hal yang harusnya di lakukan lebih utama. “NAVI, bisa kamu transfer mengenai sihir dan teknik beladiri sekarang?” Minta Anto dengan sopan pada NAVI. NAVI tidak langusng merespon dia malah diam dulu.
-Bisa saja, tapi biar ku jelaskan sesutau dulu biar kamu paham dengan apa yang kamu minta- NAVI merespn namun juga membuat Anto tidak mengerti maksudnya. -Selama ini, kamu mengira pakai Sihir kan. Sebenarya itu bukan sihir yang sebenarnya. Melainkan Sihir Original- NAVI menjelaskan. Anto yang mendengar itu tidak tau harus merespon apa. Anto diam saja mencerna itu. Anto yang sudah dapat kesimpulannya dari perlataan NAVI hanya bisa terima saja.
“NAVI, apa maksudnya itu,saat Aku menggunakan energy yang ada di udara dan tubuh secara bersamaan. Intinya Aku menggunakan energy atom Dunia atau bisa energi Dunia itu sendiri kan.” Anto menjelaskan dengan singkat dan jelas.
-Singkatnya memang seperti itu, tapi bukan itu maksudku- Anto terdiam saat NAVI berkata begitu, karena kurang jelas maksudnya. -Maksudku itu, mantra atau segel dalam menggunakannya itu tidak perlu sama sekali kalau dirimu. Sedangkan dalam Sihir asli, itu memerlukan mantra, segel atau bentuk-bentuk yang sudah pasti. Jadi bisa di bilang, kamu memperintah Dunia itu sendiri- NAVI menjelaskan maksud yang sebanarnya.
Anto yang mendengar itu cukup terkejut. “Intinya, aku tidak perlu segel atau mantra untuk menggerekannya dan hanya perlu menyuruh Dunia melakukan apa pun dan Dunia akan menuntunku. Apa begitu maksudmu?" Tanya Anto yang untuk memasitikan maksud NAVI lebih jelas.
-Ya, seprti itu. Misal Skil kinetik itu. Kamu cukup bayangkan saja apa yang kamu ingin dia lakukan, maka Skilnya akan melakukan perintah tersebut. Contohnya saat kamu mengendalikan pisau. Kamu memkirkan pisau itu memotong sayur, maka pisau tersrbut akan memotongnya sesuai kehendakmu. Tapi, itu hanya berlaku di Bumi saja. Dan kalau Di Dunia lain, aku tidak tau. Sebaiknya kamu belajar dulu saja hukum di Dunia itu, sama seperti 2 tahun lalu saat di Bumi kamu memasuki Dunia lain itu- NAVI mengingatkan dengan jelas, supaya Anto tidak ceroboh dengan apa yang akan di lakukannya. -Satu hal lagi, jangan terlalu sering menggunakan kekuatan jiwa untuk saat ini- NAVI memperingatkan Anto lagi yang terlalu sering memakai kekutan jiwanya.
"Maaf, sepertinya tidak bisa deh." Respon Anto dengan biasa saja. "Aku tidak mungkin berhenti menggunakannya. Sekarang aku tanya, sebarapa besar pengorbanan kekuatan jiwa yang ku keluarkan?" Tanya Anto dengan santainya dan juga dengan tetap tenang. NAVI terdiam saat Anto menanyakan itu padanya, tapi meski begitu NAVI tetap tidak membalas respon Anto. "Baiklah, kamu sudah tau kan komsumsi kekuatan jiwa lebih sedikit di bandingan dengan kekuatan lainnya dan juga sangat kuat. Selain itu, sangat mudah di isi ulang. Apa yang kamu khawatirkan dari itu?" tanya Anto yang masih tidak mengerti dengan apa yang di khawatirkan NAVI.
NAVI tidak langsung merespon malah diam saja. -Dari pada menjelaskannya, lebih baik kamu lihat sendiri, kenapa aku melarangnmu begitu!- Dengan sabar NAVI melawan Anto bicara. Anto langsung paham maksud NAVI yang akan menunjukkannya langsung, Anto kemudian menutup matanya lalu menunggu apa yang akan di tunjukkan NAVI pdanya. Setelah persiapannya selesai, NAVI langusng mengirim gambaran mengenai maksudnya itu.
Saat NAVI membuat gambaran Anto langsung melihat lilin di depannya yang hanya ada nyala apinya saja. “Lilin tanpa batang! Apa maksudnya?” Tanya Anto yang melihat sebuah lilin menyala yang tidak punya batang sama sekali.
-Anggap saja itu jiwa mu. Itu gambar yang ku buat, aku sendiri tidak tau bentuk asli jiwa itu seperti apa. Sudahlah jangan bahas itu dulu. Dengar ini, jika nyala lilin itu habis kita pasti akan mati- NAVI menjelaskan secara singkat supaya mudah di pahami. -Dalam dunia Kultivator atau Immortal, atau namanya yang lain, mereka pasti mempunyai anggapan jika sudah naik tingkat, masa hidup mereka akan bertambah. Sebenarnya itu tidak salah, saat level mereka level meningkat, Jiwa atau Lilin yang kamu lihat tadi akan sedikit membesar dari sebelumnya. Anggap saja kamu menambahkannya sedikit minyak atau kayu bakar supaya jadi lebih besar nyala apinya-
"Biar ku tebak. Jika sering ku pakai kekuatan jiwa, pasti aku akan mati tanpa di ketahui penyebabnya bukan?" Tanya Anto pada NAVI yang memberinya pernjelasan seperti kode.
-Ya, jika kamu terus melakukannya maka akan cepat mati, dan tidak ada yang tahu penyebabmu mati- Jawab NAVI yang sangat yakin sekali. Tapi Anto malah diam saja tenang dan tidak merespon.
"Oh ya... kenapa para kultivator itu menganggap diri mereka abadi, padahal cuma tubuh mereka saja yang bertambah kuat?" Tanya Anto yang sudah tau arah dari penjelsan NAVI.
-Tubuh Kultivator itu kuat, karena memiliki energi, tapi itu tidak bisa di rasakan sama seperti portal yang mengubung Dunia lain di gurun itu (Bumi), tubuh para kultivator itu memiliki umur yang panjang. Mereka sulit mati, kerena tubuhnya sudah kuat dan bisa mengendalikan kekuatan Dunia sesuka hati mereka meski dengan alat, segel, atau rune. Tapi bukan mereka tidak bisa mati, mereka bisa mati jika salah satunya di hancurkan. Misalnya antara hancurkan tubuh atau Jiwanya. Maka Kultivator tersebut akan mati. Tapi untuk jawaban pertanyaanmu tadii bukannya sudah jelas, karena balas dendam, kekuatan dan hal lainnya untuk mencapai suatu prestasi- NAVI menjawab pertanyaan Anto. -Jangan bahas itu lagi, selanjutnya itu tentang kita sendiri. Ini mengenai kita yang tidak seperti Kultivator atau Immortal- NAVI diam sebenat dan tidak lanjut lagi.
NAVI cukup lama diam dan tidak lanjut menjelaskan. "Kenapa diam?" Tanya Anto yang menyimak setiap perkataan NAVI. NAVI masih diam saja dan belum merespon sama sekali menjelaskan lanjutan tadi.
-Bentar- Jawab NAVI yang seperti masih ada hal lain yang di lakukannya. -Kita berbeda dari Immortal dan Kultivator. Jika tubuh kita hancur, maka kita masih hidup dengan membuat tubuh baru. Sedangkan jika seseorang ingin membunuh kita, maka dia harus langsung membunuh semua para kontraktor yang telah melakukan kotrak IBLIS itu- NAVI diam tidak melanjutkan lagi penjelasannya. -Selain itu, kita akan tetap memiliki tubuh manusia biasa dan tidak akan pernah bisa berubah meski kita berkultivasi. Karena kita bisa memanjangkan umur kita sesuka hati dan membuat tubuh kita menjadi semakin muda sesuka kita. Bisa di bilang kita bisa melakukan segala hal yang kita inginkan- NAVI menjelaskan dengan seksama. -Kalau kamu ingin kultivasi, bisa saja. Namun sia-sia, karena tidak ada bedanya saat kamu mau mengeluarkan kekuatanmu akan selalu tanpa memakai segel- Tambah sedikit menjelaskan pada Anto.
Anto terdiam mendegar itu dan tidak menyangka kalau dirinya jadi sehebat itu. "Berarti, kita jadi Tuhan atau Dewa gitu?" Tanya Anto yang sudah tau arah pembicaraan itu.
Anto terdiam mencerna semua yang terdengar masuk akal sekali. "Ehm... Mana mungkin ku lupakan, justru itu tujuan kita kan bekeliling Semesta ini." Respon Anto dengan santai, meski merespon perkataan terakhir NAVI. Setelah berkata begitu, mereka berdua tida ada yang bicara lagi. Anto diam saja dan tidak melakukan apa pun lagi.
-Pakaialah pakaian itu. Kita sangat lambat dan akan membutuhkan waktu untuk menemukan Planet atau sebuah
kehidupan di Semesta ini- NAVI yang mengingtakn Anto yang sudah lama diam di tempatnya. meminta untuk melanjtkan perjalanan yang masih jauh. Anto yang paham maksud NAVI mengenai pakaian yang di maksudnya, langusng mengubah pakaiannya jadi serba hitamnya termasuk topengnya. Anto melihat ke dirinya yang sudah berpakaian lalu meraba dirinya sedikit.
"Sepertinya ini cukup bagus juga." Dengan cukup senang Anto memakainya. Setelah itu Anto lanjut terbang lurus. Kali ini kecepatannya bertambah sangat cepat melebihi kecepatannya yang barusan.
***
Selama 7 hari Anto terbang di Angkasa dan di temani NAVI mengobrol selama perjalanan. Mereka berdua membahas semua hal termasuk NAVI yang menjelaskan dirinya yang adalah jiwanya (Anto) sendiri. Anto terbang dengan santai dan selalu lurus saja. -AWAS...!!- NAVI memperingati Anto saat sebuah cahaya datang ke arahnya dengan cepat dari samping kirinya. Anto yang kaget dengan cepat merespon perkataan NAVI dan lansung menghindar dari cahaya itu.
"Apa itu?" tanya Anto yang sudah berhasil menghindar dari cahaya putih yang datang ke arahnya itu. Anto melihat sekelilingnya, untuk mencari tahu dari mana asal cahaya tadi itu, tapi tidak ada apa pun. Anto terus melihat sana sini mencari sekitanya. "NAVI bagiamana?" Tanya Anto pada NAVI yang mungkin tahu asalnya.
-Mana ku tahu. Cari aja sendiri, kamu tahu kan datang dari arah mana cahaya itu, susuri aja sana dan mungkin itu tanda ada kehidupan Kultivator atau immortal- Jawab NAVI yang tidak tau dan juga terdengar bersemangat saat mengetahui ada kehidupan lain. Anto yang mendengar kata NAVI, merasa sangat senang sekali dan juga langsing terbang ke arah datangnya cahaya itu. Anto terbang dengan pelan ke sumber datangnnya cahaya itu dan dalam perjalanannya. 'TING!! KRANG!!' Anto sudah bisa mdengar suara yang asing baginya. Lalu ada banyak cahaya yang beterbangan di depannya yang ke sana ke mari.
Anto diam di tempatnya melihat cahaya yang beragpam dan juga suara dari sesuatu. "NAVI, apa menurutmu itu tidak berbahaya?" Tanya Anto pada NAVI saat melihat banyak cahaya dan suara di dekat. NAVI tidak merespon sama sekali, malah suara itu sudah sangat dekat sekali.
-AWAS!!- NAVI memperingati Anto saat ada cahaya di belakngnya yang datang. Dan Anto merespon dengan cepat menghindar. -Lihat!- NAVI memberi tau Anto saat melihat manusia memakai pakaian biru berusia sekitar 20 tahunan ada di luar Angkasa sama seperti Anto dan dia membawa pedang.
Anto terdiam melihat melihat pemuda itu yang terlihat percaya diri sekali. "Immortal atau Kulivator?" Tanya Anto saat melihat gaya pakaian yang sama persis dengan yang ada komik.
-Mana ku tahu. Aku sendiri tidak tau apa beda di antara keduanya- jawab NAVI sambil melihat ke orang tersebut, yang melayang. Anto tidak mereso balik dan melihat ke pemuda di depannya yang tenang saja melayang.
Pemuda itu lalu mengarahkan pedangnya ke Anto. "___" Orang itu bicara pada Anto dengan bahasa yang tidak di mengertinya sama sekalii. Anto bingung dengan apa yang di katakan pemuda itu itu dan hanya bisa diam saja.
"Menurutmu, apa yang dia katakannya?" Tanya Anto pada NAVI.
-Mana ku tahu, pokoknya jawab saja apa adanya- Jawab NAVI yang sedang penuh semangat menyuruh Anto ke dalam bahaya.
"Lah... Bukannya kamu yang memperingati aku buat jangan ceroboh, kenapa malah sekarang nyuruh!" timbal yang yang balas bicara dengan sedikit kesal pada NAVI. NAVI tidak membalas perkataan Anto malah diam saja.
-Kalau gitu apa yang akan kamu lakukan?- Tanya NAVI padanya. Saat NAVI bertanya, orang tersebut malah menerjang ke arahnya dengan cepat sekali dan sudah ada di depannya. Anto langsung menghindar dengan mudah dan tidak melawan balik. Pemuda itu langsung melihat ke Anto yang menghindar.
"Cepat!" Anto sedikit kaget karena serengan pedang orang itu, yang menyerangnya tanpa peringatan. Anto kemudian siaga memasang kuda-kuda tanpa perlengkapan apa pun. Setelah mendapat satu serangan yang berbahaya, Anto sudah sipa dengan serangan berikutnya. Pemuda itu juga mulai memasang kuda-kuda. "NAVI, menurutmu apa dia marah karena aku tidak membalasnya bicara?" Tanya Anto pada NAVI sambil melihat ke orang itu yang siaga.
-Mana mungkin. Aku baru menydarinya, saat ini kita sedang ada di medang perang atau pertempuran dan dia mengira dirimu adalah lawan, mungkin- Jawab NAVI dengan sedikit menjelaskan. -Jangan pikirkan itu, biar ku support dari sini dan biar ku perlihatkan semua orang yang ada sekarang ini- Tambah NAVI dengan suara serius. NAVI kemudian mentransfer gambaran sama seperti sebelumnya, yang kini menampilkan gambaran orang sedang bertanrung satu sama lain. Setelah NAVI mempelihatkan gambar tersebut, pemuda tadi menerjang menyerang lagi ke Anto dengan sangat cepat. Tapi, Anto menghindari serangn itu lagi dengan mudah dan tidak melawan sama sekali.
Pemuda itu terus menyerang bertubi-tubi tapi tidak ada satu pun yang mengenai Anto lalu dia berhenti. "___" Orang itu mengatakan sesuatu lagi sambil mengarahkan pedangnya ke Anto. Anto yang tidak mengerti hanya diam saja dan membiarkan orang tersebut bicara sendiri. Anto hanya diam saja dan tidak merespon orang tersebut. "___" Orang itu berteriak pada Anto yang hanya diam saja\, lalu mengangkat pedangnya ke atas.
"Hm... Ada apa dengan orang ini?" Tanya Anto yang masih tidak tau situasi yang sedang di hadapinya. Anto diam saja memperhatikan apa yang di lakukan orang itu. Pedang yang di pegang orang itu bercahaya merah sekali dan semakin lebar lalu tambah panjang. "Berapa panjangnya kira-kira ya?" Tanya Anto yang tidak bisa melihat ujung dari pedang yang di angkat oleh orang itu.
-Entahlah- Jawab NAVI juga dengan biasa saja. -Jika ini di Novel atau Komik, mungkin ini sudah sangat menyeramkan. Tapi ini tidak terlihat menyeramkan, malah banyak gaya- komen NAVI mengeluarkan pendapatnya saat melihat cara pemuda tersebut masih mengeluarkan kekuatan yang semkin tambah besar. -Biar ku analisis, biar kamu mudah menghindarinya- Kata NAVI memberi tau Anto. Anto diam saja menunggu hasil analisis NAVI. -Sudah. Banyak celah di dalamnya. Kamu masuk ke dalam kekuatan pedang itu, sekalian mempelajarinya- NAVI menyuruh Anto dengan santainya, sambil mentransfer sesuatu. -Ini gambaran tempat kosong di dalamnya dan seberapa besar kekuatan yang ada pada pedang itu- NAVI yang selesai mentransfer semua hasil analisisnya yang di persingkat.
Anto melihat ke kekuatan yang di keluarkan pemuda itu terlihat banyak celah dan juga mudah untuk di hindarai. "Kenapa dia tidak memadatkannya saja." Komen Anto saat melihat begitu banyak celah kosong yang di lihatnya di kekuatan pedang itu.
"___" Orang itu bicara pada Anto lalu menebas pedang tersebut ke arah Anto. Anto diam saja di tempatnya semula. Orang tersebut terlihat sangat senang sekali dengan Anto yang tidak mengindar sama sekali dari ayunan kekuatan pedangnnya. Anto yang sudah kena dengan pedang itu hanya diam saja mendengar suara ocehan yang tidak di mengerti apa yang di katakannya. Setelah beberapa saat\, kekuatan pedang itu menghilang dari pedangnya. "----!" Orang itu kaget saat melihat Anto yang tidak tergores sama sekali dari tebasannya. "___" Orang itu langusng lari meninggalkan Anto. Anto diam saja membiarkan orang itu lari.
-Kenapa diam saja. Kejar sana- NAVI menyuruh dengan tegas sekali. tanpa di suruh dua kali, Anto dengan cepat mengikuti orang itu ke mana ia terbang.
Orang itu melihat ke belakang, lalu dengan cepat menambah kekuatan terbangnya. "Makin cepat!" Anto terus menambah kecepatannya supaya sama kecepatannya. Orang itu berbalik lagi melihat Anto dan juga merasa kaget dengan Anto yang mengimbangi kecepatannya. Kali ini, dia mengeluarkan sesuatu dan itu sebuah kertas, lalu dia menyobeknya dan dengan cepat dia menghilang dari kejaran Anto. Anto terhenti mengejar saat pemuda itu sudah tidak ada. "Teleprtasi!" Anto hanya bisa diam di tempatnya setelah pemuda itu tidak ada di depannya.
-Coba ke tempat dia merobek kertas tadi- Suruh NAVI. Anto mengikuti tanpa bertanya balik dan sesampainya di sana, cuma ada robelan kertas itu. -Ambil robekan mana saja- suruh NAVI pada Anto. Anto megikuti apa yang di katakan dan mengambil sepotong kertas itu. Anto memegang robekan kertas itu tanpa banya tanya seolah-olah tahu apa maksud NAVI. -Selesai!- NAVI langung mentranfer sesuatu ke Anto.